"Pat ujeun yang hana pirang pat prang yang hana reuda" kalimat yang bersumber dari khasanah budaya Aceh itu diucapkan dengan terbata-bata oleh Menteri Kehakiman dan HAM Hamid Awaludin mewakili Pemerintah Republik Indonesia dalam sambutannya sesaat setelah prosesi penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) Perjanjian Damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia di Helsinki, Finlandia 15 Agustus 2005 lalu. Bagi saya, ada dua hal yang menarik dalam meresapi kalimat penutup dari Pak Hamid itu. Pertama karena petuah itu diucapkan oleh seorang pejabat yang mewakili RI dalam perundingan itu yang nota bene adalah lawan politik GAM. Pak Hamid seakan ingin mengatakan bahwa kita adalah saudara dan meyakini prinsip-prinsip yang sama. Oleh karenanya mari kita akhiri hujan darah dan air mata di rumah kita sendiri agar kita mampu membangun masa depan yang lebih baik.
Rekonsiliasi dan Kearifan Dipengasingan Oleh: Umar Bin Abd. Aziz (Oemardi) |Dosen Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry dan Mahasiswa S2 Studi Asia Tenggara, Focus Bidang Resolusi Konflik, di Universitas Passau Jerman Lengkapnya Klik: http://id.acehinstitute.org ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

