memang lidah itu tdk bertulang :)
gara-gara lidah yg menjulur tdk sesuai aturan, muka babak belur
dihajar massa, kasihan deh..


Hidayatullah.com—Pakar komunikasi Universitas Hasanuddin, Aswar Hasan 
mengatakan, fenomena bentrokan antara Front Pembela Islam (FPI) dan 
Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) 
adalah efek dari "kekerasan simbolik" yang selama ini terjadi.

Menurut Aswar, kekerasan simbolik adalah pemaksaan sistem simbolisme 
atau makna atas kelompok tertentu seakan-akan hal itu dianggap 
sebagai sesuatu yang sah dan benar.

Menurut Aswar antara FPI dan AKK-BB adalah dua titik ektrem yang 
harus sama-sama dilihat secara fair dan jujur. Apa yang dilakukan FPI 
belum tentu sepenuhnya salah dan apa yang dilakukan AKK-BB juga belum 
tentu sepenuhnya benar.

Dalam berbagai kesempatan, yang ia perhatikan, misalnya, kelompok-
kelompok liberal yang tergabung dalam AKK-BB juga sangat demonstratif 
mempertontonkan aksi-aksi yang disampaikan melalui bahasa HAM dan 
demokrasi yang sepenuhnya didukung total media massa. Sementara yang 
lain tidak mendapatkan kesempatan.

Aksi-aksi sporadis kalangan liberal di satu sisi, seperti melecehkan 
MUI merendahkan wibawa ulama, selalu mendapat tempat terhormat media 
massa dan TV.

Sementara di sisi lain ada banyak pihak yang kecewa, media tak 
memberikan tempat. Lebih-lebih negara justru tidak tegas dan kurang 
memberi perlindungan terhadap keyakinan mereka. Akar persoalan ini, 
menurut Aswar tak pernah dilihat secara adil dan fair. Terutama oleh 
media massa dan pemerintah.

Sementara banyak mayoritas tak bersuara, media massa justru 
menisbatkan pendapat hanya pada segelintir orang-orang seperti Ulil 
Abshar atau Syafii Anwar atau suara kalangan liberal yang 
sesungguhnya tak begitu mewakili mayoritas banyak orang.

"Jadi, sesungguhnya `kekerasan simbolik' itu sudah lama dilakukan 
kalangan liberal terhadap kalangan Islam yang lain, " ujar Aswar 
kepada www.hidayatullah.com

Umumnya masyarakat lebih menyalahkan serangan dan kekerasan fisik 
yang terjadi. Tapi tak pernah menanyakan hak-hak mereka yang telah 
lama dizalimi baik dengan kata-kata, pernyataan-pernyataan dan opini-
opini di berbagai media dan TV.

"Secara hukum, kekerasan berupa serangan itu bisa disalahkan. Namun 
secara psikologis, apa yang dilakukan itu harus bisa kita pahami 
bersama, " tambahnya.

Agar `kekerasan simbolik' segelintir kelompok tidak terjadi lagi, 
maka, negara harus segera turun tangan atas setiap tindakan pelecehan 
terhadap simbol-simbol agama yang diyakini mayoritas umat.

Adalah tak adil jika media dan pemerintah hanya mengikuti pendapat 
seorang Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) sementara mengabaikan 
pendapat jutaan orang.

"Mana suara NU dan Muhammadiyah? Mana suara ormas-ormas Islam yang 
lain, yang dalam hal ini sebagai representasi riil keberadaan umat?", 
tambah Aswar.

Karenanya, menurut Aswar, semua pihak –terutama media massa-- harus 
melihat persoalan secara adil dan fair. Sebab ketidak-adilan yang 
dibangun pers dalam kasus seperti ini, hanya akan melahirkan `tirani 
minoritas' dan akan terus-menerus berulang, ujarnya. Yang lebih 
berbahaya, menuurut Aswar, dibanding kekerasan fisik, kekerasan 
simbolik jauh lebih menyakitkan dan berimplikasi panjang. 
[cha/www.hidayatullah.com]

Kirim email ke