Saut Saut..semua orang kok kau musuhi tho...
  Apa sih sebenarnya yang kau cari dalam hidup ini?
  Sepertinya kau selalu gelisah, grusu-grusu dan maunya selalu cari musuh.   
Apa dengan gayamu seperti ini bikin namamu sebagai "sastrawan" jadi makin 
diakui, atau saya khawatir malah sebaliknya?
   
  Apakah pernah baca tentang "reputation"?
   
  Nanti temenmu tinggal si Katrin Bandel, TS Pinang, Dino Umahoek, dan HD Halim 
aja lho...
   
  Mendingan berkarya saja yang bagus..lalu 20 tahun lagi saya baca berita 
seorang sastrawan Indonesia menggondol Nobel...bernama Saut Situmorang!
   
  Minimal kau diwanwacarailah sama wartawan Strait Times, IHT, Newsweek, Time, 
New Yorker dll. Jadi awak ikut banggalah ada sobatku yang namanya kian 
berkibar, tak cuma jago kandang saja.
   
   
  salam,
   
  rd
   
   
  

sautsitumorang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          hahaha...

makin ketahuan sekarang betapa "netral"nya moderator milis
jurnalperempuan dalam soal "debat" tentang esei Katrin itu!

kau jadi saksi tentang Jerman?! baru numpang sekolah, udah belagak
native, kacian!

masak ada pembacaan lain tentang "Saman" bukan justru dianggapnya
menunjukkan otak yang kritis! gile! maunya: semua orang muji-muji,
baru itulah tanda kekritisan, intelektualitas!!!

kalok soal jadi objek "skripsi", puisi Saut Situmorang jugak sudah
diteliti jadi skripsi! so what gitu loh, rek! hahaha...

masak kita para pembayar pajak Indonesia harus keluar duit cuman
untuk biayain orang kayak gini sekolah ke Jerman, mek! "beasiswa" itu
kan utang rakyat!!! kita yang harus bayar lewat kebijakan ekonomi
yang akan merugikan kita kerna menguntungkan negara pemberi hutang
dalam bentuk "beasiswa" itu!

piye iki cobo?

dekadensi akademis!!!

hahaha...

===================

Halo say,

1. Saman di PTM
Nong dari JIL, sekomunitas di KUK ya? Gak usah jauh-jauh sampai Jerman
deh. Di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia, diajarkan novel Saman. Jadi, novel Saman itu tidak hanya
dipuji didalam komunitas KUK. Di luaran juga tuh. Buktinya PTM
(Perguruan Tinggi Muhammadiyah) menerapkan resep dalam kurikulumnya.
Banyak mahasiswa/i membaca, meneliti, dan menjadikan proyek dalam
skripsinya.

2. Saman di Uni Jerman
Oh ya, mau contoh jauh di Jerman? Itu lo say, di Universitat Bonn dan
Universitat Koeln, aku jadi saksi, kalau novel Saman dibaca dengan
antusias dan jadi proyek tugas akhir para mahasiswa/i.

Piye iki cobo?

--- In [EMAIL PROTECTED], Katrin Bandel
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
....
> Nah, kalau memang Ayu Utami memenuhi kriteria tersebut, bukankah
seharusnya mudah mencari penulis berbobot - di dalam atau di luar
Indonesia - yang dapat dan bersedia membuat tulisan tentang Ayu Utami
dengan nada positif? Tidak harus GM yang sekomunitas dengannya, kan?
>
> Dengan jawaban Anda yang lugu, Anda sebetulnya membenarkan bahwa Ayu
Utami dianggap hebat memang hanya oleh komunitasnya sendiri!
>
> Katrin Bandel



                           


www.mediacare.biz
       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke