--- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saat ini dunia sedang mengalami krisis Pangan. Di
> Haiti, Filipina, Mesir, dan juga Indonesia harga
> pangan naik hingga 50-100% lebih. Bahkan di Haiti
> protes warga atas kenaikan pangan sampai menjatuhkan
> pemerintah yang ada karena dinilai tidak mampu menjaga
> harga pangan sehingga tidak terbeli lagi oleh rakyat.
> Menurut ketua FAO, sedikitnya ada 37 negara di dunia
> yang saat ini mengalami krisis pangan termasuk
> Indonesia. Di Indonesia sebelum krisis saja sudah ada
> sekitar 5 juta Balita yang kurang gizi atau busung
> lapar dan beberapa korban sudah mati kelaparan. Jika
> tidak diantisipasi jumlah korban akan bertambah besar.
> 
> Saat ini harga pangan di Indonesia juga melonjak. Bank
> Dunia menyatakan ini terjadi karena program
> biofuel/bioenergi yang merampas lahan
> pertanian/perkebunan dari penghasil pangan menjadi
> penghasil bahan bakar minyak yang harganya lebih
> tinggi dari harga pangan. Akibatnya pangan langka dan
> harganya meroket mengikuti harga bahan bakar minyak.
> Hal ini diperparah oleh aksi Spekulan Pasar Komoditas
> yang mempermainkan harga untuk mendapatkan keuntungan.
> 
> Pada sektor pangan yang dikuasai swasta (Sukanto
> Tanoto, Bakrie, Anthony Salim, dsb) seperti Kelapa
> Sawit dan turunannya (minyak goreng), pemerintah
> nyaris tidak bisa mengontrolnya sehingga harga melejit
> dari Rp 6.000/kg menjadi Rp 16.000/kg.
> 
> Sebaliknya pada sektor beras yang dikontrol Bulog dan
> dikelola petani kecil lonjakan harga tidak terlalu
> besar. Dari sekitar Rp 4.000/kg menjadi Rp 6.000/kg.
> Namun harga beras internasional yang cenderung naik
> hingga US$ 750/ton (Rp 7.000/kg) membuat para
> pengusaha mulai tergiur untuk mengekspornya ke luar
> negeri guna mendapat keuntungan lebih. Jika selisih
> harga cukup besar misalnya sampai lebih dari 30%,
> bukan tidak mungkin jika keinginan ekspor para
> pengusaha tersebut tidak dapat dibendung lagi oleh
> pemerintah.
> 
> Di sisi lain, para petani kecil yang merupakan
> produsen beras justru tidak bisa menjual dengan harga
> pasar atau mengekspor ke luar negeri. Mereka tidak
> punya kemampuan untuk itu. Sebaliknya harga gabah
> mereka justru ditekan Bulog dari Rp 2.000/kg menjadi
> Rp 1.800/kg dengan alasan kualitasnya buruk.
> 
> Untuk meningkatkan ketahanan pangan dan tidak
> mengalami nasib seperti Haiti di mana pemerintahnya
> sampai jatuh karena didemo rakyatnya, pemerintah harus
> melakukan hal-hal sebagai berikut.
> 
> Pertama pemerintah harus melarang para pengusaha besar
> masuk ke sektor pangan, terutama Sembako. Baik sebagai
> pengelola perkebunan mau pun sebagai eksportir. Sebab
> sekali para pengusaha besar masuk, maka orientasi
> mereka hanya untung, bisnis, dan untung. Tidak ada
> sama sekali kepedulian sosial kalau rakyat lapar atau
> butuh pangan yang mereka hasilkan. Beli sesuai harga
> internasional atau tidak. Kalau tidak mau, mereka jual
> ke luar negeri. Itu prinsip mereka. 
> 
> Kalau pemerintah mau bayar uang "subsidi" ke mereka,
> baru mereka menjual "murah". Itu pun dengan harga yang
> tetap tidak terjangkau bagi rakyat kecil. Contohnya
> banyak rakyat kecil yang kembali dan tidak jadi beli
> karena ternyata harga minyak goreng operasi pasar
> harganya Rp 9.500/kg. Masih jauh di atas harga pasar
> sebelumnya yang hanya Rp 6.000/kg.
