Wuah.....sebuah kisah yang cerdas tentang CINTA, susah ditebak dan dalam...... bagus mas ceritanya...
2008/4/18, Erwin Arianto <[EMAIL PROTECTED]>: > > Sepenggal Kisah Hidup > > C.I.N.T.A lima hurup yang membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan > ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk Ajaib itu > tiba > dan menyergapku dari belakang, memiting ku dan dengan hebatnya > membantingku > dengan kasar, maka jatuhlah aku ke pelaminan. > > Aku seorang bebas, tapi kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan. > Seorang yang berjiwa bebas terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa > janur > kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan > pisang > raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak ada sama > sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis mendung > menggantung. > > "Ini pernikahan resmi kan, bu" tanyaku kepada ibu mertuaku, setelah semua > tamu yang sempat hadir pada acara itu pulang. > > "Resmi…!" Alis matanya agak menaik. "Ada Saksi dan petugas KUA. Sah > menurut > hukum dan agama. memangnya kenapa?" > > "Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…," jawabku. Aku memang seorang > muallaf sejak Agustus lalu. Jadi maklum belum begitu paham. > > Kami pun kembali terdiam. Ibu mertuaku asyik memisah-misahkan jepitan > rambut > yang tadi dipakai istriku. Ada yang besar ada yang kecil, dipisahkan satu > dengan lainnya. Lalu disimpan di kotak kecil-kecil. Dengan Sedikit > merenung, > aku sandarkan punggung ke tiang kayu penyangga rumah ini. rumah Tidak ada > penutup atap. Gentingnya terlihat dari bawah. Lonjoran-lonjoran bambu > tampak > jelas. > > Aku tercenung sejenak. Teringat mendiang ibuku yang meninggal November > tahun > lalu. Seandainya masih hidup, tentu ia bahagia sekali menyaksikan > pernikahanku. Wasiat terakhir untukku hanya satu: ia ingin melihatku > bahagia. Ayahku telah berpulang 3 tahun lalu. Rambutku terasa sedikit > naik. > Angin bukit batu yang kering, > > "Aku mengalami kebahagiaan hanya pada saat berdoa saja, Bu…," gumamku > dalam > batin. > > Pernikahan, terus terang, memang membuatku bahagia. Meski acara tersebut > berlangsung sangat sederhana. Pernikahan memaksaku berhenti berkelana. > Puluhan tahun aku melintasi jalanan sepi dan gelap, berteman rindu dan > harapan. Kakiku melangkah tanpa kepastian. Akhirnya aku dihentikan oleh > kekuatan yang tidak pernah aku pahami. Jodoh dan Cinta membuatku berhenti > melangkah. > > Sebagai pengelana, sungguh tak pernah aku mempelajari apa itu hakikat > perkawinan, rumah tangga bahagia, keluarga sakinah dan sebangsanya. > Jadilah > aku manusia paling bodoh. Mengalami ketergagapan budaya dalam berumah > tangga. Sebuah ritual tradisional yang dijalankan turun temurun oleh > seluruh > umat manusia di dunia ini. Dan aku tidak mengenalinya sama sekali. > > Dulu, aku merasa takut menghadapi pernikahan. Dalam bayanganku, semua > keperluan rumah tangga harus dipersiapkan terlebih dahulu, seperti rumah, > penghasilan tetap dan kendaraan. Sejak usia 18 tahun, sudah tiga kali aku > membangun rumah, hanya untuk memahami elemen-elemen pernikahan itu. Rumah > pertama, mungil tapi permanen, terpaksa aku jual karena pindah ke bandung. > Dan calon istriku pergi jadi pramugari. Terbang, selamanya. > > Rumah kedua, sebetulnya aku tidak begitu berminat membangunnya untuk > tujuan > berumah tangga, meski pacarku cintanya tak terbatas untukku. Kubangun di > pinggir jalan besar, di sebuah desa yang tenang. Aku tinggal di situ > setahun > lamanya, sambil menyelesaikan buku keduaku tentang meditasi. Aku jual > lagi. > Pacarku ke Singapura bekerja di sana. > > Setelah itu, aku tidak membangun rumah lagi. Tapi membelinya. Di daerah > sentra pariwisata di Pelosok Bekasi. Sebuah rumah joglo tua dan angker. > Akhirnya, karena jenuh dan ada peristiwa yang mengguncang diriku, aku > memutuskan berkelana lagi. Rumah itu kujual secara tergesa-gesa. > > Kini, aku punya istri yang setia tapi tidak punya rumah. Dulu aku punya > rumah tapi hidup sendiri tanpa istri. He..he…he, ironis kan? Sementara ini > istriku tinggal bersama orang tuanyanya. Ia memang anak yatim yang didera > penderitaan hidup berkepanjangan. > > Ibu mertuaku ternyata sudah sejak tadi beranjak dari duduknya. Lamunanku > tentang peristiwa pernikahan ini, membuatku tidak memahami lingkungan > sekitarku. Aku pun beranjak, mencari istriku di bilik sebelah, bersekat > tripleks. > > Istriku cantik sekali. Tercantik di dunia. Ia tampak sedang sibuk > memberesi > pakaian pengantinnya, bedaknya dan segala tetek bengek perlengkapan gaun > pengantin. Bau parfum Drakkar Noir dari Calvin Klein masih tertinggal, di > ujung hidungku. Tadi, seusai resepsi, kucium dia di tengkuknya. Jadi aroma > parfumnya ikut juga. Memang, itu parfum cowok. Tapi mau bagaimana lagi? > Adanya cuma itu. Aku membelinya di drugstore Bandara Juanda, Surabaya dua > tahun lalu, sepulang dari tugas kantor dari batam, dan kubeli di daerah > jodoh batam, dekat Supermarket Top100, Nagoya-Batam. > > Aku cium lagi tengkuknya. Ia tersenyum manja. Kebahagiaan terpancar di > wajahnya. "Mau ngopi lagi, Mas?" tanyanya. Aku menggeleng, kudekap dia > dari > belakang, kemudian kita saling menempelkan pipi dan mematut-matut di depan > cermin. Sepasang pengantin baru yang menikah diam-diam. Aku lihat matanya > berbinar-binar. Ia bahagia, Lalu apakah aku bahagia? > > Makna kebahagiaan bagiku hanyalah setetes warna yang lebih bersinar di > antara warna-warna lain yang kusam. Setiap orang yang mampu meraih segala > sesuatu yang diidam-idamkan, tentu merasa bahagia. Begitu pula aku. > Seringkali aku merasa lelah Berkelana dan ingin hidup layak seperti pada > umumnya orang dengan menikah, berkeluarga, dan beranak pinak seperti yang > disampaikan Allah kepada Nabi Ibrahim. > > Dua minggu menjelang pernikahan, secara khusus memang aku memohon kepada > kekuatan Yang Maha Dahsyat. Kekuatan paling purba, sebelum bumi dan tata > surya ini tercipta. Di bawah pohon tua berumur ratusan tahun, di atas > bukit > kecil yang lembab, tepat tengah malam dan purnama penuh di angkasa, aku > sampaikan permohonan keramatku itu. "Aku tidak butuh kekayaan, aku butuh > istri dan sebuah keluarga," begitu doaku. Kun fayakun, terjadilah segala > sesuatunya secepat kilat. > > Pernikahanku juga berlangsung kilat. Memang, ketemunya sudah lama, dua > tahun > silam di acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu kota. Belum ada > getar-getar cinta kala itu. Pertemuan kedua terjadi di Jogja, di pinggir > lapangan golf Hyatt Regency, Bogeys Teras. Biasa saja, semuanya > berlangsung > biasa. Cuma di tengah dentuman musik classic rock yang mengalun, dia > mengatakan kepadaku setengah berbisik: "Kalau mau sama aku, harus > serius…," > katanya. > > Langsung saja aku melamarnya malam itu juga. Ia pun mencium punggung > tangan > kananku. Resmilah kita mengikat janji. Sepuluh hari setelah malam > "bertabur > bintang" itu, terjadilah pernikahanku ini. Tanpa surat undangan,wedding > taart dan acara meriah. > > Perjalanan pernikahanku memang terkesan begitu indah. Tak ada cacat, semua > berjalan baik dan tenang. Ombaknya kecil, landai, dan bisa pasang layar > sesuka hati. Langit biru tampak bersahabat di ujung cakrawala dan matahari > bersinar ramah. > > Ku coba nikmati pernikahanku. Sedikit unik. Biasanya jok sebelah kemudiku > selalu kosong. Paling, terisi dokumen pribadi dan beberapa bungkus rokok. > Kini ada wanita cantik dengan rambut tergerai, tawa yang renyah dan sangat > suka memakai aksen…gitu loh. "Liya gitu loh….," katanya menegaskan bahwa > Liya beda dengan Lia. > > Aku jadi mudah tertawa dibuatnya. Segala kata jadi berbunga-bunga, dan > kita > selalu mengurung diri di kamar berdua. Bercanda, berantem kecil-kecilan, > saling merajuk dan tentu saja, bercinta. > "Aku pengin punya anak 9," kataku. > "Dua saja….Capek, Ngurusinnya" jawabnya sambil menepuki perutnya. yang > putih > itu > > Lalu kami berpelukan lagi. Seolah tidak ada cakrawala untuk luapan > kegembiraan dan kebahagiaanku. Tidak ada yang membatasi. Tidak ada garis > lurus yang memisahkan. Tidak seperti langit dan bumi yang dibelah di > cakrawala. Segalanya serba los, bebas dan tak terbatas. Luar biasa. Aku > selalu merindukan setiap menitnya. > > Tawa ceria dan segala canda itu ternyata tidak berumur lama. Begitu cepat > perginya. Sama cepatnya dengan proses pernikahanku. Kebahagiaan, agaknya, > tidak pernah berpihak kepadaku. Segala sesuatunya berbalik 180 derajat. > Sirna seketika. Berubah serba hitam. Galau. Gelap. Bergemuruh. > Menghentak-hentak dan menyambar-nyambar. Setiap kata jadi bersayap-sayap. > Salah paham muncul silih berganti. Kecemburuan, kecurigaan, dan > pembicaraan-pembicaraan yang penuh teka-teki pun berebut mengganggu. > > Salah ucap sedikit, menjelma jadi bara api pertengkaran. Berkilat-kilat. > Aku > sampai tidak sempat berdoa karena pikiranku tersita sepenuhnya untuk > istriku. Kelakuannya berubah-ubah, sulit dipahami, tidak bisa ku mengerti. > "Aku ingin sendiri," katanya pelan, tapi kurasakan seperti halilintar. > Menggelegar. > "Kita ini menikah, bukan pacaran. Ini Bulan Suro…harus serba hati-hati," > kataku > mengingatkan. > > "Hasyaahhhh….." Mukanya jadi cemberut dan bibirnya jadi tambah lancip. > Rambutnya yang dikucir bergoyang-goyang. Meski marah, kuakui, dia tetap > saja > menggemaskan dan menawan hati. > > ia pun berargumentasi tentang pernak-pernik kegalauan perasaannya. Dari > soal > sepele sampai besar. "Aku tuh sukanya mobil-mobilan dan korek api, bukan > bunga…Sabunku juga bukan yang itu, shamponya yang ini….." Mimik mukanya > agak > berkerut-kerut, ketika aku bawakan setangkai red rose, yang ku tanam > sendiri > dan ku kemas dalam plastik cantik. > > Aku berusaha menyelami segala sesuatunya dengan hati-hati. Termasuk soal > rumah, yang berkali-kali dilihat masih kurang cocok di hati. Kadang > jengkel > juga. Namun pernikahan tidak boleh terganggu dengan perasaan-perasaan yang > tidak berguna seperti itu. Pernah aku berpikir kenapa harus begitu > tergesa-gesa menikah?, tidakkah harus aku memilih lagi. > > "Aku sudah lelah dan jenuh dengan kehidupanku selama ini. Jadi aku > memutuskan untuk cepat menikah," katanya ketika itu. > > Argumentasinya itu membuatku merasa menemukan wanita yang sudah matang. > Masa > lalu yang carut marut memang harus diakhiri ketika pernikahan terjadi. > Ketika baju pengantin dikenakan dan akad nikah ditandatangani, maka masa > lalu berakhirlah di situ. Pernikahan adalah sebuah lembaran baru yang > serba > bersih, sehingga kita bisa menuliskan apa pun di sana sesuka hati, tanpa > harus dihantui lembaran-lembaran hitam masa lalu. Kisahnya harus dibuat > sesuai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Ditata seperti mengatur > sebuah > taman bunga. Agar segalanya serba semerbak dan mewangi. Sampai akhirnya > lembaran pamungkasnya ditutup sendiri oleh Sang Khaliq. Pemilik hak atas > seluruh hukum kehidupan. Ah, lumayan juga teoriku ini, "memang aku jago > untuk berteori ucapku". > > "Hanya kematian yang bisa memisahkan sepasang pengantin," kataku > kepadanya. > Ia tercenung beberapa jurus. Matanya yang indah terdiam beberapa saat. > Lalu > bola matanya berubah jadi abu-abu. Ia pun meledak-ledak lagi. Ada bau > parfum > yang berbeda dari tubuhnya, ketika ia berdiri sambil bersungut-sungut. Aku > terhenyak. Berangkat kantor tadi pagi, memang ia sudah terlihat kusut. > Tapi > aku tidak memikirkannya terlalu dalam. Sewaktu turun Corola Biruku, ia > hampir lupa mencium tanganku. > > "Aku suamimu bukan?" tanyaku pelan, sambil kusodorkan tangan kananku. Ia > pun > menciumnya. "Nanti dijemput jam berapa?" tanyaku lagi. > "Jam empat sore. Mundur satu jam," jawabnya, sambil bergegas turun. > > Prahara itu pun dimulai. Bau parfum yang berbeda sepulang kantor, menjadi > puncak dari seluruh masalah yang bertumpuk. Padahal sepulang kantor tadi > kami sempat melihat sekali lagi rumah yang akan kami tempati, dan sudah > kami > taksir. > > "Besok aku mau naik bis kota saja. Nggak usah diantar jemput lagi," > ujarnya > sambil membanting tubuhnya ke kasur. Ia memunggungiku. Tampak jengkel. > > Aku berharap keadaan itu hanya sementara saja. Seperti > permasalahan-permasalahan kecil yang terjadi di hari-hari kemarin. > Ternyata > tidak. Besok-besoknya lagi, tetap sama. Terus-menerus begitu. Sehari dua > hari. Seminggu dua minggu. Seluruh saluran komunikasi ditutup. Ia pun > ganti > nomor hand phone. Aku takut membayangkan kenyataan yang bisa membuatku > bersedih. > > "Ini hanya sementara…," katanya ketika aku nekat menemuinya, di siang yang > terik. "Sementara…," itulah kata-kata yang aku jadikan pegangan. Meski > berat > dan dipenuhi ribuan teka-teki, aku berusaha meyakini janjinya itu. > > Kehidupanku pun kembali limbung. Aku kembali melangkah tanpa kepastian, > tak > ada teman selain rindu dan harapan. Keinginanku untuk menjalani kehidupan > masa lalu kembali menggelegak lagi. Kembali berkelana dan mencari hati > seroang wanita. Ya, berkelana. Akulah, pengelana itu! > > Aku harus kembali berteman dengan alam, dengan orang-orang yang hidup > sederhana di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di pinggir-pinggir > pantai. > Bertemu orang-orang yang tulus mencintaiku, menerimaku dengan tangan > terbuka, tanpa rasa curiga, saling pengertian dan tidak mengkhianati. Aku > merasa bahagia. Apalagi kalau mereka berduyun-duyun di belakangku, > mengikutiku berdoa. > > "Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak mengizinkan aku memiliki sebuah > keluarga, keturunan, dan generasi pewaris?" gumamku ketika aku datang lagi > ke pohon besar di atas bukit yang lembab itu. > > Selang beberapa saat, tiba-tiba melodi Songete mengalun dari hand phoneku. > Debur ombak Laut Selatan hampir membuatku tidak mendengarnya. Ada SMS > masuk, > dadaku berdebar. > > "Jeleeeeeeeeeeeeeek…where are u? Aku kangen to sama kamu Jelek. Ke sini > tak > buatin kopi…..!" begitu bunyi SMS-nya. Dari istriku. Ah, ternyata itu SMS > yang pending sejak empat minggu lalu. Dasar Wanita manja,dan aku pun > menjalani sepenggal kisah hidupku lagi, serta berhenti kembali > mengurungkan > niatku untuk berkelana. > Depok, 14 April 2008 > > -- > Best Regard > Erwin Arianto,SE > エルイン アリアント (内部監査事務局) > ------------------------------------- > SINCERITY, SPEED, INOVATION & INDEPENDENCY > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]

