http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/05/10554620/botox.pengaruhi.otak

Botox Pengaruhi Otak?

BEBERAPA peneliti telah mendapati bahwa "botulinum neurotoxin" jenis A, yang 
lebih dikenal dengan nama "botox", penghilang kerutan yang terkenal, dapat 
bergerak ke dalam sistem saraf pusat setelah disuntikkan ke dalam kulit, 
demikian "The Journal of Neuroscience" terbitan paling akhir yang disiarkan 
Jumat.
 
Temuan oleh beberapa peneliti Italia tersebut telah mencuatkan keprihatinan 
baru mengenai bagaimana toksin itu bekerja dan apa konsekuensi tak diinginkan 
yang mungkin ada.
"Botulinum toxin" memutuskan hubungan antara sel-sel saraf dengan merusak 
protein yang disebut SNAP-25. Gangguan itu melumpuhkan otot yang dikendalikan 
oleh sel-sel saraf tersebut. Benda yang lumpuh itu memungkinkan para dokter 
merawat beberapa penyakit seperti "strabismus" (atau mata juling). Operasi 
plastik juga menggunakan dosis rendah untuk melumpuhkan otot wajah, sehingga 
garis dan kerutan jadi tak terlihat.     
    
Satu tim peneliti Italia meneliti penggunaan potensial lain toksin tersebut: 
untuk merawat epilepsi. Namun saat mempelajari dampaknya pada tikus yang 
menderita epilepsi, mereka menemukan bukti mengenai toksin pada kedua sisi otak 
hewan itu, sekalipun mereka hanya telah menyuntiknya di satu sisi.
    
Dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan yang disarankan pada manusia, para 
peneliti kemudian menyuntikkan "botulinum" ke dalam mata, dagu, dan otak pada 
tikus normal. Mereka melacak toksin itu --SNAP-25 yang tergantung-- untuk 
melihat di mana dan bagaimana zat tersebut bergerak melewati sistem saraf.
    
Dalam kasus "botulinum" jenis A, jenis yang digunakan pada Botox, mereka 
mendapati bahwa rongsokan di sepanjang saraf berasal dari tempat suntikan dan 
di saraf yang berdekatan. Toksin itu bahkan mencapai bagian pangkal otak.    
    
"Satu bagian penting toksin itu aktif di tempat yang bukan diperuntukkan 
baginya," kata Matteo Caleo, pemimpin peneliti tersebut. Percobaan itu adalah 
yang pertama yang memperlihatkan bahwa "botulinum" bergerak.
    
Namun, Christopher von Bartheld, ahli saraf dari University of Nevada, 
mengatakan orang tak perlu takut. "Botox telah digunakan selama lebih dari 25 
tahun dengan sangat sedikit komplikasi, kecuali Anda kelebihan dosis."
    
Ia menambahkan bahwa kemampuan toksin itu untuk menyebar mungkin memiliki sisi 
positif, sehingga memungkinkan dokter mengobati penyakit yang berpusat di otak 
seperti epilepsi.
ABD


      
____________________________________________________________________________________
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.  
http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke