Catatan Bantimurung:
   
   
  TENTANG "SASTRA DARI MAKASSAR: TOUR DE JAVA"
   
   
  Aan Mansyur melakukan "Tour de Java" untuk memperkenalkan "Sastra Dari 
Makassar". Sastra berbahasa Indonesia. Dari posting yang disiarkan oleh Halim 
HD di milis Panyingkul [28 Maret 2008], kita bisa mengetahui dengan persis 
tempat-tempat mana yang akan didatangi dan sudah disinggahi oleh Aan Mansyur 
[selanjutnya, kusingkat  Aan] dalam "tour" hingga bulan April 2008 nanti.  
Melalui rangkaian acara yang disiarkan oleh Halim HD ini juga,  nampak bahwa 
boleh dikatakan,  semua titik penting  kegiatan kebudayaan di Jawa akan dan 
sudah didatangi oleh Aan. Di tempat-tempat ini,  Aan berbicara tentang sastra 
dari Makassar melalui kumpulan puisinya "Aku Ingin Pindah Rumah", dan kucerpen 
Lily Yulianti "Makkunrai". Sebelum ini, "Tour de Java" sejenis pernah dilakukan 
oleh Saut Situmorang. Berbeda dengan yang dilakukan oleh Saut Situmorang, "Tour 
de Java" Aan, agaknya mempunyai karateristik khusus yaitu menunjukkan kepada 
dunia sastra berbahasa Indonesia di negeri kita, bahwa sastra
 berbahasa Indonesia itu tidak hanya terdapat di Jawa, tetapi juga terdapat di 
daerah-daerah dan pulau-pulau di luar Jawa. "Tour de Java" Aan adalah ibarat 
proklamasi eksistensi sastra berbahasa Indonesia di luar Jawa. 
   
   
  Aku juga melihat dibalik "Tour de Java" Aan ini, tersirat kelahiran bayi 
sastra-seni kepulauan. Mulai munculnya pusat-pusat kegiatan sastra-seni di 
berbagai pulau dan daerah  yang berarti mulai terjadi desentralisasi 
pusat-pusat kebudayaan dan kehidupan intelektual di negeri kita  yang 
seniscayanya mempunyai karaktertik masing-masing sebagai cerminan warna 
setempat di mana kegiatan-kegiatan berlangsung dan tumbuh. Jika benar demikian, 
maka karya-karya dan kegiatan-kegiatan tersebut secara logis akan menjadi suara 
yang menggaungkan kehidupan pulau dan daerah serta persoalannya dan geliat 
menjawabnya. Karakteristik lokal inilah, kukira, yang menjadi isi dan sekaligus 
kekuatan dari sastra-seni kepulauan -- sebagai pengejawantahan kongkret dari 
kebhinnekaan bangsa dan negeri kita.   
   
   
  Karakteristik sastra-seni lokal tidak kulihat sebagai pernyataan dan 
pengembangan sektarianisme , kesempitan nilai karena kebhinnekaan ini berada di 
satu alur nilai bernama republik dan berkeindonesiaan sebagaimana yang 
dikatakan oleh Paul Ricoeur, filosof terkemuka Perancis bahwa "kebudayaan itu 
majemuk, sedangkan kemanusiaan itu majemuk" .  Juga Paul Ricoeur yang 
menunjukkan bahwa kebudayaan lokal memungkinkan orang-orang lokal berdialog 
secara setara dengan budaya luar. Kemajemukan budaya dan berkembangnya 
sastra-seni kepulauan dan daerah, kukira hanya membantu terujudnya secara alami 
identitas nasional yang baru dan sehat. Di pihak lain, budaya lokal melalui 
dialog -- yang antara lain dilangsungkan melalui kegiatan seperti "Tour de 
Java" ini, akan memperkaya isi dan menyuburkan perkembangan dirinya. 
Perkembangan sastra-seni pulau dan daerah, merupakan dasar kokoh dari segi 
budaya untuk pengejawantahan nilai republik dan berkindonesiaan yang terangkum 
dalam bentuk
 negara Republik Indonesia [RI]. Antara nasion, pulau dan daerah dengan 
demikian terjadi proses saling mendekat. Bukan saling menjauh. Yang  membuat 
hubungan ini akan bisa menjauh, justru apabila dilakukan sentralisasi yang 
ketat sebagai sebuah sistem  dan pemaksaan standarisasi nilai seperti yang  
berlangsung selama tiga dasarwarsa lebih.
   
   
  Kegiatan sastra-seni kiranya tidak terlepas dari adanya organisasi yang 
sekarang dinamakan komunitas-komunitas sastra-seni. Tidak bisa disangkal bahwa 
sastra-seni sebagai kreasi dilakukan oleh individu-individu. Tapi dari banyak 
pengalaman, kualitas karya-karya ini bisa meningkat melalui diskusi, 
tukar-pikiran, kritik-mengkritik saling bantu melalui komunitas. Adanya 
komunitas-komunitas sastra-seni juga berperan menentukan dalam pembentukan dan 
penumbuhan sumber daya kreatif di pulau-pulau dan daerah sebagai motor kegiatan 
berkesenian. 
   
   
  "Sastra Dari Makassar" yang dibawa oleh Aan dalam "Tour de Java"nya,  sulit 
dibayangkan bisa terjadi tanpa adanya komunitas dan kerjasama antar komunitas 
sastra-seni di berbagai daerah. "Tour de Java" Aan atau Saut, hanya menunjukkan 
peran komunitas dan arti pentingnya kerjasama antar komunitas. "Tour de Java" 
Aan, selain memperkenalkan "Sastra Dari Makassar", kukira juga suatu peluang 
besar untuk komunitas sastra-seni di Makassar untuk menyemai benih kerjasama 
guna kegiatan bersama saling memajukan di masa-masa mendatang. Di samping 
sekaligus suatu kesempatan menimba pelajaran dari komunitas-komunitas lain. 
   
   
  Komunitas sastra-seni merupakan penemuan organisasi orisinal dari angkatan 
sekarang. Ia merupakan bentuk pengorganisasian bersifat longgar tanpa sentral. 
Tersebar di wilayah geografis yang luas di negeri kita. Antar mereka terdapat 
kerjasama setara, jauh dari sifat dan keinginan untuk berdominisasi. Melihat 
keadaan begini, sempat terlintas di benakku yang sederhana pertanyaan: Mengapa 
tidak pada suatu hari yang kena, diselenggarakan kongres kebudayaan nasional 
dari bawah berdasarkan komunitas-komunitas ini  guna menyimpulkan pengalaman 
dan mengintensifkan kerjasama. Kegiatan seperti  "Tour de Java" yang mungkin 
pada kesempatan lain ada "Tour Kalimantan", "Tour Sulawesi Selatan", "Tour 
Lampung", dan  kegiatan kerjasama lainnya, barangkali merupakan langkah-langkah 
pemanasan diri bagi berlangsungnya Kongres Kebudayaan Nasional dari bawah. 
Tidakkah jika seandainya Kongres Kebudayaan Nasional dari bawah demiian bisa 
terselenggara maka sastra-seni kepulauan mencapai tingkat
 baru dalam perkembangannya. Atau jika dikatakan secara lain: Berkembangnya 
sastra-seni kepulauan, merupakan dasar  bagi terselenggaranya  kongres 
kebudayaan nasional dari bawah. Kongres Kebudayaan yang berbeda dari kongres 
kebudayaan formal dari atas. Dengan pertanyaan sekaligus mimpiku, aku teringat 
akan pendapat bahwa "di daerah terletak  haridepan Indonesia" , sementara "Jawa 
adalah perahu terlalu sarat muatan dan terancam tenggelam". Tapi yang bisa 
kukatakan tanpa keraguan bahwa daerah merupakan sumber kreasi yang belum 
maksimal dieksplorasi dan dieksploatiasi. Terkadang kita malah asing dari 
daerah, asyik dengan kota dan Barat -- yang tentu saja tidak kuabaikan . Karena 
itu waktu bekerja di Kalimantan, kepada masyarakat pernah kutawarkan : Berdiri 
Di Kampunghalaman, Memandang Tanahair, Merangkul Bumi".  **** 
   
   
  Paris, Musim Semi 2008
  ---------------------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris, Perancis.
   
   
   
  
    Foto:Aan Mansyur dan Lily, dua tokoh penting dalam dunia sastra Makassar.  
  [Dari: Multiply Apsas]
   
   
   
   

  LAMPIRAN:
   
  --- halim hd <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 melalui kerjasama dengan berbagai komunitas kesenian dan sastera diberbagai 
kota di jawa, panyair aan mansyur mengunjungi dan membuka jaringan kerja
sastera
  
melalui peluncuran, pembacaan dan diskusi kedua buku ""makkunrai" dan "aku 
ingin pindah rumah". 
  
jadwal perjalanan aan mansyur ke 10 kota di jawa 
  
setelah jakarta, sbb:

  01. serang-banten, rumah dunia, tanggal 29 maret.
02. bandung, tb-ultimus, 31 maret.
03. yogyakarta, rumah lebah, 1 april.
04. solo, pawon-pinilih, wisma seni tbs, 2 april.
05. semarang, fak. sastera undip, 3 april.
06. malang, prog. bhs indonesia unibraw, 5 april.
07. bojonegoro, komunitas dusun gunungsari, 6 april.
08. mojokerto-pacet, rumah pak kusen, 7 april.
09. gresik, 8 april. *)
10. surabaya, 9 april. *)
  
*) menunggu kepastian tempat.
  
 
  di semarang, malang, bojonegoro, mojokerto, gresik dan surabaya penyair aan 
mansyur ditemani oleh penyair faisal kamandobat (dari cilacap-yogyakarta) yang
juga berkeliling untuk meluncurkan, membaca dan diskusi bukunya yang berjudul 
"alangkah tololnya patung  itu". 
   
  dan mereka adalah dua diantara 100 panyair pilihan "pena kencana". walaupun 
faisal kamandobat  mengundurkan diri dari program "pena kencana" itu.
  
 
   halim hd.
  [ in: panyingkul, 28 Maret 2008: "SASTERA DARI MAKASSAR : TOUR DE JAVA"].
   
  RALAT: acara di semarang bukan di fakultas sastera undip. tapi di 'rumah seni 
yaitu'.
  
hhd.

    
---------------------------------
    Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


       
---------------------------------
Tired of visiting multiple sites for showtimes? 
  Yahoo! Movies is all you need


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke