Kenaikan harga BBM dari Rp 1.810 (tahun 2005) jadi Rp 6.000 (2008) disertai 
kenaikan harga barang yang rata2 168% tidak seimbang dengan kenaikan UMR yang 
hanya 53% (lihat www.infoindonesia.wordpress.com).

Rakyat Indonesia dimiskinkan secara massal oleh para penaik harga BBM tsb 
sehingga sebagian mati kelaparan.

Banyak buruh atau teman saya yang gajinya UMR atau kurang tidak dapat BLT, 
termasuk tukang sapu tsb. BLT sendiri hanya berjalan 1 tahun dan cuma 
menjangkau segelintir orang.

Siapa yang membunuh tukang sapu dengan kelaparan itu? 
Menurut saya orang yang menaikan harga BBM berikut pembisik dan juru 
kampanye-nya.

Tuhan Maha Melihat dan mencatat dosa-dosa orang2 tsb. Akan ada pengadilan Tuhan 
dengan "Polisi" yang tidak kenal kompromi untuk menghukum mereka.

--- On Wed, 6/4/08, IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: IrwanK <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ekonomi-nasional] [Topik BBM] Penyapu Jalan Tewas Kelaparan
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, June 4, 2008, 10:43 PM










    
            Maaf numpang fwd dari milis lain..

Masyarakat kita bukan orang malas - mereka bekerja, namun mereka tetap

miskin

karena pemiskinan/dimiskin kan dan dipersulit oleh sistem dan pengelola yang

ada.



CMIIW..



Wassalam,



Irwan.K



---------- Forwarded message ----------

From: heru suprapto <supraptoheru@ yahoo.com>

Date: 2008/6/5

Subject: Fwd: :: Milist NB :: Penyapu Jalan Tewas Kelaparan



*Lawan Pemiskinan!*

*http://rakyatmiskin .wordpress. com/*



---------- Forwarded message ----------

From: <[EMAIL PROTECTED] com.tw>

Date: Thu, 5 Jun 2008 09:07:16 +0700

Subject: :: Milist NB :: Penyapu Jalan Tewas Kelaparan



Penyapu Jalan Tewas Kelaparan



Rabu 4 Juni 2008, Jam: 8:18:00



BOGOR (Pos Kota) - Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak seiring

kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) memunculkan beragam kisah pilu. Seorang

penyapu jalan tewas di pinggir jalan Sukasari, Bogor Timur, Selasa (3/6)

siang.



Diduga, Adin, 46, petugas kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup dan

Kebersihan (DLHK) Kota Bogor, itu meninggal dunia karena kelaparan. Ia hanya



makan satu kali sehari karena harus berbagi dengan ketiga anaknya.



Sebagaimana dituturkan Neglasari, 40, istri Adin, di RSUD PMI Bogor tempat

jasad sang suami diotopsi, korban meninggal akibat menahan lapar sejak

malam.



Menurut Neglasari sejak kenaikan BBM yang dibarengi dengan melonjaknya harga



kebutuhan pokok, ia dan suaminya kelabakan mengatur pendapatan bulanan yang

hanya Rp750 ribu.



Jumlah yang sangat minim ini harus diatur sehemat mungkin agar bisa

menyisihkan dana untuk biaya sekolah dua dari tiga anaknya. "Biaya hidup

dengan tiga anak sangat tidak mencukupi dengan gaji hanya Rp750 ribu

sebulan," kata Neglasari saat berada di ruang forensik rumah sakit.



CUMA MINUM AIR PUTIH

Warga Kampung Cibitung RT 02/07, Desa Tenjolaya, Kabupaten Bogor, ini

mengaku untuk bisa bertahan hingga gajian bulan berikutnya, terkadang mereka



makan sehari sekali. Bahkan jika makanan yang tersedia tidak mencukupi untuk



semua, ia dan suaminya terpaksa cuma minum air putih.



"Dengan gaji suami, kami bisa bertahan hingga dua minggu lebih. Selebihnya,

sudah morat-marit. Untuk bertahan agar anak-anak tidak kelaparan, kami makan



sehari sekali. Kadang diselipkan dengan rebus singkong dan daunnya yang saya



minta dari warga," paparnya.



Kepergian sang suami, diakui ibu tiga anak ini, akibat sejak malam tidak

makan. Menu yang seharusnya untuk sang suami, terpaksa dibagikan ke tiga

anaknya yang mengaku sedang lapar.



Bahkan sebelum berangkat kerja, korban sempat mengeluh sakit pada bagian

perutnya.



"Saya pikir sakit biasa. Rupanya sakit itu, pertanda lapar sejak malam,"

ujar sang istri sambil menambahkan dirinya tidak sempat keluar minta

singkong ke tetangga untuk makan suami karena waktu sudah malam.



(yopi/ok)



[Non-text portions of this message have been removed]




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke