Catatan Bantimurung:
PUISI-PUISI ANAK SENTANI
2.
Catatan ini bukanlah bahasan menyeluruh tentang puisi-puisi Luna Vidya, tapi
hanyalah catatan kesan tentang hal-hal yang menonjol dan mencirikan
puisi-puisi Luna Vidya. Yang kumaksudkan dengan bahasan menyeluruh adalah
mengupas puisi-puisi Luna dari berbagai aspek. Karena forum ini kukira tentu
bukan tempat padan untuk melakukannya. Tambahan pula, dan ini perlu
digarisbawahi, karena kemampuanku memang tidak mencukupi. Catatan ini pun
tidak lebih pula dari sebuah kesan setelah membaca puisi-puisi Luna yang
kebetulan bisa kukumpulkan. Mengumpulkan karya-karya seseorang, kukira, akan
memungkinkan komentator memperoleh bahan guna menggoreskan kesan garis besar,
tidak hanya berdasarkan satu tulisan sebagai sampel . Mendingan jika sampel ini
benar-benar mewakili. Karena itu komen, kesan, ulasan dan kritik, tidak sama
dengan obyektivitas.
Baris-baris di atas ini, bisa dipandang sebagai pengantar dan dasar kesanku
setelah membaca puisi-puisi Luna Vidya, anak Sentani, Papua, yang kukumpulkan
dengan susah payah. Puisi anak Papua, sebagaimana halnya dengan karya-karya
sastra pulau dan daerah mana pun sangat menarik padaku dalam rangka mewujudkan
politik sastra yang republiken dan berkeindonesiaan yang dijabarkan dalam
motto "Bhinneka Tunggal Ika" , kebudayaan itu majemuk , kemanusiaan itu
tunggal. Dengan mengatakan ini, aku hendak menunjukkan bahwa aku menolak
standarisasi Jakarta. Aku ingin hanya kemanusiaan yang tunggal. Nilai karya
sebagai buah kebudayaan itu majemuk dan tak ada monopoli mutu. Monopoli mutu
tidak lebih dari kepongahan penganut pandangan cupet sekali pun dikawal dengan
deretan bacaaan sebanyak apa pun. Daftar bacaan acuan tidak sama dengan mutu
hakiki seseorang. Sama halnya dengan gelar-gelar akademi. Aku khawatir keadaan
begini terjadi di Indonesia, misalnya melalui jual-beli gelar,
pembelian nilai sks dan hasil ujian di berbagai sekolah dan universitas,
pembuatan skripsi dan tesis.
Kembali ke soal puisi-puisi berbahasa Indonesia karya anak Sentani ini,
bagiku merupakan suatu hal sangat menarik, terutama karena ia ditulis oleh
seorang penyair kelahiran Sentani. Perempuan pula. Sebatas pengetahuanku,
sastrawan yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana pengungkapan diri
masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.
Dari puisi-puisi Luna Vidya yang berhasil kukumpulkan, nampak padaku Luna
hadir dengan memperlihatkan metafora-metafora khas dari seorang penyair yang
lahir dan besar di tengah alam atau alat-alat kerja dalam masyarakat pedesaan
yang belum tersentuh industiralisasi.
Misalnya pada dua sanjak di bawah ini:
Bulir Padi, Bumi Sepi
Seperti orang menimba bulir padi ke dalam wadah
Demikian tangan waktu menimbaku
Seperti orang menimba bulir padi ke dalam wadah hingga menyesak ke sudut
Demikian waktu menyesakkan hadirmu
ke sepi paling murni jiwaku
Seperti orang menimba padi ke dalam wadah hingga menyesak ke sudut pada waktu
petang
Demikian bayangmu datang padaku di rembang petang
silau langit tertoreh lalu jatuh hujan ke ladangku
hujan akhir musim , di sepetak ragu berbatas langit
yang terus kutanami meski berbuah pahit
seperti bulir padi dijauhkan orang dari waktu yang kelam
demikian kuikat mulut malam
tempat kita kusimpan
lalu menunggu
diriku ditanak waktu
musim demi musim
bersendiri
seperti bulir padi
pecah jadi nasi.
2008
lunes 17 de marzo de 2008
jala koyak pada jala yang koyak
mataku
berurai benang waktu
menjahit masa depan jadi kenangan
March 2008
Paris, April 2008
-----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia Paris.
[Bersambung...]
---------------------------------
Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel
[Non-text portions of this message have been removed]