Jangan terlalu meng-gebu2 kalau si setan amriki ingin belajar soal pengusaan
teritorial dan jangan cepat2 bilang kualat terhadap si amiriki.
Amiriki itu kayaknya terlalu naip, sudah gagal di Vietnam, mulai lagi dengan
membuat kesalahan yang sama.Kalau sampeyan bisa menemukan buku karangan Paul R
Gregory, berjudul "Lenin's Brain", disitu dia membandingkan babak bundasnya
tangtara Soviet di Afghanistan yang melakukan agresi selama 8 tahunan dengan
mengerahkan 620 ribu tangtaranya. Apa hasilnya malahan Taliban tambah kuat.
Rasanya soal export demokrasinya si Bush sudah tidak laku. Jadi bukan kualat
babah Yap.
Juga soal Indonesia(TNI)-nya yang pandai dalam strategi apa yang sampeyan
katakan ...penguasaan teritorial itu ya rada kebacuuuut! Lihat saja contohnya
ke Aceh. Tangtara TNI tidak berhasil menguasai daerah ini sehingga ada kompromi
dengan pihak GAM(pembrontak Aceh) dalam bentuk otonomi luas.
Amiriki juga kayaknya sudah punya strategi seperti apa yang dikatakan
....strategic hamlet dalam perang Vietnam tapi ya karena amiriki itu mau
kolonisasi Vietnam ya achirnya mundur dengen mengorbankan tangtaranya sebanyak
50 ribu-an meninggal.
Jadi jangan berbesar hati apabila si amiriki itu ingin tahu sebanyak mungkin
cara mengalahkan Taliban dan AlQaeda. Obatnya ya cuman ...jangan sembrono masuk
"rumah" orang lain.
Harry Adinegara
YHG <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ini namanya KUALAT !!!
Iki jengene KUALAT !!!
Ini namonyo KUALAT !!!
http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=167395
polhukam - Hankam
Selasa, 22 April 2008 18:22 WIB
Gagal di Irak, AS Belajar Teritorial di Indonesia
Reporter : Markus Junianto Sihaloho
JAKARTA--MI: Kesulitan menjinakkan Irak dengan kekuatan tempur yang luar
biasa, AS berpaling hendak memakai strategi penguasaan teritorial. Angkatan
Bersenjata AS pun mengirim prajuritnya untuk belajar teritorial ke TNI.
KSAD Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo berkisah saat berkunjung ke AS
beberapa waktu lalu, dirinya bertemu kepala staf angkatan darat AS.
Pimpinan AD AS itu lalu menceritakan keadaan di Irak yang ternyata tidak
bisa diselesaikan secara singkat dan memerlukan waktu yang lama.
"Saya bilang, di Indonesia seperti itu diselesaikan dengan pembinaan
teritorial. Menurut saya, untuk perang ke depan tidak bisa diselesaikan
dengan kekuatan senjata tetapi, barang siapa yang memegang rakyat, itu yang
menang dalam perang," kata Agustadi di Jakarta,Selasa (22/4).
Setelah pembicaraan itu, lanjut Agustadi, AS lalu berencana mengirim perwira
untuk menjalani sekolah dan atau kursus pembinaan teritorial di Indonesia.
"Jadi kita tahu bersama kita memiliki pola pertahanan di mana sistem
pembinaan teritorial sangat besar.
Dia tidak minta tolong, tapi ingin menyekolahkan perwiranya ke Indonesia,"
imbuh Agustadi.
Mantan Menhankam/Pangab Jenderal (Purn) Wiranto mengatakan sistem teritorial
di Indonesia, tatkala sudah tidak lagi tersangkut dengan politik praktis,
adalah langkah terbaik dalam rangka pertahanan negara. "Kalau beberapa
elemen masyarakat kita mencurigainya, itu yang salah, mengapa bisa begitu?
Padahal kekuatan kita ada di sana. Karena dengan wilayah kita yang sangat
luas," ujar Wiranto.
Karena itulah menurut Wiranto, wajar bila kemudian AS belajar strategi
teritorial ke TNI apalagi mereka sudah mengalami kegagalan luar biasa di
Irak yang masih terus bergejolak dan melawan.
"Apa mempelajari teritorial itu adalah dalam rangka upaya AS mendekati kita
khususnya terkait negosiasi NAMRU?" tanya wartawan.
"Kalau soal NAMRU saya tak tahu. Tapi saya kira ketertarikan AS itu sangat
riil sekali. Beberapa penugasan tentara kita yang tergabung dalam misi PBB,
itu dapat acungan jempol tatkala pasukan kita selalu berhasil dalam
penugasan. Pasukan
kita menjadi yang terbaik ketika bisa masuk ke masyarakat dengan damai,"
jawab Wiranto.
(Mjs/OL-03)
---------------------------------
Get the name you always wanted with the new y7mail email address.
[Non-text portions of this message have been removed]