founding fathers kita dari segala kelompok, suku dan agama
sudah bijak mengesampingkan semua perbedaan dan
mencari titik temu. tak perlu menonjol-nonjolkan andil
kelompok dalam perjuangan nasional.

kita tinggal melanjutkan saja kok rewel?



At 05:37 AM 4/30/2008 -0700, satrio arismunandar wrote:
>----- Forwarded Message ----
>From: Guido Dewa <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: Wednesday, April 30, 2008 10:14:11 AM
>Subject: [kahmi_pro_network] Ada yang salah dari Hari Kebangkitan Nasional..??
>
>
>Dear All,
>
>Mungkin para pakar sejarah bisa meluruskan kembali hal ini..??
>Thanks.
>
>Guido Dewa
>
>assalamu alaikom,
>
>sebuah tulisan yg patut kita renungkan. gimana kita bisa memikirkan masa 
>depan, kalau kita selalu disibukkan dengan upaya koreksi sejarah masa lalu.
>
>adakah pakar sejarah yg bisa mengkonfirmasi tulisan di bawah ini?
>
>wassalam,
>stovach
>
>20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (Bag.1) Sabtu, 19 Mei 07 10:08 WIB
>
>Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 sesungguhnya 
>amat tidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai Hari Kebangkitan 
>Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali 
>tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, 
>dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota Freemasonry Belanda 
>(Vritmejselareen) .
>Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya 
>merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan 
>yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh para penguasa 
>sekular. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu 
>dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat 
>nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia 
>merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.
>
>
>Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung 
>penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah 
>mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anti-agama malah dianggap sebagai 
>tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelas kesalahan yang teramat nyata.
>
>
>Anehnya, hal ini sama sekali tidak dikritisi oleh tokoh-tokoh Islam kita. 
>Bahkan secara menyedihkan ada sejumlah tokoh Islam dan para Ustadz 
>selebritis yang ikut-ikutan merayakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 
>20 Mei di berbagai event. Mereka ini sebenarnya telah melakukan sesuatu 
>tanpa memahami esensi di balik hal yang dilakukannya. Rasulullah SAW telah 
>mewajibkan umatnya untuk bersikap: “Ilmu qabla amal” (Ilmu sebelum 
>mengamalkan) , yang berarti umat Islam wajib mengetahui duduk-perkara 
>sesuatu hal secara benar sebelum mengerjakannya.
>
>
>Bahkan Sayyid Quthb di dalam karyanya “Tafsir Baru Atas Realitas” (1996) 
>menyatakan orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup 
>adalah sama dengan orang-orang jahiliyah, walau orang itu mungkin seorang 
>ustadz bahkan profesor. Jangan sampai kita “Fa Innahu Minhum” (kita 
>menjadi golongan mereka) terhadap kejahiliyahan.
>
>
>Agar kita tidak terperosok berkali-kali ke dalam lubang yang sama, sesuatu 
>yang bahkan tidak pernah dilakukan seekor keledai sekali pun, ada baiknya 
>kita memahami siapa sebenarnya Boedhi Oetomo itu.
>
>
>Pendukung Penjajahan Belanda
>Akhir Februari 2003, sebuah amplop besar pagi-pagi telah tergeletak di 
>atas meja kerja penulis. Pengirimnya KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis 
>Syuro Syarikat Islam kelahiran Maninjau tahun 1924. Di dalam amplop coklat 
>itu, tersembul sebuah buku berjudul “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: 
>Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa” karya si pengirim. Di halaman 
>pertama, KH. Firdaus AN menulis: “Hadiah kenang-kenangan untuk Ananda 
>Rizki Ridyasmara dari Penulis, Semoga Bermanfaat!” Di bawah tanda tangan 
>beliau tercantum tanggal 20. 2. 2003.
>
>
>KH. Firdaus AN telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun 
>pertemuan-pertemuan dengan beliau, berbagai diskusi dan obrolan ringan 
>antara penulis dengan beliau, masih terbayang jelas seolah baru kemarin 
>terjadi. Selain topik pengkhianatan the founding-fathers bangsa ini yang 
>berakibat dihilangkannya tujuh buah kata dalam Mukadimmah UUD 1945, topik 
>diskusi lainnya yang sangat konsern beliau bahas adalah tentang Boedhi Oetomo.
>
>
>“BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena 
>mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan 
>penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut 
>serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah 
>bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di 
>mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang 
>Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya, ” tegas KH. Firdaus AN.
>
>
>BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa 
>kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh 
>para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah 
>kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, 
>Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. 
>Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam 
>Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk 
>semangnya.
>
>
>Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran 
>dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. 
>“Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan 
>bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki 
>taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu 
>Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan 
>Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, ” papar 
>KH. Firdaus AN.
>
>
>Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk 
>menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura 
>secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama 
>sekali bukan kebangsaan.
>
>
>Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang 
>Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: 
>“Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya... Sebab itu soal 
>agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang 
>kesulitan. ”
>
>
>Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah 
>asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam 
>Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul 
>lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu 
>Kamu Punya Kiblat!” (M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938.
>
>
>Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak 
>ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah 
>perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan 
>chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja telah 
>mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto 
>Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO.
>
>
>Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. 
>Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, 
>ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram 
>sejak tahun 1895.
>
>
>Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan 
>cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan 
>dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan 
>Indonesia 1764-1962” (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas 
>dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia.
>
>
>Dalam tulisan kedua akan dibahas mengenai organisasi kebangsaan pertama di 
>Indonesia, Syarikat Islam, yang telah berdiri tiga tahun sebelum BO, dan 
>perbandinganya dengan BO, sehingga kita dengan akal yang jernih bisa 
>menilai bahwa Hari Kebangkitan Nasional seharusnya mengacu pada kelahiran 
>SI pada tanggal 16 Oktober 1905, sama sekali bukan 20 Mei 1908. 
>(Bersambung/ Rizki Ridyasmara).
>
>
>Bagian 2
>Dalam tulisan bagian pertama, telah dipaparkan betapa organisasi Boedhi 
>Oetomo (BO) sama sekali tidak pantas dijadikan tonggak kebangkitan 
>nasional. Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, 
>mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan 
>sejumlah tokohnya ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua 
>pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga 
>keduanya akhirnya hengkang dari BO.
>Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan 
>Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada 
>tanggal 16 Oktober 1905. “Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang 
>dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia, ” 
>tulis KH. Firdaus AN.
>
>
>Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan 
>Madura—juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga 
>para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat 
>SI lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia 
>yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari 
>berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal 
>dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera 
>Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.
>
>
>Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut—SI dan 
>BO—maka di bawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya:
>Tujuan:
>- SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya,
>- BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran 
>Dasar BO Pasal 2).
>Sifat:
>- SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia,
>- BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura,
>Bahasa:
>- SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia,
>- BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda
>Sikap Terhadap Belanda:
>- SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda,
>- BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian 
>besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial 
>Belanda,
>Sikap Terhadap Agama:
>- SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya,
>- BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid 
>Algadrie dan Dr. Radjiman)
>Perjuangan Kemerdekaan:
>- SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini 
>melewati pintu gerbang kemerdekaan,
>- BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah 
>membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini 
>melewati pintu gerbang kemerdekaan,
>Korban Perjuangan:
>- Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, 
>dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat,
>- Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan 
>dibuang ke Digul,
>Kerakyatan:
>- SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan,
>- BO bersifat feodal dan keningratan,
>Melawan Arus:
>- SI berjuang melawan arus penjajahan,
>- BO menurutkan kemauan arus penjajahan,
>Kelahiran:
>- SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905,
>- BO baru lahir pada 20 Mei 1908,
>
>
>Seharusnya 16 Oktober
>Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 kadung diperingati setiap 
>tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan dengan 
>tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari Kebangkitan 
>Nasional Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober, bukan 
>20 Mei. Tidak ada alasan apa pun yang masuk akal dan logis untuk menolak 
>hal ini.
>
>
>Jika kesalahan tersebut masih saja dilakukan, bahkan dilestarikan, maka 
>saya khawatir bahwa jangan-jangan kesalahan tersebut disengaja. Saya juga 
>khawatir, jangan-jangan kesengajaan tersebut dilakukan oleh para pejabat 
>bangsa ini yang sesungguhnya anti Islam dan a-historis.
>Jika keledai saja tidak terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali, 
>maka sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya mulai hari ini 
>juga menghapus tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan 
>melingkari besar-besar tanggal 16 Oktober dengan spidol merah dengan 
>catatan “Hari Kebangkitan Nasional”. (Tamat/Rizki Ridyasmara)
>
>.
>
>***************************************************************************
>Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia 
>yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
>http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>***************************************************************************
>__________________________________________________________________________
>Mohon Perhatian:
>
>1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
>2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
>3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
>4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
>5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
>6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>Yahoo! Groups Links
>
>
>

Kirim email ke