Ziarah Qubur Sunah Rosul
  Oleh : Mochammad Moealliem 
   
  Suatu ketika nabi Muhammad diutus untuk ziarah qubur para sahabatnya di baqi' 
(nama sebuah daerah pemakaman) kejadian itu direkam oleh sayidah Aisyah, kalau 
mau kita teliti kapan hal itu terjadi maka kita akan menemukan bahwa hal itu 
terjadi setelah hijrah, atau setelah masa wafatnya khadijah.
   
  Meskipun penulis bukan mahasiswa bagian studi hadith, namun setidaknya 
penulis bisa memakai metode matematik dan memanfaatkan sebuah momen untuk 
meneropong serta mengambil gambaran, bahwa kejadian tersebut menunjukkan sikap 
seorang nabi bagaimana cara ziarah qubur yang baik, serta apa saja yang boleh 
dilakukan.
   
  Nabi pernah melarang umatnya berziarah qubur, hanya saja kemudian hal itu 
dicabut, kalau dalam konsep nasakh mansukh, seingat penulis ada konsep, Al amru 
ba'da nahyi fahuwa jaiz, perintah yang datang setelah dilarang hukumnya adalah 
jaiz (boleh).
   
  Ada hadith panjang dalam shohih Muslim, Sunan Nasai, Musnad Ahmad, Sunan 
tirmidzi, dan yang lain yang mungkin akan merepotkan jika saya sebutkan 
semuanya disini, anda bisa searching sendiri baik melalui internet atau program 
maktabah, dalam kitab-kitab matan hadith yang ada dalam komputer saya, ada 
sekitar 60 hadith tentang perintah setelah sebelumnya dilarang.
   
  Hadith itu berbunyi "kuntu nahaitukum 'an ziarotil qubur, fazuruha" artinya : 
Dulu aku telah melarang kalian ziarah qubur, Maka berziarahlah. Sebagian orang 
mengatakan hal itu bid'ah, tapi menurut penulis hal itu bukan bid'ah, sebab 
nabi melakukannya dan memerintahkannya, kalau saja mereka yang bilang bid'ah 
itu, mau adil dalam mengambil hukum dari text hadith, maka seharusnya mereka 
bilang wajib, karena ada kata perintah, apalagi kata perintah itu menggunakan 
huruf "fa".
   
  Mungkin hal itu adalah termasuk attasaru' ala isdaril ahkam, atau 
tergesa-gesa dalam menentukan hukum, padahal al isti'jal min amalis syaithon, 
dan mungkin orang-orang yang tergesa-gesa untuk menghukumi orang dengan cap 
kafir, musyrik dan munafik itu adalah orang-orang yang masih dalam kategori 
paranoid dengan sejarah dirinya dimasa silam.
   
  Orang-orang yang baru mengenal beberapa text hadith entah kenapa begitu kaget 
hingga seolah hanya dia yang tahu, dan mengatakan "pokoknya yang beda dengan 
ini bid'ah", tapi cobalah anda sampaikan padanya bahwa sahabat nabi jumlah 
sekitar 124.000 sahabat, siapa saja yang mengikuti satu dari sahabat nabi 
penulis yakin itu benar. Hanya saja perlu diketahui kecerdasan para sahabat itu 
tidak sama, bahkan nabi pun memberi perintah dan larangan disesuaikan dengan 
kemampuan sahabatnya, namun itu dalam kesunahan, tapi kalau dalam kewajiban 
yang telah ditetapkan oleh Allah maka tidak pandang bulu.
   
  Meskipun kisah para sahabat itu terkadang, menjadi sebab peringanan tugas 
dari Allah, misalnya perintah perang, ada sahabat bernama ummi maktum (orang 
buta), dia nyeletuk "bagaimana dengan saya", kemudian ayat yang turun memberi 
penjelasan pengecualian pada yang ulidloror (cacat) dan sebagainya.
   
  Bukan hanya itu, nabi pun pernah melarang sahabatnya menulis kata-katanya 
(hadith) selain Alqur'an, namun diantara sahabat adapula yang diperkenankan 
menulis hadith. Tahukah pembaca kenapa nabi begitu fleksibel? Karena nabi tahu 
kemampuan orang yang diajak bicara, dan hal ini menjadi konsep "kallimin nas 
biqodri uqulihi" Berbicaralah pada manusia sesuai kecerdasannya.
   
  Kembali berziarah qubur ala Nabi, silahkan anda chek di sunan nasai, hadith 
nomor 2010, Kalau anda kesulitan, maafkan saya jika saya tampilkan disini,
   
  2010 - ÃóÎúÈóÑóäóÇ íõæÓõÝõ Èúäõ ÓóÚöíÏò ÞóÇáó ÍóÏøóËóäóÇ ÍóÌøóÇÌñ Úóäú ÇÈúäö 
ÌõÑóíúÌò ÞóÇáó ÃóÎúÈóÑóäöí ÚóÈúÏõ Çááøóåö Èúäõ ÃóÈöí ãõáóíúßóÉó Ãóäøóåõ ÓóãöÚó 
ãõÍóãøóÏó Èúäó ÞóíúÓö Èúäö ãóÎúÑóãóÉó íóÞõæáõ ÓóãöÚúÊõ ÚóÇÆöÔóÉó ÊõÍóÏøöËõ 
ÞóÇáóÊú ÃóáóÇ ÃõÍóÏøöËõßõãú Úóäøöí æóÚóäú ÇáäøóÈöíøö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö 
æóÓóáøóãó ÞõáúäóÇ Èóáóì ÞóÇáóÊú áóãøóÇ ßóÇäóÊú áóíúáóÊöí ÇáøóÊöí åõæó ÚöäúÏöí 
ÊóÚúäöí ÇáäøóÈöíøó Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÇäúÞóáóÈó ÝóæóÖóÚó 
äóÚúáóíúåö ÚöäúÏó ÑöÌúáóíúåö æóÈóÓóØó ØóÑóÝó ÅöÒóÇÑöåö Úóáóì ÝöÑóÇÔöåö Ýóáóãú 
íóáúÈóËú ÅöáøóÇ ÑóíúËóãóÇ Ùóäøó Ãóäøöí ÞóÏú ÑóÞóÏúÊõ Ëõãøó ÇäúÊóÚóáó ÑõæóíúÏðÇ 
æóÃóÎóÐó ÑöÏóÇÁóåõ ÑõæóíúÏðÇ Ëõãøó ÝóÊóÍó ÇáúÈóÇÈó ÑõæóíúÏðÇ æóÎóÑóÌó ÑõæóíúÏðÇ 
æóÌóÚóáúÊõ ÏöÑúÚöí Ýöí ÑóÃúÓöí æóÇÎúÊóãóÑúÊõ æóÊóÞóäøóÚúÊõ ÅöÒóÇÑöí 
æóÇäúØóáóÞúÊõ Ýöí ÅöËúÑöåö ÍóÊøóì ÌóÇÁó ÇáúÈóÞöíÚó ÝóÑóÝóÚó íóÏóíúåö ËóáóÇËó 
ãóÑøóÇÊò ÝóÃóØóÇáó Ëõãøó ÇäúÍóÑóÝó ÝóÇäúÍóÑóÝúÊõ ÝóÃóÓúÑóÚó ÝóÃóÓúÑóÚúÊõ 
ÝóåóÑúæóáó ÝóåóÑúæóáúÊõ ÝóÃóÍúÖóÑó ÝóÃóÍúÖóÑúÊõ æóÓóÈóÞúÊõåõ ÝóÏóÎóáúÊõ
 ÝóáóíúÓó ÅöáøóÇ Ãóäú ÇÖúØóÌóÚúÊõ ÝóÏóÎóáó ÝóÞóÇáó ãóÇ áóßö íóÇ ÚóÇÆöÔóÉõ 
ÍóÔúíóÇ ÑóÇÈöíóÉð ÞóÇáóÊú áóÇ ÞóÇáó áóÊõÎúÈöÑöäøöí Ãóæú áóíõÎúÈöÑóäøöí 
ÇááøóØöíÝõ ÇáúÎóÈöíÑõ ÞõáúÊõ íóÇ ÑóÓõæáó Çááøóåö ÈöÃóÈöí ÃóäúÊó æóÃõãøöí 
ÝóÃóÎúÈóÑúÊõåõ ÇáúÎóÈóÑó ÞóÇáó ÝóÃóäúÊö ÇáÓøóæóÇÏõ ÇáøóÐöí ÑóÃóíúÊõ ÃóãóÇãöí 
ÞóÇáóÊú äóÚóãú ÝóáóåóÒóäöí Ýöí ÕóÏúÑöí áóåúÒóÉð ÃóæúÌóÚóÊúäöí Ëõãøó ÞóÇáó 
ÃóÙóäóäúÊö Ãóäú íóÍöíÝó Çááøóåõ Úóáóíúßö æóÑóÓõæáõåõ ÞõáúÊõ ãóåúãóÇ íóßúÊõãõ 
ÇáäøóÇÓõ ÝóÞóÏú Úóáöãóåõ Çááøóåõ ÞóÇáó ÝóÅöäøó ÌöÈúÑöíáó ÃóÊóÇäöí Íöíäó 
ÑóÃóíúÊö æóáóãú íóÏúÎõáú Úóáóíøó æóÞóÏú æóÖóÚúÊö ËöíóÇÈóßö ÝóäóÇÏóÇäöí 
ÝóÃóÎúÝóì ãöäúßö ÝóÃóÌóÈúÊõåõ ÝóÃóÎúÝóíúÊõåõ ãöäúßö ÝóÙóäóäúÊõ Ãóäú ÞóÏú 
ÑóÞóÏúÊö æóßóÑöåúÊõ Ãóäú ÃõæÞöÙóßö æóÎóÔöíÊõ Ãóäú ÊóÓúÊóæúÍöÔöí ÝóÃóãóÑóäöí 
Ãóäú ÂÊöíó ÇáúÈóÞöíÚó ÝóÃóÓúÊóÛúÝöÑó áóåõãú ÞõáúÊõ ßóíúÝó ÃóÞõæáõ íóÇ ÑóÓõæáó 
Çááøóåö ÞóÇáó Þõæáöí ÇáÓøóáóÇãõ Úóáóì Ãóåúáö ÇáÏøöíóÇÑö ãöäú ÇáúãõÄúãöäöíäó 
æóÇáúãõÓúáöãöíäó íóÑúÍóãõ Çááøóåõ ÇáúãõÓúÊóÞúÏöãöíäó ãöäøóÇ 
æóÇáúãõÓúÊóÃúÎöÑöíäó æóÅöäøóÇ Åöäú
 ÔóÇÁó Çááøóåõ Èößõãú áóÇÍöÞõæäó
   