> 
> Biarkan para petani kecil yang mengelola dan Bulog
> sebagai distributornya. Tentu Bulog juga harus
> diperbaiki sehingga bisa lebih efisien dan tidak
> terlalu menekan petani.
> 
> Kedua, jangan sampai impor pangan. Kalau impor pangan,
> maka saat para produsen pangan menahan ekspor karena
> ingin memenuhi kebutuhan dalam negeri akibat pangan
> yang semakin langka, rakyat Indonesia akan kelaparan.
> 
> Oleh karena itu Indonesia harus mandiri di bidang
> pertanian. Caranya pertama perbaiki harga beli beras
> dari para petani sehingga mereka semangat untuk
> menanam. Jika harga beras dari petani sekarang hanya
> Rp 2.000/kg, tingkatkan jadi Rp 2.500/kg sehingga
> orang jadi lebih tertarik untuk bertani.
> 
> Dengan harga hanya Rp 2.000/kg bahkan sekarang Rp
> 1.800/kg, dengan panen per hektar 8 ton per tahun para
> petani hanya mendapat Rp 14,4 juta per tahun atau Rp
> 1,2 juta per bulan. Setelah dikurangi harga benih,
> pupuk, pestisida, transport, dsb, penghasilan para
> petani hanya berkisar Rp 500 ribu/bulan/hektar. Para
> petani di Jawa umumnya lahannya hanya kurang dari 0,4
> hektar. Jadi penghasilannya hanya Rp 200 ribu/bulan.
> Kalau padi rusak karena kekeringan, banjir, atau
> serangan hama, mereka malah merugi. Siapa yang mau
> jadi petani kalau begitu kalau tidak terpaksa?
> 
> Jadi selain menaikan harga beras dari petani menjadi
> Rp 2.500/kg, pemerintah juga harus menyediakan lahan
> minimal 2 hektar bagi setiap petani sehingga mereka
> bisa mendapat penghasilan yang cukup dan juga memenuhi
> kebutuhan pangan nasional. Sebaiknya lahan perkebunan
> kelapa sawit yang digunakan untuk ekspor dikonversi
> jadi lahan pertanian bagi petani. Toh pemerintah cuma
> dapat pajak 10% atau kurang dari para pengusaha kelapa
> sawit tersebut selain itu manfaatnya bagi kepentingan
> rakyat juga kecil. Jika ini bisa dilaksanakan,
> pendapatan para petani bisa meningkat jadi Rp 40 juta
> per tahun dengan penghasilan bersih sekitar Rp 1,5
> juta per bulan.
> 
> Pemerintah melalui IPB juga harus memberikan
> alternatif pupuk dan pestisida alami yang lebih murah
> bagi petani sehingga biaya pupuk dan pestisida bisa
> lebih murah. Dulu ada pupuk hijau/kandang dari kotoran
> sapi. Kemudian ada juga yang memakai predator alami
> hama seperti burung hantu untuk memakan tikus. Ini
> seharusnya digalakkan.
> 
> Ketiga, Pemerintah harus mengontrol harga pangan agar
> terjangkau oleh rakyat. Jika perlu, pemerintah harus
> membersihkan jajaran ekonomnya dari ekonom
> neoliberalis yang selalu menggaungkan kata subsidi
> begitu ada selisih harga domestik dengan harga
> internasional meski sebetulnya para produsen tetap
> untung. Sebagai contoh, jika biaya produksi beras
> hanya Rp 2.000/kg sementara harga Internasional Rp
> 7.000/kg dan beras dijual dengan harga Rp 5.000/kg,
> meski sebetulnya kita untung Rp 3.000/kg, namun para
> ekonom Neoliberalis akan mengatakan bahwa pemerintah
> rugi/mensubsidi rakyatnya sebesar Rp 2.000/kg hanya
> karena harganya lebih rendah dari harga internasional
> seraya meminta pemerintah untuk "mengurangi subsidi"
> agar harganya sama dengan harga internasional.
