Dian Su <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Date: Tue, 20 May 2008 18:04:20 -0700 (PDT)
From: Dian Su <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: MUSIBAH & MANUSIA.
To: Sastra Pembebasan <[EMAIL PROTECTED]>
CC: HERI LATIEF <[EMAIL PROTECTED]>, MIRA WIDJAJAKUSUMA <[EMAIL PROTECTED]>

 Nurdiana:
   
   
  MUSIBAH & MANUSIA.
   
  Baru saja berita mempesona:
  Teluk Hangzhou diselendangi
  Jembatan terpanjang di muka bumi,
  Menghampar teluk bagai pelangi.
   
  Baru saja,
  Selesai Perjalanan Harmoni,
  Mengumandangkan Satu Dunia Satu Impian,
  Mengarak api olimpiade
  Yang disulut dari Yunani,
  Dipestakan di lapangan Tian An Men,
  Obor olimpiade diarak tangan-tangan damai,
  Di tiga belas negara  lima benua,
  Termasuk Indonesia.
   
  Baru saja,
  Di kala salju membalut Himalaya,
  Di puncak tertinggi jagat raya,
  Dalam sejarah kali  pertama
  Obor olimpiade marak dinyalakan,
  Tangan-tangan olah ragawan.
   
  Baru saja,
  Kembali dari Perjalanan Harmoni
  Sampai Tiongkok  daratan,
  Obor olimpiade mulai diarak,
  Dari Hainan ke Gunung Jinggang,
  Dielu-elukan jutaan umat. 
   
  Baru saja,
  Di Shanghai diumumkan berita:  
  Tiongkok mendirikan pabrik jumbo-jet,
  Penghasil pesawat terbang raksasa,
  Kemajuan mengagumkan pengetahuan
  Tekhnologi dan ekonomi. 
   
  Di bulan Mei yang  jelita,
  Sejuk dan nyaman musim semi,
  Di kolam meliuk gontai teratai permai,
  Burung berkicau di ranting hijau,
  Di taman mekar mawar melati,
  Bunga-bunga semerbak wangi,
  Penuh kembang warna-warni,
  Remaja asyik bercinta kasih. 
   
  Bak halilintar di tengah hari,
  Bagai prahara menerpa samudera,
  Menyentak umat seluruh jagat,
  Bumi tenang menjadi buncah,
  Mendadak bencana melanda Wenchuan,
  Gempa raya tiada bandingan,
  Dalam sejarah sepanjang zaman,
  Musibah dahsyat timbulkan korban.
   
  Lereng gunung runtuh rekah,
  Sungai tertimbun berobah arah,
  Jembatan-jembatan berputusan, 
  Longsoran batu menimbun jalan,
  Rontok ambruk terowongan, 
  Mobil kereta tak bisa jalan,
  Listrik dan air putus aliran,
  Umat hidup berkesengsaraan.
   
  Kehilangan bapak dan ibu, 
  Muncul ribuan yatim piatu.
  Rumah dan gedung hancur binasa,
  Muncul jutaan tunawisma.
  Puluhan pabrik hancur lebur,
  Muncul laksaan tunakarya. 
  Puluhan ribu melayang nyawa,
  Ratusan ribu luka cedera,
  Berapa suami kehilangan isteri,
  Remaja hilang kekasih sayang. 
   
  Negara umumkan belasungkawa,
  Berkabung selama tiga hari.
  Tanggal sembilan belas Mei,
  Jam empat belas duapuluh delapan menit,
  Tiga menit mengheningkan cipta,
  Menghormati arwah para korban.
   
  Bukan tafakkur menanti takdir,
  Bukan menyerah bergantung nasib,
  Jalankan otak gerakkan tangan,
  Ratusan ribu pasukan dikerahkan,
  Bantu semua yang bisa diselamatkan, 
  Sedikit saja ada harapan,
  Harus diselamatkan,
  M a n u s I a  adalah yang utama.
   
   
  Betapa pun besarnya korban, 
  Tangan-tangan cekatan,
  Bersama para cendekiawan, 
  Yang mampu membangun proyek-proyek raksasa:
  Tiga Ngarai Bendungan terbesar di jagat raya,
  Jalan kereta-api Xinjiang-Tibet tertinggi di dunia,
  Jembatan Teluk Hangzhou terpanjang di bumi raya,
  Pesawat antariksa pengorbitkan manusia,
  Bangunan-bangunan istimewa untuk olimpiade Beijing,
  Kini dikerahkan seluruh  negeri,
  Tiongkok bergelora gerakkan penyelamatan,
  Barat Timur Utara Selatan,
  Tua muda priya wanita,
  Kakek nenek sampai pun cucu, 
  Turun tangan beri sumbangan,
  Dengan semangat:
  Kakek Pandir Memindahkan Gunung *),
  Digabung dengan pengetahuan mutakhir,
  Bergelora bagaikan perang penumpasan, 
  Mengatasi korban musibah gempa.
   
  Musibah bukannya takdir,
  Gejala alam penuh perobahan,
  Mengatasinya harus berfikir,
  Gunakan ilmu pengetahuan.
   
  Tumpahan duka  airmata,
  Mengalir darah melayang nyawa,
  Lenyapnya harta kekasih hati,
  Semua akan teratasi.
   
  Bukan menyerah pada nasib,
  Atau tafakkur menanti takdir,  
  Tiada curahan dari kayangan,
  Dapat merobah celaka musibah.
   
  M u s I b a h  pasti teratasi,
  Hanya berkat : 
  Tangan cekatan  m a n u s I a , 
  Dan pimpinan tepat yang bijaksana.
   
   
             *********
   
  Keterangan:
   
  *). Kakek Pandir Memindahkan Gunung adalah dongeng rakyat Tiongkok 
melambangkan kebulatan tekad dan usaha keras terus menerus mengatasi kesulitan, 
jadi judul karya terkenal Mao Zedong, dimuat dalam PILIHAN KARJA MAO TJETUNG 
jilid III, hal. 349-352, Pustaka Bahasa Asing, Peking, 1968.   
   
  21-5-2008.
           



      



http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan


  http://herilatief.wordpress.com/

http://akarrumputliar.wordpress.com/







       

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke