Provokasi, Sekali Lagi Provokasi! [1]

Oleh: Amran Nasution *

Hidayatullah.com--Kiranjit Ahluwalia memang membunuh Deepak. Suatu
malam di bulan Mei 1989, ketika sang suami tidur lelap ia siram kedua
kakinya dengan bensin, ia sulut dengan korek api. Lima hari kemudian,
Deepak menghembuskan napas terakhir di rumah sakit. Wanita beranak dua
itu pun ditangkap polisi.

Pada mulanya peristiwa di Southall, pinggiran barat London ini,
dianggap pembunuhan biasa. Pengadilan memvonis wanita asal Punjab,
India, yang berimigrasi ke Inggris itu, dengan hukuman seumur hidup.
Tapi guru bahasa Inggrisnya di penjara melaporkan kasusnya kepada
seorang pengacara berpengaruh.

Dari sini cerita menjadi seru. Terutama setelah kelompok pembela hak
perempuan Asia dan kulit hitam, Southall Black Sisters, aktif
berdemonstrasi membela Kiranjit agar dibebaskan dari penjara. Pers
berebut meliputnya, para ahli hukum memperdebatkannya, para kolumnis
menganalisanya.

Ternyata Kiranjit adalah kisah wanita Timur yang tabah, mengabdi
kepada suami, menjaga martabat keluarga, tapi provokasi demi provokasi
dari Deepak berujung pembunuhan.

Deepak pecandu alkohol berat, punya hobi menyiksa istri. Kalau sudah
marah apa yang ada di tangannya ia pukulkan, dan itu sering terjadi di
depan mata dua anak mereka yang masih kecil. Ke mana pun Kiranjit
lari, ia kejar sampai dapat dan babak-belur.

Itulah yang terjadi di malam nahas. Setelah puas menyiksa istrinya
Deepak tertidur dalam mabuk beratnya. Ketika itu Kiranjit berpikir,
baik kalau kaki Deepak ia bakar agar tak mampu lagi mengejarnya.
Dengan demikian ia bisa lepas dari siksaan. Maka wanita yang
sehari-hari bekerja menyortir surat di sebuah kantor pos, membakar
kaki suaminya.

Pengadilan banding pada 1992, memvonis bebas Kiranjit yang telah tiga
tahun mendekam di penjara. Hakim berpendapat ia memang tak berniat
membunuh.  Kata Kiranjit di depan sidang, `'Saya tak pernah berencana
membunuhnya. Saya hanya ingin ia berhenti menyakiti saya.''

Menurut hakim, peristiwa terjadi karena Kiranjit menderita depresi
berat akibat perlakuan Deepak. Vonis ini kemudian seperti ditulis The
Guardian, 4 April 2007, menjadi preseden sejarah hukum di Inggris. 
Tahun lalu, sutradara asal India di London, Jag Mundhra, mengangkat
tragedi ini ke dalam film berjudul: Provoked: A True Story (Provokasi:
Sebuah Kisah Nyata).

Bila diamati peristiwa Monas (Monumen Nasional), Minggu, 1 Juni 2008,
kelompok Front Pembela Islam (FPI) adalah Kiranjit: pihak yang
melakukan tindakan melawan hukum akibat tak tahan menghadapi provokasi
demi provokasi para tokoh liberal yang tergabung dalam Aliansi
Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

Kelompok-kelompok Islam ini – termasuk MUI – sudah lama menjadi
bulan-bulanan pemberitaan media massa yang lebih berpihak kepada
kelompok liberal dan isu-isu yang mereka bawa. Mulai kasus RUU
Pornografi dan Pornoaksi, berbagai aliran sesat, dan terakhir Ahmadiah.

Adnan Buyung Nasution, misalnya, seenaknya bilang MUI supaya
dibubarkan karena mengeluarkan fatwa Ahmadiah. Penasehat Presiden itu
mengejek-ejek salah seorang tokoh MUI yang tak lain koleganya sesama
penasehat Presiden. Padahal dalam pandangan kelompok Islam ini, MUI
harus dihormati karena merupakan kumpulan para ulama. Buyung beberapa
kali menantang-nantang mereka dengan sangat emosional.

Tulisan para aktivis liberal di koran, majalah, atau wawancara di
televisi, selalu menyerang atau mengejek-ejek mereka atau sesuatu yang
mereka yakini dan muliakan. Di dalam selebaran untuk mengerahkan
pendukungnya ke Monas, 1 Juni 2008, AKKBB menuduh kelompok anti
--Ahmadiah adalah anti-- UUD dan Pancasila serta persatuan nasional.
Mereka akan memaksakan rencana mendirikan negara Islam, mengganti
dasar negara.

Di bawah pernyataan tercantum 289 nama, sejumlah di antaranya tokoh
terkenal. Mulai Gus Dur, Goenawan Mohamad, Adnan Buyung Nasution,
Marsilam Simanjuntak, Asmara Nababan, Rahman Tolong, Ulil Abshar
Abdala, sampai Syafii Maarif dan Amien Rais.  Selebaran dimuat di
koran sebagai iklan, selain tersebar ke mana-mana. Itu amat meresahkan
FPI, FUI, dan lainnya yang sejak lama berpendapat Ahmadiah harus
dilarang karena mencederai Islam. Sebagaimana Kiranjit mereka
tampaknya terus diprovokasi.

Amat wajar polisi berusaha agar massa kelompok FPI dan AKKBB tak
bertemu ketika 1 Juni 2008, keduanya melakukan demonstrasi. 
Kenyataannya kelompok AKKBB tak peduli. Mereka seakan ingin berhadapan
dengan kelompok FPI. 

Kedutaan Besar Amerika

Siang itu di depan Istana Merdeka, massa Hizbut Thahrir Indonesia
(HTI), FPI, MMI, dan FUI, melakukan demo anti-kenaikan harga BBM. Dari
arah Hotel Indonesia muncul massa AKKBB yang berdemo menentang
pelarangan Ahmadiyah. Dari pengeras suara di atas mobil terdengar
suara mengejek FPI sebagai `'laskar kapir'', `'laskar setan''.

Provokasi itu menyebabkan kelompok massa FPI yang dipimpin Munarman
kehilangan kesabaran. Meski salah seorang dari massa AKKBB
mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke atas sampai empat kali, tak
ada gunanya. Saat itu pistol lebih berfungsi sebagai alat provokasi
daripada pencegahan. Terjadilah insiden. Sejumlah massa AKKBB terluka,
beberapa sempat dirawat di rumah sakit.

Bentrokan sesungguhnya kecil saja. Setidaknya lebih kecil dibanding
banyak kerusuhan pemilihan kepala daerah (Pilkada).  Di Ternate,
Maluku Utara, misalnya, sejumlah rumah dibakar. Sebelumnya, dalam
pemilihan Bupati Tuban, Jawa Timur, bukan cuma rumah, pendopo bupati,
kantor KPU, kantor partai, mobil dan beberapa properti lain dibakar.
Apalagi kalau dibandingkan dengan kerusuhan Ambon, Poso, atau
pembantaian orang Madura di Kalimantan.

Tapi kali ini hiruk-pikuknya bukan kepalang. Koran, radio, dan
televisi menjadikannya berita utama dengan tema menyerang kelompok
FPI. Ormas itu harus dibubarkan karena merupakan organisasi kekerasan.

Saking bersemangat, koran TEMPO memuat mencolok foto Munarman mencekik
seseorang yang disebutnya anggota AKKBB, tanpa pengecekan. Ternyata
Munarman sedang berusaha mencegah anggotanya sendiri berbuat anarkis.
Berita foto itu sangat menjatuhkan Munarman dan tampaknya akan menjadi
kasus hukum.

Demonstrasi menuntut pembubaran FPI pecah di pelbagai daerah terutama
di Jawa Timur, basis Gus Dur. Berbagai tindak kekerasan diterima FPI
daerah. Malah di Banyuwangi, mucikari dan pelacur turut berpartisipasi
mendemo FPI.

Seakan negara dalam keadaan darurat, Presiden SBY tampil menyampaikan
pernyataan resmi dari Istana. `'Negara tak boleh kalah oleh
kekerasan,'' katanya. Gaya penampilan Presiden, mimiknya, tekanan
kalimatnya, menggambarkan seakan FPI dan kelompoknya telah melakukan
kudeta. Gaya Presiden yang berlebihan itu tambah memojokkan FPI.

