Kata Bonsai itu diserap dari bahasa Mandarin Pen-Zai (Pen = Pot – 
Zai = Pohon), sebelumnya dalam bahasa Jepang disebut "Hachi-no-ki" = 
Pohon di dalam Pot. Tidak bisa dipungkiri, bahwa Bonsai itu 
sebenarnya berasal dari Tiongkok. Seni mengerdilkan tumbuh-tumbuhan 
di Tiongkok lebih dikenal dengan sebutan Penjing (Pinyin). Pen = 
Pot/Wadah/Dulang - Ying = Panorama Alam. 

Penjing itu adalah merupakan seni mengerdilkan tanaman dengan 
mengambil inspirasi dari bentuk panorama alam. Gambar siluet dari 
panorama alam inilah yang mereka tata dalam sebuah tanaman yang 
dikerdilkan, hingga tanaman itu berbentuk lukisan alam yang indah 
dan hidup.

Penjing bisa dibagi dalam tiga kategori: Penjing Pohon (Shumu 
Penjing), Penjing Pemandangan/Alam (Shanshui Penjing), Penjing Air 
dan Tanah (Shuihan Penjing). 

Asal muasalnya dari seni Penjing berdasarkan mitologi; konon ada 
seorang ahli sihir yang bernama Jiang Feng yang memiliki kemampuan 
menyihir sehingga apa saja yang disihir olehnya akan menjadi kecil. 
Sedangkan He-Nian seorang pujangga ketika jaman Dinasti Yuan telah 
menulis beberapa puisi mengenai Penjing dan salah satu kalimatnya 
telah menjadi kredo: "Yang Terkecil menjadi Yang Terbesar"

Seni Penjing sudah dikenal sejak jaman Dinasti Tang, tetapi baru 
pada saat Dinasti Qin menjadi sangat terkenal dan digandrungi oleh 
para pejabat tinggi maupun para Bikshu, sehingga setiap tahunnya 
diadakan lomba seni Penjing. 

Konon ketika kerajaan Shuhan; terjadi persaingan terselubung antara 
kanselir Zhuge Liang (Cukat Liang) dengan Liu Bei. Untuk membuktikan 
tanda kesetiaannya Liu Bei terhadap Cukat Liang dan juga keinginan 
damainya. Liu Bei menghadiahkan Penjing Pohon buah Pear. Melalui 
pohon inilah hati sang kanselir akhirnya bisa luluh. Perlu diketahui 
bahwa Liu Bei juga adalah seorang satrawan maka dari itu Penjing 
Pohon yang bentuknya lurus seperti pit (kuas) disebut Wenren Mu 
(Pohon Para Pujangga) dalam bahasa Jepang disebut Bunjingi.

Bonsai pertama kali diperkenalkan ke umum oleh Jepang pada tahun 
1867 ketika Expo Dunia di Paris.

Seni mengerdilkan/pemangkasan tanaman dikembangkan juga oleh para 
Biksu aliran Tao, karena Penjing ini juga merupakan lambang dari 
keseimbangan serta keharmonisan manusia dengan alamnya. Dari 
pemeliharaan seni Penjing mereka bisa mendapatkan secara tidak 
langsung kepuasan batiniah yang tak ternilai. Para Biksu inilah juga 
yang membawa seni Penjing ke Jepang yang akhirnya dikembangkan 
menjadi seni Bonsai.

Diperkirakan seni Penjing ini pertama kali datang ke Jepang antara 
era Kaisar Kammu (737 - 806) hingga akhirnya masa kejayaan Kerajaan 
Edo pada kepemimpinan Shogun Dinasti Tokugawa (1603 - 1867). 
Sedangkan sebagian pihak menganggap Bonsai hadir pada masa Dinasti 
Kamakura (1185 - 1333). Hal ini terjadi karena adanya bukti otentik 
berupa lukisan seorang pejabat Shogun Kamakura dengan Bonsai. Hingga 
saat ini kita masih bisa menyaksikan Bonsai hidup tertua yang 
usianya antara 400 s/d 800 tahun milik koleksi dari Happo-en di 
Tokio.

Para penggemar Bonsai di Indonesia, pada umumnya beli Bonsai tidak 
di Jepang melainkan di China atau di Taiwan sebab disana harganya 
jauh lebih murah daripada di Jepang yang bisa dua sampai tiga kali 
lipat lebih mahal. Harga per pohon di Taiwan bisa puluhan juta, 
kebalikannya di Indonesia orang masih ada yang bersedia bayar 
ratusan juta Rp untuk bisa mendapatkan satu pohon Bonsai yang bagus.

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net



Kirim email ke