> 
> Sebaliknya jika penghasilan rakyat hanya Rp
> 900.000/bulan sementara di luar negeri mencapai Rp
> 17.000.000/bulan, para ekonom Neoliberalis ini hanya
> diam saja. Padahal jika harga pangan mengikuti harga
> Internasional, sementara penghasilan rakyat kita
> kecil, maka rakyat kita bisa mati kelaparan. Jadi para
> ekonom Neoliberalis ini harus disingkirkan dari
> kabinet dan dari penasehat ekonomi.
> 
> Keempat, Pemerintah juga harus sanggup menghentikan
> penyelundupan. Kata penyelundupan adalah "Senjata"
> yang dipakai oleh pelaku pasar untuk memaksa negara
> agar menerima harga pangan sama dengan harga
> Internasional. Jika tidak sama, maka akan
> diselundupkan.
> 
> Untuk menyelundupkan barang ke luar negeri biasanya
> sulit. Harus melalui pemeriksaan bea cukai, karantina,
> dan sebagainya. Kapal yang dipakai pun harus kapal
> besar agar ekonomis. Jadi tidak mungkin tidak
> ketahuan. Para aparat bea cukai dan petugas
> pelabuhan/bandara pasti bisa mengetahuinya. Selain itu
> ada juga patroli AL.
> 
> Kalau terjadi penyelundupan, pemerintah harus tegas.
> Sita barang selundupan dan serahkan ke Bulog. Ada pun
> penyelundup denda dengan besar 10 x harga barang dan
> hukum mati sampai ke pucuk pimpinannya. Program peluru
> untuk koruptor/penyelundup mungkin perlu diadakan
> untuk menghentikan penyelundupan. Cina mengadakan
> program peti mati untuk koruptor. Dan mereka cukup
> berhasil mengurangi angka koruptor.
> 
> Kelima, pemerintah harus mengontrol Pasar Komoditas
> yang merupakan ajang spekulasi/judi untuk
> menaik-turunkan harga komoditas untuk keuntungan para
> spekulan komoditas. Krisis Ekonomi AS tak lepas dari
> ulah spekulan saham di negeri itu. Meroketnya harga
> minyak dan pangan dunia juga tak lepas dari ulah
> spekulan komoditas di NYMEX yang mempermainkan harga.
> Jika perlu Pasar Komoditas di Indonesia yang baru
> berdiri dihapus agar harga pangan tetap stabil seperti
> dulu. Gunakan Pasar Tradisional/Pasar Induk di mana
> para pembeli dan penjualnya benar-benar orang yang
> bergerak di bidang distribusi pangan. Bukan Pasar
> Komoditas tempat para spekulan komoditas berdasi
> berspekulasi.
> 
> Negara kita adalah negara kaya. Kita bisa menanam
> berbagai pangan. Kita bisa menangkap berbagai ikan.
> Kita bisa beternak berbagai hewan. "Orang bilang tanah
> kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman"
> begitu kata Koes Plus. Kalau sampai negara kita Krisis
> Pangan, itu terjadi hanya karena salah urus yang
> dilakukan oleh para ekonom Neoliberalis di jajaran
> Kabinet dan Penasehat Ekonomi yang megutamakan
> Kepentingan Pasar di atas Kepentingan Rakyat.
> 
> Para ekonom Neoliberalis ini hanya memperhatikan
> "Pelaku Pasar" (baca: Spekulan) yang bergerak di Pasar
> Uang (subsidi pemerintah untuk para spekulan ini
> sekitar 10% dari APBN dalam bentuk bunga SBI dan ORI),
> Pasar Modal (subsidi pemerintah dalam bentuk obral
> ribuan trilyun rupiah aset BUMN ke Pasar Modal serta
> ratusan trilyun keuntungan jatuh ke segelintir
> pemegang saham), dan Pasar Komoditas (Monopoli sembako
> oleh spekulan bursa Komoditas). Mereka hanya
> menginginkan pemimpin yang "bisa diterima pasar".
> Bukan yang mengutamakan kepentingan rakyat.
> 
> Artikel tentang Krisis Pangan Dunia
> 
> PBB Ingatkan Dunia, Krisis Pangan Ancam Keamanan
> Global
> 
> Eramuslim.com. PBB menyatakan bahwa perdamaian dunia
> terancam akibat kecenderungan kenaikan harga-harga
> bahan makanan yang sudah terjadi di banyak negara.
> Menurut Direktur Jenderal Organisasi Pertanian dan
> Pangan PBB (FAO) Jacques Diout, gejala itu sudah
> terlihat dengan jatuhnya korban dalam aksi massa yang
> memprotes kenaikan harga makanan.
> 
> Di Haiti misalnya, lima orang tewas dalam aksi unjuk
> rasa memprotes kenaikan harga makanan dan bahan bakar
> yang berujung dengan bentrokan. Korban serupa bisa
> terjadi di negara-negara yang saat ini sudah
> menunjukkan fenomena makin melangitnya harga-harga
> kebutuhan masyarakat terutama bahan makanan dan bahan
> bakar dalam beberapa bulan terakhir, antara lain di
> Mesir, Kamerun, Pantai Gading, Mauritania, Ethiopia,
> Madagaskar, Filipinan, Indonesia dan beberapa negara
> lainnya.
> 
> "Secara alamiah, orang tidak akan berdiam diri untuk
> mati kelaparan. Mereka akan bereaksi, " kata Diouf.
> 
> Untuk itu ia mengingatkan agar segera dicari jalan
> keluar dan dilakukan langkah-langkah cepat untuk
> mengatasi kenaikan harga-harga kebutuhan masyarakat.
> 
> Menurut perhitungan PBB, sampai akhir Januari kemarin,
> secara global kenaikan harga makanan mencapai 35
> persen. Dampak kenaikan ini sangat dirasakan oleh
> masyarakat di negara-negara berkembang, di mana 50
> sampai 60 persen pendapatan mereka habis untuk membeli
> kebutuhan makanan, sedangkan di negara-negara maju,
> hanya 10-20 persen saja.
> 
> Menurut ketua FAO itu, sedikitnya ada 37 negara di
> dunia yang saat ini mengalami krisis pangan. Ia sudah
> menyerukan agar para pemimpin dunia hadir dalam
> pertemuan tingkat tinggi keamanan pangan dunia yang
> akan digelar di Roma pada bulan tanggal 3-5 Juni
> mendatang.
>
http://www.eramuslim.com/berita/int/8412112639-pbb-ingatkan-dunia-krisis-pangan-ancam-keamanan-global.htm
> 
> Naiknya Harga Pangan Akibat Aksi Spekulan Bursa
> Komoditas:
> 
> Investor berspekulasi terhadap barang-barang seperti
> gandum, jagung, dan beras. Sebab, pasar telah
> membuktikan bahwa beberapa tahun terakhir, stok
> barang-barang itu terus surut akibat permintaan yang
> terus ada.
> 
> ''Serangan spekulatif sangat mungkin terjadi bila
> persediaan terus berkurang,'' imbuh Graziano. Untuk
> itu, FAO akan menggagas pertemuan untuk mengatasi
> kelangkaan pangan global ini. Rencananya, pertemuan
> itu akan diadakan pekan depan. Lembaga ini pun akan
> memberikan insentif terhadap petani kecil.
> http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=61730
> 
> Menurut Harian Austria Der Standard Indonesia bersama
> Haiti, Mesir, dan Kamerun termasuk korban terparah
> krisis Pangan Global:
> 
> Antisipasi Krisis Pangan Politik Pertanian Dunia Harus
> Diubah
> 
> Politik pertanian dunia perlu dipikirkan kembali. Juga
> produksi bahan bakar bio harus diusahakan tidak dari
> produk pertanian yang merupakan bahan pangan bagi
> manusia.
> 
> Kenaikan drastis harga bahan pangan dan produk
> pertanian lainnya, menjadi sorotan tajam sejumlah
> harian internasional.
