**** Mungkin karena Hizbut Tahir, FPI, Mujahidin, Ba'ashir tak 
mempunyai kans di Minahasa?



SUARA PEMBARUAN DAILY
----------------------------------------------------------------------
----------

Sarat Perbedaan, Manado Tetap Damai
 
SUARA PEMBARUAN DAILY
----------------------------------------------------------------------
----------

Sarat Perbedaan, Manado Tetap Damai
 


SP/Dwi Argo Santoso

Penari Maengket bergandeng tangan membentuk lingkaran seusai 
pernyataan tekad persatuan pada upacara adat watu pinawetengan, di 
Manado. Kota ini sebagai contoh kota perdamaian dan persatuan kendati 
banyak perbedaan, termasuk perbedaan agama.

rang yang mengaku beragama seharusnya mewujudkan ajaran keyakinannya 
dengan hidup berdampingan dengan sesama dan alam secara damai. Namun, 
dalam kenyataannya, persoalan agama malah menjadi persoalan yang 
sensitif, agama dapat dengan mudahnya dijadikan sarana "adu domba" 
atau perseteruan. 

Di negeri ini, agama Islam adalah kepercayaan yang mendominasi rakyat 
setelah agama Kristen. Bila disandingkan, dua agama sematik tersebut 
sebenarnya memiliki persamaan di samping ada perbedaan. Perbedaan 
pemahaman dan penafsiran, atau untuk kepentingan tertentu, agama 
dijadikan pemicu konflik di beberapa daerah, seperti yang telah 
terjadi di Poso, Ternate, dan Ambon. 

Hidup damai kendati berbeda agama? Mari belajar dari Kota Manado. 
Sebenarnya, sama seperti daerah-daerah yang sudah tercemar konflik 
agama, Ibu Kota Sulawesi Utara ini pun pernah juga "dijajal" oleh 
oknum-oknum tak bertanggung jawab agar juga menjadi daerah konflik. 
Tapi, ini Manado, jo! Faktor apa sajakah yang turut mempengaruhi 
sehingga kedamaian sosial di kota Manado dapat dipertahankan? Peran 
dan upaya apa pula yang dilakukan oleh negara, para elite agama, 
politik, Lembaga Swadaya Masyarakat (LBH), dan media massa dalam 
mempertahankan kedamaian sosial?

Manado adalah kota yang dipilih oleh mahasiswa program doktor, 
Fakultas Sosiologi, Universitas Indonesia, Rukmina Gonibala untuk 
dijadikan objek thesis-nya. Dalam ujian seminar hasil penelitian S3 
yang berjudul "Pola Hubungan Antara Orang Islam dan Kristen dalam 
Upaya Mempertahankan Kedamaian Sosial" (Studi Hubungan Antara Orang 
Kristen dengan Islam Pasca Orde Baru) di kampus UI Depok, Rabu 
(30/4), ia berpendapat bahwa Manado yang justru terletak di bekas 
daerah konflik dan didominasi oleh dua agama, yaitu Kristen dan 
Islam, ternyata masih dapat menjaga kedamaian sosialnya berkat 
partisipasi warganya. 

Sempat muncul istilah "ATM", kepanjangan Ambon, Ternate, dan Manado. 
Namun hingga saat ini, setelah Ambon dan Ternate dilanda konflik, 
Manado masih tetap aman dan terkendali.

Partisipasi

Menurut Rukmina, Manado terdiri dari 57 persen umat Kristen dan 32 
persen umat Islam, serta sisanya adalah penganut agama Katolik dan 
Buddha. Dengan penduduk yang memeluk agama berbeda, Manado terbukti 
masih aman dan terkendali. Bahkan kota ini seringkali dijadikan 
tempat sidang atau konferensi dari gereja-gereja tingkat nasional 
bahkan dan bahkan Asia karena dianggap Manado masih merupakan kota 
yang damai. 

Manado kebetulan juga merupakan tempat di mana terdapat berbagai 
macam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan media massa. Serta 
memiliki jaringan yang cukup luas dan cepat dengan akses ke tingkat 
nasional. Manado juga memiliki kemampuan tawar menawar dengan 
pemerintah provinsi yang cukup baik serta banyak diadakan 
penyelenggaraan berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, 
sarasehan, dialog, baik pada skala lokal, nasional, maupun 
internasional.

Penelitian Rukmina membuktikan bahwa faktor pendidikan agama justru 
sebagai sarana kedamaian. Banyak kegiatan agama yang diadakan oleh 
umat Muslim di Manado, seperti pawai takbiran atau membangun rumah 
ibadah mendapat partisipasi dari umat Kristen. Sebaliknya, ketika 
umat Kristen membangun gereja, warga Muslim juga ikut berpartisipasi. 
Itulah salah satu contoh berjalannya kedamaian sosial di Manado.

Setelah melakukan partisisipasi observasi yang memakan waktu hampir 
dua tahun, yaitu mulai Maret 2005 hingga Januari 2007, Rukmina juga 
menyertakan hasil wawancara dengan 20 orang informan kunci serta 
sekitar 40 narasumber dari masyarakat biasa. Lebih spesifik, Rukmina 
mengambil sampel di tiga kecamatan di Manado, di antaranya Bunaken, 
Tuminting, dan Malalayang. Selain itu, ia juga melakukan dokumentasi 
data. 

Metodologi penelitian yang digunakan Rukmina adalah pendekatan secara 
kualitatif. Pendekatan ini dipilih untuk memahami proses, fenomena, 
dinamika, perspektif, makna hubungan orang Islam dengan Kristen di 
Kota Manado.

Secara keseluruhan, data demografi penduduk asli kota Manado berasal 
dari etnik Bantik Sanger Tua. Masuknya agama Islam ke Manado melalui 
para pejuang seperti Tuanku Imam Bonjol, Kyai Modjo, dan KH Arsyad 
Thawil. Juga dari para nelayan yang datang dari Ternate dan buruh-
buruh dari Gorontalo, Bugis, dan Makassar.

Sementara itu, jelas Rukmina, apabila merujuk pada konsep Varshney 
yang menekankan pentingnya variabel masyarakat sipil untuk 
menjelaskan ada atau tidaknya kedamaian sosial, keberadaan masyarakat 
sipil yang ditandai oleh adanya jaringan atau pertalian antaretnik 
dan pemeluk agama yang berbeda akan dapat mencegah konflik dan 
kekerasan sosial. "Interaksi sehari-hari antarkelompok juga sangat 
penting dan efektif untuk meredam konflik," tambahnya. Dengan kata 
lain, semakin menguatnya kohesifitas dalam intercommunal engagement, 
maka perdamaian antarkelompok dan etnis akan mudah dipertahankan.

Menurut Rukmina, agama yang pertama kali masuk ke Manado adalah 
Kristen Katolik. Sejarah masuknya agama Kristen Katolik adalah 
melalui Portugis dan Spanyol. Sedangkan Kristen Protestan masuk ke 
Manado melalui seorang Zending Belanda bernama Zacharias Cohen. Ada 
dua cara bagaimana agama Kristen bisa masuk ke Manado, yaitu dengan 
cara keras dan dengan cara damai. Dengan cara keras adalah dengan 
warisan sejarah yang ditinggalkan oleh Perang Salib, kemudian karya 
sastra yang menekan perbedaan, ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani 
(KKR), khotbah, ceramah pendeta, dan penyebaran VCD atau DVD yang 
beraliran keras. 

Sedangkan dengan cara damai adalah dengan cara perkawinan antara 
pejuang dan saudagar dari Arab, India, Jawa, Bugis Makassar, dan 
Gorontalo. 


Pola Hubungan

Ada lima pola hubungan masyarakat di Manado untuk membangun kedamaian 
sosial melalui perbedaan agama yang berhasil dideteksi oleh Rukmina, 
yaitu, kerja sama di bidang asosiasi, kerja sama pemberantasan judi, 
minuman keras dan narkoba, kemudian pada saat merayakan hari raya, 
budaya, dan dialog. Mekanisme hubungannya terletak pada pernikahan 
beda agama, konversi agama, hubungan kekerabatan, dan hubungan 
ketetanggaan.

Penelitian yang dilakukan Rukmina bertujuan menjelaskan pola hubungan 
yang dilakukan oleh masyarakat sebagai subjek dan sekaligus objek 
dalam mempertahankan kedamaian sosial. Ia juga mencoba 
mengidentifikasi mekanisme dan menjelaskan faktor-faktor yang 
mempengaruhi hubungan antara orang Islam dengan Kristen dalam 
mempertahankan kedamaian sosial.

Hubungan Islam dengan Kristen di Manado setelah dilakukan penelitian 
dapat dikatakan memiliki corak dinamis, khususnya pada komponen kerja 
sama dan interaksi asosiasional lintas etnik, pengusaha, serta pelaku 
bisnis. Sedangkan pada komponen hubungan kekeluargaan dan 
kekerabatan, hubungan Islam dan Kristen bercorak transformatif atau 
dapat berubah-ubah.

Dijelaskan, faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan melalui dialog 
antartokoh agama dan generasi muda, bercorak akomodatif-kompromistis. 
Lalu untuk komponen peran negara lebih bercorak eklektik-inovatif, 
seperti pada komponen peran elite agama dan elite politik. Untuk 
media masa bercorak profesional, khusus pada komponen wartawan.

Menurut Rukmina disertasi ini dibuat sebagai rekomendasi terhadap 
pemerintah baik nasional maupun lokal untuk mengambil kebijakan 
tentang hubungan antarumat beragama. Ada beberapa usulan yang 
berhasil dihimpun untuk beberapa pihak yang terkait, pertama, untuk 
organisasi keagamaan, yaitu merevisi fatwa MUI tentang pelanggaran 
ucapan "Selamat Natal", fatwa tanggal 1 Juni 1980 tentang 
pengharaman "kawin beda agama". Sedangkan untuk umat, sekiranya dapat 
mengintensifkan dialog antarumat beragama mulai dari tingkat 
lingkungan (RT/RW) sampai ke tingkat kota dan provinsi.

Kedua, untuk pemerintah, Rukmina mengimbau agar merevisi SKB Menteri 
Agama dan Menteri Dalam Negeri No 01 Tahun 1969 tentang pelaksanaan 
tugas aparatur pemerintahan dalam menjamin ketertiban pelaksanaan 
keagamaan.

Data lain yang ditemukan melalui penelitiannya itu, orang-orang 
Minahasa yang beragama Kristen Protestan terbukti lebih banyak 
mengendalikan pemerintahan, pendidikan, dan ekonomi masyarakat 
Manado. Mereka menduduki posisi-posisi kunci dalam struktur kekuasaan 
mulai dari jabatan gubernur, walikota, rektor universitas, sampai 
dengan jabatan kepala kantor dinas propinsi dan kota. [WWH/R-8]



SP/Dwi Argo Santoso

Penari Maengket bergandeng tangan membentuk lingkaran seusai 
pernyataan tekad persatuan pada upacara adat watu pinawetengan, di 
Manado. Kota ini sebagai contoh kota perdamaian dan persatuan kendati 
banyak perbedaan, termasuk perbedaan agama.

rang yang mengaku beragama seharusnya mewujudkan ajaran keyakinannya 
dengan hidup berdampingan dengan sesama dan alam secara damai. Namun, 
dalam kenyataannya, persoalan agama malah menjadi persoalan yang 
sensitif, agama dapat dengan mudahnya dijadikan sarana "adu domba" 
atau perseteruan. 

Di negeri ini, agama Islam adalah kepercayaan yang mendominasi rakyat 
setelah agama Kristen. Bila disandingkan, dua agama sematik tersebut 
sebenarnya memiliki persamaan di samping ada perbedaan. Perbedaan 
pemahaman dan penafsiran, atau untuk kepentingan tertentu, agama 
dijadikan pemicu konflik di beberapa daerah, seperti yang telah 
terjadi di Poso, Ternate, dan Ambon. 

Hidup damai kendati berbeda agama? Mari belajar dari Kota Manado. 
Sebenarnya, sama seperti daerah-daerah yang sudah tercemar konflik 
agama, Ibu Kota Sulawesi Utara ini pun pernah juga "dijajal" oleh 
oknum-oknum tak bertanggung jawab agar juga menjadi daerah konflik. 
Tapi, ini Manado, jo! Faktor apa sajakah yang turut mempengaruhi 
sehingga kedamaian sosial di kota Manado dapat dipertahankan? Peran 
dan upaya apa pula yang dilakukan oleh negara, para elite agama, 
politik, Lembaga Swadaya Masyarakat (LBH), dan media massa dalam 
mempertahankan kedamaian sosial?

Manado adalah kota yang dipilih oleh mahasiswa program doktor, 
Fakultas Sosiologi, Universitas Indonesia, Rukmina Gonibala untuk 
dijadikan objek thesis-nya. Dalam ujian seminar hasil penelitian S3 
yang berjudul "Pola Hubungan Antara Orang Islam dan Kristen dalam 
Upaya Mempertahankan Kedamaian Sosial" (Studi Hubungan Antara Orang 
Kristen dengan Islam Pasca Orde Baru) di kampus UI Depok, Rabu 
(30/4), ia berpendapat bahwa Manado yang justru terletak di bekas 
daerah konflik dan didominasi oleh dua agama, yaitu Kristen dan 
Islam, ternyata masih dapat menjaga kedamaian sosialnya berkat 
partisipasi warganya. 

Sempat muncul istilah "ATM", kepanjangan Ambon, Ternate, dan Manado. 
Namun hingga saat ini, setelah Ambon dan Ternate dilanda konflik, 
Manado masih tetap aman dan terkendali.

Partisipasi

Menurut Rukmina, Manado terdiri dari 57 persen umat Kristen dan 32 
persen umat Islam, serta sisanya adalah penganut agama Katolik dan 
Buddha. Dengan penduduk yang memeluk agama berbeda, Manado terbukti 
masih aman dan terkendali. Bahkan kota ini seringkali dijadikan 
tempat sidang atau konferensi dari gereja-gereja tingkat nasional 
bahkan dan bahkan Asia karena dianggap Manado masih merupakan kota 
yang damai. 

Manado kebetulan juga merupakan tempat di mana terdapat berbagai 
macam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan media massa. Serta 
memiliki jaringan yang cukup luas dan cepat dengan akses ke tingkat 
nasional. Manado juga memiliki kemampuan tawar menawar dengan 
pemerintah provinsi yang cukup baik serta banyak diadakan 
penyelenggaraan berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, 
sarasehan, dialog, baik pada skala lokal, nasional, maupun 
internasional.

Penelitian Rukmina membuktikan bahwa faktor pendidikan agama justru 
sebagai sarana kedamaian. Banyak kegiatan agama yang diadakan oleh 
umat Muslim di Manado, seperti pawai takbiran atau membangun rumah 
ibadah mendapat partisipasi dari umat Kristen. Sebaliknya, ketika 
umat Kristen membangun gereja, warga Muslim juga ikut berpartisipasi. 
Itulah salah satu contoh berjalannya kedamaian sosial di Manado.

Setelah melakukan partisisipasi observasi yang memakan waktu hampir 
dua tahun, yaitu mulai Maret 2005 hingga Januari 2007, Rukmina juga 
menyertakan hasil wawancara dengan 20 orang informan kunci serta 
sekitar 40 narasumber dari masyarakat biasa. Lebih spesifik, Rukmina 
mengambil sampel di tiga kecamatan di Manado, di antaranya Bunaken, 
Tuminting, dan Malalayang. Selain itu, ia juga melakukan dokumentasi 
data. 

Metodologi penelitian yang digunakan Rukmina adalah pendekatan secara 
kualitatif. Pendekatan ini dipilih untuk memahami proses, fenomena, 
dinamika, perspektif, makna hubungan orang Islam dengan Kristen di 
Kota Manado.

Secara keseluruhan, data demografi penduduk asli kota Manado berasal 
dari etnik Bantik Sanger Tua. Masuknya agama Islam ke Manado melalui 
para pejuang seperti Tuanku Imam Bonjol, Kyai Modjo, dan KH Arsyad 
Thawil. Juga dari para nelayan yang datang dari Ternate dan buruh-
buruh dari Gorontalo, Bugis, dan Makassar.

Sementara itu, jelas Rukmina, apabila merujuk pada konsep Varshney 
yang menekankan pentingnya variabel masyarakat sipil untuk 
menjelaskan ada atau tidaknya kedamaian sosial, keberadaan masyarakat 
sipil yang ditandai oleh adanya jaringan atau pertalian antaretnik 
dan pemeluk agama yang berbeda akan dapat mencegah konflik dan 
kekerasan sosial. "Interaksi sehari-hari antarkelompok juga sangat 
penting dan efektif untuk meredam konflik," tambahnya. Dengan kata 
lain, semakin menguatnya kohesifitas dalam intercommunal engagement, 
maka perdamaian antarkelompok dan etnis akan mudah dipertahankan.

Menurut Rukmina, agama yang pertama kali masuk ke Manado adalah 
Kristen Katolik. Sejarah masuknya agama Kristen Katolik adalah 
melalui Portugis dan Spanyol. Sedangkan Kristen Protestan masuk ke 
Manado melalui seorang Zending Belanda bernama Zacharias Cohen. Ada 
dua cara bagaimana agama Kristen bisa masuk ke Manado, yaitu dengan 
cara keras dan dengan cara damai. Dengan cara keras adalah dengan 
warisan sejarah yang ditinggalkan oleh Perang Salib, kemudian karya 
sastra yang menekan perbedaan, ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani 
(KKR), khotbah, ceramah pendeta, dan penyebaran VCD atau DVD yang 
beraliran keras. 

Sedangkan dengan cara damai adalah dengan cara perkawinan antara 
pejuang dan saudagar dari Arab, India, Jawa, Bugis Makassar, dan 
Gorontalo. 


Pola Hubungan

Ada lima pola hubungan masyarakat di Manado untuk membangun kedamaian 
sosial melalui perbedaan agama yang berhasil dideteksi oleh Rukmina, 
yaitu, kerja sama di bidang asosiasi, kerja sama pemberantasan judi, 
minuman keras dan narkoba, kemudian pada saat merayakan hari raya, 
budaya, dan dialog. Mekanisme hubungannya terletak pada pernikahan 
beda agama, konversi agama, hubungan kekerabatan, dan hubungan 
ketetanggaan.

Penelitian yang dilakukan Rukmina bertujuan menjelaskan pola hubungan 
yang dilakukan oleh masyarakat sebagai subjek dan sekaligus objek 
dalam mempertahankan kedamaian sosial. Ia juga mencoba 
mengidentifikasi mekanisme dan menjelaskan faktor-faktor yang 
mempengaruhi hubungan antara orang Islam dengan Kristen dalam 
mempertahankan kedamaian sosial.

Hubungan Islam dengan Kristen di Manado setelah dilakukan penelitian 
dapat dikatakan memiliki corak dinamis, khususnya pada komponen kerja 
sama dan interaksi asosiasional lintas etnik, pengusaha, serta pelaku 
bisnis. Sedangkan pada komponen hubungan kekeluargaan dan 
kekerabatan, hubungan Islam dan Kristen bercorak transformatif atau 
dapat berubah-ubah.

Dijelaskan, faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan melalui dialog 
antartokoh agama dan generasi muda, bercorak akomodatif-kompromistis. 
Lalu untuk komponen peran negara lebih bercorak eklektik-inovatif, 
seperti pada komponen peran elite agama dan elite politik. Untuk 
media masa bercorak profesional, khusus pada komponen wartawan.

Menurut Rukmina disertasi ini dibuat sebagai rekomendasi terhadap 
pemerintah baik nasional maupun lokal untuk mengambil kebijakan 
tentang hubungan antarumat beragama. Ada beberapa usulan yang 
berhasil dihimpun untuk beberapa pihak yang terkait, pertama, untuk 
organisasi keagamaan, yaitu merevisi fatwa MUI tentang pelanggaran 
ucapan "Selamat Natal", fatwa tanggal 1 Juni 1980 tentang 
pengharaman "kawin beda agama". Sedangkan untuk umat, sekiranya dapat 
mengintensifkan dialog antarumat beragama mulai dari tingkat 
lingkungan (RT/RW) sampai ke tingkat kota dan provinsi.

Kedua, untuk pemerintah, Rukmina mengimbau agar merevisi SKB Menteri 
Agama dan Menteri Dalam Negeri No 01 Tahun 1969 tentang pelaksanaan 
tugas aparatur pemerintahan dalam menjamin ketertiban pelaksanaan 
keagamaan.

Data lain yang ditemukan melalui penelitiannya itu, orang-orang 
Minahasa yang beragama Kristen Protestan terbukti lebih banyak 
mengendalikan pemerintahan, pendidikan, dan ekonomi masyarakat 
Manado. Mereka menduduki posisi-posisi kunci dalam struktur kekuasaan 
mulai dari jabatan gubernur, walikota, rektor universitas, sampai 
dengan jabatan kepala kantor dinas propinsi dan kota. [WWH/R-8]



Kirim email ke