Kepada : KOMANDAN KORPS MARINIR TNI-AL, Yth. Mayjen. TNI (Mar) Djunaidi Djahri. Di Tempat. --------------
Dengan hormat, Momentum kenaikan BBM dipakai oleh para petualang politik untuk menggoyang dan kalau bisa menjatuhkan pemerintahan yang sah. Padahal, Konstitusi sudah mengatur secara rinci ketentuan dan aturan pemilihan, pengangkatan dan penggantian (Kepala) Pemerintahan dengan jelas. Orang yang mengaku sebagai "mantan jubir" Gus Dur, menulis di Forum Pembaca KOMPAS: "Saya sudah bilang sama teman perwira tinggi Marinir untuk menjaga kampus-kampus yang bergolak agar tidak diserbu lagi oleh pasukan brutal dari polri". Disini nampak sekali adanya upaya memecah belah dan mengadu domba kesatuan Polisi dengan Marinir. Kita percaya Korps Marinir tetap menjalankan fungsinya secara profesional, tidak akan terpancing masuk wilayah politik dan mau diadu domba oleh para petualang politik. Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan perkenannya kami ucapkan terima kasih. Jalesu Bhumyamca Jayamahe! Hormat Kami, Yap Hong Gie. ---------------------------- Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Mantan Jubir Gus Dur Minta Mahasiswa Dibebaskan Tampaknya ada yang kurang tepat pada berita ini. Kata polisi harus PROFESIONAL itu lebih tepat diganti PROPORSIONAL. Soalnya kalau PROFESIONAL itu kan kayak pemain bola itu. Mati-matian membela yang bayar. Ronaldo MU lebih hot kalau bela MU ketimbang Portugal. Hari ini, Sabtu pagi 24 Mei 2008 kampus Unas diserbu dan diporak-porandakan polisi. Saya tidak perduli siapa mahasiswa itu, tapi perlakuan polri sangat sangat biadab. Mereka berjuang sungguh-sungguh demi rakyat. Kalau saya mungkin demi yang lain. Tapi tetap untuk bangsa Indonesia. Bukankah anak dan istri saya itu juga bangsa Indonesia? Gal masalah. Tapi kekerasan aparat harus dilawan! Saya sudah bilang sama teman perwira tinggi Marinir untuk menjaga kampus-kampus yang bergolak agar tidak diserbu lagi oleh pasukan brutal dari polri. Senin besok saya akan kembali lagi ke Polda. Gila, saya yang bekas pejabat tinggi di negeri ini saja, yang orang dekat presiden di masa itu, kelabakan ketika harus bayar uang masuk ke SMA. Saya membayangkan ada jutaan orang di negeri ini yang ekonominya lebih di bawah saya. Bagaimana nasib anak-anak mereka? Ini yang paling membuat saya naik pitam. Salam...!

