Betul mas, kasih pada sesama adalah sebuah harta, yang kian 
bertambah, semakin kita bagi dengan orang banyak..
Mengasihi sesama, solidaritas sosial adalah ibadah yang paling 
utama...

Salam

Danardono


--- In [email protected], "agussyafii" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ketika Hidup ini Bermakna
> 
> 
> Pagi Senin kamaren saya kedatangan seorang ibu, datang mengeluhkan
> dirinya bahwa ia menjadi orang yang paling malang di dunia, karena 
ia
> berada pada posisi maju kena-mundur kena, maju melawan  nuraninya 
dan
> mundur juga melawan nuraninya. Ia sudah berusaha mencari jalan 
keluar,
> meyangkut problemnya maupun menyangkut perasaan dirinya, tetapi kaki
> tidak bisa melangkah dan hati seperti digerogoti setiap harinya. Ia
> berusaha melupakan, tetapi ia selalu hadir dalam ingatan, ia 
berusaha
> menghibur diri, tetapi hiburan terasa hambar, ia benar-benar tidak
> tahu harus apa yang dilakukan
> 
> 
> Beliau seorang ibu dengan tiga anaknya perempuan semuanya, mempunyai
> dua adik perempuan yang masih gadis dan keduanya tinggal bersamanya,
> disekolahkan olehnya sejak SMP. Problem yang menyulitkan ialah bahwa
> wanita tersebut masih memiliki seorang ibu berusia 56 tahun, tetapi
> oleh karunia Tuhan ibunya masih nampak sangat muda dan cantik, lebih
> cantik dibanding anak-anaknya. Orang yang tak kenal, tak percaya 
bahwa
> orang cantik itu ibunya, karena nampak masih sangat muda dan segar. 
> 
> Yang menjadi persoalan ialah bahwa ibunya bukan hanya nampak muda 
dan
> cantik, tetapi perangainya juga seperti orang muda. Sebenarnya 
ketika
> itu status ibu masih bersuami seorang pegawai Pemda di sebuah kota
> propinsi di Sumatera, yang usianya terpaut 26 tahun lebih muda, 
tetapi
> sekarang sedang pisah ranjang. Suami ibu dulu adalah mahasiswa yang
> kost kemudiaan dibiayai kuliahnya oleh ibu tersebut dan selanjutnya
> menjadi suaminya yang ke empat. Suami muda itu sekarang sedang
> kasmaran terhadap wanita yang lebih sebaya usianya, dan selama pisah
> ranjang tersebut, ibu ke Jakarta, tinggal di rumah anaknya yang
> pengusaha itu.
> 
> Persoalan menjadi lebih rumit karena ibu tua cantik itu sekarang
> bersaing dengan dua anak gadisnya dan tiga cucu perempuannya dalam
> memikat lelaki. Semua teman dan pacar anak gadis dan cucunya yang
> datang wakuncar selalu digoda, dan celakanya, mereka tidak percaya
> jika dikatakan bahwa wanita cantik itu calon mertua. Ibu cantik itu
> bahkan berhasil merebut calon mantunya untuk diajak kencan dan
> jalan-jalan di Jakarta. Babak akhir dari persaingan itu 
mengakibatkan
> semua laki-laki yang tahu duduk soal kemudian lari menjauh dari
> gadis-gadis kekasihnya, karena sungkan atau malu. Ibu pengusaha itu
> juga menjadi serba salah, malu kepada suaminya, malu kepada calon 
ipar
> dan calon mantunya. Ia tidak bisa mengusir ibu kandungnya, tidak 
> mampu pula untuk menanggung malu. Adik dan anaknya juga tidak berani
> mengusir ibu dan neneknya, meskipun hatinya mendongkol dan sedih.
> Penghuni rumah itu kemudian menjadi pendiam semuanya, kecuali ibu 
tua
> cantik yang tetap kenes.
> 
> Menurut ceritanya, wanita pengusaha itu telah berusaha mengatasi
> kegalauan perasaanya itu  dengan renang di kolam renang sampai
> kelelahan, tetapi hanya sekejap ia dapat melupakan permasalahan di
> rumahnya. Ia terkadang nyetir mobil dengan ngebut untuk membuang
> kegundahannya, ia juga mencoba membaur dengan alam, dengan makan 
gelar
> tikar di pinggir jalan, ia ingin alamiah seperti orang lain, tetapi
> fikiran tetap kusut. Saya merasa benar-benar menjadi orang yang 
paling
> malang di dunia ini, katanya. 
> 
> Ketika saya menanyakan kepada ibu itu, Apakah ibu punya perhatian
> kepada anak-anak yatim ? Ibu itu menjawab bahwa setiap event-event
> tertentu ia selalu mengirimkan ber karung-karung beras ke panti-
panti
> asuhan. Ketika saya tanyakan ke panti asuhan mana beras itu
> dikirimkan, ibu itu mengaku tidak tahu, karena itu secara
> administratif diurus oleh pegawai perusahaannya. Ia hanya meneken
> persetujuan tanpa tertarik untuk tahu ke panti asuhan mana beras itu
> di antar. 
> Mendengar pengakuannya yang spontan itu, saya langsung tembak, juga
> dengan logika aktual. Ibu ini seperti buku tulis. Buku itu sangat
> berguna bagi orang lain, tetapi si buku tak memperoleh apa-apa. Ibu
> banyak menolong orang, tetapi ibu sendiri tidak tertolong, ibu
> mengobati orang sakit, tetapi ibu sendiri tidak terobati. Anak yatim
> yang makan beras ibu boleh jadi makan dengan lahap dan nikmat, 
tetapi
> ibu justeru tidak memiliki selera makan.
> 
> Mengapa demikian, karena ibu tidak berhubungan dengan manusia, ibu
> tidak memiliki hubungan interpersonal dengan anak-anak yatim di 
panti
> asuhan itu. Ibu hanya berhubungan dengan kertas-kertas yang mati,
> sehingga ibu tidak memperoleh umpan balik. Ibu orang yang dibutuhkan
> oleh orang lain, tetapi ibu tidak tahu makna hidup, karena ibu tidak
> berhubungan dengan mereka sebagai manusia  Coba jika ibu mengenal
> siapa yang diberi, mengenal problema anak-anak yatim itu. Jika ibu
> mengenal mereka, ibu mungkin akan menjadi tahu bahwa anak-anak yatim
> itu boleh jadi sudah tidak membutuhkan beras, karena beras di gudang
> panti sudah berlebih, bahkan di jual oleh pengurusnya. 
> 
> Jika ibu mengenal mereka, mungkin ibu menjadi tahu bahwa yang
> dibutuhkan oleh anak-anak panti itu adalah perhatian, kepedulian dan
> kasih sayang. Betapa bahagianya jika ibu dapat mengamati perilaku 
anak
> yatim yang semula putus asa, tak memiliki semangat hidup, tak
> bercita-cita, setelah memperoleh sentuhan perhatian dari ibu 
kemudian
> berubah menjadi anak yang periang, yang oiptimis, dan berobsesi
> menjadi yatim seperti yatimnya Rasulullah. Oh, sungguh betapa hidup
> ini bermakna, dan sungguh indah hidup ini. Jika ibu asyik dengan
> bagaimana memikirkan orang lain, maka derita ibu di rumah terlupakan
> dan bahkan terselesaikan dengan sendirinya.
> 
> 
> 
> Salam cinta,
> Agussyafii
> 
> =======
> Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye "Keluargaku, Surgaku"
> silahkan kirimkan dukungan dan komentar anda di
> http://agussyafii.blogspot.com atau sms 0888 176 48 72
>


Kirim email ke