Padahal kalau bentrok begitu saja harus ditanggapi Presiden langsung,
setiap hari ia harus tampil. Ikutilah radio atau televisi, hampir
setiap hari ada bentrok massa. Penyebabnya macam-macam, mulai Pilkada,
demonstrasi BBM, tawuran antar-kampus atau antar-sekolah, tawuran
antar-geng motor, rebutan lahan parkir, sampai sengketa tapal batas
desa. Penyerbuan polisi ke Universitas Nasional, sebelumnya jauh lebih
keras dari peristiwa Monas. Tapi Presiden diam saja.

Yang jelas bentrokan Monas menguntungkan pemerintah. Soalnya, FPI,
Hizbut Thahrir Indonesia (HTI), dan ormas Islam lainnya, merencanakan
demonstrasi besar-besaran anti-kenaikan harga BBM mulai 6 Juni 2007.
Demonstrasi itu akan diteruskan dengan gerakan mogok massal nasional.
Berbagai persiapan sudah dilakukan.

Ketika polisi menggerebek kantor FPI ditemukan segepok selebaran
berjudul, `'Lumat SBY-YK''. Lumat singkatan lima tuntutan ummat:
batalkan kenaikan harga BBM, turunkan harga sembako, nasionalisasi
aset negara yang dikuasai asing, bubarkan dan nyatakan Ahmadiyah
sebagai organisasi terlarang, dan usir NAMRU-2 dari Indonesia serta
bersihkan kabinet dari antek Amerika Serikat.

Melihat tema yang mereka usung, gerakan itu akan merepotkan pemerintah
sekalian menyulut gerakan anti-Amerika di Indonesia. Aksi itu rupanya
harus dicegat jangan sampai terjadi maka meletuslah peristiwa Monas.

Lihatlah aktivitas Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat di
Jakarta. John Heffern, Kuasa Usahanya, sibuk mengunjungi korban dari
AKKBB di Rumah Sakit Gatot Subroto. Keesokan hari, Kedubes mengirimkan
pernyataan resmi ke media massa mengutuk aksi kekerasan Monas. Belum
cukup. Pernyataan itu mengajari Pemerintah Indonesia agar menjunjung
kebebasan beragama bagi warganya sesuai UUD. Itu jelas intervensi
urusan dalam negeri Indonesia.

Bagaimana mungkin orang-orang Kedubes itu masih punya keberanian moral
mengutuk kekerasan Monas, sementara negaranya adalah imperium
kekerasan yang sudah membunuh 1 juta manusia di Iraq. Menangkap,
menahan, dan menyiksa ratusan orang di Guantanamo, tanpa mengadilinya
lalu diam-diam melepaskannya.

Pantas Naomi Wolf, aktivis dan kolumnis dari New York, penulis buku
laris The Beauty Myth, menuduh negeri itu sedang menuju pemerintahan
fasis (fascist shiff). Riset yang dilakukan wanita ini menemukan
seluruh ciri-ciri pemerintahan Hitler di Jerman, Mussolini di Italia,
dan Augusto Pinochet di Chili, ada pada pemerintahan Bush.

Bagaimana mereka mengajari kebebasan beragama di Indonesia, padahal
banyak pendeta dan pengikut Mormon mendekam di penjara Amerika karena
melakukan poligami sesuai ajaran agama yang mereka yakini. Apa beda
mereka dengan Ahmadiah? Pendeta David Koresh dan puluhan pengikutnya
diledakkan polisi federal FBI sampai terbakar berkeping-keping karena
mendirikan sekte Kristen sendiri. Masih ada cerita lain yang
mengerikan seperti itu.

Di Guantanamo, Al-Quran mereka cemplungkan ke dalam WC – seakan hal
lumrah – agar orang yang mereka periksa marah dan bicara terbuka. Dari
pengakuan eks tahanan Guantanamo yang telah bebas, penghinaan Al-Quran
jadi metode pemeriksaan tersendiri, selain berbagai model penyiksaan
lainnya seperti waterboarding, menyiramkan air ke wajah sehingga
korban sesak bernapas seakan tenggelam.

Di Iraq, tentaranya latihan menembak dengan Al-Quran sebagai target.
Apakah mereka masih berhak bicara kebebasan beragama?
[berlanjut/www.hidayatullah.com]

* Penulis Direktur Institute For Policy Studies


Kirim email ke