Taufiq Ism <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   To: <[EMAIL PROTECTED]>
From: Taufiq Ism <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sat, 24 May 2008 15:38:24 +0000
Subject: RE: [ac-i] jurnal sairara: bertemu sitor situmorang [5 - selesai]

        Sdr Kusni,
 
Saya membaca jurnal anda bertemu Sitor Siitumorang. Saya lampirkan respons saya 
terhadap surat tersebut 
bagian kelima, alinea 5 dan 6. 
 
Semoga kiriman saya sampai dengan baik.
 
Salam,
 
Taufiq Ismail
   
  
 
  DISKUSI MARXISME-LENINISME DALAM PERSPEKTIF BUDAYA, FAKULTAS SASTRA U.I., 9 
JUNI 2000
   
  Taufiq Ismail
   
  Pada hari bulan 9 Juni 2000, di aula Fakultas Sastra Universitas Indonesia 
diadakan diskusi bertajuk Marxisme-Leninisme dalam Perspektif Budaya. Untuk 
kedua kalinya sesudah 38 tahun (pertama kali ialah dalam Musyawarah Federasi 
Teater se-Indonesia, Desember 1962 di Yogyakarta) wakil dari dua kelompok 
seniman-budayawan yang berseteru di masa Demokrasi Terpimpin bertemu di dalam 
sebuah forum terbuka. 
   
  Untuk pertama kalinya Asrul Sani dan saya akan berhadapan dengan Pramoedya 
Ananta Toer dan (penyair Lekra) Putu Oka Sukanta.  Dua hari sebelumnya 
tiba-tiba Asrul Sani sakit  dan Putu Oka berhalangan. Asrul digantikan (dosen 
sosiologi) Imam Prasodjo dan Putu Oka digantikan (sastrawan) Martin Aleida. 
Rocky Gerung, mahasiswa kekiri-kirian yang jadi moderator sejak awal sudah 
terasa selalu berusaha memojokkan saya. Dia tidak berhasil.
   
  Saya menyiapkan diri dengan literatur baru untuk diskusi itu. Percuma. Tak 
ada gunanya. Pram berbicara dengan istilah-istilah kuno tahun 1960-an ”tujuh 
setan desa, tiga setan kota, tuan tanah, sama rata sama rasa, kapitalis 
birokrat” dan seterusnya. Diskusi ideologi timpang dan tak bermakna. Saya 
tercengang. Pengarang besar ini tak punya pengetahuan tentang 
Marxisme-Leninisme yang berarti dan dapat diukur dengan jengkal tangan kanan. 
Saya tak merasakan getaran, sengatan setrum ideologi 
Marxisme-Leninisme-Stalinisme-Maoisme dari diskusi itu, seperti yang saya 
rasakan bila berdiskusi dengan orang-orang Palu Arit tulen yang pernah saya 
alami. Pram bukan komunis.
   
  Saya makin mual pada partai yang berhasil memperalatnya, yang dirangkul, 
difasilitasi ini-itu, diangkut ke seberang garis menyertai apel barisan PKI, 
terpaksa ikut menderita dalam pembuangan, dan ternyata tetap saja tidak in 
dalam ideologi ini sama sekali. Ternyata Lekra tak berhasil menjadikannya 
komunis. Dia Pramis, seperti pengakuannya sendiri, dan dia betul. Pram 
terlampau individualistik, egosentrik dan keras hati untuk jadi pion partai 
mana pun. Palu Arit cuma memerlukan nama besar Pram untuk baliho Lekra/PKI, 
mengeksploitirnya sebagai tokoh pengisi billboard iklan produk ideologi kiri di 
tepi jalan raya tol kesusasteraan Indonesia. Untuk itu PKI berhasil, juga KGB 
(Komunis Gaya Baru) Indonesia abad 21 ini.
   
   
  Saya ingatkan hadirin bahwa ideologi ini telah menceburkan bangsa dalam dua 
perang saudara yang berdarah-darah. Ideologi ini ternyata lancung keujian, 
gagal total di seluruh dunia tak terbukti mampu memecahkan masalah politik, 
ekonomi, sosial dan budaya tiga perempat abad lamanya. Selama 74 tahun 
(1917-1991) Marxisme-Leninisme terbukti buas-ganas-barbar-haus darah, dan 
membantai 120 juta manusia di 76 negara (Courtois: 2000). 
   
   
  Selepas dua perang saudara, akibatnya sebagai bangsa kita masih saling 
mendendam. Penyebabnya dua orang. Kedua orang ini masih mengulurkan rantai 
dendam yang panjang dari kuburan mereka melintasi Perang Dingin, satu dari 
London (Marx), satu lagi dari Moskow (Lenin). Rantai dendam sepanjang itu masih 
membelit tubuh bangsa kita. 
   
   
  Bagaimana akan maju dalam peradaban bila sebagai bangsa kita masih saling 
mendendam? Saya serukan pada mahasiswa yang hadir, yang terpengaruh ideologi 
usang-lapuk ini agar membuangnya, karena wacana ideologi abad 19 ini sudah kuno 
ke mana-mana, terbukti gagal total di seluruh dunia, dan berbau amis-hanyir 120 
juta mayat korbannya. Ideologi ini sudah terbukti keropos. Yang mau 
mengusungnya pasti cuma karena  memikul beban dendam. 
   
   
  Kita harus memotong rantai dendam yang membelit badan bangsa, dan kita mulai 
sejarah baru. Imam Prasodjo menambahkan, ”Kita menatap masa kini dan masa depan 
bersama, dibangun dalam rekonsiliasi nasional.” Saya setuju, malah lebih dari 
itu, yaitu perdamaian  total, seperti yang dilakukan di Malaysia (1989) antara 
Partai Komunis Malaya dengan Pemerintah Malaysia. 
   
   
  Pramoedya Ananta Toer dan Martin Aleida menyambut baik ajakan kami. Saya 
mengulurkan tangan kepada Pram, dan dia menjabat tangan saya erat-erat. Saya 
gembira sekali. ***
   
   
   Horison, Tahun XLI, No.8, Agustus 2006 
  [Fragmen] 
   
   
  TENTANG REKONSILIASI, TENTANG PERDAMAIAN TOTAL
   
  Taufiq Ismail
   
  Ide rekonsiliasi bagus, tapi saran saya lebih dari itu. Perdamaian total. Dan 
kenapa mengambil Afrika Selatan sebagai contoh? Kejauhan. Perbandingan konflik 
antara kulit hitam dan kulit putih tidak sepadan dengan konflik PKI – non-PKI 
di Indonesia. Kenapa tidak mengambil contoh dekat saja di seberang Selat Malaka?
   
   
  Mari kita melihat lewat jendela ke halaman tetangga kita. Di negeri jiran 
kita, Malaysia, sesudah 40 tahun (1949-1989) CPM, Communist Party of Malaya, 
Partai Komunis Malaya pimpinan Chin Peng berontak berkepanjangan melawan 
pemerintah, dengan basis utama di hutan perbatasan Malaysia-Thailand, mereka 
berdamai. Berdamai total, sesudah bermusuhan dan berbunuhan selama 40 tahun, 
dengan korban jiwa rata-rata 100 orang setiap tahun di kedua belah fihak 
(Nihan:1991). Bayangkanlah itu:  EMPAT PULUH TAHUN.
   
   
  Rangkaian perundingan memang sangat alot, tapi berakhir dengan kesepakatan 
bersama. Kedua belah fihak tidak saling menuntut. Komunis yang makar menurut 
undang-undang yang berlaku, tidak diadili. Pemerintah yang berkuasa tidak 
dihujat oleh CPM. Mereka diterima dengan damai di masyarakat, baik di Malaysia 
maupun di Thailand. CPM membubarkan tentara revolusionernya, memusnahkan 
senjata dengan disaksikan bersama, dan resmi menghentikan permusuhan dengan 
Pemerintah Malaysia, 2 Desember 1989. Kedua belah fihak setuju untuk tidak 
saling mencerca. ALANGKAH SANTUN.
   
   
  Bahwa Marxisme-Leninisme tidak dapat menjadi asas partai politik apa pun di 
alam demokrasi Malaysia, yaitu tetap terlarang, akhirnya diterima sebagai 
kenyataan oleh CPM. Kedua belah fihak bersedia bersama-sama melupakan masa 
lalu, kemudian memandang ke masa depan, bersama membangun negeri. Tema kolektif 
yang disepakati adalah “biarkan yang sudah lewat itu lewat,“ atau “let the past 
be the past“ (Ratanachaya: 1996). Kedua belah fihak setuju untuk tidak saling 
mencerca (Peng: 2001). BETAPA INDAHNYA.
   
   
  Dalam konstelasi kini masa pasca Perang Dingin, cara berdamai yang 
berlangsung antara Partai Komunis Malaya dengan Pemerintah Malaysia, 1989, 
secara politis adalah realistis. Dalam konstelasi batin pelaku-pelakunya, cara 
berdamai demikian (saya tafsirkan sebagai) cara yang  lahir dari hati yang 
ikhlas.
   
  Mampukah kita sebagai bangsa mencapai perdamaian dengan tingkat maqam 
keikhlasan setinggi itu? Ide rekonsiliasi bagus, tapi dengan jalan fikiran ide 
itu yang terbaca oleh saya, rekonsiliasi akan menjadi semacam audit masa lalu, 
dalam sebuah prosedur tata buku perusahaan dagang dengan mengisi lajur kiri 
lajur kanan, akuntansi dengan hasil akhir saldo dendam.
   
   
  Sebuah audit dendam akan berkepanjangan dan tak jelas kesudahannya. Dan dari 
kuburnya Marx dan Lenin tetap saja mengulurkan rantai kesumat yang di Indonesia 
ujungnya masih membelit bangsa. Saya menyarankan perdamaian total, lebih maju 
selangkah ketimbang rekonsiliasi. PERDAMAIAN TOTAL. Rantai dendam yang membelit 
bangsa itu harus segera dipotong habis.***
   
   
  “Bangsa yang Waras, Bangsa yang Memotong Rantai Dendam,”
   Prahara Budaya, edisi V, Mei 2008, 
  [Fragmen]
  

 
      
---------------------------------
  
  To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Thu, 22 May 2008 02:22:58 +0800
Subject: [ac-i] jurnal sairara: bertemu sitor situmorang [5 - selesai]
  
Jurnal Sairara:
         
   
  KEMBALI BERTEMU SITOR SITUMORANG DI PARIS
   
   
  5.
   
   
  Barbara, istri Sitor, pergi mengambil mobil yang diparkir lumayan jauh dari 
Restoran Indonesia. Mencari tempat parkir bukanlah soal sederhana di Paris. 
Sambil menunggu , di beranda restoran,  Sitor dan aku berbincang-bincang ringan 
tentang berbagai soal dalam dunia sastra Indonesia, termasuk berbagai kejadian 
penting dalam sejarah sastranya. Aku selalu mencoba mengeksplorasi kekayaan 
pikiran dan pengalaman dari angkatan-angkatan pendahulu serta orang lain, 
termasuk mereka yang secara usia lebih muda dariku dengan bertanya dan cermat 
mendengar. Apalagi dari tokoh seperti Sitor.
   
   
  Di sisa waktu jumpa kami yang tinggal beberapa menit  lagi, aku menanyakan 
Sitor bagaimana ia melihat masalah silam seperti  polemik Lekra Versus kelompok 
Manifestan dihubungkan dengan perkembangan tokoh-tokoh kuncinya dan para 
pendukungnya seperti Arief Budiman, Goenawan Mohamad,Taufiq Ismail, Satyagraha 
Hoerip alm, dan lain-lain lagi.... 
   
   
  Dalam waktu yang sangat terbatas, aku sadar bahwa tidak gampang bagi Sitor 
dan siapa pun untuk menjelaskan masalah yang tidak sederhana secara 
panjang-lebar. Betapa pun  Sitor masih juga berusaha keras menjawabku. Dari 
jawaban singkat Sitor karena memburu waktu, masih terkesan padaku bahwa ia 
tidak bergeming dari posisi komitmen sosial dan kemanusiaan sastra.  Tapi 
komitmen demikian tidak menghalangnya mengolah tema-tema erotis atau tema apa 
saja dalam karya-karyanya seperti yang terdapat misalnya dalam antologi 'Biksu 
Tak Berjubah'.
   
   
  Ketika menyinggung sikap Pramoedya A Toer yang tidak mau memaafkan  Goenawan 
Mohamad [GM], dengan hati-hati menjawabku bahwa ia pun tentu saja mempunyai 
perbedaan dengan GM. 'Tapi saya menghormati pendapat dan hak dia membela 
pendapat', tambah Sitor yang ketika masuk ke kepalaku kupahami sebagai sikap 
sejajar dengan politik kebudayaan 'biar bunga mekar bersama seribu aliran 
bersaing suara'. Aku tidak jelas, apakah sikap terbuka ini merupakan suatu 
kesimpulan dari  pengalaman masa silam di sekitar tahun 60an di mana ia 
langsung telibat?  Tapi aku menduga: ya! Karena masing-masing yang terlibat 
dalam polemik sengit pada waktu itu,  dari mereka banyak perkembangan 
pemikiran. Satyagraha Hoerip berobah, GM berkembang pemikirannya, demikian juga 
Arief Budiman. Tidak banyak yang tidak berkembang. 
   
   
  Melihat perkembangan begini, aku jadi teringat akan Satyagraha Hoerip [Mas 
Oyik]  yang mengharapkan agar kita bisa duduk menghadapi satu meja membicarakan 
masa silam guna menarik pelajaran demi keperluan hari ini dan esok.  Ide ini 
juga pernah dilontarkan oleh Bersihar Lubis, selaku pemimpin redaksi Majalah 
Medium Jakarta, dalam jumpa kami di kantor redaksi. Masihkah jumpa begini 
berguna? Gola Gong dari Rumah Dunia, Serang, pernah mencoba melakukan usaha ke 
arah ini walau pun agaknya tidak terlalu berhasil karena satu dan lain sebab.  
Tapi ia telah mencoba. Syarikat Indonesia, Yogyakarta pun dengan caranya 
sendiri juga sudah mencoba. Demikian juga Andi Makmur Makka dari The Habibie 
Center Jakarta juga melakukannya. 
   
   
  Mulai dari apa yang diajukan Sitor dan Mas Oyik di atas, lalu menyusur 
kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan dalam bidang kebudayaan, aku mendapatkan 
adanya suatu benang merah bernama hasrat mengujudkan rekonsialisasi nasional 
sejajar dengan rangkaian nilai republiken dan berkeindonesiaan. 
Mengejawantahkan motto 'bhinneka tunggal ika' jadi kenyataan. Memandang 
keragaman kita sebagai suatu keberuntungan, sedangkan penyeragaman sebagai 
suatu jalan yang menjurus ke jurang petaka. Kalau aku tak salah tafsir, 
barangkali ini pulalah sari pendapat GM yang ia ajukan ketika berjumpa di 
Paris, bahwa 'Pancasila adalah jalan keluar bagi Indonesia'. Republik dan 
Indonesia bagiku adalah sebuah konsep haridepan yang masih tanggap dan 
apresiatif hanya masih sedang dalam proses menjadi. Kekuasaan militerisme 
selama 30 tahun setelah penggulingan Soekarno, merupakan salah satu tikungan 
tajam yang dilalui dalam proses menjadi ini. Menjadi manusia Indonesia yang 
republiken dan
 berkeindonesiaan pun, kukira,  suatu proses juga bukan otomatis karena menjadi 
warga negara Republik Indonesia.   
   
   
  Hitam malam makin mewarnai atap dan pojok-pojok jalan ketika Barbara tiba 
dengan mobilnya. Sitor memelukku. Mata kami bertatapan tanpa mengucapkan kata 
sepatah.  Tapi kami tahu apa yang ingin kami ucapkan. Sadar bahwa kami 
'hanyalah pengembara' jika menggunakan ungkapan Ramadhan KH. Kurasakan tangan 
Sitor menepuk punggungku. 
   
   
  Kami saling melambaikan tangan ketika Barbara meluncurkan  mobilnya dengan 
mengganti perseneling menempuh  jalan-jalan malam kota Paris.***
   
   
  Paris, Mei 2008.
  ---------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
   
   
    Keterangan foto:
  * Sitor Situmorang sedang membacakan puisi-puisinya dalam antologi ''Biksu 
Tak Berjubah'di Koperasi Restoran Indonesia, Paris [Dari: Dok.JJK].
   
   *Foto Sitor Situmorang di Praha 1965, diambil dari Dok. Tahir Pakuwobowo 
yang dikirimkannya kepadaku].
      

   
  Sitor Situmorang di Praha,1965.
    
---------------------------------
  Support Victims of the Cyclone in Myanmar (Burma). 
Donate Now.

  
---------------------------------
  Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist. Download it now!   






  
---------------------------------
  Share your beautiful moments with Photo Gallery. Windows Live Photo Gallery   

                           

       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke