Tadi pagi, pas habis solat subuh dan pengajian, di sebuah masjid di Depok,
sejumlah jamaah termasuk saya ngobrol-ngobrol. Maklum, ini hari Sabtu, jadi
suasana agak santai. Seorang jamaah masjid saya, yang kebetulan alumnus HMI,
menyampaikan uneg-uneg soal rencana penjualan pabrik baja Krakatau Steel atau
KS, yang menurutnya akan sangat merugikan negara. Alumnus HMI, yang juga teman
saya ini, kebetulan memang kerja sebagai akuntan/auditor di perusahaan swasta.
Dia bilang, KS itu sebetulnya tak ada masalah, perusahaannya untung, dan
nilainya sangat tinggi. Tapi sejumlah kecil pejabat pemerintah seperti Fahmi
Idris dan Jusuf Kalla, yang kebetulan juga ex-HMI, sangat ngotot ingin menjual
KS ke Mittal, raja baja dari India. Masalahnya, kata teman saya, KS akan dijual
dengan harga sangat murah, yang tentu akan sangat menguntungkan Mittal, tapi
sangat merugikan negara dan rakyat Indonesia.
Perbandingannya, jika nilai aset KS katakanlah Rp 10 milyar, tapi mau dijual
seharga cuma Rp 6 milyar. Tentu saja semua orang juga akan mau beli, karena
hanya dengan ongkang-ongkang kaki saja sudah untung luar biasa besar.
Yang disesalkan oleh teman saya, kok tega-teganya tokoh senior HMI macam Fahmi
Idris dan Jusuf Kalla melakukan tindakan macam itu.... Sungguh memalukan HMI.
Menurut teman saya, yang dikejar apalagi kalau bukan fee dan komisi penjualan
BUMN strategis tersebut.
Karena, jika penjualan KS itu jadi terwujud dan bernilai milyaran dollar, maka
komisi sebesar sekian persen saja sudah berarti trilyunan rupiah, untuk dibagi
oleh segelintir pejabat di pemerintahan. Wow, siapa yang tidak ngiler.... Tapi,
yang sangat membuat prihatin, alumnus HMI kok tidak menunjukkan pemihakan pada
kepentingan nasional, dan cuma segitu saja mentalitasnya. Teman saya, yang
sering diminta berceramah sebagai ustadz itu geleng-geleng kepala, menunjukkan
keprihatinannya.
Sayang, pembicaraan di antara para jamaah masjid tidak berlanjut, karena hari
sudah beranjak siang....
Satrio Arismunandar
[Non-text portions of this message have been removed]