JURNAL SAIRARA:
HARI ITU KAMI BERJUMPA KEMBALI
-Kisah-kisah kecil berjumpa dengan Goenawan Mohamad dan Laksmi Pamuntjak di
Koperasi Restoran Indonesia Paris, 10 April 2008.
3.
Ketika berbicara tentang sejarah dan Tragedi September '65, peristiwa yang
berdampak besar sampai sekarang pada kehidupan berbangsa dan bernegeri , Mas
Goen menyinggung tentang kunjungannya kembali ke Pulau Buru. Hal yang juga
diketengahkannya di depan publik pada acara Lembaga Persahabatan
Perancis-Indonesia "Pasar Malam".
Kalau ingatanku benar, ketika Pulau Buru menjadi pulau buangan orang-orang
PKI, yang dituduh PKI, yang dituding terlibat dalam Peristiwa G30S, dan
orang-orang Lekra, Mas Goen pernah berkunjung ke pulau ini. Dengan mata kepala
sendiri ia melihat keadaan pulau dan orang-orang yang dibuang tanpa melalui
proses pengadilan. Bahkan anak usia belasan tahun pun turut dibuang dan
kemudian meninggal di sana.
Selang puluhan tahun kemudian, Mas Goen kembali ke pulau pembuangan
tersebut. Dalam pertemuan khusus dengan anggota-anggota Koperasi Restoran
Indonesia Paris dan yang dekat dengan Koperasi, Mas Goen menuturkan secara
singkat kesan kunjungannya ke Buru sekaligus mengucapkan hormat dan semacam
kekaguman pada para tapol Buru. "Merekalah yang membangun Buru dengan tangan
hampa. Merekalah yang mengobah Buru dari tanah gersang menjadi ladang-ladang
subur". Mendengar kesan jujur terbuka begini, aku jadi teringat akan ucapan
Pramoedya A. Toer bahwa kalau berbicara tentang politik berdikari, maka Buru
adalah contohnya. Kecuali itu, setelah mendengar ucapan hormat dan kekaguman
Mas Goen akan para tapol Buru ini, dalam renunganku selanjutnya, aku melihat
keperkasaan manusia dan bahwa manusia sadar, yang kunamakan manusia pencinta
itu, tidak gampang-gampang dibinasakan dan dikalahkan. Manusia tak gampang
dikalahkan. Apalagi pemikiran mereka. Pulau Buru dalam pandangan Mas Goen
merupakan sebuah monumen penting sejarah bangsa dan negeri kita. Secara
spesifik, ia menyarankan agar gedung kesenian yang digunakan oleh para tapol
Buru untuk menggelarkan acara-acara kesenian diselamatkan dari kehancuran. Mas
Goen mengkhawatirkan bahwa gedung kesenian yang juga merupakan monumen penting
sejarah, jika tidak segera diselamatkan maka ia akan binasa. Semua yang hadir
di dalam acara pembicaraan santai malam musim bunga di Koperasi bulat sepakat
dengan ide GM ini. Lalu mengusulkan bagaimana jika pandangan ini dilontarkan ke
publik oleh GM lebih dahulu. "Bung Goen lebih mempunyai syarat untuk
menggaungkannya dari kami", ujar Umar Said, mantan pemred Harian Ekonomi
Nasional, Jakarta pada masa Presiden Soekarno dan merupakan salah seorang
pendiri Koperasi Restoran kami. "Kami tidak memiliki sarana media", ujar teman
lain.
Aku tidak tahu, apakah ide ini muncul di pemikiran GM terilham oleh yang dia
saksikan di jalan-jalan Paris ataukah muncul setelah kembali dari kunjungan
keduanya di Pulau Buru. Sebab dalam perbincangan santai antar teman malam
itu, Mas Goen sangat terkesan oleh adanya plakat-plakat di rumah-rumah di
jalan-jalan Paris atau tembok-tembok kita di mana diterakan nama-nama orang
yang gugur bertempur melawan pendudukan fasis Jerman, diabadikan nama para
penulis, pelukis, arsitek, yang pernah tinggal di gedung atau bahkan tersebut.
Dari pernyataan-pernyataan di atas, aku melihat bahwa pada GM, terdapat suatu
kesadaran sejarah yang kuat , seakan-akan mau mengatakan secara tak langsung
atau paling tidak memperlihatkan bahwa sastrawan-seniman ada keniscayaan
mempunyai lingkup pandang yang luas demi mengangkat taraf kesastrawanan
seseorang yang memilih sastra-seni sebagai bidang kecimpungnya, hingga mungkin
menawarkan sumbangan-sumbangan kepada pembangunan masyarakat manusiawi.
Sebenarnya, kehidupan kesenian di kalangan para buangan politik dalam sejarah
Indonesia bukanlah sesuatu yang hanya terdapat di Pulau Buru. Jauh sebelum
dijadikannya Buru sebagai pulau buangan, di kalangan para tapol kolonialisme
Belanda di Digul, Papua, berlangsung juga suatu kehidupan kesenian. Hal ini
gending yang dibuat oleh para tapol Digul. Dan memang sayangnya, gending saksi
sejarah ini tidak diindahkan oleh pemerintah negeri kita. Kabarnya gending itu
sekarang terdapat di Australia.
Sementara itu di kalangan kaum eksil Indonesia yang pada suatu ketika berada
di sebuah pedesaan Republik Rakyat Tiongkok, kehidupan sastra-seni ini lebih
marak lagi. Tari, nyanyi , pementasaan teater, penterjemahan karya-karya teori
dilakukan. Teman-teman dari etnik Jawa dengan kerinduan mendengar suara gending
kampungnya, berhasil menciptakan instrumen musik tersebut dari
potongan-potongan besi yang dikumpulkan dari sana-seni. Sayangnya, semua ini
tidak terawat dan hilang begitu saja. Di hadapan hilangnya dokumen-dokumen dan
monumen-monumen dalam berbagai bentuk ini, menjadikan usul Mas GM menjadi
penting. Apakah usul Mas GM ini, bukannya, selain memperlihatkan tingkat
kesadaran sejarah kita yang belum bisa dikategorikan sebagai kuat, tapi juga
merupakan teguran terhadap sikap kita pada dokumen, arsip dan monumen. Adalah
sangat tipikal ucapan seorang tetangga Indonesiaku waktu aku bekerja di
Indonesia: "Apakah dengan belajar di jurusan sejarah, kelak kau akan bisa
dihidupkannya?".
Paris, April 2008
----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
Keterangan foto:
Goenawan Mohamad dan Laksmi Pamuntjak dalam acara Koperasi Restoran
Indonesia di Paris, 10 April 2008. [Dok. JJK].
[Bersambung....]
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
[Non-text portions of this message have been removed]