  Hadith diatas itu sangat menarik bagi penulis, cobalah anda renungkan sejenak 
setelah membaca hadith itu, atau kalau kesulitan marilah saya coba 
menterjemahkannya dengan gaya terjemah yang saya punya.
   
  "Aisyah berkata : Bukankah telah kuceritakan pada kalian tentang aku dan 
Nabi?"
  "Kami berkata : Iya benar"
  "Aisyah berkata : Di suatu malam yang telah lalu, dimana dia (Nabi) 
bersamaku, Dia lalu membalikkan badannya dan memasang sandal pada kedua 
kakinya, lalu membeber kain sarungnya diatas tempat tidurnya, dan belum 
berpakaian ketika mengira aku telah tidur, kemudian dia berjalan dengan 
perlahan, mengambil selendangnya perlahan, membuka pintu pun dengan perlahan 
dan keluar secara berlahan pula. Lalu tutupkan lenganku dikepala, dan kupakai 
baju brukut dan kujadikan sarungu untuk menutup mukaku, lalu kuikuti arahnya 
hingga di baqi'. Dia mengankat tangan tiga kali dan memanjangkannya, setelah 
itu dia menyingkir dari sana, dan aku juga, dia mempercepat jalannya, aku pun 
juga, dia berlari, akupun juga, sampailah dia dirumah, akupun juga. Hanya saja 
aku sampai lebih dulu, dan dia tidak tahu kecuali aku dalam keadaan berbaring. 
   
