http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/ketoprak-putri-cina.html
Acara puncak untuk merayakan Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus tahun di
Semarang adalah pertujukan KETOPRAK PUTRI CINA, yang diselenggarakan di tempat
terbuka, di atas replika kapal Cheng Ho, yang terletak di seberang Kelenteng
Tay Kak Sie, Gang Lombok, Semarang. Gang Lombok terletak tidak jauh dari Gang
Warung, lokasi penyelenggaraan WAROENG SEMAWIS tiap hari Jumat, Sabtu, dan
Minggu. Gang Lombok dan Gang Warung terletak di kawasan Pecinan kota Semarang.
Acara pertunjukan KETOPRAK PUTRI CINA dibuka oleh dua orang MC, yakni Bayu
Krisna dan Citra, sekitar pukul 19.00 setelah walikota Sukawi Sutarip beserta
istrinya datang ke lokasi, dibarengi dengan beberapa pejabat lain, seperti
Bupati Kudus, HM Tamzil, mantan rektor UNDIP, Eko Budiharjo, dan beberapa
budayawan lokal, seperti Djawahir Muhammad, Timur Sinar Suprabana, dll.
Acara dibuka dengan penampilan paduan suara dan tari RAMPAK oleh para siswa SD
dan SMP dari TPA (Tempat Pendidikan Anak) Khong Kauw Hwee “Kuncup Melati”,
sebuah yayasan yang menawarkan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga
yang kurang mampu.
Acara berikutnya adalah pembacaan puisi oleh Sinto Sukawi. Sinto membacakan
puisi yang dia tulis sendiri, tentang kecintaannya pada kota kelahirannya,
Semarang. Kemudian sambutan oleh ketua panitia Harjanto Halim, dua sambutan
yang lain, yakni Wali Kota Semarang, dan Gubernur Jawa Tengah, yang dibacakan
oleh seseorang yang mewakili Ali Mufiz karena pada waktu itu, beliau belum
hadir.
Acara selanjutnya adalah pembacaan puisi. Pertama Beno Siang Pamungkas.
Penampilan Beno diikuti dengan penampilan Eko Budiharjo, membawakan puisi yang
dia beri judul PESAN NENEK MOYANG.
Tempoe doeloe nenek moyang pesan wanti-wanti “Tiji Tibeh”
Maksudnya, Mukti siji Mukti kabeh, Mati siji Mati kabeh,
La kok sekarang, kendati masih tetap Tiji Tibeh
Tapi maknyanya terpeleset jadi Mukti Siji Mati kabeh
Tempo doeloe nenek moyang pesan wanti-wanti
Sama rata sama rasa
Maksudnya jelas, bersama-sama merasakan kesejahteraan
La kok sekarang sim sala bim
Disulap jadi sama ratap sama tangis
Tempo doeloe nenek moyang pesan wanti-wanti
Panca Sila
Yang kita semua sudah hafal mengucapkannya
La kok sekarang, mak jegagik
Dipeleset-tafsirkan oleh orang Jawa:
Siji, Gusti Allah ora ana kancane
Loro, Aja kejem-kejem aja galak-galak
Telu, Mangan ora mangan waton kumpul
Papat, Yen ana rembug mbok dirembug wae
Lima, Padha mlarate padha kerene
Sudah, sudah, sudah, yang sudah ya sudah
Kita bangkit-kembalikan saja Proklamasi
Dalam versi Millennium a la Hamid Jabbar:
“Hal-hal mengenai flu burung, sapi gila,
lumpuh layu, nasi aking, banjir, longsor,
gembpa, kekeringan, tsunami, lumpur panas
dan lain-lain yang tidak ada habis-habisnya
akan diselesaikan dengan cara seksama
dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.
Semarang 24 Mei 2008
Atas nama bangsa Indonesia
Boleh Siapa Saja
Djawahir Muhammad membawakan puisinya yang berjudul DUA BUAH JALAN, PADA HARI
KEBANGKITAN. Berhubung begitu panjangnya puisi ini, di bawah ini akan
kutuliskan di bawah ini tiga bait, yang terdapat pada bagian keempat. (Djawahir
membagi puisinya ini menjadi lima bagian).
Sahabatku, kau sebut ini negeri yang pancasilais, multikultural dan
demokratis,
Sedang kamu lihat mata manusia memerah saga,
Menyulutkan api permusuhan dimana-mana:
Bakuhantam polisi dan demonstran
saling pukul pkl, tibum dan satpol keamanan
Antar saudara berbunuhan, berebut remah, sesuap nasi, sepotong roti
Remaja putra putri yang mengidap narkoba, menggadaikan kesuciannya sendiri
Negarawan dan politisi yang terlibat korpusi, mengidap hipokrisi,
Bapak ibu guru mencuri-curi soal ujiannya sendiri?!
Sahabatku, tidakkah kita malu kita menyebut negeri kita
Yang dibangkitkan oleh spirit Kebangkitan Nasional seratus tahun lamanya
Sebagai negara yang berpancasila,
Jika mulut kaum miskin masih juga menjerit, menguak angkasa,
Jika antarsuku masih saling mengasah kapak perangnya, jika antarpemuja tuhan
Menyebut diri paling beriman, menista umat berbeda keyakinan?
O, Sahabat, rasanya aku ingin percaya pada kredo Rendra
Bahwa bencana dan keberuntungan adalah sama saja.
Timur Sinar Suprabana membawakan puisinya yang berjudul “Sajak mengeja kahanan”
yang tak kalah panjang dari puisi Djawahir. Di bawah ini aku tuliskan bait yang
ketiga:
Negeri macam apa ini, Saudara?
Jelaskan padaku: negeri macam apa ini?
Jika presidennya menangis ketika menonton film ayat-ayat cinta
Tapi saat berkunjung ke lokasi super luberan lumpur lapindo
Ia, presiden kita itu,
Unjal ambegkanpun tidak!
Jelaskan kepadaku: negeri macam apa ini?
Jika ketika banjir, tanah longsor dan bahkan angin ribut bercampur petir
menjadi gendruwo di tiap tlatah tumpah darah
Ia, presiden kita itu,
Ribet upyek nyanyi-nyanyi bikin album lagu
Sing ketika dirilis jebul ora payu.
Jelaskan padaku: negeri macam apa ini?
Ketika jumlah pengangguran terus bertambah
Dan jumlah keluarga miskin makin banyak,
Ketika harga-harga tak henti naik berlipat
Dan bahkan tahu serta tempe tak lagi bisa terbeli oleh rakyat
Wakil presiden dari presiden kita itu
Sembari cengengesan memapar angka-angka
Yang kita patut diyakini sebagai indikator
Bahwa keadaan rakyat, keadaan masyarakat dan bangsa ini
Dari waktu ke waktu terus membaik. “ke depan
Akan terus kita tingkatkan. Ya to.. , ya to...?” katanya
Melalui konperensi pers tiap seusai jum’atan.
Aku tak tahu.
Aku yang picek
Ataukah wakil presiden dari presiden kita itu yang buta?
Aku tak tahu
Aku yang terlanjur tak bisa percaya angka-angka
Ataukah wakil presiden dari presiden kita itu yang sedang menebar dusta?
Sebab angka-angka tak pernah membuktikan apa-apa
Menjelang pukul 21.00, tepat ketika Ali Mufiz beserta istri memasuki lokasi,
acara utama, pertunjukan KETOPRAK PUTRI CINA dimulai. Untuk mengawalinya,
kelompok tari PHOENIX dari kota Semarang membawakan tarian DEWI KUAN IM SERIBU
TANGAN.
Secara ringkas, ide utama ketoprak PUTRI CINA (yang mengambil ide utama dari
novel PUTRI CINA karangan Sindhunata) adalah tentang keserakahan seorang
penguasa kerajaan Pedang Kemulan (Prabu Amurco Sabdo) dan ketidakmampuannya
memimpin kerajaannya tersebut. Korupsi, kolusi, dan nepotisme tak lekang dari
masa pemerintahannya, sehingga rakyat pun menderita, dan lama kelamaan menuntut
Prabu Amurco Sabdo untuk menurunkan diri.
Sebelum akhirnya memaksa Prabu Amurco Sabdo, Patih Wrehonegoro telah berhasil
mempengaruhi sang Prabu untuk menjadikan kaum keturunan Cina sebagai kambing
hitam.
“Mudah, Sinuwun. Sekali lagi mudah! Alihkan saja segala kekerasan yang mau
pecah itukepada orang-orang Cina. Setelah itu, Sinuwun akan mengendalikan
keadaan dengan lebih mudah.”
Senapati Gurdo Paksi yang beristrikan Giok Tien, seorang keturunan Cina, tentu
saja tidak setuju.
“Ya ampun, Sinuwun. Jangan! ... Sinuwun, apa salah mereka, sampai Sinuwun tega
mengorbankan mereka? Sementara ini tidakkah Sinuwun sendiri mengharapkan harta
mereka untuk makin berkuasa. Sinuwun tidak memberi kesempatan pada rakyat untuk
berusaha. Sinuwun malah membiarkan orang-orang Cina untuk makin mengembangkan
usaha mereka. Apakah Sinuwun tidak punya hati lagi?”
Karena Senapati Gurdo Paksi tidak menyetujui usul itu, dia pun memilih untuk
mengundurkan diri dari jabatannya, dan Prabu Amurco Sabdo memilih Tumenggung
Joyo Sumengah, sang tukang suap, untuk mengisi jabatan tersebut.
Rakyat yang telah disulut kemarahannya, dan termakan hasutan Wrehonegoro dan
Tumenggung Joyo Sumengah pun melakukan pembasmian ke seluruh orang-orang
keturunan Cina, yang akhirnya pun juga memakan korban rakyat yang bukan
keturunan Cina. Gurdo Paksi dan istrinya Giok Tien pun meninggal dalam huru
hara tersebut.
Cerita memang berakhir tragis (seperti kata Sindhunata sang pengarang, banyak
orang Cina yang menjadi korban pada kerusuhan bulan Mei 1998, sehingga dia
tidak mengakhiri novelnya dengan happy ending). Namun skenario Ketoprak Putri
Cina sendiri memadukan antara dagelan dan kesedihan sehingga penonton pun
dibuat tertawa terpingkal-pingkal di paruh awal pertunjukan, sedangkan di paruh
akhir larut dibawa kesedihan tragedi yang disuguhkan.
Kehadiran Sukawi Sutarip dan HM Tamzil sebagai calon gubernur Jawa Tengah pun
dimanfaatkan oleh para pemain ketoprak untuk dikritik. “Zaman dahulu kala,
orang-orang sering takut kalau berjalan melewati pohon-pohon besar, karena
mereka percaya bahwa banyak ‘penunggu’ di pohon-pohon besar tersebut. Mereka
sering mengucapkan ‘Nuwun sewu...” tatkala melewati pohon-pohon besar. Namun
sekarang pohon-pohon kecil juga ada yang menunggu. Lihat saja, di sana banyak
tertempel poster-poster para calon gubernur.”
Di Semarang, mungkin juga di seluruh daerah Jawa Tengah, para calon gubernur
memasang poster-poster mereka untuk kampanye di pohon-pohon, sehingga mereka
pun dituding sebagai tidak mencintai lingkungan karena justru merusaknya.
Jika penampilan Ketoprak Putri Cina diawali pertunjukan tari DEWI KUAN IM
SERIBU TANGAN, di akhir pertunjukan, kelompok tari PHOENIX membawakan tari KUPU
KUPU sebagai lambang menyatunya Gurdo Paksi dan Giok Tien di ‘dunia sana’.
Sindhunata ‘mengadopsi’ akhir cerita Sampek-Engtay, pasangan kekasih yang tidak
bisa menyatukan cintanya di dunia yang fana ini karena perbedaan kelas sosial.
PT56 17.08 010608
Minds are like parachutes, they only function when they are open. (Sir James
Dewar)
visit my blogs please, at the following sites
http://afemaleguest.blog.co.uk
http://afeministblog.blogspot.com
http://afemaleguest.multiply.com
THANK YOU
Best regards,
Nana