Maaf, email ini sudah lama sekali "ngumpet" di kotak surelku, tapi baru sempat kuposting ke milis.
Salim Said, mantan wartawan Tempo yang kini berdomisili di Praha (Ceko), mengomentari tulisan Martin Aleida - juga mantan wartawan Tempo - yang beberapa waktu lalu pernah disebar ke berbagai milis. E-mail aslinya ditujukan ke Ed Zoelverdi, Toeti Kakiailatu, Bambang Harimurty, Dr. Taufik Abdullah, Jajang C. Noer, dan Taufiq Ismail. salam, rd Komentar Salim Said soal tulisan Martin Aleida ------------------------------------------- Toeti dan Ed yang baik, Di bawah ini saya kirimkan memoir Martin Aleida selama yang bersangkutan bekerja di TEMPO. Banyak yang baru saya tahu tentang Martin dari tulisan ini. Baru sekaranglah saya tahu bahwa dia pernah bekerja di Ekspres sebelum di Tempo, pada hal untuk waktu singkat saya juga pernah bekerja di Ekspres, dan tidak ingat pernah ketemu Martin waktu itu. Saya juga baru tahu bahwa Martin pernah jadi tahanan politik, dan pernah diinterogasi oleh intel Kodam ketika sudah bekerja di Tempo. Martin pintar menyimpan rahasia, sehingga soal interogasi itu baru muncul bagi kami teman-temannya hampir 40 tahun kemudian. Yang saya tahu dulu adalah bahwa Martin itu anak muda, datang dari Medan, tidak tahu apa-apa dan lalu oleh temannya sesama anak Medan menampungnya di koran PKI, Harian Rakyat. Begitu cerita Goenawan Mohammad (GM) kepada saya dulu. Dengan mengatakan demikian, GM nampaknya atau ingin meyakinkan saya bahwa Martin bukan orang komunis dan karena punya potensi sebagai penulis, boleh saja ditampung di TEMPO. Waktu itu Lukman dan Fikri pernah mengeluh kepada saya mengenai keputusan GM menerima Martin. "Ini bisa mempersulit kita,"kata Lukman waktu itu. Di kemudian hari, di Praha ini, saya membaca buku John Roose Pretext for Mass Murder yang mengungkapkan tentang Martin (halaman 126,173 dan 290). Ternyata Martin itu kader partai yang sudah pernah mengikuti sekolah partai. Jadii dia bukan anak muda yang polos yang tidak tahu apa-apa, seperti kata GM kepada saya di awal tahun tujuhpuluhan. Lagi pula kalau dia polos, sulit rasanya membayangkan Harian Rakyat, sebagai organ utama PKI, menerima Martin. Pertanyaannya lalu, apakah GM tahu betul tentang Martin waktu itu sehingga berani mengambil risiko mempekerjakannya di TEMPO? Atau GM tahu tapi dengan sadar mempekerjakan Martin sebagai perlawanan GM kepada rezim otoriter orde baru? Menarik untuk dicatat bahwa selain Martin, orang PKI/Lekra yang dipekerjakan di TEMPO kemudian adalah Maniaka Tahir Thayeb dan Amarzan Ismail Lubis ( eks pulau Buru). Sekarang setelah orde baru runtuh, PKI bukan lagi persoalan, GM tentu bisa mengklaim bahwa beliau berani menantang orde baru dengan mempekerjakan musuh-musuh Orba, yakni orang-orang komunis itu, justru pada saat jaya-jayanya rezim Suharto. Hal kedua yang ingin saya catat dari memoir Martin ini adalah ingatannya yang tidak akurat dan kecenderungannya mencampuradukkan Dichtung und Warhait. Untuk diketahui, dalam salah satu rapat mengenai "perebutan saham" antara kita yang 17 orang dengan mereka yang merasa pemilik TEMPO (GM,FJ,Bur, Christianto Wibisono, Usamah dan Haryoko), kita memang sepakat bahwa yang masuk golongan kita adalah mereka yang bekerja sejak awal TEMPO, dan itu bukan cuma wartawan melainkan juga termasuk office boy seperti Wage. Martin datang belakangan -- seperti dia akui sendiri dia bergabung di TEMPO ketika kita sudah berkantor di Senen Raya -- sehingga kami tidak menghitungnya sebagai bagian dari kita. Jadi ingatan Martin bahwa saya yang menolak dia (kalau kalimat yang dikutipnya memang keluar dari mulut saya, sutu hal yang saya ragukan) adalah serangan pribadi yang tidak fair kepada saya sebab yang saya katakan itu (kalau betul saya katakan sebagai yang dikutip Martin dalam memoirnya tsb) adalah keputusan bersama. Jadi nothing to do with Martin personally. Cerita Martin mengenai dia bermalam di kamar saya di Matraman Raya, saya yakin adalah hasil kreativitasnya sebagai penulis novel. Bagaimana saya mengajaknya tidur di rumah saya, sementara saya tidak pernah akrab dengan Martin. Lagi pula Martin waktu itu sudah berkeluarga, ketika kami semua masih bujangan. Orang TEMPO yang pernah tidur di kamar bujangan saya, selain GM, adalah almarhum Komar, Dahlan Iskan dan Cristianto Wibisono. Martin pasti tidak pernah bermalam di rumah pondokan saya yang letaknya strategis itu (Matraman Raya 51.). Tidak tertutup kemungkinan dia pernah beberapa kali datang ke pondokan saya, sendiri atau bersama reporter TEMPO lainnya. Sebab kamar bujangan saya memang sering jadi tempat kongkow-kongkow berbagai macam teman, dari reporter muda TEMPO hingga seniman senior seperti Taufiq Imail, Rendra, HB Jassin, Subagio Sastrowardoyo, Ayip Rosidi,Bastari Asnin Sutarji C. Bachri, Arifin C. Noer dll. Tapi yang saya ingat kunjungan Martin ke pondokan saya hanya satu kali, yakni pada suatu hari lebaran bersama anak gadisnya yang masih kecil waktu itu. Yang lebih fantastis lagi dari cerita Martin tentang saya adalah tentang kisah saya memberinya pistol yang, menurut tulisan Martin, dengan gagah dia menolaknya. Super fantastis lagi kisahnya tentang Sarwo Edhy datang ke rumah saya dan Martin ada di situ. Almarhum Sarwo Edhy memang beberapa kali mampir di pondokan saya (satu kamar kecil dalam sebuah gedung besar yang bagian utamanya/depan dulu menjadi kantor Gerwani, bukan dapur) tapi teman yang pernah jumpa Pak Sarwo di pondokan saya itu hanyalah GM yang memang pernah tinggal bersama saya secara acak sebelum kawin dengan Widarti. Mohon maaf, tapi saya harus mengatakan bahwa cerita Martin tentang pistol serta jumpa Pak Sarwo Edhy di rumah saya adalah isapan jempol besar yang sangat bisa dimaafkan karena Martin adalah seorang penulis prosa yang tergolong lumayan. Pertanyaannya lalu, berapa banyakkah dari kisahnya (memoirnya) yang sejarah dan berapa banyak pula yang hanya merupakan fantasi dari seorang penulis novel? Salim Said. mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed]