  Lalu dia datang dan berkata "Kamu kenapa Aisyah?kok berbantal tumpukan?
  "Aisyah berkata :Nggak kok"
  Nabi berkata : Beritahukan padaku atau Dzat yang maha lembut yang memberitahu
  "Aisyah berkata :Ya rosulullah bi abi anta wa ummi, dan aku katakan apa yang 
terjadi.
  Nabi berkata : Oh jadi hitam yang kulihat didepanku tadi itu kamu?
  "Aisyah berkata : Iya, dan membuat hatiku deg-degan (lahazani lahzatan 
awja'atni)
  Kemudian Nabi berkata : Apa kamu mengira Allah dan rosulnya tidak tahu?
  "Aisyah berkata :Selama manusia merahasiakan Allah tetaplah tahu"
  "Nabi berkata : Sesungguhnya Malaikat Jibril tadi datang padaku disaat kamu 
telah melepas baju, dan dia tidak jadi masuk, lalu memanggilku, dan aku 
pelankan darimu dan kujawab dengan pelan agar tak mengganggu tidurmu, sebab aku 
mengira kamu sudah tidur, dan aku tidak suka membuat kamu bangun, sebab aku 
khawatir akan hal ini akan membuatmu takut. Dan memerntahkan aku pergi kebaqi' 
dan aku mohonkan mereka ampunan.
  "Aisyah berkata : apa yang harus aku katakan saat ziarah?
  Nabi berkata : Katakanlah, Assalam atas penduduk rumah-rumah dari orang-orang 
mukmin, dan orang-orang muslim, semoga Allah merahmati mereka yang mendahului 
kita, begitu juga orang-orang yang lebih akhir dari kita, dan insyaallah kita 
dengan kalian akan bertemu.
   
  ÇáÓøóáóÇãõ Úóáóì Ãóåúáö ÇáÏøöíóÇÑö ãöäú ÇáúãõÄúãöäöíäó æóÇáúãõÓúáöãöíäó 
íóÑúÍóãõ Çááøóåõ ÇáúãõÓúÊóÞúÏöãöíäó ãöäøóÇ æóÇáúãõÓúÊóÃúÎöÑöíäó æóÅöäøóÇ Åöäú 
ÔóÇÁó Çááøóåõ Èößõãú áóÇÍöÞõæäó
   
  Demikianlah tata cara berziarah qubur yang benar, kita berziarah sama dengan 
bertamu, selayaknya membawa hadiah doa, dan memintakan ampunan, sebab hanya 
orang yang masih hidup yang dinilai ibadahnya, mereka yang telah mati tak mampu 
berbuat apa-apa, kecuali Allah memberi izin untuk memberitahu sesuatu yang 
orang hidup belum tahu.
   
  Contohnya, Ruh nabi akan diizinkan untuk memantulkan sholawatnya orang-orang 
yang bersholawat padanya, atau terkadang memberitahukan sesuatu yang 
tersembunyi, contoh kisah pencarian pembunuh dalam surat albaqoroh.
   
  Hanya saja hal demikian terkadang disalahpahami sebagian masyarakat baik di 
Arab, Indonesia atau yang lain, dan tidak tahu tata cara yang benar apalagi 
berubah menjadi tujuan untuk meminta sesuatu, hal ini adalah kesalah personal 
bukan kesalahan kesunahan ziarah qubur, hanya saja membimbing orang yang bodoh 
itu sangat sulit dibanding hanya mengatakan orang seperti mereka musyrik.
   
  Namun yang aneh lagi, mereka yang memukul rata bahwa siapa saja yang 
berziarah qubur adalah musyrik, padahal nabi Muhammad memperbolehkan dan 
melakukannya. Tidak semua orang bisa tahu tuan rumahnya, namun tuan rumah tahu 
siapa saja yang berkunjung padanya, hanya sebagian kecil manusia yang bisa 
saling ketemu sesuai izin dari Allah untuk menemui tamunya.
   
  Alliem
  Selasa, 27 Mei 2008
  Izinkan Aku Bertamu dan Bertemu
   


  Mochammad Moealliem
  http://www.muallimku.tk  or  http://www.muallimku.blogspot.com 
  Ingin gabung di komunitas sahabat lintas batas? Klik aja
  http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/ 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke