Jatim & KTI Tarif listrik & pekerja Jatim dikeluhkan
500 Perusahaan Taiwan direlokasi SURABAYA: Industri milik investor asal Taiwan yang beroperasi di Jawa Timur sejak 14 tahun terakhir turun menjadi 500 perusahaan dari semula 1.000 perusahaan, karena direlokasi ke China dan Vietnam akibat tingginya tarif listrik serta gejolak pekerja di provinsi tersebut. Linda Gunawan, mengatakan dua aspek itu (tarif listrik dan ketenagakerjaan) merupakan kendala terbanyak yang dikeluhkan investor asal Taiwan, meskipun terdapat kekurangan lain seperti belum bertambahnya infrastruktur (jalan). Menurut dia, pada awal dekade 1900-an di Jatim terdapat 1.000 perusahaan milik investor asal Taiwan yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Gresik, Jombang dan kota lainnya. Kegiatan industri itu a.l. di bidang produksi sepatu, logam dan kimia. "Sebagian diantaranya telah tutup dan lainnya direlokasi ke China serta Vietnam. Yang tersisa di Jatim tinggal 500 perusahaan dengan tenaga kerja kurang dari 30.000 orang. Investor asal Taiwan mengeluh tingginya tarif listrik dan ulah pekerja yang macam-macam [sering demo]," ujarnya, kemarin. Linda menyebutkan awal tahun ini terdapat 40 industri sepatu asal Taiwan yang berminat merelokasi pabrik ke Jatim, tetapi sejauh ini baru satu investor yang merealisasi penanaman modal di sektor tersebut. Jatim, lanjut dia, masih menarik minat investor asal Taiwan a.l. terdapatnya pelabuhan. Karena itu, pemerintah daerah perlu mengupayakan tertanganinya kendala yang dikeluhkan investor Taiwan. Sebelumnya, bos Maspion Group Alim Markus, juga mengeluhkan pemberlakuan tarif listrik multiguna sebesar Rp1.380 per kWh di Jatim, yang dinilai memberati industri manufaktur. PT PLN didesak menurunkan tarif listrik multiguna guna meningkatkan daya saing industri lokal. C.C. Huang, Dirut PT Tanjung Tiara, industri sepatu di Surabaya, mengaku banyak calon investor asal Taiwan yang berminat melakukan patungan guna mendirikan pabrik sepatu maupun bahan penunjang sepatu di Jatim. "Mereka umumnya menunggu ketentuan ketenagakerjaan di Jatim, terutama tentang besaran upah minimum pada 2009 yang belum diketahui kenaikannya. Ini penting untuk menghitung harga jual produk," ujarnya. Sumber Bisnis di PemprovJatimmengatakan, minat kalangan investor Taiwan ke Jatim pada 2008 ini diduga akan berkurang, menyusul kenaikan harga BBM yang memungkinkan para buruh bakal menuntut kenaikan UMR. (k22) ([EMAIL PROTECTED]) BISNIS INDONESIA http://www.bisnis.com/servlet/page? _pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A64&cd ate=28-MAY-2008&inw_id=601858 mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed]

