Harapan pembawaan keliling obor Olimpiade dapat berlangsung dengan harmonis, telah gagal. Mereka menyatakan kejadian ini tidak sejalan dengan jiwa Olympiade. Organisator Olimpiade di Beijing terpukul oleh konsep mereka sendiri bagi perjalanan keliling obor tersebut. Rencananya, dengan membawa obor lewat lima benua sampai ke puncak Mount Everest, mereka hendak menunjukkan Cina yang modern yang bukan hanya berhasil dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga berhasil menyelenggarakan Olimpiade.
Cina tadinya bermaksud memanfaatkan Olimpiade sebagai ajang propaganda politiknya. Mereka tidak perlu heran, jika strategi ini sekarang berbalik menjadi bumerang, bahkan memukul mereka sendiri. Sejak mulai di London, Paris sejumlah aktivis pro-Tibet berulang kali mencoba merebut obor Olimpiade dari tangan para pelari. Di San Fransisco praktis tidak ada yang melihat obor itu diarak. Polisi San Fransico melindunginya bagaikan penjahat kawakan, yang hendak dirajam oleh masyarakat. Hari Sabtu kemarin Api Olimpiade tiba di Tansania Afrika, walaupun Tansania adalah negara yang bersahabat dengan China, mereka tetap khawatir sehingga perjalanan yang direncanakan sepanjang 25 km; telah dipersingkat menjadi 5 km. Kemungkinan besar disetiap negara; pawai perjalanan Api Olimpiade ini akan selalu disertai dengan protes besar-besaran, satu-satunya negara yang mungkin tidak akan terjadi demo adalah Korea Utara (Pyongyang). Untuk pawai Api Olimpiade ini Peking telah menyediakan bodyguard khusus yang selalu turut menjaga api tersebut agar jangan sampai di padamkan. Masalahnya apabila Obor Api Olympiade itu padam, maka obor api ini hanya diperkenankan dinyalakan lagi dengan api original yang berasal dari Yunani. Oleh sebab itulah mereka selalu membawa api cadangan yang kedua, jadi apabila obor api terebut padam langsung bisa dinyalakan kembali dengan api cadangan tersebut. Estafet pawai membawa obor api ini diawali di Olympiade Musim Panas 1936 di Berlin, dimana lebih dari 3.000 orang pelari yang turut bagian sebagai peserta. Sejak saat itulah pawai obor Api ini menjadi bagian tetap dari Olimpiade Perjalanan obor api Olimpiade kali ini suram, bahkan sudah bisa diprediksikan akan menimbulkan banyak masalah. Misalnya di Bangkok, tidak ada selebritis ataupun tokoh olahragawan yang bersedia membawa obor tersebut. Rute perjalanannya pun akan dirahasiakan, agar tidak ada orang yang tahu sebelumnya. Hal yang sama bukan hanya akan dilakukan di Bangkok saja, tetapi di negara-negara lainnya pun demikian termasuk Indonesia. Di India yang tadinya direncanakan akan dibawa oleh 105 peserta, termasuk para bintang Bolywood, akhirnya hanya 10 orang saja yang bersedia membawa obor api tersebut. Penolakan dilakukan juga oleh pemain sepak bola India yang paling ngetop Bhaichung Bhutia. Mereka merasa malu untuk lari membawa obor api Olimpiade ini, oleh sebab itulah juga Obor Api Olimpiade kali ini menadapatkan julukan sebagai "Flame of Shame" atau "Api yang memalukan" Obor Olimpiade nyaris padam. Lambang lingkarannnya berlumuran darah. Siapa yang salah? Kita semua! Komite Olimpiade Internasional yang seharusnya tahu, keputuskan lokasi tuan rumah Olimpiade akan selalu terkait dengan dampak politiknya. Pemerintah Cina yang seolah tuli terhadap aksi protes masalah Tibet. Tapi dunia Barat juga bersikap tidak bertanggung jawab. Mengapa menunggu dan memanfaatkan momentum Olimpiade untuk menggelar bahwa Tibet ditindas? Kita semua menjadi bola permainan sirkus politik dan media massa. Walaupun demikian cobalah direnungkan oleh Anda sendiri. Dalam aksi demonstrasi dan gegap gempita pemberitaan media massa, tidak hanya tertumpah kekecewaan mengenai kondisi hak asasi manusia di Cina, melainkan juga ketakutan akan globalisasi, yang di Barat terutama dicitrakan oleh sosok Cina. Barat memandang Cina sebagai saingan berat dalam memperebutkan sumber daya alam, lapangan kerja dan kesejahteraan. Mengritik situasi hak asasi manusia, merupakan usaha yang secara moral tidak berisiko. Dengan itu hendak diingatkan, agar Cina jangan mengganggu gugat hegemoni Barat yang sudah mengakar berabad-abad. Jadi, nyaris tidak ada kaitannya dengan semangat Olimpiade. Maka dari itu tidaklah salah apabila pawai Obor Api Olimpiade ini diberikan julukan sebagai Flame of Shame, karena negara-negara Barat akan merasa senang dan puas apabila berhasil "Mempermalukan Cina" atau negara yang sebelumnya telah mempermalukan mereka sebagai negara-negara industri atas keberhasilannya. Mang Ucup Email: [EMAIL PROTECTED] Homepage: www.mangucup.org

