bagus mbak, hehehe ...

coba ada engga yang bisa nulis
prosa yang judulnya:

   "suamiku seorang ustadz ... " :-)

    ato yang lebih 'kompleks' lagi:

    "pacarku seoram ustadz ..."

---( ihsan hm )----------------------


"Listy" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
  
>>  
> 
> Istriku seorang Auditor
> 
>  
> 
> Saya menikahi wanita yang memiliki karir profesional: AKUNTAN 
PUBLIK. 
> Ya, dia adalah seorang auditor. Dan coba tebak apa yang dilakukannya
> ....
> 
> 1. Dia menyuruhku untuk menggunakan metode LIFO saat mengambil 
makanan
> yang disimpan di kulkas. Aduh ...
> 
> 2. Dia menganggapku tidak berbakat dalam bermain dengan angka. Aku 
sih
> no problem, makanya dia yang mengurus anggaran rumah tangga. Eh, 
tiap
> akhir bulan dia bikin invoice tagihan profesional fee sama aku. 
Waktu
> kubilang kalau aku ini suaminya, bukan kliennya, dia malah minta 
advance
> payment.
> 
> 3. Aku heran kenapa pengeluaran terus meningkat steadily, sehingga 
suatu
> hari, aku mengintip kertas-kertas yang ada di ordner 
berlabel "Current
> File". Tak heran! Dia rupanya men charge mileage (jarak) dan 
overtime ke
> dalam anggaran rumah tangga. Dia juga menagihkan Out of Pocket 
Expense
> ke dalamnya. Dia gila, dan aku udah bilang itu ke dia. Eh, dia malah
> bilang, "Ya enggaklah sayang, aku kan auditor ..."
> 
> 4. Setiap lembar kertas di rumah dicopy dan difilekan. Alasan dia, 
ada
> peraturan yang mengharuskan dia memaintain copy hasil kerjanya 
selama 10
> tahun. Aku sungguh-sungguh khawatir ...
> 
> 5. Dia bilang kalau dia cinta aku, dan aku bilang kalau aku cinta 
dia
> juga.
> Tapi tetap aja, dia tidak pernah percaya. Katanya, ada kemungkinan
> terjadi mis-statement. Dan dia memintaku membuat Representation 
Letter
> mengenai masalah ini ... Duhhh
> 
> 6. Tahun lalu laporan keuangan rumah kami mendapatkan opini 
Qualified
> karena aku gak menyimpan supporting document atas expensesku.
> 
> 7. Awalnya aku heran, kenapa setiap akhir tahun selalu berdatangan
> surat-surat dari seluruh famili, kolega, termasuk warung di depan 
rumah.
> Ternyata, istriku mengirimi Confirmation Letter kepada mereka semua.
> Waktu aku protes, dia bilang, konfirmasi dari pihak eksternal lebih
> realible.
> Cape deh ....
> 
> 8. Waktu istriku masak, dia sering tidak mengikuti resep. Bila resep
> bilang, tambahkan setengah sendok garam, atau satu sendok teh gula, 
atau
> setengah gelas air, dia selalu tidak peduli. Dia bilang kalau itu 
tidak
> material bila dibandingkan dengan seluruh menu yang disiapkan.
> 
> 9. Aku bilang, dia itu gila. Tapi anehnya, semua orang bilang kalau 
dia
> auditor. Di kamus, ternyata kata "auditor" bukan sinonim untuk kata
> "gila".
> Pasti kamusnya ketinggalan zaman.
> 
> 10. Waktu kami menikah, dia memberikan Engagement Letter padaku. 
Awalnya
> aku bilang, "Oh, makasih ya sayang ..." Ternyata setiap tahun dia
> memberikan surat yang sama. Katanya, standarnya mengharuskan dia
> melakukan itu bila ada indikasi kalau aku keliru memahami tujuan dan
> scope dari Engagement.
> Dia juga bilang, aku tidak bisa pisah dari dia begitu saja. Dia 
punya
> hak untuk didengar sebelum aku menunjuk orang lain. Dan dia juga
> menegaskan bila aku menunjuk orang lain menggantikan dia, maka 
harus ada
> komunikasi antara dia dan penggantinya, agar dia bisa menyampaikan
> keberatan profesionalnya. Mati kita ...
> 
> 11. Phew ... Kadang kala, aku berpikir, kalau dia membahayakan going
> concernnya pernikahan ini. Duh ... Kok aku jadi kebawa-bawa dia ...
> 
> 12. Ku kira pernikahanku ini sudah cukup gila, tapi ternyata ada 
temanku
> yang juga kawin dengan akuntan, punya cerita yang lebih parah. 
Istrinya
> mengkapitalisasi biaya pernikahan sebagai Preliminary Expenses, dan
> mengamortisasinya setiap tahun. Biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum
> berumah tangga, juga dikapitalisasi sebagai biaya pra-pernikahan. 
Juga,
> waktu yang dihabiskannya selama pacaran sebelum menikah sedang dalam
> proses valuasi, untuk dimasukkan sebagai intangible assets.
> Teman-teman, berpikirlah dua kali sebelum menikahi auditor. Kalau 
kau
> sudah berpikir dua kali dan tetap memutuskan untuk menikahinya, 
pikirkan
> dua kali lagi. Kau harus mempertimbangkan besar risk sebelum memulai
> engagement. 
> Duh .... Aku ternyata sudah gila.
> Aku, seorang auditee seumur hidup.
> 
> Rudyanto
> Jakarta
> Indonesia
> 


Kirim email ke