Ini Pagi, Kata Kartini

It is morning, Senlin says, and in the morning
Should I not pause in the light to remember God?
-       Conrad Aiken.



Ini pagi, kata Kartini, dan bila pagi seperti ini, ia akan berangkat kerja, 
naik ojek dengan motor yang guncang, terpekur di sadel plastik yang gelap, 
mungkin mengingat ujung mimpi, mungkin mimpi.

Ini pagi, kata Kartini, dan bila pagi seperti ini, ia akan turun di pengkol 
gang yang patah, sebuah lorong dengan nama seorang haji, dan akan menyusuri 
aspal kusam, dan akan membayangkan dirinya menyanyi, mungkin sebuah lagu 
Dewi Persik, mungkin sejumlah goyang, sejumlah angan-angan, mungkin fantasi.

Ini pagi, kata Kartini, dan bila pagi seperti ini, di tempat kerja itu, di 
sebuah panti pijat, si asisten pemilik usaha akan berkata kepadanya: 
“Jangan lupa gembok.”  Dan ia akan mengambil di lokernya celana-dalam 
seragam yang hijau itu, dengan retsliting mengkilap, dengan gembok kecil 
yang merah.

“Jangan lupa gembok”. Aku tak akan lupa, tak akan lupa. Gembok itu 
melindungi perempuan pemijat dari dosa, kata pegawai jawatan agama 
kabupaten; gembok adalah teknologi kealiman, peranti iman, pelindung 
harmoni keluarga, perisai kesehatan jasmani & rohani. “Tentu, tentu, tentu. 
Amin, amin, amin,” kata Kartini, kata Kardinah, kata perempuan-perempuan 
pemijat, kata asisten pemilik usaha, dan tak seorang pun yang tak patuh.

Ini pagi, kata Kartini, dan tiap pagi di tempat ini selalu dimulai dengan 
ingatan tentang dosa, kekotoran manusia, atau najis, Tuhan yang mengirimkan 
sifilis, insan yang menyembunyikan kemungkinan-kemungkinan jorok,  syahwat 
yang hanya sedetik dirasakannya, dan fatwa yang menyuntikkan ke jantungnya 
segumpal rasa bersalah seperti dokter menyuntikkan serum kuda.

Siapa yang bersalah? Ini pagi, kata Kartini, jam-jam pertama ia mencari 
upah, tak mencari laki-laki. Ini pagi, kata Kartini, benarkah ia selamanya 
paham apa yang dikehendaki laki-laki? Suaminya yang cemburu tapi lapar dan 
malas mengantar si Ujang ke sekolah; pak cik yang tiap Jumat datang menagih 
utang karena ia sendiri hidup dari utang; satpam yang selalu sangat ramah 
kepada istri pemilik warteg di pinggir jalan, dan tukang ojek yang selalu 
berkata lewat kaca spion sepeda motornya, seperti mau mengejek, “Aku tak 
suka bau badan.”

Siapa yang bersalah? Laki-laki yang tak mau memakai gembok di celana-dalam, 
kata Kardinah: bupati yang selalu berpikir tentang seks; anggota dewan yang 
percaya ada gerakan pengedar syahwat di selatan khatulistiwa; komandan 
koramil yang punya senyum mesum; nyonya kepala jawatan agama yang 
kalang-kabut mengintip film “begituan” dan merasa betapa gemuruhnya godaan 
dan asyiknya kenikmatan, astaghfirullah, astaghfirullah.

“Jangan lupa gembok”. Laki-laki adalah otak, kata ketua Majelis Ulama 
setempat, perempuan adalah badan. Laki-laki matahari, perempuan bumi, 
katanya lagi. Yang di dekat langit dekat pula dengan sumber terang dan 
wahyu, yang dekat bumi mudah tersenggol lendir dan gonorea. Surya 
melahirkan tenaga, bumi melahirkan bahan. Memang dari sini datang bau 
harum, tapi juga racun. Jangan lupa gembok. Jangan lupa penutup rambut di 
kepala. Jangan lupa penutup lengan dan tungkai kaki. Wahai, jangan lupa 
dari mana datangnya dosa: dari mata turun ke vagina. Jangan lupa gembok, 
jangan lupa kunci. O, ya. Jangan lupa celana-dalam.

Ini pagi, kata Kartini. Pagi adalah menunggu tamu. Pagi adalah dag-dig-dug. 
Pagi adalah suara tokek di dinding yang ditebak seperti ramalan feng-sui: 
rezeki - rugi - rezeki - rugi - rezeki - tidak.… Dan Kardinah, dan Rukmini, 
dan Badriyah, dan Sri Urip, dan Zakiyah, dan seluruh tim pemijat itu, 
mereka tahu bahwa di antara mereka cemas adalah sesuatu yang sah dan 
terduga: para tamu tak akan gampang dan tenang datang ke sini, sebab para 
tamu adalah orang yang terhormat, dan orang yang terhormat tak mau dituduh 
mendekati sesuatu yang harus diproteksi dengan sepotong logam berwarna merah.

Ini pagi, kata Kartini. Ini pagi, Stella--ataupun siapa nun di luar 
sana.  Di ruang ini hari dimulai dengan kewaspadaan. Atau kecurigaan. Atau 
penghinaan. Dan kaum yang lapar, kaum yang terhina, berderet termangu, 
duduk, bersalah sebelum diupah.


Ini pagi, kata Kartini, aku turun dari gelap
dan dengan angin yang menghuni,
aku berangkat, entah ke mana.
Sepucuk kunci di kantungku,
arlojiku kuputar siap.
Langit menyuram,aku turun tangga.
Ada bayang-bayang di jendela, melintas,
juga sepotong awan di atas,dan sesosok tuhan di antara bintang --aku akan 
pergi…


Goenawan Mohamad
(Catatan Pinggir majalah Tempo, 28 April 2008)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke