http://www.gatra.com/artikel.php?id=114330 <http://www.gatra.com/artikel.php?id=114330> Kemelut PKB Satu PKB Dua MLB
[Cover GATRA Edisi 25/2008 (GATRA/Tim Desain)] Deretan spanduk di depan kantor pusat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kalibata, Jakarta Selatan, kini hanya menampilkan gambar KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sebelumnya, foto Gus Dur selalu didampingi Muhaimin Iskandar. Potret duet Ketua Umum Dewan Syuro dan Dewan Tanfidz hasil Muktamar Semarang (2005) itu bagaikan pasangan serasi dua generasi. Raibnya gambar Muhaimin dari sisi Gus Dur itu menandai perpecahan mereka yang kian menganga. Sejak pemberhentian Muhaimin, Maret silam, kemelut internal PKB makin akut. Dua kubu bersikeras menggelar muktamar luar biasa (MLB) berbeda. MLB kubu Gus Dur berlangsung Rabu-Kamis ini di Bogor. Besoknya, Jumat-Minggu, disusul oleh kubu Muhaimin yang menggelar MLB di Jakarta. Tadinya Gus Dur merencanakan muktamar Juli mendatang. Tapi, setelah Muhaimin lebih dulu mengumumkan MLB, Gus Dur mempercepat rencana itu. Dua kubu pun melakukan berbagai manuver. Gus Dur lebih berkonsentrasi memperkuat dukungan internal: wilayah dan cabang. Muhaimin menonjolkan dukungan eksternal. Ia banyak bersafari ke para kiai terkemuka. Hubungan dengan PBNU diperakrab. Jumat lalu diadakan diskusi relasi NU-PKB di kantor PBNU. Sehari kemudian, mereka menemui tokoh NU di Jawa Tengah: KH Mustofa Bisri (deklarator PKB) dan KH Sahal Mahfudh (Rais Am PBNU). Senin malam lalu, Muhaimin menggelar tasyakuran sembilan tumpeng di rumah KH Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU) di Depok. Sejumlah sumber menyebutkan, langkah itu untuk meneguhkan legitimasi ulama terhadap kubu Muhaimin, karena elemen ulama (Dewan Syuro) di kubu Muhaimin kurang kuat. Langkah itu sekaligus dibaca sebagai penjajakan calon Ketua Dewan Syuro pengganti Gus Dur. Nama Mustofa Bisri dan Hasyim Muzadi memang kerap disebut sebagai nominasi. Tapi keduanya dikabarkan menolak. Penggalangan dukungan dari daerah juga seru. Terjadi pula friksi lokal, baik tingkat tingkat provinsi (DPW) maupun kabupaten/kota (DPC). Pengurus yang dibekukan Gus Dur kemudian dirangkul Muhaimin. Pencarian dukungan menanfaatkan peta rivalitas politik daerah. Tengok saja di Lampung, basis PKB di Sumatera. Ketua PKB Lampung, Musa Zaenuddin, dinonaktifkan dan digantikan oleh caretaker. Seperti dilaporkan koresponden Gatra Iman Untung Slamet, hal itu berumula karena Musa tidak sehaluan dengan Gus Dur dalam pencalonan Gubernur Lampung. Muhaimin membatalkan penonaktifan Musa. Dukungan pun dikantongi. Musa kini lantang mengklaim bahwa mayoritas cabang di Lampung mendukungnya. Klaim tandingan juga dikemukakan caretaker pro-Gus Dur. Dukungan cabang ini penting, karena keabsahan MLB tergantung dukungan separuh lebih satu (227 cabang) dari 453 cabang se-Indonesia. Situasi serupa terjadi di Jawa Timur, provinsi pemasok lebih dari separuh suara PKB. Imam Nachrowi, Ketua PKB Jawa Timur, yang dibekukan DPP pada Juli 2007, dihidupkan kembali oleh Muhaimin, medio April lalu. Dilaporkan koresponden Gatra Nur Cholish Zaein, kini kubu Nachrowi bergerilya menggalang dukungan. Anwar Rahman, anak buah Nachrowi, mengklaim mendapat dukungan 50-an kiai berpengaruh dan 38 cabang PKB se-Jawa Timur. Di sisi lain, Ketua PKB Jawa Timur pro-Gus Dur, Hasan Aminuddin, juga menyebut didukung 38 cabang PKB se-Jawa Timur. Soal mana dukungan yang legal, itu urusan internal PKB. Peta dukungan daerah tidak hanya dua faksi: pro-Gus Dur dan Muhaimin. Ada satu blok lagi yang disebut "poros tengah". Misi pokok mereka, bagaimana mendamaikan Gus Dur dengan Muhaimin, kemudian bersama-sama ikut pemilu. Mereka bisa diterima kubu Gus Dur maupun Muhaimin. Poros tengah lebih banyak bergerak di belakang layar. Mereka terdiri dari 18 DPW, antara lain Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Gorontalo, Bangka Belitung, Papua, dan Maluku. Manuvernya hampir menghasilkan terobosan menarik. Mereka memaksa Muhaimin dan Yenny Wahid (ketua umum dan sekretaris jenderal yang terdaftar di Depkum HAM) bersama-sama menandatangani surat pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). "Yang penting, PKB bisa ikut pemilu dulu," kata Azwandi Rahman, Ketua PKB Sumatera Barat. Sebab, versi KPU, partai bisa didaftar bila surat pendaftarannya ditandatangani ketua umum dan sekretaris jenderal. Poros tengah sudah empat kali bertemu Muhaimin. "Kami selalu melaporkan langkah kami ke Gus Dur, dan beliau merestui," kata Azwandi. Akhirnya, Rabu pagi pekan lalu, Muhaimin bersedia menandatangani surat itu di rumah dinasnya. "Saya mau tanda tangan karena tidak mau disalahkan bila PKB nanti ternyata tidak bisa ikut pemilu," ujar Muhaimin, dikutip Azwandi. Pagi itu, Muhaimin hanya ditemani Azwandi dan Ketua PKB Yogyakarta, Agus Wiyarto. Sukses mendapatkan tanda tangan Muhaimin, Azwandi melapor ke Gus Dur. Oleh Gus Dur, surat itu diminta dibawa ke musyawarah pimpinan nasional (muspimnas), Rabu sorenya. Ternyata banyak peserta muspimnas keberatan. "Wibawa DPP akan dikemanakan. Muhaimin sudah diberhentikan masih tanda tangan," kata salah satu pimpinan rapat. Wakil Ketua Umum PKB, Ali Masykur Musa, meyakinkan perserta muspim bahwa keikutsertaan PKB tidak ditentukan oleh KPU, tapi dijamin undang-undang. Karena suara PKB di atas 3%, otomatis jadi peserta pemilu. Azwandi pun lega setelah mendengar penjelasan mantan anggota Panitia Khusus RUU Pemilu itu dan tidak melanjutkan skenarionya menduetkan Muhaimin-Yenny. Jaminan bisa ikut Pemilu 2009 memang agenda yang paling bikin gundah pengurus daerah. Itu pula yang membuat mereka bimbang: mendukung Gus Dur atau Muhaimin? Secara internal, mereka percaya, Gus Dur unggul karena dukungan solid Dewan Syuro. Ketua panitia MLB kubu Gus Dur, Effendy Choirie, menandaskan bahwa pimpinan dan rujukan tertinggi PKB adalah Dewan Syuro. Elemen Dewan Syuro itu tidak dimiliki Muhaimin. Posisi Muhaimin mirip Matori Abdul Djalil ketika menggalang MLB pada Januri 2002. "PKB itu harus punya dua kaki, Dewan Syuro dan Dewan Tanfidz. Kalau kakinya hanya satu, bisa nerjang-nerjang, gampang dipatahkan di jalan," Effendy memaparkan. Di sisi lain, banyak daerah berhitung, kubu Muhaimin memiliki jaringan eksternal yang menjanjikan, baik di pemerintahan maupun KPU. Di kabinet, dua menteri asal PKB mendukung Muhaimin. Di KPU ada dua figur yang dekat dengan Hasyim Muzadi. Komunikasi dengan Hasyim telah dijalin Muhaimin. Dengan modal itu, kelompok Muhaimin dihitung akan lebih terjamin bisa ikut pemilu. Kubu Muhaimin mengaku tidak ada masalah dengan legitimasi Dewan Syuro. Ketua panitia MLB kubu Muhaimin, Lukman Edy, berpendapat bahwa Dewan Syuro itu kolektif. "Bukan perseorangan," katanya. Lukman menegaskan, persiapan MLB-nya sudah tuntas. Sebanyak 25 dari 33 DPW dan 385 dari 453 DPC telah memberi dukungan tertulis. Situasi itu membuat dukungan cabang pada MLB Gus Dur sempat dihitung belum aman. Maka, muspimnas Rabu pekan lalu memerintahkan DPW mengondisikan dukungan optimal cabang. Menurut Azwandi, kini ada 29 DPW yang solid mendukung, plus lebih dari separuh cabang yang surat keputusannya dikeluarkan sebelum Muhaimin diberhentikan. "Kami yang poros tengah sudah solid memilih Gus Dur. Dari segi legalitas, Gus Dur kuat," ujar Azwandi. Soal faktor dukungan luar, bisa dirujuk pengalaman Matori. Januari 2002, Matori bikin MLB di Jakarta, Gus Dur mengggelar MLB di Yogyakarta. Matori yang pada saat itu jadi Menteri Pertahanan juga mengandalkan dukungan kekuasaan. Tapi, dalam sengketa pengadilan, Matori kalah, lalu bikin partai baru: Pekade. Pada tahap awal, Pekade lolos verifikasi Depkum HAM. Namun, ketika verifikasi KPU, Pekade terpental. Muktamar ganda berikutnya terjadi pada 2005. Gus Dur bikin di Semarang, April 2005. Alwi Shihab-Saifullah Yusuf mengggelar muktamar di Surabaya, Oktober 2005. Alwi dan Saiful sama-sama menteri. Jaringan kiai khos pun berada di belakang mereka. Dalam sengketa pengadilan, Gus Dur kembali menang. Alwi-Saiful kemudian dipecat dari kabinet. Alwi dan pendukungnya mendirikan partai baru: PKNU. Mereka lolos verifikasi Depkum HAM dan tengah berjuang untuk lolos verifikasi KPU. Muara konflik PKB jilid ketiga ini lebih banyak ditentukan oleh Gus Dur dan Muhaimin. Mediasi elemen luar tak banyak bisa diharap. Jaringan kiai sepuh, yang kerap berperan dalam resolusi konflik warga NU, kini menjauh dari PKB. Keterlibatan formal PBNU juga sulit. Pimpinan puncaknya (Kiai Sahal dan Kiai Hasyim) ogah-ogahan. Muktamar Boyolali 2004 juga sudah merevisi relasi NU-PKB bahwa NU mengambil sikap dan jarak yang sama dengan semua partai. Asrori S. Karni, Anthony, dan Mukhlison S. Widodo [Nasional, Gatra Nomor 25 Beredar Kamis, 1 Mei 2008] [Non-text portions of this message have been removed]