> 
> Harian liberal kiri Perancis Liberation yang terbit di
> Paris dalam tajuknya berkomentar :
> 
> Menimbang naiknya permintaan bahan pangan, serta
> kerusuhan yang dipicu kelaparan, kita harus
> meningkatkan produksi secara cepat dengan metode yang
> lebih murah. Tapi di sinilah letak dilemanya. Di satu
> sisi muncul pemikiran, kita harus kembali ke sistem
> pertanian intensif, dengan penggunaan teknologi
> terbaru dan tanaman yang direkayasa secara genetika.
> Namun di sisi lainnya, juga terdapat desakan bagi
> pertanian yang lebih ramah dengan lingkungan. Jawaban
> dari permasalahan, boleh jadi metode diantara kedua
> ekstrim tsb. Tapi rakyat yang kelaparan di
> negara-negara miskin tidak bisa menunggu terlalu lama.
> 
> Sementara harian Belanda Trouw mengkaitkan kenaikan
> harga bahan pangan dengan produksi bahan bakar bio.
> Harian yang terbit di Den Haag ini berkomentar :
> 
> Direktur Bank Dunia, Robert Zoellick menyebutkan
> perkembangan situasi saat ini amat mengerikan. Ketika
> warga di negara maju mengkhawatirkan kenaikan harga
> bahan bakar bio untuk mengisi tangki mobilnya, warga
> di sebagian besar belahan Bumi harus bersusah payah
> mencari pengisi perutnya. Bahan bakar bio merupakan
> salah satu penyebab dari kenaikan harga bahan pangan.
> Sejauh ini, bahan bakar bio biasanya diproduksi dari
> bahan dasar, yang juga merupakan bahan makanan
> manusia. Kini bio-diesel atau bio-alkohol harus dibuat
> dari tumbuhan yang bukan tanaman pangan. Untuk itu
> diperlukan dukungan dari negara industri maju bagi
> ekonomi bahan pangan di negara berkembang.
> 
> Juga harian Jerman Frankfurter Rundschau yang terbit
> di Frankfurt am Main mengomentari politik bahan bakar
> bio dengan ancaman kelaparan global saat ini.
> 
> Bencana kelaparan sedunia, tidak cocok dengan gambaran
> globalisasi, yang disebutkan membuka peluang pasar
> seluas-luasnya. Kelaparan yang melanda kalangan
> terbawah dari lapisan masyarakat yang jumlahnya satu
> milyar, bukan sesuatu yang dapat diabaikan. Sebab, apa
> yang melanda mereka, juga akan menimpa kita di negara
> maju. Bukan hanya berupa dampak naiknya harga-harga.
> Yang diperlukan adalah perubahan radikal secepatnya.
> Tapi hal itu juga ibaratnya hanya harapan akan
> munculnya keajaiban. Kini yang ditunggu adalah
> kesepakatan untuk membekukan politik bahan bakar bio
> secara global.
> 
> Terakhir harian Austria Der Standard yang terbit di
> Wina berkomentar :
> 
> Menimbang gambar-gambar terbaru dari Haiti, Mesir,
> Kamerun atau Indonesia, tidak berlebihan jika direktur
> Dana Moneter Internasional-Dominique Strauss-Kahn
> memperingatkan akan konsekuensi mengerikan yang akan
> muncul. Satu milyar orang yang kelaparan, akan
> membahayakan ekonomi global dan pada akhirnya
> mengancam demokrasi. Jika negara-negara maju di Eropa
> dan Amerika Utara tidak menghendaki, kemakmuran dan
> keamanan di negaranya terganggu oleh dampak bencana
> kelaparan global, mereka harus segera bertindak. Amat
> fatal, jika terlalu lama menunggu program memerangi
> kelaparan, seperti halnya politik mengulur waktu dalam
> perang melawan perubahan iklim global.    
> http://www.dw-world.de/dw/article/0,2144,3265253,00.html
> 
> Krisis Pangan Menunggu Aksi Institusi Dunia
> 
> Jika tidak segera dibantu, ratusan ribu orang akan
> kelaparan dan memicu kerusuhan
> 
> WASHINGTON - Para pemimpin ekonomi dunia, pekan ini
> masih akan disibukkan dengan masalah pangan. Harga
> pangan yang terus meningkat berpotensi mengakibatkan
> kelaparan di negara-negara miskin. Presiden Bank
> Dunia, Robert Zoellick mengatakan, perlu tindakan
> bersama dan segera mengatasi harga pangan.
> 
> Zoellick mengakui, selama ini ini lembaga keuangan
> internasional lebih sering sekadar melakukan
> pertemuan. ''Kini saatnya melakukan aksi,'' ujar
> Zoellick.
> 
> Untuk mengatasi masalah pangan, menurutnya, institusi
> internasional harus segera membantu mereka yang mulai
> kelaparan saat ini. Jika tidak segera dibantu,
> menurutnya, ratusan ribu orang akan kelaparan.
> Kerusuhan di sejumlah negara juga dikhawatirkan muncul
> akibat kelaparan tersebut. Kenaikan harga pangan yang
> memicu kerusuhan telah tejadi di Haiti, Mesir, dan
> Filipina.
> 
> Analisis bank dunia memperkirakan, naiknya harga
> pangan yang mencapai dua kali lipat dalam tiga tahun
> terakhir, berpotensi menekan 100 juta masyarakat
> berpenghasilan rendah di negara miskin menjadi semakin
> melarat.
> 
> Badan Pangan Dunia (FAO) juga menunjukkan hal senada.
> Dirjen FAO Jacques Diouf menyatakan, kemungkinan besar
> harga tidak akan pernah turun. Warga di negara-negara
> miskin kini mulai bergelimpangan di jalan karena
> kelaparan. Menurut Diouf, di tengah kenaikan harga
> pangan kenyataannya banyak orang-orang yang sekarat.
> 
> FAO mencatat sedikitnya ada 37 negara yang menghadapi
> krisis pangan. Sementara kenaikan harga pangan kini
> terjadi di negara-negara di Afrika, Haiti, termasuk
> Indonesia. Permintaan bahan pangan melejit di
> negara-negara berkembang, seperti Cina dan India.
> 
> Komoditas jagung menjadi bahan pangan yang mengundang
> spekulasi. Pasalnya, jagung selain digunakan sebagai
> bahan pangan juga untuk bahan bakar ramah lingkungan
> (biofuel). Stok global yang mulai berkurang berimbas
> pada naiknya harga bahan pangan lain seperti tepung,
> maizena, dan beras.
> http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=330397&kat_id=4
> 
> Kerusuhan di beberapa negara
> BBCIndonesia.com
> Kenaikan harga pangan
> Gandum : 130%
> Kedelai : 87%
> Beras : 74%
> Jagung : 31%
> Sumber : Bloomberg
> 
> Harga pangan naik tajam dalam beberapa bulan terakhir,
> disebabkan oleh tingginya permintaan dan cuaca buruk
> di beberapa negara penghasil pangan. Gangguan ini
> menyebabkan panen menurun.
> 
> Selain itu, lahan untuk menghasilkan bahan bakar bio
> juga makin meningkat.
> 
> Harga bahan pokok seperti gandum, beras, dan jagung
> semuanya naik, menyebabkan kenaikan pangan secara
> keseluruhan mencapai 83 persen dalam tiga tahun
> terakhir, kata Bank Dunia.
> 
> Kenaikan tajam harga pangan menyebabkan protes di
> banyak negara termasuk di Mesir, Pantai Gading,
> Ethiopia, Filipina, dan Indonesia.
> 
> Di Haiti, aksi protes pekan lalu berubah menjadi
> kerusuhan, menyebabkan lima orang tewas dan pemerintah
> harus mengundurkan diri.
> 
> Beberapa negara produsen pangan utama seperti India,
> Cina, Vietnam, dan Mesir telah memberlakukan
> pembatasan ekspor.
> 
> Kebijakan ini membuat beberapa negara pengimpor pangan
> terpukul, seperti Bangladesh, Filipina, dan
> Afghanistan.
>
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/04/080414_worldbankalarm.shtml
> 
> 
> 
> ===
> Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS
> 
> Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252
> 
> Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari
Telkomsel 
> Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau
http://syiarislam.wordpress.com
> 
> 
>      
____________________________________________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and 
> know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now. 
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
>


Kirim email ke