Survey Membuktikan – 96,1 Persen Bangga Jadi Orang
Indonesia

Siapa bilang semangat nasionalisme rakyat Indonesia
sudah luntur? Survei yang diadakan Lembaga Survei
Indonesia (LSI) April 2007 menunjukkan,  96,1 persen
responden merasa bangga, bahkan sangat bangga menjadi
orang Indonesia. Hasil survey terhadap 1.680
responden, dengan metode multistage random sampling
(margin of error sekitar 3 persen) ini diangkat
kembali di Koran Tempo, Rabu (21 Mei 2008). 

Mayoritas responden (73,7 persen) juga lebih bangga
disebut sebagai orang Indonesia ketimbang disebut
sebagai orang dari suku tertentu. Hanya 25,6 persen
yang mengaku lebih bangga disebut sebagai orang yang
berasal dari etnis asal (hasil survey Maret 2007 dari
1.240 responden).

Namun, dari segi sentimen keagamaan, ternyata masih
lebih kuat dari sentimen kebangsaan. Sejumlah 53,9
persen responden lebih bangga disebut sebagai orang
Islam, Kristen, Hindu, Buddha, atau Konghucu,
ketimbang disebut sebagai orang Indonesia (45 persen).
Ini hasil survey Maredt 2007 dari 1.240 responden.

Soal mempertahankan keutuhan negara dari ancaman
disintegrasi, berdasarkan survey Maret 2007 dari 1.240
responden, ternyata 85,5 persen menunjukkan dukungan
yang kuat pada keutuhan negara. Mereka tidak setuju
jika salah satu daerah lepas dari Indonesia. Di antara
responden yang menolak lepasnya daerah mana pun dari
Indonesia ini, 77,4 persen menyatakan bersedia ikut
berperang mempertahankan keutuhan republik Indonesia.
Hanya 21,9 persen yang menjawab “tidak bersedia.”

Dalm bidang ekonomi, nasionalisme itu juga ditunjukkan
secara tegas. Pada survey April 2007 dari 1.680
responden, 53,7 persen responden menyatakan setuju dan
sangat setuju, terhadap pernyataan “orang asing
dilarang membeli perusahaan Indonesia.” Sebaliknya,
sejumlah 30,3 persen tidak keberatan terhadap
penjualan perusahaan Indonesia ke pihak asing.
Sedangkan 16 pesen sisanya tidak bersikap.

Soal mengutamakan produk dalam negeri, 43,4 persen
menyatakan setuju dan sangat setuju, untuk membeli
produk dalam negeri ketimbang produk luar negeri,
meski dengan harga produk dalam negeri yang lebih
tinggi. Sejumlah 37,7 persen menyatakan tidak setuju
dan sangat tidak setuju pada sikap tersebut. Sedangkan
18,9 persen sisanya tidak bersikap. Ini hasil survei
April 2007 dari 1.680 responden.

Nah, sekarang tinggal apa yang akan kita lakukan
berdasarkan hasil survei ini? Apakah Pemerintah SBY-JK
akan menggenjotnya lebih lanjut, dengan kampanye
membeli produk dalam negeri untuk menghemat devisa,
sekaligus menghidupkan industri dalam negeri, dan
memberi lapangan kerja? 

Nah, jika ini programnya, tentu harus dimulai dari
para petinggi dan pejabat pemerintah sendiri, apakah
mereka lebih suka periksa kesehatan di Singapura,
pakai sepatu buatan Italia, naik mobil BMW, dan
sebagainya?

Lalu, apakah para pejabat juga masih bersemangat
tinggi untuk menjual BUMN-BUMN kita yang strategis ke
pihak asing, seperti kasus Indosat dulu? Bukankah
Pemerintah SBY-JK ngotot, agar pabrik baja Krakatau
Steel juga akan dijual ke Mittal, meski KS ini dalam
posisi menguntungkan dan berkembang baik, dengan pasar
yang masih terbuka lebar pula?

Jangan sampai orang bilang: Ternyata rakyat Indonesia
lebih nasionalis dan patriotis ketimbang para pejabat,
petinggi, anggota DPR, dan jajaran pemerintah
Indonesia sendiri!

Jakarta, 22 Mei 2008




Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4023,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 
"Perjuangan seorang mukmin sejati tidak akan berhenti, kecuali kedua telapak 
kakinya telah menginjak pintu surga." (Imam Ahmad bin Hanbal)






      

Kirim email ke