KOMENTAR SEORANG AWAM Membaca artikel sejarawan LIPI Dr Asvi Warman, saya menjadi teringat akan seluk beluk rumitnya interaksi pemahaman Islam di Indonesia, yang menurut para sejarawan bersumber dari daerah semenanjung Arab, Iraq, Iran, Turki dan India serta yang baru-baru dari Mesir. Apabila kita tengok model geografinya asal sumber Islam Indonesia tersebut persis sebagaimana yang disebut oleh Phillip K. Hitti sebagai "moonsickle fertile lands" yang dalam sejarah theologi merupakan daerah geotheologi yang melahirkan monotheistik interaksi Yahudi-Kristen-Islam.
Karena luas lingkup geografis dan beda tradisi masyarakat dan alur pemikiran di daerah bulan sabit makmur tersebut serta perbedaan tingkat ketinggian budaya yang bergilir dalam arus sejarah masyarakat manusia: dari messopotamia ke lembah sungai Nil melalui pegunungan Ararat kembali lagi ke messopotamia dan kemudian menuju lembah sungai Indus dan Gangga yang selanjutnya sesudah kemenangan rasulullah Muhammad saw di semenanjung Arab, idea monotheisme itu menjadi pencerahan di Jawa yang mengubah ideologi polytheisme nusantara menjadi monotheisme Islam, maka argumentasi logika formil saja tidak cukup dapat mengajak para pemimpin dan 'ulama Muslimin yang masih belum memahami Al-Quran sesuai dengan yang dimaksdukan oleh wahyu ilahiyah untuk taat kepada firman-firman Qurani yang melarang PEMAKSAAN AL-DIN terhadap siapapun. Suatu alternatif yang mungkin terbuka adalah dengan mengubah titik tolak pemikiran kita semua, termasuk mereka-mereka yang belum memahami Islam sesuai dengan maksud wahyu ilahiyah, agar menempatkan Al-Dinu al-Islam di singgasananya yang dimaksudkan oleh Allah swt. Bahwa Al-Dinu al-Islam adalah suatu siroth (jalan) bagi manusia untuk hidup secara benar di Bumi yang sekaligus bagi alam semesta merupakan Hukum mutlak. Jadi Islam itu bukan BUATAN atau REKAYASA atau HASIL PEMIKIRAN seorang genius atau "suci" dan karenanya tak seorangpun punya hak untuk memonopoli "merek, trade mark, label dagang" Islam sebagaimana yang kita saksikan sekarang. Al-Dinu al-Islam atau ISLAM QURANIYAH itu adalah HAK PATENT Allah swt dan bukan mereka yang mengaku Muslimin, jika berbicara hak milik. Pada masa rasulullah Muhammad saw masih hidup pernah ada orang-orang Arab yang mengaku juga sebagai nabi dan rasul Allah tetapi oleh firman Qurani dibantah dan ditelanjangi kebohongan "wahyu" yang katanya mereka terima dari malaekat atau Allah (baca kembali Al-Quran). Bantahan Al-Quran ini dan ketenangan rasulullah Muhammad saw dalam menghadapi pengakuan demikian itu telah diputar balik oleh para pemimpin Muslimin, 'ulama theologi Muslimin dan sejarawan Timur Tengah serta sejarawan Barat yang membenarkan tindakan beberapa orang pemimpin kaum Muslimin Arabia sesudah wafatnya rasulullah Muhammad saw memerangi para nabi dan rasul palsu tersebut. Hal ini menjadi alat propaganda tentang kekejaman Islam dan rasulnya Muhammad saw atas kemanusiaan. Dari hal ini tampak dengan jelas keterlibatan dan kepentingan politik kekuasaan atas ummat Muslimin sebagai unta-unta dan kuda-kuda tunggangan menuju kursi-kursi parlemen dan lembaga-lembaga negara bagi para tokoh. Dengan MEMAHAMI DAN MENGERTI Al-Dinu al-Islam berdasarkan data studi terhadap alam semesta seisinya maka bagi yang dibukakan hatinya, lubnya, qolbinya, dan intelegensinya oleh Allah swt akan dapat memahami dan mengerti serta menerima bahwa Al-Dinu al-Islam adalah HUKUM ALAM SEMESTA SEISINYA. Oleh sebab itu Allah swt selalu menganjurkan di dalam firman Qurani agar mereka yang kufur terhadap firman Qurani dan terhadap Allah swt mempelajari apa-apa yang di langit dan apa-apa yang berada di Bumi. Dan siapa saja, tidak perduli dia seorang nabi ataupun rasul, yang tidak bersedia melaksanakan ISLAM akan selalu gelisah dan gundah gelana hidupnya. Sebab ISLAM berarti tunduk patuh, pasrah sukarela kepada Sang Maha Pencipta alam semesta seisinya ini. Seluruh alam semesta seisinya ini dengan terpaksa maupun sukarela melaksanakan ISLAM, termasuk juga manusia yang tidak bersedia berislam. Contohnya: Setiap manusia butuh makan agar terus terpelihara hidup, ini adalah Hukum kehidupan bagi manusia di Bumi. Jika tidak pernah makan akan mati, tentu saja. Dari uraian di atas maka adalah menjadi tugas para sarjana Muslimin yang telah melakukan studi dan riset terhadap alam semesta seisinya untuk mengajarkan ilmu pengetahuannya kepada para saudaranya seiman agar mereka juga mamahaminya dan dapat membedakan kebohongan fantasi tak berdasar dengan kebenaran Qurani. Pemberdayaan kemampuan berfikir logis, rasional dan dialektis di dalam masyarakat Muslimin akan meningkatkan kemampuan ummat dapat mengenal alam semesta seisinya dan meningkatkan AHLAQ mereka sesuai yang dikehendaki oleh Allah swt. Saya menghimbau para pemimpin ummat Muslimin agar memindahkan MINDSET mereka terhadap Al-Dinu al-Islam dari theologi Islam ke Islam ilmiah. Itulah sebabnya rasulullah Muhammad saw selama periode hidup beliau menjadi utusan Allah swt bagi bangsanya, SELALU MEMBERIKAN KETELADANAN DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, dimana diwujudkan KESATUAN PRAKTEK HIDUP DENGAN TEORI WAHYU. Ilmu pengetahuan datang dari hasil penyimpulan praktek hidup sampai saat ini (fii dun-ya) manusia ke arah teori yang dapat meramalkan masa depan (al-ahiroh). Dan kebenaran suatu pengetahuan harus dibuktikan oleh praktek dengan demikian pengetahuan tersebut dapat dipercaya. Ini adalah ajaran firman Qurani. Semoga dapat menyadarkan para saudara seiman yang terkelabui oleh keterbelakangan berfikir para pemimpinnya dan para 'ulamanya. Wassalam, A.M ----- Original Message ----- From: Thesaints Now To: [email protected] Sent: Tuesday, May 06, 2008 8:52 AM Subject: [ppiindia] Ahmadiyah, Nu dan Muhamadiyah Hidup rukun sejak lama Yang ingin mengadu domba umat islam dan membuat rusuh sudah jelas bukan mayoritas umat islam Indonesia. Kalaupun mayoritas punya perbedaan penafsiran, tidaklah berhak untuk memaksakan kehendaknya. Oleh Asvi Warman Adam * Ahmadiyah bukanlah hal baru dalam sejarah Indonesia. Hampir seabad lalu gerakan itu sudah masuk ke tanah air dan selama berpuluh tahun tidak mengalami masalah dengan kelompok lain. Mengapa sekarang dalam situasi ekonomi-politik yang kian panas menjelang Pemilu 2009 persoalan itu kembali diungkit? Ada baiknya kita menengok ke belakang, melihat proses masuknya Ahmadiyah ke Nusantara ini. Artikel ini terutama berdasar tulisan Herman L. Beck dalam Bijdragen tot de Taal, Land en Volkenkunde (2005: 210-246). Ini bermula dengan kedatangan Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad ke Jogjakarta pada Maret 1924 menghadiri Kongres Ke-13 Muhammadiyah. Mereka dipersilakan berbicara dalam kesempatan tersebut. Pandangan mereka terhadap Jesus, yang dalam Islam disebut Nabi Isa, menarik perhatian hadirin. Bagi penganut Ahmadiyah, Jesus setelah disalib tidak meninggal, tiga hari kemudian sadar dan bertemu dengan murid-muridnya. Dia kemudian pergi ke Srinagar, Kashmir, dan mengembangkan ajarannya di sana hingga meninggal pada usia 120 tahun. Karena Jesus itu hanya manusia biasa, messias atau Al Masih yang disebutnya akan datang ke bumi tak lain dari Mirza Ghulam Ahmad. Oleh Ahmadiyah aliran Lahore, dia dianggap mujadid (pembaru). Sedangkan aliran Qadiyan memosisikan dia sebagai nabi. Ahmadiyah juga memiliki pandangan yang khas tentang jihad. Bagi mereka, jihad bersenjata memerangi musuh (orang kafir) tidaklah wajib kecuali untuk mempertahankan diri. Kelompok itu sebetulnya juga tidak tergolong ekstrem karena bersikap loyal kepada pemerintah yang berkuasa. Tahun 1928, tokoh Muhammadiyah Raden Ngabehi HM. Djojosoegito, saudara sepupu dari Hasyim Asy'ari -kakek Abdurrahman Wahid (Gus Dur)- dan Wahab Chasballah, mendirikan Ahmadiyah Indonesia. Hasyim Asy'ari dan Wahab Chasballah yang juga bersaudara sepupu adalah pendiri NU (Nahdlatul Ulama) tahun 1926. Tahun 1930, pemerintah Hindia Belanda mengakui Ahmadiyah. Selain ketua Djojosoegito, terdapat nama Erfan Dahlan sebagai pengurus. Erfan Dahlan adalah putra H Achmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) yang belajar tentang Ahmadiyah di Lahore dan kemudian mengembangkan aliran tersebut di Thailand. Selain Erfan Dahlan, ada beberapa pemuda lain yang juga belajar tentang Ahmadiyah di Lahore. Yang satu setelah kembali ke Indonesia bergabung dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Yang lain, Maksum, keluar dari Muhammadiyah, bergabung dengan Persatuan Islam (Persis) yang dipimpin A. Hassan di Bandung. Polemik Panjang Seperti kita ketahui, polemik panjang mengenai ajaran Islam juga terjadi antara A. Hassan dan Soekarno. Maksum beberapa puluh tahun kemudian ikut gerakan DI/TII yang dipimpin Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan. Djojosoegito kemudian memindahkan kegiatannya ke Purwokerto dan di kota ini didirikan masjid pertama Ahmadiyah di Indonesia. Hubungan antara Ahmadiyah dan SI (Sarekat Islam) pada mulanya cukup erat. Pemimpin SI, HOS Tjokroaminoto, menerbitkan tafsir Alquran pada 1930. Kata pengantar diberikan pimpinan Ahmadiyah di Lahore, India. Ketika ketepatan terjemahan kitab suci itu banyak dikritik, terutama dari kalangan Muhammadiyah, dukungan diberikan pimpinan Ahmadiyah. Namun, hubungan Ahmadiyah dengan SI kemudian menjadi renggang karena sikap politik SI yang radikal terhadap penjajah Belanda. Sedangkan Ahmadiyah tetap loyal kepada pemerintah. HOS Tjokroaminoto yang menjadi mertua Soekarno, menurut KH Abdurrahman Wahid, sebetulnya juga saudara sepupu dari Hasyim Asy'ari dan Wahab Chasballah. Kalau benar demikian, sebenarnya tokoh-tokoh NU, Muhammadiyah, SI, dan Ahmadiyah tersebut berasal dari rumpun keluarga yang sama. Kalau terjadi selisih paham sesama mereka, itu menjadi pertengkaran intern keluarga yang tidak akan menjadi konflik berdarah. Pada 1925, Haji Rasul, ulama terkenal dari Sumatera Barat, ayahanda HAMKA, mengunjungi putrinya, Fatimah, yang menikah dengan A.R. Sutan Mansyur, pimpinan Muhammadiyah di Pekalongan. Dari Pekalongan, dia singgah di Jogja dan Solo serta bertemu dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Ahmadiyah. Terjadilah perdebatan seru. Haji Rasul mengatakan bahwa keyakinan Ahmadiyah itu menyimpang dari ajaran Islam. Dalam kongres Muhammadiyah di Solo pada 1929, hubungan antara organisasi itu dan Ahmadiyah menjadi putus. Majelis Tarjih Muhammadiyah menyatakan bahwa barang siapa yang memercayai adanya nabi setelah Muhammad dianggap kafir, walaupun tidak eksplisit menyebut Ahmadiyah. Sebelumnya sudah ada larangan bagi warga Muhammadiyah untuk mendengarkan ceramah tentang ajaran Ahmadiyah. Setelah 1929, Muhammadiyah sangat jarang mengeluarkan pernyataan yang memojokkan Ahmadiyah aliran Lahore. Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pada 1984, Muhammadiyah mendukung dan menganggap bahwa itu terutama menyangkut Ahmadiyah aliran Qadiyan. Tak Berbahaya Mengapa Muhammadiyah masih bersikap toleran terhadap Ahmadiyah aliran Lahore? Menurut Herman Beck, itu terjadi karena organisasi tersebut dianggap tidak berbahaya serta bukan kompetitor dalam bidang dakwah, sosial, dan pendidikan. Itulah sebabnya, selama puluhan tahun, Ahmadiyah tetap hidup berdampingan secara damai dengan Muhammadiyah dan organisasi Islam yang lain. Menjadi pertanyaan saat bangsa Indonesia mengalami kesulitan ekonomi yang berkepanjangan, kesejahteraan rakyat tak kunjung terwujud, masyarakat didera kemiskinan, mengapa persoalan Ahmadiyah yang muncul ke permukaan? Untuk apa dan siapa yang menggerakkan semua ini? Kalau diperhatikan, sejarah lahirnya organisasi-organisa si muslim di tanah air terlihat bahwa pendiri dan pengurus awal berbagai organisasi Islam itu sesungguhnya bersaudara. Oleh karena itu, sebaiknya masalah Ahmadiyah ini diselesaikan secara persaudaraan pula. * Dr Asvi Warman Adam, sejarawan di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Jakarta [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

