Banyak sekali orang mendambakan seorang pimpinan maupun pasangan 
hidup yang bijaksana, tetapi cobalah tanya sama diri sendiri. Apa 
sebenarnya definisi dari bijaksana itu dan apa pula kriterianya agar 
orang bisa dinilai sebagai seorang yang bijaksana ? Apakah seseorang 
yang memiliki kepinteran yang luar biasa bisa dinilai sebagai orang 
bijaksana misalnya Stephen Hawking ?

Apakah Hitler maupun Soeharto bisa disebut sebagai seorang pemimpin 
yang bijaksana ? Tidak bisa dipungkiri bahwa Hitler adalah seorang 
jenius yang briliant sekali, dimana antara lain ia memiliki lebih 
dari 10.000 koleksi buku pribadi, tetapi apakah dengan ini ia layak 
untuk disebut sebagai seorang pemimpin yang bijaksana ?

Walaupun demikian mungkin kita semuanya sepakat apabila tokoh-tokoh 
seperti yang tercantum dibawah ini dinilai sebagai manusia yang 
bijaksana, misalnya Gandhi, Dalai Lama, Martin Luther King Jr, Bunda 
Teresa, Kong Hu Chu, Nabi Muhammand maupun Buddha. Mereka tidak 
menganut agama yang sama, maupun warna kulit yang sama, tetapi tanpa 
bisa dipungkiri mereka semuanya bisa dinilai sebagai manusia bijak.

Secara teori para filsuf sebenarnya bisa disebut sebagai manusia 
bijaksana, sebab perkataan Filsafat itu sebenarnya diserap dari 
bahasa Yunani "philosophia" = philo (menyenangi) sophia 
(kebijaksanaan). Tetapi ini sama bodornya, seperti juga orang yang 
telah bisa menghafal sampai ke ubun-ubun seluruh kata-kata bijak 
dari Raja Sulaiman (Salomo), sebab dengan kita menghafalkan maupun 
membaca kata-kata bijak saja kita tidak akan bisa dinilai sebagai 
orang bijaksana. Jadi dalam arti kata lain untuk menjadi seorang 
filsuf; Anda bisa mempelajarinya, tetapi tidak otomatis menjadi 
seorang bijak !

Konon untuk bisa menjadi manusia bijak, selain harus memiliki 
pengetahuan juga pengalaman hidup, tetapi apakah dengan demikian 
mang Ucup bisa dinilai seorang bijak, karena umurnya sudah mencapai 
66 tahun ? Belum tentu ! Mungkin Anda akan menilai bahwa ayahanda 
maupun ibunda Anda sendiri termasuk manusia yang bijak ? 

Kenapa? karena mereka telah berjasa sekali dalam memberikan kasih 
sayang, membesarkan maupun mendidik kita, hal ini terpancarkan 
dimana mereka lebih mementingkan kehidupan anak-anaknya daripada 
dirinya sendiri.

Jadi sebenarnya untuk bisa dinilai sebagai seorang bijak bukanlah 
pengetahuan ataupun pengalaman yang penting, tetapi bersedia untuk 
lebih mementingkan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. 
Dalam ajaran Buddha, orang mulai dinilai bijak apabila ia sudah 
dapat menyadari kekosongan (sunyata) atau menghilangkan rasa egonya.
 
Apakah Anda pernah mendengar, bahwa bagi para penyandang cacat Tuna 
Grahita (Cacat Ganda) pun telah diselenggarkan satu Olimpiade Khusus 
yang disebut Special Olympic, sehingga dengan mana para pencandang 
cacad sekalipun bisa mendapatkan kembali harga dirinya. Mereka itu 
adalah orang-orang yang memiliki kelainan mental maupun kecerdasan 
yang terganggu dan pada umumnya dibarengi dengan cacat fisik 
lainnya, maka dari itulah mereka ini disebut sebagai penyandang 
cacat ganda.

Pada saat pertandingan lomba lari di Special Olympic; salah satu 
peserta anak laki-laki jatuh terjerembab dari kursi rodanya, karena 
ia setengah lumpuh maka ia tidak berdaya untuk bisa bangkit lagi 
dengan sendirinya. Ia terbaring dengan wajah kotor tengkurup diatas 
tanah. 

Salah satu peserta lainnya seorang gadis yang juga cacat mental 
segera berhenti lari. Ia berhenti khusus untuk membantu anak ini 
bangkit, agar bisa duduk kembali di kursi rudanya sambil memberikan 
kecupan manis dipipinya. Tentu saja ia akan kalah dalam pertandingan 
ini, karena waktunya telah digunakan untuk menolong. Tapi apa yang 
terjadi, pada saat kejadian tersebut para peserta lainnya pun turut 
diam dan balik jalan menemani sang gadis dan anak ini untuk jalan 
bersama sambil bergandengan tangan menuju ke garis Finish. Hal ini 
mendapatkan tepukan tangan yang meriah dari semua pengunjung Special 
Olympic.

Dari kisah tersebut diatas terbuktikan, bahwa orang yang cacat 
mental sekalipun bisa berlaku bijaksana, dimana ia mengambil 
keputusan yang tepat pada saat orang lain membutuhkannya tanpa 
menghiraukan akan kepentingan dirinya sendiri. 

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.org


Kirim email ke