Masalahnya adalah koruptor itu istilah baru yang susah dicari padanannya dalam 
kitab suci..

Yang ada paling pencuri yang wajib dipotong tangannya.

Sedangkan korupsi identik dengan perilaku pejabat tinggi, walau dalam 
kenyataannya di lingkungan pemerintahan marak dimana-mana, tak peduli levelnya.

Nah di sebuah kitab suci, perilaku pejabat itu selalu baik, berbudi luhur dan 
orang musti tunduk kepadanya dll. Tak ada kritisi untuk pejabat atau apalah 
namanya.

Makanya korupsi tetap marak di negeri ini, termasuk duitnya dipakai untuk naik 
haji, untuk beli lamborghini, untuk kawin lagi, bahkan ada juga yang dipake 
buat kawin lari.... :))




  ----- Original Message ----- 
  From: Deby Sartika 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Cc: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Friday, April 25, 2008 3:02 AM
  Subject: [orangmedia] fatwa untuk Ahamadiyah?



  Sekedar pengalaman pribadi juga ...,
  aq akrab dengan mantan pekerja seks komersial (pembantu rumah)
  aq juga akrab dengan mamie (waria) yang bekerja gigih di salon dan tempat 
lainnya, 
  namun alhamdulliah ..., aq, tidak ingin akrab dengan para koruptor penghisap 
uang rakyat, walau mereka ramah dalam sosial dan suka sekali memberikan 
sedakoh...   

  apa ada fatwa yang melarang untuk bergaul dengan sahabat dari Ahamadiyah?
  bukankah keyakinan adalah bagian pribadi yang tidak boleh dihakimi ?
  napa sih nda koruptor saja yang di fatwakan dijadikan musuh bersama ... 

  mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Dear all

    Sekadar sampaikan pengalaman pribadi saya bergaul dengan sahabat-sahabat 
dari Ahmadiyah. Dilarang atau tidak Ahmadiyah tetap selalu ada sebagai ujian 
dari keimanan kita sebagai muslim. 
    Sudah 10 tahun lebih saya mengenal beberapa tokoh ahmadiyah Indonesia dan 
sampai sekarang masih tetap menjalin silaturahmi, mereka menghargai saya dengan 
keyakinan saya sebagai muslim, dan saya juga menghargai mereka sebagai jamaat 
ahmadiyah. 

    Awal perkenalan kami mengalir begitu saja dalam sebuah pameran buku Islam. 
Selanjutnya saling silaturahmi, dan saya dipersilahkan untuk mengunjungi pusat 
ahmadiyah di serpong. Sejujurnya, saya sangat mengagumi dengan cara mereka 
berdakwah, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun berjamaah. Misalnya, masalah 
kecil seperti tidak merokok saja, seluruh jamaat (mereka menamakan dirinya 
dengan jamaat bukan jamaah) diharamkan merokok, ternyata seluruhnya mengamini. 
Bahkan dalam bershalatpun mereka pun selalu berjamaah dikalangan mereka. 
Kalaupun saya bukan merupakan bagian dari jamaat ahmadiyah, mereka 
mempersilahkan untuk ikut shalat berjamaah.

    Yang menjadi kekaguman saya terhadap jamaat ahmadiyah adalah bagaimana 
dengan gigihnya menyebarkan Alquran dengan 100 bahasa dunia. Intinya mereka 
ingin menyebarkan Islam secara menyeluruh. Hanya saja meski tulisan bahasa 
Alquran masih seperti aslinya, tapi dalam penerjemahannya menurut apa yang 
mereka pikirkan. 
    (Silakan baca terjemahan Alquran yang mereka miliki).

    Sampai suatu ketika sang tokoh jamaat ahmadiyah mengajutkan tawaran kepada 
saya apakah ingin masuk jamaat ahmadiyah atau tidak, sambil menyodorkan piagam 
perjanjian atau surat baiat, dengan alasan saya sudah mengenal jauh tentang 
jamaatnya. Saya menolaknya dengan halus bahwa iman saya masih lemah sehingga 
belum ada niat untuk masuk ke dalam jamaat ahmadiyah.

    Meski saya menolaknya sang tokoh jamaat ahmadiyah tetap menghormati saya 
sebagai sahabatnya, meski tidak bebas masuk ke dalam lingkungannya seperti dulu 
pertama kali saya bisa shalat berjamaah di masjidnya. Dan sampai sekarang pun 
hubungan dengan sang tokoh masih tetap terjalin, tanpa mempersoalkan keyakinan 
masing-masing. 
    terima kasih.


    Salam

    Husnie
    [EMAIL PROTECTED]
    .
     





  _______________________
  Regards"
               <  D | e | b | y  >


------------------------------------------------------------------------------
  Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke