http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/21/10174615/obati.via.rekayasa.dna
Obati Via Rekayasa DNA
Rabu, 21 Mei 2008 | 10:17 WIB
Penglihatan mata manusia pada unsur yang superkecil memang terbatas, namun 
dengan menguasai teknologi nano, semua materi yang tak terlihat dengan mata 
telanjang, bahkan kerusakan dan gangguan dalam tubuh manusia pun dapat 
direkayasa dan digantikan hingga kembali berfungsi. 
Ide mengutak-atik materi fisik yang berukuran sepersejuta milimeter (10-9 
meter) muncul hampir setengah abad lalu.. Tersebutlah Richard P Feynman, pakar 
fisika teoretik yang melontarkan konsep dasar yang melandasi kajian iptek nano 
pada tahun 1959. Menurut guru besar di California Institute of Technology yang 
meraih hadiah Nobel Fisika tahun 1965 ini, material dapat dimanipulasi pada 
skala atom atau nanometer agar bisa ditingkatkan kemampuannya. Dengan begitu, 
informasi yang termuat dalam Ensiklopedi Britanika, misalnya, dapat dimuat 
dalam material sebesar ujung penjepit.
Penelitian nanoteknologi baru berkembang setelah ditemukakan Scanning Tunneling 
Microscope oleh Binnig dan Rohrer (1981). Sejak saat itu dikenal istilah 
nanoteknologi, yaitu cara mengontrol struktur dan fungsi zat dan sistem-proses 
pada skala nano sehingga menghasilkan fungsi baru.
Penerapan teknologi nano kemudian meluas tidak hanya pada rekayasa material dan 
bahan kimia anorganik, tetapi sampai ke biomaterial. Teknologi ini digunakan 
pada rekayasa biologi untuk meniru perilaku sel dalam tubuh demi penciptaan 
alat seperti komputer DNA, motor molekul, dan membran molekul, antarmuka 
sel-sel hidup dengan komputer lain. Dengan demikian dimungkinkan pembuatan 
komputer yang selain pintar juga memiliki panca indera.
Dengan teknologi nano, protein yang merupakan material dasar makhluk hidup 
dalam DNA dapat direkayasa sehingga menghasilkan struktur baru asam amino. DNA, 
yaitu program penentu karakter manusia memiliki lebar sekitar 2 nanometer 
(nm).. Struktur nano berbasis protein itu dapat dibuat untuk menghantar listrik 
dan terbuka peluang digunakan dalam beragam penerapan yang berbeda.
Peneliti teknologi nano juga telah melakukan eksperimen dengan virus. Virus 
umum memiliki ukuran sekitar 150 nm dan memiliki reaktivitas kimia, sehingga 
virus berpotensi dijadikan cetakan dalam membangun perangkat berukuran nano.
Dalam pengobatan
Nanoteknologi di bidang kedokteran dan farmasi dapat mengatasi masalah asupan 
obat dengan dosis berlebihan dan tidak tepat sasaran. Obat bisa dibuat dalam 
ukuran nanogram dan diantar langsung ke bagian tubuh yang sakit dengan berbagai 
cara, misalnya menggunakan cangkang polimer atau dipandu khusus dengan magnet.
Melihat potensi itu, nanoteknologi juga mulai diterapkan dalam terapi kanker, 
yaitu untuk mengatasi meningkatnya resistensi sel-sel kanker terhadap 
pengobatan standar-terapi radiasi dan kemoterapi. 

”Kedua jenis terapi itu tidak hanya mematikan sel kanker, namun juga merusak 
sel yang sehat di sekitar lokasi tumor,” urai Ester H Chang, peneliti dari 
Pusat Kanker Komprehensif Lombardi Pusat Kedokteran Universitas Georgetown, 
Amerika Serikat. ”Penggunaan teknologi nano bisa meningkatkan efektivitas 
terapi dan meminimalisasi efek samping tersebut,” ujarnya.
Hingga saat ini, kata Ester, uji klinik penggunaan partikel nano dalam terapi 
kanker sedang dilakukan. Dengan teknologi canggih ini, gen penghambat sel 
kanker dalam liposom partikel nano dimasukkan ke dalam sirkulasi darah manusia 
melalui injeksi untuk mematikan sel kanker dan tumor dalam segala ukuran di 
seluruh organ tubuh. Teknologi itu diharapkan dapat menciptakan agen terapeutik 
dengan fokus sasaran sel yang spesifik dan mengirim obat dosis tinggi secara 
terkontrol.
Sementara itu, dalam riset nanoteknologi di bidang kedokteran di Indonesia, 
menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Ali Sulaeman, 
teknologi nano belum diterapkan dalam diagnosis maupun terapi kanker. Pada masa 
depan, partikel nano dapat dijadikan alat diagnostik dan terapi di tingkat DNA 
dengan memasukkan alat itu ke dalam sirkulasi darah. Begitu mendeteksi adanya 
penyakit, partikel nano akan menghancurkan sel atau jaringan kanker.
Pada kanker dikembangkan vektor nano seperti partikel nano yang dapat membawa 
obat atau agen pencitraan ke tumor yang disasari dan alat sensor nano untuk 
mendeteksi gambaran biologis dari kanker. Kombinasi dua area itu dapat membantu 
mendiagnosis lebih awal dan terapi lebih baik bagi penderita, ujar Direktur 
Bidang Hubungan Internasional Lembaga Kanker Nasional Amerika Serikat (NCI) Joe 
B Harford.
Perkembangan nanoteknologi juga akan mengubah cara pembedahan atau operasi. 
Dengan NEM (Nanoelectromechanics), robot kecil dapat dimasukkan ke pembuluh 
darah, lalu dikontrol dan diprogram untuk melakukan pembedahan dalam pembuluh 
darah yang tersumbat.
Dalam program riset iptek kedokteran di Indonesia dikembangkan aplikasi 
nanoteknologi hingga kurun 20 tahun mendatang dalam 8 subbidang antara lain 
nanoporous untuk sekuensi cepat DNA, biokatalis untuk sintesis bahan obat, 
nanocoating untuk sterilisasi dan antimikrobia, nanosensor untuk deteksi dini 
penyakit, dan time released material untuk mengatur waktu pengeluaran obat 
dalam tubuh.

Penulis : YUNI IKAWATI dan EVY RACHMAWATI


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke