Jurnal Sairara:
   
   
  KEMBALI BERTEMU SITOR SITUMORANG DI PARIS
   
   
  1.
   
   
  Aku tak ingat lagi, berapa kali sudah aku bertemu Sitor Situmorang di Paris, 
kota di mana ia pernah tinggal dan bekerja selama bertahun-tahun jauh sebelum 
Soeharto naik ke panggung kekuasaan dan berkali-kali dikunjunginya kembali. 
Paris agaknya merupakan salah satu kota kesayangan Sitor. 
   
   
  Ketika penyair dari Danau Toba ini ikut Barbara istrinya, tinggal di Paris, 
beberapa kali aku bertandang ke rumahnya. Tandang yang sangat berkesan bagiku, 
adalah saat Rendra dan Radar Panca Dahana menginap di rumah Sitor. Saat itu, 
Sitor dan aku sempat berbicara tentang soal politik dan sastra serta soal 
peristiwa sastra negeri kita. Dan memang, saban berjumpa, ada saja yang kami 
bicarakan mengenai sastra. Karena sastra adalah suatu wilayah seluas kehidupan 
yang tak kunjung usai untuk dibicarakan dan dipahami. Makin kita memasukinya, 
terasa perjalanan masih belum apa-apa dan tak juga punya sampai. Bagiku 
sendiri, berjumpa Sitor dan para senior, merupakan kesempatan berharga untuk 
belajar.  Demikian jugalah yang terjadi saat Sitor ke Paris 21 April 2008 lalu 
untuk berkunjung beberapa hari di kota yang  terekam dalam cerpen serta 
puisi-puisinya. November tahun ini, atas undangan Lembaga Persahabatan 
Perancis-Indonesia "Pasar Malam", Sitor akan datang kembali ke Paris
 bersama Laksmi Pamuntjak dan Richard O untuk mengisi acara sastra Pasar Malam.
   
   
  Saban jumpa Sitor di Koperasi Restoran Indonesia Paris, untuk menghormatinya 
sekaligus mengungkapkan perasaanku sendiri, selalu kuputar lagu-lagu Tapanuli 
dengan kata pengantar:"Kuputar khusus untuk menyambut Bung" dan Sitor selalu 
juga memberikan perhatian khusus pada lagu-lagu yang kuputar walau pun 
lagu-lagu itu oleh seorang penulis Batak secara bercanda dikatakan "lagu-lagu 
jadul", sementara penulis ini sendiri sebenarnya "rada jadul " atau tertingal 
terhadap budaya Batak. Sehingga secara bercanda pula kukatakan padanya: "Ah 
kau, aku lebih Batak dari kau yang bermarga Batak".  Kata-kata ini sebenarnya 
hanya merupakan varian dari kata-kata Pendeta Simanjuntak, mantan rektor 
Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis Banjarmasin ketika kami 
berjumpa di Palangka Raya beberapa tahun silam. Pendeta asal Batak ini sering 
mengatakan kepada orang-orang Dayak yang mendengar khotbahnya bahwa ia lebih 
Dayak daripada Dayak. Kita boleh tanding dalam soal kedayakan kita,
 ujarnya di salah satu khotbahnya yang selalu penuh pengunjung. Kata-kata ini 
ia ucapkan untuk membangkitkan pengertian apa arti menjadi Dayak. Apa arti 
mencintai Dayak. Sejalan dengan tujuan ini pulalah maka teman-teman asal Batak 
mengkritik saudara-saudara Dayaknya: "Kalian ini seperti ayam saja. Bertarung 
merebut makanan, lalu ketika kalian berlaga, itik datang melahap habis makanan 
itu. Usai berkelahi, kalian dapatkan makanan itu sudah habis".  Keadaan ini 
dalam bahasa Dayak Ngaju disebut "hakayau kulae" [saling memenggal kepala 
saudara], hal yang barangkali terjadi karena merasa diri semua "pangkalima". 
   
   
  Dalam pertemuan singkat kami beberapa jam di Koperasi Restoran Indonesia 
Paris, masalah budaya ini memang sempat kami singgung. Soal ini kuangkat karena 
kutahu benar, Sitor sangat menaruh perhatian akan soal ini hingga menyebut diri 
sebagai "penyair dari Danau Toba". Untuk memancing pendapatnya , aku 
ketengahkan konsep sastra-seni kepulauan sebagai pengejawantahan nyata dari 
wacana republik dan berkeindonesiaan. Menopang konsep ini, aku ceritakan serba 
singkat perkembangan sastra-seni di Makassar, Medan, Lampung, Riau, Flores, 
Kupang, Kalimantan, dan daerah-daerah lainnya.....
   
   
  Menanggapi soal ini Sitor hanya berkata bahwa ia jauh dari kegiatan lapangan. 
 Benar, ujarnya, bahwa angkatan muda Batak sekarang cukup giat dan sadar 
mengembangkan budaya Batak. Kegiatan kongkretnya banyak di Medan tapi pusatnya 
tidak di Medan. "Mereka selalu meminta pendapat saya", ujar Sitor. 
   
   
  Tanggapan hati-hati Sitor ini kupahami bahwa sastrawan senior terkemuka 
Indonesia ini,  yang pernah meringkuk beberapa tahun di penjara Orde Baru 
karena komitmen kerakyatannya, tidak melihat bahwa pengembangan budaya daerah 
bertentangan dengan konsep republik dan berkeindonesiaan sebagai politik 
budaya.Kalau tidak mengapa ia menyokong kuat pengembangan budaya Batak. 
Pengembangan budaya daerah justru merupakan dasar berakar bagi pengembangan 
kebudayaan Indonesia kekinian. Atas dasar ini pula, di depan Sitor, maka kepada 
Johanna Lederer sebagai penanggungjawab pertama Lembaga Persahabatan 
Perancis-Indonesia "PasarMalam" agar ia memperhatikan dan mengundang 
sastrawan-sastrawan daerah. "Sastra-seni Indonesia bukan hanya Jawa", ujarku. 
Sitor memandangku dengan mata bersinar. Aku tahu sinar mata ini terutama tidak 
kepadaku , tetapi lebih ditujukan kepada angkatan di bawahku. Karena Sitor 
sebagai sastrawan adalah seorang pemimpi juga adanya. Wing Karjo alm., sahabat 
satu
 sekolahku di Paris, telah mengambil Sitor sebagai tema tesis doktornya. 
   
   
  Menjawabku Johanna kelahiran Malang dan  yang sarjana sastra lulusan Sorbonne 
 mengatakan: "Kau benar, Emil. Kita harus mendorong perkembangan daerah dan 
pulau-pulau".
   
   
  "Apalagi agaknya, esok Indonesia ada di daerah dan pulau-pulau", timpaku 
dengan yakin. Sitor yang duduk disampingku hanya tertawa dan memegang tanganku. 
Dalam hubungan ini aku usulkan agar Pasar Malam pertama-tama mengundang 
sastrawan-sastrawan dari Indonesia Timur seperti Papua, Makassar misalnya.
   
   
  "Kau punya nama dan kontak dengan merekab?" tanya Johanna antuasias segairah 
Goenawan Mohamad ketika soal ini kusampaikan padanya. Mendengar usul to the 
point ini, Sitor tersenyum. Senyum yang aku sendiri tak mau kutafsirkan. 
Kubiarkan mengambang sendiri. 
   
  "Tentu saja, kalau tidak bagaimana aku berani bicara", jawabku pasti.  
   
  Ketika kami berdua saja, dalam rangka belajar dari Sitor yang jarang kujumpai 
secara fisik, aku mengembangkan percakapan ke soal-soal lain. Mengapa tidak 
kesempatan ini aku manfaatkan maksimal.
   
   
  Paris, Mei 2008
  ---------------------
  JJ.Kusni, pekerja biasa pada  Restoran Indonesia Koperasi Fraternité di Paris.
   
   
  [Bersambung....]
   
   
  Keterangan foto:
   
  Foto-foto  Sitor Situmorang di Restoran Indonesia Paris 21 April 2008 
[Dari:Dok. JJK].



       
---------------------------------
Support Victims of the Cyclone in Myanmar (Burma). 
   Donate Now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke