http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/harkitnas_20_mei_080521
<http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/harkitnas_20_mei_080521\
>
Seabad Budi Utomo - Tepatkah 20 Mei Jadi Harkitnas ? Laporan Aboeprijadi
Santoso dari Jakarta
21-05-2008


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut ulang tahun seabad Hari
Kebangkitan Nasional Harkitnas tanggal 20 Mei kemarin, dengan seruan
"Indonesia Bisa!". Kata-kata ini diserukannya sampai tiga kali untuk
mengajak seluruh bangsa bersemangat optimistis. Celakanya, menjelang
kenaikan harga BBM ini, khalayak umum malah menyindir Harkitnas sebagai
hari keterpurukan nasional di bawah SBY-JK ("Susah Bbm, Ya Jalan Kaki
saja!"). Koresponden Aboeprijadi Santoso pada perayaan harkitnas di
museum sekolah kedokteran STOVIA di Kwitang, Jakarta mewawancarai
sejarawan Rushdy Hussein.

  [ABS_Harkitnas_bigjpg.jpg] Sejarawan Rushdy Hussein menunjuk, hari
lahir Boedi Oetomo 20 Mei 1908 pertama kali dirayakan pada tahun 1948,
ketika republik yang baru ini, terancam terpuruk akibat perpecahan.
Kini, harkitnas jadi kontroversi. Presiden Soekarno pada tahun 1948
sudah mengimbau agar tanggal tersebut kelak ditinjau kembali. Jadi, 20
Mei belum tentu tepat sebagai lambang kebangkitan nasional.

Rushdy Hussein [RH]: Ya, hati saya juga melankolik dalam rangka
peringatan 100 tahun ini. Sesungguhnya ada yang perlu kita garisbawahi.
Kita itu melaksanakan peringatan baru 60 kali.

Perjanjian Renville
Aboeprijadi Santoso [AS]: Artinya yang pertama kali tahun 1948.

RH: Tahun 1948. Jadi, ketika itu Hatta baru saja diangkat sebagai
perdana menteri, akhir bulan Januari. Amir Sjariffudin sudah selesai.
Ketika itu golongan oposisi yang berseberangan dengan pemerintah
mengadakan apa yang disebut FDR, Front Demokrasi Rakyat, yang menyatakan
pemerintah salah jalan. Perjanjian Renville itu satu kesalahan besar
yang merugikan republik.

AS: Perjanjian Renville kan ditandatangani oleh Amir Sjariffudin,
pemimpin FDR?

RH: Betul. Amir Sjariffudin menyesal menandatangani hal tersebut. Karena
itu memperburuk keadaan. Membuat sebetulnya keadaan republik ini sudah
jatuh ketiban tanggal pula. Jadi pada saat itu ada eksponen para elite
Indoneisa awal, adalah Ki Hadjar Dewantoro, pendiri Indische Partij dan
satu lagi adalah dokter Radjiman. Keduanya itu menghadapi menteri PDK
Mr. Ali Sastroamidjojo, membicarakan keterpurukan republik pada tahun
1948.

  [Harkitnas_inisiapa300.jpg]                                      Rushdy
HusseinDan rupa-rupanya hal itu mau dibawa kepada Bung Karno dan Perdana
Menteri Hatta. Lalu mereka mencari acuan supaya bangsa ini bisa
termotivasi, mau menyatukan pikiran. Karena republik pada tahun 1948 di
pinggir jurang. Seperti telor di ujung tanduk. Dan memang dalam proses
kita akan ditiadakan oleh Belanda yang sudah bekerjasama dengan
negara-negara bagian, tentunya ya.

Kemudian dicarilah dan disepakati bahwa peristiwa lahirnya Boedi Oetomo
tanggal 20 Mei 1908 diangkat sebagai hari kebangunan nasional. Dan
proses selanjutnya adalah membentuk panitia, ketuanya adalah Ki Hadjar
sendiri dan anggotanya semua partai politik. Dengan harapan partai
politik yang lagi bertengkar ini di dalam wadah itu bisa memiliki
kesatuan pendapat melawan Belanda.

Misalnya wakil Ki Hadjar adalah Tjoegito, PKI, kemudian dari Masyumi
juga, dari PNI, alhasil acara itu diselenggarakan tingkat nasional dan
internasional. Di Surakarta itu ada satu monumen, namanya Patung Lilin,
Persatuan Partai Politik Indonesia. Kumpulan partai-partai politik.

Tugu Lilin itu pada tahun 1933 dilarang oleh Belanda. Nah, tahun 1948
ini menarik, ketika kita dalam situasi yang mencekam, di Solo itu banyak
pasukan Hijrah, Siliwangi dan sedikit banyak terjadi konflik juga dengan
pasukan yang ada di sana. Itu bisa mengadakan satu pawai bersama.
Mengadakan acara-acara pertandingan-pertandingan, ziarah ke makam-makan.
Alhasil 20 Mei tahun 1948 itu ada citra barulah, pemikiran-pemikiran
baru.

Politik kekuasaan
Nah, yang perlu dipertanyakan adalah kenapa Boedi Oetomo. Yang menarik
adalah ketika resepsi malam hari, Bung Karno berpidato yang namanya satu
machtspolitiek, bagaimana kita menghidupkan semangat politik golongan
rakyat untuk melawan Belanda.

AS: Machtspolitiek, politik kekuasaan?

RH: Politik kekuasaan dan tentu bagaimana persatuan. Persatuan kesatuan
ini menjadi begitu penting pada saat itu ya. Karena kita tidak memiliki
apa-apa kecuali persatuan. Tapi dia menggarisbawahi, andaikata bisa
diselenggarakan peringatan kebangkitan nasional ini pada tahun-tahun
mendatang, cobalah dievaluasi setiap 10 tahun. Maksudnya tentu, apakah
benar mengambil angka 20 Mei itu, artinya lahirnya Boedi Oetomo itu
tepat.

Itu yang dia mau bicarakan. Dan rupa-rupanya kita lupa, sampai hari ini
tetap saja secara tradisional menggunakan istilah itu kan lahirnya Boedi
Oetomo. Ini menimbulkan polemik sekarang-sekarang ini. Setelah zaman
Reformasi, apa betul?

  [ABS_Harkitnas_kelas300.jpg] Elite moderen
AS: Kira-kira menurut Bung Karno apa yang layak merupakan lambang
kebangkitan nasional?

RH: Itu dia mengkaitkan dengan lahirnya elite Indonesia moderen. Sebelum
abad ke 20 perjuangan kita bersifat kedaerahan, bersifat kekuatan fisik
tanpa memperhitungkan kekuatan otak. Jadi hanya otot yang dipertaruhkan.

AS: Cara tentaralah, ya?

RH: Tentara. Dan orang lupa, perjuangan fisik dengan menggunakan senjata
moderen, itu baru sebatas otot, belum otak. Tapi 1908 senang atau tidak
senang itu sudah menggambarkan bahwa otak Gerakan etis itu antara lain
dengan warna-warni ereschuld itu memunculkan satu peristiwa besar, yaitu
pendidikan bagi semua orang di Hindia. Tanpa pilih bulu. Dan pendidikan
itulah sebetulnya yang menyadarkan orang



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke