Tugu Pahlawan Dot Com: Wajib cinta Surabaya Maharani Yudhita Surabaya
Hari gini nggak punya blog? Apa kata dunia? Tak dimungkiri pesatnya kemajuan teknologi khususnya internet, menjadikan blog sebagai bagian dari luasnya jaringan internet sekaligus menjadi tren yang mewabah. Area pertemanan pun kian meluas, taklagi dengan cara-cara konvensional tapi jauh lebih luas, menembus belahan dunia lain, tanpa sekat, tanpa batas. Berawal dari kegemaran ngeblog, sejumlah anak muda yang mengaku cinta Kota Surabaya memutuskan membentuk komunitas yang mewadahi para blogger mania. Awalnya hanya segelintir blogger muda, kemudian mereka memperluas jaringan dari akses blog, beranak pihak dan berkumpul dalam satu jalur dialog (milis) melalui surat elektronik (email). Nama Tugu Pahlawan yang juga ikon Surabaya sebagai kota pahlawan dipilih. Jadilah komunitas tugupahlawan.com disingkat TPC. Aksi mereka bisa diintip lewat situs http://www.tugupahlawan.com "Kami sangat cinta Surabaya dan pastinya nama komunitas yang dipilih identik dengan Surabaya," ujar Andi Bagus atau akrab disapa Cempluk, ketua komunitas TPC. Bertemu mereka sangatlah menyenangkan, Namanya juga komunitas anak-anak muda, yang ada hanya gelak tawa dan obrolan ringan tentang apa saja. Kebetulan saat itu, mereka tengah kopi darat (kopdar) bertepatan dengan penyelenggaraan festival makanan dari label kecap, di lapangan Kodam Brawijaya Surabaya. Menurut mereka, TPC juga sekumpulan orang-orang yang doyan makanan. Tak sedikit blog anggota TPC yang membahas soal makanan secara detail layaknya pakar kuliner. "Ngomongin Surabaya bukan cuma sejarah kotanya, juga makanan khas yang banyak jenisnya dan pasti enak-enak," kata Manda, biasa disapa Mendol, anggota TPC yang juga jurnalis kuliner di Surabaya. Cempluk, Gandi, dan Jie Wahyono atau Jiewa, tiga diantara bidan kelahiran TPC. Lucunya, mereka sendiri sulit menyebutkan secara persis siapa saja sebenarnya pelopor TPC yang diresmikan 10 November 2007, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Berkat promosi dari berbagai media cetak dan elektronik yang pernah meliput mereka selain promosi dari mulut ke mulut, kini anggota TPC berkisar 400 orang dari berbagai profesi. Meski begitu, yang benar-benar aktif (posting tulisan dan kopdar) bisa dihitung dengan jari. Di antara anggota TPC ada mahasiswa, pelajar SMA, karyawan swasta, PNS, ibu rumah tangga, wiraswasta, dan banyak lagi. Mereka punya sebutan The Heroes karena siapa saja yang mencintai Surabaya, ikut melestarikan budaya dan ciri khas Surabaya layak disebut The Heroes, pahlawan. Sehat buat menulis Komunitas TPC punya tempat tetap untuk kopdar rutin, yaitu Taman Bungkul, di kawasan Jalan Raya Darmo Surabaya. Mereka tidak punya jadwal kopdar tetap karena tergantung kesepakatan dan (biasanya) mengambil hari libur. Belum lama ini, TPC punya kegiatan baru yaitu JMP (jump session) alias olahraga bareng. Kegiatan ini digelar setiap Minggu pukul 05.30 WIB di Taman Bungkul. Acara ini digagas Budi, salah satu The Heroes. "Karena tubuh perlu sehat dulu agar menulis dengan baik," tukas Jiewa, mewakili sang penggagas acara. Februari lalu, TPC juga bikin acara kampanye gizi buruk dalam kemasan TPC peduli dengan menggalang dana dari pengunjung taman di jantung Kota Surabaya itu. Mereka juga menggelar acara-acara dadakan, semisal pertunjukan sulap yang dilakukan salah satu The Heroes. Seperti kendala yang biasa dihadapi komunitas, TPC juga menghadapi banyaknya anggota yang pasif. Sekian lama menjadi anggota, banyak yang tak sempat mengikuti kopdar, padahal banyak yang berdomisili di Surabaya. Padahal kopdar juga kegiatan penting untuk lebih mengenal dan menghidupkan komunitas. "Kami mengharap lebih banyak lagi yang aktif karena dalam beberapa kopdar yang digelar paling banter didatangi 10 anggota. Yang aktif menyumbang tulisan pun sangat rendah." keluh Gandi yang memerkirakan mungkin keberadaan TPC yang masih terbilang baru dan banyak anggotanya yang sehari-harinya sangat sibuk. dta Surya - Minggu, 18 Mei 2008 _______________________________________________________ Tambah teman tambah saudara Manusia adalah makhluk sosial. Itu yang kita pelajari sejak sekolah dasar. Jadi, tidak mungkin seorang manusia hidup tanpa teman atau berkelompok. Jiewa atau Jie Wakyono, The Heroes yang bekerja di sebuah web developer, mengaku mendapat banyak manfaat berkat ikut komunitas TPC. Yang pertama tentu saja jejaring untuk keperluan bisnisnya, menambah teman, dan menyebarluaskan blog miliknya. "Senang juga kalau blog kita jadi banyak yang nge-link atau dikunjungi. Berarti topik atau blog-nya menarik," ujar Jiewa. Cempluk, ketua TPC, selain menulis, berteman juga bisa menyegarkan pikiran. Kalau sedang duntuk di rumah, Cempluk spontan janjian dengan beberapa The Heroes buat ketemuan. Seringkali mereka nongkrong di warung cak Mis di Jalan Bintoro, atau berburu makanan atas rekomendasi The Heroes, hasilnya dibagi lewat blog. "Kami pernah janjian makan bebek yang terkenal enak di Banyu Urip. Itu juga atas rekomendasi Manda (The Heroes)," kata Fahmi. TPC juga berkenalan dengan komunitas serupa yang ada di lain kota, misalnya Semarang dan Yogyakarta. Kalau ada anggota dari komunitas di Yogyakarta datang ke Surabaya, anggota TPC janjian bertemu untuk kemudian menjamu tamu. Benar-benar menambah pertemanan. dta Surya - Minggu, 18 May 2008 [Non-text portions of this message have been removed]

