Apel AKKBB Bubar Setelah "Diserbu"                                [Cetak
halaman ini] 
<http://hidayatullah.com/index2.php?option=com_content&task=view&id=6941\
&pop=1&page=0&Itemid=1>                          [Kirim halaman ini
melalui E-mail] 
<http://hidayatullah.com/index2.php?option=com_content&task=emailform&id\
=6941&itemid=1>                                        Minggu, 01 Juni
2008
Aksi AKKBB dan Lintas Agama berakhir setelah massa yang diduga FPI
"menyerbu". Katanya pemicunya Ahmadiyah dan `iklan
Petisi'

  [Image] Hidayatullah.com--Aksi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan
Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) berakhir setelah terjadi bentrok
dengan elemen umat Islam. Acara bubar setelah bentrokan dengan  massa
yang diduga Front Pembela Islam (FPI) di Monas, Jakarta, Ahad (1/6).

Sedianya, massa AKK-BB akan menyelenggarakan Apel Akbar di Monas untuk
memperingati hari lahirnya Pancasila 1 Juni dan mengadakan doa bersama
untuk  mendukung Ahmadiyah.

Menurut pantauan wartawan www.hidayatullah.com
<http://hidayatullah.com/> , dari lapangan, penyerbuan terjadi akibat
aksi kelompok AKK-BB sebelumnya, di mana telah melakukan `perang
opini' dukungan terhadap Ahmadiyah di berbagai media massa.
Diantaranya, iklan Petisi dukungan terhadap Ahmadiyah yang di muat di
beberapa harian nasional.

Pemanasan ini, nampaknya membuat beberapa elemen Islam mulai tersengat.
Sebagaimana diketahui, ada puluhan nama yang tergabung dalam AKK-BB yang
ditulis ikut mendukung iklan Petisi di beberapa surat kabar. Diantara
mereka adalah nama-nama seperti; Rahman Tolleng, Adnan Buyung Nasution,
Anand Krishna, Arief Budiman, Asmara Nababan, Azyumardi Azra, 
Christanto Wibisono,  Goenawan Mohamad, dan  Gusti Ratu Hemas.

Juga nama-nama para kiai yang selama ini jadi sandaran para aktivis
liberal seperti; KH Abdul A'la,  Abdurrahman Wahid dan Husein
Muhammad. Selain itu, kalangan LSM pembela gender dan liberal seperti;
Jaringan Islam Liberal, ICRP, ICIP,  The Wahid Institute dll.

Emosi masaa yang diduga anggota FPI memuncak lebih-lebih, saat apel
terjadinya peristiwa hari Ahad siang itu, banyak terlihat para jemaat
Ahmadiyah dan beberapa nama yang selama ini ditulis-tulis dalam iklan
Petisi dukungan pada Ahmadiyah.

Massa yang diduga FPI menuduh, massa dari lintas agama melindungi ajaran
sesat Ahmadiyah. Bahkan, kelompok dari lintas agama tersebut, salah
satunya berasal dari Ahmadiyah.

Sebagaimana diketahui, massa kelompok Lintas Agama dan AKK-BB, selama
ini memang selalu mengusung isu lindungi kebebasan beragama, termasuk
ajaran Ahmadiyah.

Bahkan dalam iklan itu  berjudul, "Mari Pertahankan Indonesia
Kita!" yang dimuat di beberapa media massa, isi materi iklannya juga
menuduh adanya sekelompok orang, seolah-olah  hendak menghapuskan  hak
asasi warga negara untuk bebas beragama dan dianggap mengancam
ke-bhineka-an.

Emosi tak bisa dibendung, beberapa massa yang diduga FPI menyerang  dan
melakukan penyerbuan. Meski kemudian aparat kepolisian berhasil
memisahkan dua kelompok tersebut, dengan membentuk pagar betis manusia.

Bukan FPI

Akibatnya 12 orang luka parah dan beberapa lainnya luka ringan. Salah
satu peserta aksi yang terluka adalah Suaedy, Direktur The Wahid
Institute Mereka yang menjadi korban pemukulan antara lain Ahmad Suaedy
(Direktur Eksekutif the WAHID Institute), Syafii Anwar (Direktur
International Center for Islam and Pluralism) serta Muhammad Guntur
Romli (Aktivis Jaringan Islam Liberal) yang sekarang dirawat di RSPAD
Gatot Subroto.

"Kami minta polisi menindak mereka yang melakukan kekerasan, kami juga
menyesalkan sikap aparat yang tidak menjaga," kata Anik H.T. Koordinator
Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, Ahad
(1/6).

Namun Muhammad Machsuni, Panglima Laskar Pembela Islam (LPI),
mengatakan, penyerangan itu bukan dilakukan oleh FPI. "Tolong
diluruskan, itu bukan FPI tapi LPI," kata dia. Machsuni mengakui jika
atribut FPI dan LPI mirip.

Machsuni membenarkan penyerangan itu dilakukan karena ada orang-orang
Ahmadiyah dalam acara itu.

"Ahmadiyah mencemarkan umat Islam dan secara hukum sudah dilarang," kata
dia lagi. Apalagi anggota LPI melihat sendiri ada peserta rapat akbar
yang membawa senjata api. ""Kami bukan melakukan kekerasan tapi memberi
penegasan," ujarnya dikutip Tempointeraktif. [sur, cha, berbagai
sumber/www.hidayatullah.com <http://hidayatullah.com/> ]



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke