http://infoindonesia.wordpress.com
Di SCTV pagi tanggal 6 April 2008 diberitakan
kunjungan Jusuf Kalla ke gudang beras.
Bertumpuk-tumpuk karung beras ada di sana. JK dengan
bangga berkata pada para wartawan: ”Ini beras cukup.
Apanya yang kurang?”

”Tapi pak, banyak warga makan nasi aking dan
kelaparan,” kata satu wartawan.

”Ah itu kan cuma di koran”, kata JK. ”Kan persediaan
beras cukup. Dan pemerintah sudah memberikan beras
raskin (Beras untuk orang Miskin)” kata JK.

Mungkin JK tidak tahu kalau beli beras itu harus pakai
uang. Dengan harga beras sekitar Rp 6.000/kg, maka
harga beras sudah tidak terjangkau lagi oleh rakyat
miskin yang penghasilannya hanya Rp 5.000-10.000 per
hari. Bahkan beras raskin pun harus dibeli dengan
harga sekitar Rp 2.000/kg. Kadang harga tersebut
dinaikan lagi oleh para petugas untuk ongkos. Bagi
rakyat yang tak punya uang, tetap saja harta itu tidak
terjangkau.

Jusuf Kalla mungkin tidak tahu kalau tidak semua warga
kebagian beras raskin. Karena di Kalsel saja separuh
warga miskin tidak terdaftar.

Mungkin Jusuf Kalla tidak pernah baca koran atau TV
sehingga tidak tahu bahwa 5 juta anak di Indonesia
kena gizi buruk/busung lapar di mana banyak di antara
mereka mati karenanya.

JK mungkin tidak tahu warga sekampungnya, nyonya Basse
dan anaknya mati kelaparan. Mungkin JK tidak tahu
kalau banyak Balita di Aceh, NTT, bahkan Papua mati
karena busung lapar.

Percuma jumlah beras berlimpah kalau harganya tinggi
dan rakyat tidak mampu membelinya. Percuma ada
pembagian beras raskin kalau separuh warga miskin
tidak terdata dan mendapat beras raskin.

Pembagian beras raskin meski bisa meringankan tapi
tidak mampu menyelamatkan separuh warga miskin kita
karena selain separuh warga miskin tidak terdata,
kriteria kemiskinan pemerintah (Rp 5.500/hari) pun
sangat rendah sehingga banyak warga miskin tidak
tergolong miskin versi pemerintah. Selain itu sebagai
satu negara terkorup di dunia, banyak penyaluran beras
raskin yang tidak sampai kepada warga miskin. Sering
pembagian beras raskin berakhir dengan kerusuhan dan
menimbulkan korban luka-luka karena tergencet/terinjak
akibat rebutan jatah, terutama wanita dan anak-anak.

Pembagian beras raskin bukan solusi yang tepat. Solusi
yang tepat adalah pemerintah harus membuat harga beras
dan harga pangan lainnya terjangkau bagi rakyat. 

Jika pemerintah lewat Bulog membeli gabah dari petani
seharga Rp 2.000/kg, harusnya harga beras cukup Rp
3.500 saja per kg-nya. Bukan Rp 6.000/kg seperti
sekarang. Pemerintah harus mengidentifikasi pelaku
pasar yang memainkan harga beras dan menghukumnya.

Khalifah Umar ketika jadi presiden dulu rajin keliling
dengan menyamar di malam hari untuk mengetahui keadaan
warganya sehingga dia bisa dapat informasi langsung
tentang keadaan rakyatnya. Bukan dari anak buahnya
atau wartawan.

Ketika ada seorang ibu yang memasak batu untuk
menenangkan anaknya yang lapar, Umar segera menyesal
dan merasa bersalah. Dia angkut sendiri karung berisi
makanan dari gudang makanan ke rumah ibu tersebut.

Indonesia saat ini tidak butuh pemimpin yang
menganggap matinya warga karena busung lapar cuma satu
kasus atau kasuistis. Indonesia butuh pemimpin yang
begitu tahu rakyatnya lapar, langsung menyesal dan
segera datang secara pribadi untuk memberi makanan ke
mereka. Karena itulah para pemimpin kita digaji besar
dengan berbagai fasilitas kemewahan dengan uang rakyat
agar bisa melayani rakyat dengan baik.



===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau 
http://syiarislam.wordpress.com


      
____________________________________________________________________________________
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.  
http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com

Kirim email ke