Siaga 1 RI 1 (Laput Tempo)
Edisi. 14/XXXVII/26 Mei - 01 Juni 2008
Laporan Utama
Siaga Satu RI-1
Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak. Protes para penentang mengeras.
Istana khawatir jatuh martir, Presiden pun membatalkan lawatan ke Italia.
PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono mestinya melawat ke Roma, Italia, pekan
depan. Ia akan menghadiri Pertemuan Tingkat Tinggi Keamanan Pangan Dunia.
Pertemuan yang diselenggarakan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) ini antara
lain membahas krisis pangan dunia. Tapi krisis di dalam negeri kemungkinan
membatalkan agenda itu.
"Kunjungan Presiden ke Italia, juga Inggris, dibatalkan," kata sumber Tempo.
Dino Patti Djalal, juru bicara kepresidenan, tak membantah informasi ini. Namun
ia mengatakan bahwa ini bukan pembatalan, karena rencana lawatan tersebut belum
pernah dipublikasikan.
Pembatalan itu agaknya berkaitan dengan keputusan pemerintah menaikkan harga
bahan bakar minyak. Diumumkan di kantor Menteri Koordinator Perekonomian di
kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Jumat pekan lalu, harga baru
premium Rp 6.000, solar Rp 5.500, dan minyak tanah Rp 2.500. Kenaikan itu
rata-rata 28,7 persen.
Ini adalah kenaikan ketiga sepanjang pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono-Jusuf Kalla. Sebelumnya, pemerintah dua kali menaikkan harga bahan
bakar minyak, yakni pada 1 Maret 2005 dan 1 Oktober 2005 (lihat tabel). Seperti
yang dulu-dulu, suhu politik memanas menjelang pemerintah menetapkan keputusan
itu. Ribuan demonstran yang memprotes keputusan pemerintah itu turun di jalanan
Jakarta, Rabu pekan lalu.
Demonstran berjalan sepanjang Bundaran Hotel Indonesia hingga Istana
Kepresidenan. Ribuan orang dari pelbagai kelompok usia itu mengatasnamakan
antara lain Jaringan Pemuda Penggerak, Front Aksi Mahasiswa, Front Kebangkitan
Petani dan Nelayan, Komisi Orang Miskin Indonesia untuk Keadilan, Front Rakyat
Menggugat, dan Serikat Rakyat Miskin Indonesia. Demonstrasi ini berakhir rusuh.
Polisi menangkap puluhan orang.
Demonstrasi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan sejumlah kelompok
mahasiswa. Aksi ini pun berakhir rusuh, dengan tiga demonstran terluka. Pada
Jumat sore, menjelang kenaikan harga diumumkan, ratusan mahasiswa Universitas
Nasional berkumpul di kampus mereka di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Mahasiswa pun memblokir pertigaan Jalan Pejaten Raya untuk dijadikan tempat
berorasi.
Sejenak sebelum tengah malam, terjadi bentrokan kecil dengan polisi. Tapi,
menjelang subuh, polisi menyerbu masuk ke kampus. "Polisi terpaksa masuk karena
mahasiswa melempari kami dengan bom molotov," kata juru bicara Markas Besar
Kepolisian, Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira.
Bentrokan pun tak terhindarkan. Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
pun remuk. Suasana seperti habis tawuran. Sabtu siang, Tempo menyaksikan
kaca-kaca berceceran di jalanan kampus dan di depan setiap gedung. Di salah
satu blok, tetesan darah dibiarkan membeku. Satu mobil dan sejumlah sepeda
motor ikut rusak. "Kami akan berkonsultasi dengan pengacara untuk menuntut
pihak kepolisian," kata Hasto Atmodjo Surojo, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik. Dalam peristiwa ini, 141 mahasiswa dibawa ke kantor polisi.
Protes serupa dengan jumlah yang cukup masif dilakukan di kota-kota lain,
sepanjang pekan lalu. Beberapa juga diakhiri dengan bentrokan, seperti di
Makassar dan Yogyakarta. Aksi dipastikan akan terus berlangsung setelah
pemerintah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak.
Semaraknya jalanan oleh aksi para pemrotes itu membuat Yudhoyono memutuskan
tetap berada di Tanah Air. Sumber Tempo mengatakan, RI-1 khawatir suhu terus
memanas setelah harga baru bahan bakar diberlakukan. "Presiden khawatir jatuh
martir: ada demonstran yang tewas dibunuh," ujarnya.
Sepuluh tahun lalu, situasi tak terkendali setelah empat mahasiswa Universitas
Trisakti tewas. Situasi genting itu memaksa Soeharto meninggalkan kekuasaan
yang selama 32 tahun ia genggam. Itu sebabnya, Istana wanti-wanti kepada aparat
keamanan di lapangan. Polisi dilarang membawa senjata api pada saat menghadapi
demonstran.
Pasukan pengamanan Istana juga "menanamkan" unit-unit tersembunyi alias intel.
Anggota unit ini mengamati dari dekat kegiatan para demonstran. Rabu pekan
lalu, ketika tersiar kabar demonstran tertembak di depan gedung Dewan
Perwakilan Rakyat, para intel itu mengikuti korban hingga Rumah Sakit Pelni,
Petamburan, Jakarta Barat. Mereka lega setelah melihat demonstran yang
dikabarkan luka parah ternyata ikut salat berjemaah.
Budi Darma, demonstran yang dikabarkan tertembak itu, mengatakan aksi unjuk
rasa sebenarnya sudah hendak berakhir. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Indonesia itu telah melepaskan jaket almamaternya. Namun
suasana berubah cepat menjadi kisruh. Lalu seorang "aparat berbaret cokelat"
mendekatinya. "Ia mengarahkan senjata laras panjang," ujarnya kepada Fery
Firmansyah dan Ismi Wahid dari Tempo. "Tiba-tiba saya merasa perih sekali."
Ia mengaku tertembak peluru karet, tapi tak bisa menemukan selongsongnya.
Perban tampak ditempelkan di dada kiri. Menurut Adi Negoro, Ketua Badan
Eksekutif Mahasiswa fakultas itu, tim dokter memastikan tak ada luka dalam di
tubuh rekannya. "Hanya ada luka memar sepanjang tiga sentimeter," tuturnya.
lll
Para pendukung Presiden menuding aksi-aksi menentang kenaikan harga bahan bakar
itu bermotif politik. Tujuannya apa lagi kalau bukan menjatuhkan pamor
Yudhoyono pada Pemilu 2009. "Seorang mantan menteri di balik aksi-aksi
demonstrasi," kata Kepala Badan Intelijen Negara Syamsir Siregar.
Tak sulit menebak, telunjuk Syamsir ditujukan ke Rizal Ramli. Menteri
Koordinator Perekonomian kabinet Abdurrahman Wahid itu memang kerap turun ke
jalan. Tapi ia membantah "menunggangi" aksi mahasiswa. "Tudingan itu merupakan
penghinaan terhadap kecerdasan mahasiswa," ujarnya.
Kalangan dekat Istana mengelompokkan Rizal dalam satu barisan dengan Wiranto,
mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia yang kini memimpin Partai Hanura,
dan Fuad Bawazier, mantan Menteri Keuangan yang kini juga bergabung ke partai
itu. Kelompok ini mengusung bendera Front Rakyat Menggugat.
Di lapangan, kelompok ini membawa isu yang sama dengan Wiranto: kemiskinan.
Ketika berorasi di Bundaran Hotel Indonesia pada Rabu pekan lalu, para aktivis
kelompok itu mengatakan 40 juta orang merupakan penduduk miskin. Adapun 15 juta
orang tak punya pekerjaan. Topik ini merupakan isu sentral dalam iklan yang
dipasang tim Wiranto di berbagai media.
Baik Wiranto, Rizal, maupun Fuad Bawazier mengatakan tidak menggerakkan
demonstrasi. Fuad mengakui sejak awal menolak keputusan pemerintah menaikkan
harga bahan bakar minyak. Penolakan yang sama, menurut dia, juga disuarakan
kelompok masyarakat lainnya. "Tanpa digerakkan pun, banyak orang yang ikut
memprotes," kata Menteri Keuangan kabinet terakhir Soeharto itu.
Isu bahan bakar minyak memang merupakan senjata ampuh untuk menyerang
pemerintah. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera
mengatakan akan mengajukan hak interpelasi Dewan Perwakilan Rakyat. "Pemerintah
seharusnya mencari pilihan selain menaikkan harga bahan bakar," kata Mahfudz
Siddiq, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Pendapat serupa dikemukakan
Maruarar Sirait, Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Padahal, Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan
2008 memberikan peluang kepada pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar
bersubsidi. Dalam pasal 14 disebutkan bahwa itu bisa dilakukan jika ada
perubahan yang signifikan. Dalam penjelasannya, perubahan yang signifikan
adalah jika perkiraan harga rata-rata minyak mentah Indonesia dalam satu tahun
di atas US$ 100 per barel, yang berdampak pada pelampauan beban subsidi.
Kondisi itu jelas sudah terpenuhi.
Tapi pasal itu agaknya diabaikan banyak partai, yang nota bene fraksinya ikut
meneken undang-undang tersebut. "Biasalah, menjelang pemilihan umum, banyak
partai mencari kredit dari rakyat," kata seorang pejabat pemerintah. Itulah
yang membuat mereka tetap akan mengajukan hak interpelasi.
Keputusan pemerintah itu juga mengancam popularitas Yudhoyono. Tiga tahun lalu,
ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar hingga dua kali lipat, pamor
Presiden Indonesia keenam itu memang relatif stabil. Berdasarkan hasil sigi
Lembaga Survei Indonesia, ketika itu popularitasnya hanya turun 4 persen dari
semula 69 persen.
Kini modal awalnya sudah berkurang cukup drastis, menjadi tinggal 52 persen
saja. Namun angka tersebut toh masih jauh lebih tinggi dibanding politikus lain
yang disebut-sebut akan maju menjadi calon presiden. Menurut survei pada
Januari lalu, popularitas Megawati Soekarnoputri, yang menjadi pesaing terdekat
Yudhoyono, masih berada di kisaran 32 persen.
Menurut juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng, Presiden Yudhoyono memilih
kebijakan yang tak populis demi menyelamatkan negara. "Lebih baik mengorbankan
popularitas daripada kepentingan negara," ia mengatakan. Tapi ia yakin kenaikan
harga minyak itu tidak akan mempengaruhi pamor bosnya dalam pemilihan umum
tahun depan.
Pekan-pekan ini, lawan politik akan terus menggerus popularitas Yudhoyono. Sang
Presiden akan tetap tinggal di Jakarta. Ariverdeci, lupakan Italia....
Budi Setyarso, Amandra Mustika M, Shinta Eka P.