Gara-gara Tempe Abu-abu
Sumber: Kompas, Sabtu, 16 Februari 2008 | 19:24 WIB

http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.02.16.1924447&channel=1&mn=15&idx=16
 

WARNA terbukti ampuh meluluhlantakkan selera makan. Makanya, sebagian besar 
masyarakat, sampai sekarang, emoh makan tempe abu-abu. Asal tahu saja, hasil 
fermentasi tanpa garam dengan menggunakan jamur rhizopus oligosporus terhadap 
kedelai hitam itu menghasilkan tempe abu-abu.

Nah, tampilan yang tidak putih itulah yang membuat tempe abu-abu dianggap tidak 
bersih. "Orang kan senang dengan tampilan tempe dari kedelai putih kekuningan 
yang terlihat putih bersih," begitu kata Prof.Dr.Ir Mary Astuti M.S, Guru Besar 
Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (15/2).

Ya, boleh dikata, malang nian nasib kedelai hitam. Perasaan tidak suka yang 
mengakar sejak 90-an tahun itu masih ditambah dengan ketiadaan data 
produktivitas petani membudidayakan kedelai hitam di Tanah Air. Padahal, 
ironisnya, kedelai hitam adalah saudara dekat kedelai putih kekuningan. 
Perbedaan antara keduanya cuma di pigmen, persis seperti orang kulit putih, 
kulit hitam, atau kulit sawo matang, tidak lebih. "Data tentang kedelai hitam 
itu nggak ada lho di Departemen Pertanian," aku Mary.

Tapi nanti dulu. Mari simak catatan sejarah. Pada abad 12 Sesudah Masehi (SM), 
seturut Serat Sri Tanjung, ada bukti-bukti tertulis soal kedelai pada umumnya 
dan kedelai hitam khususnya di Banyuwangi. Pabrik kecap di Tuban adalah bukti 
juga soal dimanfaatkannya kedelai hitam. Di Pacitan, sampai sekarang, kedelai 
hitam tetap menjadi bahan dasar pembuatan tempe.

Selanjutnya, Pacitan, Banyuwangi, maupun Tuban kini masuk dalam Provinsi Jawa 
Timur. Ini pun menjadi catatan penting yang menempatkan provinsi di bagian 
timur Pulau Jawa ini sebagai sentra tanaman kedelai. Sebanyak 38 persen dari 
produksi kedelai lokal berasal dari Jawa Timur. Sebagai pembanding, seperti 
diungkapkan Menteri Pertanian Anton Apriyantono, pada 2007, produksi kedelai 
lokal sebanyak 608.263 ton.

Unggul

Adalah hal yang menggembirakan ketika pada Senin 10 September 2007, diluncurkan 
varietas baru kedelai hitam yang diberi nama Mallika. Dengan penemuan yang 
segera diikat oleh Surat Keputusan Menteri Penerangan Nomor 78/2007, kini di 
Indonesia, sudah ada lima varietas unggul kedelai hitam. Empat varietas sebelum 
Mallika adalah Merapi, Slamet, Galunggung, dan Cikuray.

Mallika yang artinya "raja" atau "kerajaan" dalam Bahasa Tamil digadang-gadang 
sebagai varietas kedelai hitam paling unggul saat ini. Mallika memiliki bulu 
coklat pada batang dan tempat polong. Mallika mampu tumbuh bercabang. Umur 
panen berkisar 90-an hari dengan umur bunga 33 hari. Lalu, umur polong masak 67 
hari. Potensi hasilnya 2,4 ton hingga 2,9 ton per hektare. Mallika tahan 
terhadap kekeringan, genangan air, dan hama kedelai.

Coba jajarkan kedelai putih kekuningan dengan Mallika. Meski memiliki 51 
varietas unggul, kedelei jenis ini, paling banter cuma bisa memasok 2 ton per 
hektare.

Dengan kemampuan lebih seperti disebutkan tadi, Mallika, bila dibudidayakan 
dengan benar, bisa membantu mempercepat terwujudnya swasembada kedelai yang 
dipatok pada 2015 mendatang. Tentu, Mallika tetap ditemani oleh seluruh 
varietas kedelai unggulan yang ada.

Sejenak berhitung, pada 2008, pemerintah mencanangkan peningkatan produksi 
kedelai hingga 900.000 ton. Target tahun-tahun ke depan berturut-turut adalah 
1.000.000 ton (2009), 1.200.000 ton (2010), 1.500.000 ton (2011), 1.800.000 ton 
(2012), 2.000.000 ton (2013), 2.400.000 ton (2014), dan 2.600.000 ton (2015).

Karena selalu lekat dengan pasar ketersediaan dan permintaan, swasembada 
kedelai amatlah kokoh bila fondasinya justru kedelai lokal. Oleh karena itulah, 
ketergantungan pada kedelai impor mesti terkikis habis.

Gambaran sederhananya seperti ini. Rata-rata konsumsi kedelai nasional setiap 
tahun 1.803.000 ton. Produksi kedelai dalam negeri 2003-2007, nyatanya, hanya 
mampu memenuhi 36-38 persen dari total konsumsi kedelai nasional.

Dua tahun lalu, pemerintah masih getol mengimpor kedelai hingga 1.200.000 ton. 
Ongkos pembelian dari negara lain ini yang harus keluar dari kocek pemerintah 
besarnya Rp2,6 triliun.

Lebih nyata lagi, masuklah ke kalangan konsumen riil. Kedelai impor dibanderol 
pada kisaran Rp6.500 hingga Rp7.000 per kilogram. Kedelai lokal, harganya, di 
bawah angka tersebut. Menariknya, kedelai hitam dibeli pabrik kecap skala besar 
seperti milik PT Unilever Tbk dengan harga Rp4.000 per kilogram.

Ini berarti, jika secara nasional kebutuhan kedelai sudah terpenuhi seluruhnya, 
silakan hitung penghematan biaya produksi. Pasalnya, itu tadi, kedelai adalah 
bahan dasar untuk produk makanan olahan yang nilai tambahnya tinggi.

Gurih

Tak hanya sampai di situ, Mary Astuti menambahkan, kandungan protein dalam 
kedelai putih kekuningan bervariasi antara 31-48 persen sedangkan kandungan 
lemaknya bervariasi antara 11-21 persen. Kedelai hitam mempunyai kandungan 
protein yang juga bervariasi dari 37-41 persen.

Kandungan asam mino glutamate pada kedelai hitam sedikit lebih tinggi daripada 
kedelai kuning. Itu sebabnya, rasa kedelai hitam lebih gurih dibandingkan 
dengan kedelai putih kekuningan.

Rupa-rupanya, "Si Hitam" sekarang menjadi primadona para peneliti gizi dan 
kesehatan. Apa pasal? Antosianin dalam kulit kedelai hitam merupakan 
antioksidan yang potensial untuk mencegah proses oksidasi yang terjadi secara 
dini dan menimbulkan suatu penyakit degeneratif.

Antosianin dari kulit kedelai itu pun mampu menghambat oksidasi kolesterol LDL 
yang merugikan. Ini merupakan riset yang dimuat dalam Journal of The Science of 
Food and Agriculture edisi Februari lalu.

Kadar antosianin Mallika sebesar 45 mg/kg. Kandungan ini lebih tinggi 
dibandingkan dengan buah blue berry yang sudah dikenal lebih dahulu sebagai 
sumber antioksidan antosianin.

Kembali ke soal warna tadi, asal sosialisasi manfaat kedelai hitam betul-betul 
sampai ke masyarakat dengan baik, dijamin selera makan tempe abu-abu pun pulih. 
Pasti! (Josephus Primus)






Tulisan ini dikirim pada pada Maret 27, 2008 1:51 am dan di isikan dibawah 
tempe, warna. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 
2.0 feed. Anda dapat merespon, or trackback dari website anda. 



mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke