>"Bukan Kesesatan Besar Menusuk Kalbu"
>
>By Emha Ainun Nadjib
>
>Jangankan menjadi Nabi: jadi manusia saja, siapa yang
>benar-benar lulus? Alangkah mengagumkan
>sahabat-sahabat yang gagah menyertakan kata Ulama,
>Kiai, Ustadz, Syekh, Maulana, di depan namanya. Yang
>tanpa hati ragu memakai surban di kepalanya,
>mengenakan jubah semampir pundaknya, terlebih lagi
>rangkaian butir tasbih di jari-jemarinya. Apakah
>beliau sangat meyakini diri, ataukah setiap kali perlu
>meyakin-yakinkan diri.
>
>Adapun ilmuwan, cendekiawan, seniman, budayawan,
>Begawan, Undagi, Ulil Abshar, Ulil Albab, Ulin Nuha,
>terlebih lagi wadag-wadag seperti Profesor, Doktor,
>Profesional, Pejabat, Presiden: di satu sisi itu
>adalah perjalanan kebenaran dan kemuliaan, di sisi
>lain itu adalah "mata'ul ghurur", perhiasan dunia,
>serta "la'ibun wa lahwun", permainan dan senda gurau.
>
>Pakai /common sense/ saja: adakah kaki telah melangkah
>sebagaimana yang dimaksudkan dulu oleh Peciptanya.
>Adakah tangan telah mengerjakan mendekati gagasan
>Pembikinnya. Adakah mata telah melihat, telinga telah
>mendengar, akal telah mengolah ilmu dan wacana, mulut
>telah memakan segala sesuatu yang dulu merupakan visi
>missi Pihak yang merancangnya.
>
>Kata Islam, seseorang adalah Nabi karena nubuwah.
>Adalah Rasul karena risalah. Adalah Wali karena
>walayah. Dan adalah manusia karena khilafah. Keempat
>'ah' itu milik Allah, dilimpahkan alias diamanahkan
>kepada makhluk dengan strata dan kualitas yang Ia
>bikin berbeda, dengan Ia siapkan tingkat /'human and
>social penetration'/ yang juga bertingkat-tingkat.
>
>Khilafah itu titipan atau pelimpahan bagi semua dan
>setiap manusia: tidak relevan, tidak rasional dan
>tidak realistis dan a-historis untuk diambil sebagai
>'icon' suatu golongan. Begitu engkau bukan dimaksudkan
>Tuhan sebagai Malaikat, Iblis, Jin, hewan atau alam,
>maka engkaulah Khalifah yang menyandang khilafah.
>
>Secara simbolik-dinamik sering saya memakai idiom
>persuami-istrian. Sebagaimana Allah 'memperistri'
>makhluk-makhlukNya, lelaki 'memperistri' perempuan dan
>Pemerintah 'dipersuamikan' oleh rakyat -- maka ummat
>manusia dinobatkan menjadi 'suami' bagi alam semesta.
>Tugasnya adalah menghimpun ilmu, melakukan pemetaan,
>menyusun disain dan methodologi, menggambar dan
>mensimulasikan sistem dan managemen untuk memproduksi
>"rahmatan lil'alamin".
>
>Sejarah ummat manusia di muka bumi telah mencatat
>peradaban-peradaban para suami istri itu dengan
>penumpahan darah yang terlalu banyak, dusta dan
>peperangan yang selalu berlebihan, hipokrisi dan
>kepalsuan yang bertele-tele, kebodohan ilmu dan
>kemandegan akal yang amat memalukan, serta kekerdilan
>mental dan kebutaan spiritual yang senantiasa
>ditutup-tutupi dengan berbagai mode kesombangan yang
>mewah namun menggelikan dan menjijikkan.
>
>Manusia tidak bisa disebut pernah sungguh-sungguh,
>konstan dan konsisten mempelajari Tuhan, setan,
>demokrasi, nafsu, kebenaran, kemuliaan, dan terutama
>mempelajari dirinya sendiri. Manusia melangkah
>serabutan, berpikir sepenggal, bertindak instan,
>menimbang dengan menipu timbangan, tetapi Tuhan
>sendiri memang 'terlibat' dalam hal ini: /"Inna
>khalaqnal insana fil'ajal"/: sesungguhnya Aku ciptakan
>manusia cenderung bersikap tergesa-gesa....
>
>Sejarah sekolah dan universitas tidak pernah
>benar-benar menyiapkan perjalanan tafakkur dan ijtihad
>ummat manusia melalui tahap-tahap pola berpikir
>linier, zigzag, spiral hingga thawaf siklikal.
>Universitas hanya mewisuda Sarjana Fakultatif meskipun
>kampusnya bernama universitas. Belum tuntas kaum muda
>menjadi murid (murid: orang yang menghendaki ilmu),
>dipaksakan naik ke bangku keangkuhan dengan menggelari
>diri maha-siswa. Para pembelajar dan pencari ilmu
>bersemayam di 'koma' -- begitu dia maha, finallah dan
>titiklah sudah perjalanan ilmiahnya.
>
>Di manakah pintu ilmu, babul 'ilmi? Di manakah kota
>raya ilmu, madinatul 'ilmi? Siapa kaum terpelajar yang
>tertarik pada idiom itu, apalagi menjelajahinya? Bagi
>kaum muda Indonesia, cukuplah Thukul bagi mereka.
>Sambil tiba-tiba menaiki 'maha'-kendaraan yang bernama
>demokrasi, world class society, pilkada pemilu
>pildacil, public figure, album 'religi', Majlis Ulama,
>clean government, Negara Kesatuan Republik Indonesia
>yang semakin tak pantas menyandang nama itu, di tengah
>lautan meluap, gunung meletus, bumi bergoyang-goyang
>sampai ke urat syaraf otak manusianya.
>
>Padahal kapasitas sistem syaraf otak manusia itu
>takkan pernah sanggup dirumuskan atau dikuasai oleh si
>manusia sendiri. Padahal pendaran-pendaran
>elektromagnetik 'nur' Allah yang bertebaran bertaburan
>keseluruh permukaan bumi, memusat menggumpal di
>seputar bagian atas ubun-ubun kepala setiap manusia.
>
>Abracadabra! Siapakah yang tak sesat di antara kita?
>Makan saja sesat sampai ke propinsi kolesterol, asam
>urat, jantungan, gagal ginjal, ganti hati dan stroke.
>Kehidupan berbangsa dan bernegara kita adalah festival
>demi festival kesesatan nasional. Pemilu salah pilih
>wakil dan pemimpin. 220 juta manusia tersesat ke satu
>lorong cita-cita: mau kaya, eksis dan berkuasa.
>Jalannya beribu-ribu, profesinya berbagai-bagai,
>icon-nya berjenis-jenis, namun menuju satu lorong itu
>juga.
>
>Kesesatan sistem. Kesesatan moral. Kesesatan budaya.
>Kesesatan ilmu. Kesesatan bermacam-macam kesesatan,
>dengan kadar yang juga berbeda-beda. Sesat moral atau
>akhlak. Sesat fiqih atau hukum. Sesat sosial. Setiap
>keputusan ekonomi yang menjerumuskan orang banyak,
>policy politik yang kontraproduktif terhadap keharusan
>kemajuan dan pembangunan, adalah - pinjam bahasa Tuhan
>- "dhulmun 'adhim", kesesatan yang nyata.
>
>Sesat di segala wilayah: perda, perpres, perdes, di
>rumah tangga, perusahaan, di jalanan. Khalifah Umar
>bin Abdul Aziz menangis membentur-benturkan kepala ke
>lantai, bersujud mohon ampun kepada Allah, 'hanya'
>karena seekor onta terpeleset di jalan di wilayah
>pemerintahannya. Sementara dalam kehidupan kita jumlah
>penganggur bertambah puluhan juta tak ada yang merasa
>bersalah, dilemma kesengsaraan ribuan penduduk bawah
>jalan tol belum beres, pemimpinnya tega nampang
>mencalonkan diri akan jadi Presiden.
>
>Dan sama sekali tak bisa kita simpulkan bahwa berbagai
>macam kesesatan yang sedang kita alami atau sedang
>menimpa mayoritas bangsa kita kalah berbahaya
>dibanding yang kita ributkan dengan kesesatan
>AlQiyadah.
>
>Hanya saja AlQiyadah menyentuh wilayah 'pamali',
>'sirik', 'wadi', 'jimat' hatinya ratusan ribu orang.
>Yakni aqidah. Teologi. Wacana sangat privat yang sudah
>lebih mendalam di lubuk jiwa -- meskipun mungkin
>karena saking mendalamnya maka susah diaplikasikan
>keluar diri manusia untuk menjadi kebaikan sosial
>bersama. Andaikan AlQiyadah mengajak korupsi, ia pasti
>terpuji dan ke mana-mana pasti banyak kawan. Andaikan
>AlQiyadah memakai tabir Parpol, segera para pencoleng
>akan berkumpul mengerumuninya. Sebab bagi cara
>berpikir keagamaan umum: parpol, uang, korupsi,
>keculasan -- itu tidak sealamat dengan Allah dan Nabi
>Muhammad.
>
>Diam-diam saya pribadi menemukan bahwa alhamdulillah
>kesesatan-kesesatan hidup saya tidak diketahui umum
>atau pihak yang berwajib. Saya mohon dengan sangat
>bagi teman-teman yang tahu bahwa selama ini saya
>mendayung perahu hidup saya di aliran-aliran sesat
>karena tidak umum dan bukan mainstream: hendaklah tak
>usah melaporkan kepada MUI dan Pemerintah.
>
>Itu semua karena sampai usia menjelang 60 th Allah
>memperkenankan saya menjadi penduduk yang tak
>diperhatikan, tak didengarkan, tak dianggep, selalu
>diletakkan di luar garis-garis pemetaan dlam hal
>apapun saja. Segala yang saya dan kami lakukan, rekor
>apapun yang pernah kami capai, ke benua dan kota-kota
>besar dunia belahan manapun kami mengibarkan Merah
>Putih, dengan berapa ribu dan puluh ribu massapun saya
>bercengkerama, prestasi dan kualitas apapun yang kami
>gapai: saya dan kami tetap di luar peta.
>
>Bahkan rasa syukur tertinggi saya adalah jika kelak
>saya masuk sorga - sesudah lewat neraka: orang tetap
>tidak percaya bahwa saya masuk sorga. Itulah sebabnya
>pembicaraan di setiap forum selalu saya awali dengan
>kalimat "Jangan percaya pada saya, percayalah sama
>Allah dan Muhammad". Saya merasa bodoh kalau saya
>membaiat orang, karena dengan begitu aku yang
>melegitimasi kedudukanny, sehingga aku akan harus
>turut bertanggujng jawab atas apa yang dilakukan oleh
>orang yang saya baiat. Sedangkan di hadapan peradilan
>Tuhan, tidak logis kalau aku bisa menolong anakku atau
>aku bisa ditolong istriku. Tidak ada orang disumpah
>atau disyahadati, yang ada adalah orang bersumpah atau
>bersyahadat dengan dirinya sendiri.
>
>Saya tidak pernah mengakui diri saya sendiri, karena
>yang substansial adalah pengakuan Allah atasku, jika
>hal itu sekarang atau kelak mungkin terjadi. Saya
>tidak tega dan geli kalau orang menjadikan saya
>sebagai panutan, menyebut saya Ustadz, Kiai, bahkan
>ada spanduk berbunyi "Selamat Datang KH Emha Ainun
>Nadjib". Ya Allah lucunya.
>
>Maka tak pernah ada keberanian pada diri saya untuk
>mengajak orang lain, apalagi untuk meyakini apa yang
>saya yakini, untuk berpikir seperti saya berpikir,
>untuk menganut apa yang saya anut. Setiap orang jangan
>memandang saya. Pandanglah Allah, Muhammad, Yesus,
>Budha, Sang Hyang Widhi: take it or leave it. Atau tak
>usah memandang siapapun kecuali dirimu sendiri,
>kepentinganmu sendiri, sebagaimana Firaun. Engkau
>merdeka bahkan untuk menjadi Firaun. Itu urusanmu
>dengan Tuhan dan dirimu sendiri, bukan dengan saya.
>
>Semua Nabi dan Rasul, umpamanya Adam atau Yunus, hanya
>berani menyebut dirinya dholim, /"Robbana dholamna
>anfusana"/, /"Inni kuntu minadh-dholimin"/. Maka
>siapakah aku, sehingga mantap untuk tak melihat diriku
>tersesat? Kesesatan adalah milikku sehari-hari. Oleh
>karena itu mengaku diri manusiapun rasa belum pantas.
>Andaikanpun aku ini Ahlul Bait keturunan Rasulullah
>SAW gabung dengan darah Brawijaya, pasti kututupi
>sebagaimana kurahasiakan auratku.
>
>Akan tetapi apakah saya menolak keseyogyaan dakwah? O
>tidak. Saya seorang Da'i pelaku dakwah. Da'wah artinya
>panggilan, yad'u artinya memanggil, pelakunya Da'i.
>Menyapa. Memanusiakan. Meneguhkan bahwa yang selain
>saya itu benar-benar ada. Da'wah itu panggilan pada
>skala horisontal dengan sesama makhluk. Kalau
>vertikal, dari kata yang sama menjadi du'a, bahasa
>Indonesianya: doa, kata kerjanya juga yad'u, subyeknya
>juga Da'i. Berdoa adalah menyapa Allah.
>
>Kalau kita tiap saat minta-minta terus kepada Tuhan,
>menurut suatu logika berpikir: tak akan lebih dikasihi
>oleh Allah dibanding kalau kita rajin menyapaNya,
>rajin 'gaul' sama Dia, 'mentuhankan' Tuhan sebagaimana
>memanusiakan manusia. Tetangga lebih simpatik kepada
>kita yang suka menyapanya dibanding yang sering
>meminta-minta -- meskipun menurut pemahaman lain Tuhan
>tidaklah sama dengan tetangga.
>
>Pinjam puisinya Chairil Anwar: bukan kesesatan benar
>menusuk kalbu, keridhaanmu menerima segala tiba, tak
>setinggi itu atas debu, dan duka maha tuan
>bertahta....
>
>Allah sendiri, Masya Allah memang Maha Menyesatkan.
>Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah tak ada yang
>bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan
>olehNya tak seorangpun bisa memberinya petunjuk.
>
>Aku yang kedua, Insya Allah Anda yang pertama. ***


Kirim email ke