Selasa, 10 Juni 2008
Presiden menanggapi peristiwa Monas seakan kudeta. Kedubes AS pun
melibatkan diri. Padahal itu tawuran biasa yang selalu terjadi di 
Indonesia. Ada apa? SKB sudah terbit. Tapi peristiwa ini 
adalah "pelajaran!" 
Oleh: Amran Nasution *


Kiranjit Ahluwalia memang membunuh Deepak. Suatu malam di bulan Mei 
1989, ketika sang suami tidur lelap ia siram kedua kakinya dengan 
bensin, ia sulut dengan korek api. Lima hari kemudian, Deepak 
menghembuskan napas terakhir di rumah sakit. Wanita beranak dua itu 
pun ditangkap polisi.

Pada mulanya peristiwa di Southall, pinggiran barat London ini, 
dianggap pembunuhan biasa. Pengadilan memvonis wanita asal Punjab, 
India, yang berimigrasi ke Inggris itu, dengan hukuman seumur hidup. 
Tapi guru bahasa Inggrisnya di penjara melaporkan kasusnya kepada 
seorang pengacara berpengaruh.

Dari sini cerita menjadi seru. Terutama setelah kelompok pembela hak 
perempuan Asia dan kulit hitam, Southall Black Sisters, aktif 
berdemonstrasi membela Kiranjit agar dibebaskan dari penjara. Pers 
berebut meliputnya, para ahli hukum memperdebatkannya, para kolumnis 
menganalisanya.

Ternyata Kiranjit adalah kisah wanita Timur yang tabah, mengabdi 
kepada suami, menjaga martabat keluarga, tapi provokasi demi 
provokasi dari Deepak berujung pembunuhan.

Deepak pecandu alkohol berat, punya hobi menyiksa istri. Kalau sudah 
marah apa yang ada di tangannya ia pukulkan, dan itu sering terjadi 
di depan mata dua anak mereka yang masih kecil. Ke mana pun Kiranjit 
lari, ia kejar sampai dapat dan babak-belur.

Itulah yang terjadi di malam nahas. Setelah puas menyiksa istrinya 
Deepak tertidur dalam mabuk beratnya. Ketika itu Kiranjit berpikir, 
baik kalau kaki Deepak ia bakar agar tak mampu lagi mengejarnya. 
Dengan demikian ia bisa lepas dari siksaan. Maka wanita yang sehari-
hari bekerja menyortir surat di sebuah kantor pos, membakar kaki 
suaminya.

Pengadilan banding pada 1992, memvonis bebas Kiranjit yang telah 
tiga tahun mendekam di penjara. Hakim berpendapat ia memang tak 
berniat membunuh. Kata Kiranjit di depan sidang, ''Saya tak pernah 
berencana membunuhnya. Saya hanya ingin ia berhenti menyakiti saya.''

Menurut hakim, peristiwa terjadi karena Kiranjit menderita depresi 
berat akibat perlakuan Deepak. Vonis ini kemudian seperti ditulis 
The Guardian, 4 April 2007, menjadi preseden sejarah hukum di 
Inggris. Tahun lalu, sutradara asal India di London, Jag Mundhra, 
mengangkat tragedi ini ke dalam film berjudul: Provoked: A
True Story (Provokasi: Sebuah Kisah Nyata).

Bila diamati peristiwa Monas (Monumen Nasional), Minggu, 1 Juni 
2008, kelompok Front Pembela Islam (FPI) adalah Kiranjit: pihak yang 
melakukan tindakan melawan hukum akibat tak tahan menghadapi 
provokasi demi provokasi para tokoh liberal yang tergabung dalam 
Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

Kelompok-kelompok Islam ini - termasuk MUI - sudah lama menjadi 
bulan-bulanan pemberitaan media massa yang lebih berpihak kepada 
kelompok liberal dan isu-isu yang mereka bawa. Mulai kasus RUU 
Pornografi dan Pornoaksi, berbagai aliran sesat, dan terakhir 
Ahmadiah.

Adnan Buyung Nasution, misalnya, seenaknya bilang MUI supaya 
dibubarkan karena mengeluarkan fatwa Ahmadiah. Penasehat Presiden 
itu mengejek-ejek salah seorang tokoh MUI yang tak lain koleganya 
sesama penasehat Presiden. Padahal dalam pandangan kelompok Islam 
ini, MUI harus dihormati karena merupakan kumpulan para ulama. 
Buyung beberapa kali menantang-nantang mereka dengan sangat 
emosional.

Tulisan para aktivis liberal di koran, majalah, atau wawancara di 
televisi, selalu menyerang atau mengejek-ejek mereka atau sesuatu 
yang mereka yakini dan muliakan. Di dalam selebaran untuk 
mengerahkan pendukungnya ke Monas, 1 Juni 2008, AKKBB menuduh 
kelompok anti --Ahmadiah adalah anti-- UUD dan Pancasila serta 
persatuan nasional. Mereka akan memaksakan rencana mendirikan negara
Islam, mengganti dasar negara.

Di bawah pernyataan tercantum 289 nama, sejumlah di antaranya tokoh 
terkenal. Mulai Gus Dur, Goenawan Mohamad, Adnan Buyung Nasution, 
Marsilam Simanjuntak, Asmara Nababan, Rahman Tolong, Ulil Abshar 
Abdala, sampai Syafii Maarif dan Amien Rais. Selebaran dimuat di 
koran sebagai iklan, selain tersebar ke mana-mana. Itu amat 
meresahkan FPI, FUI, dan lainnya yang sejak lama berpendapat 
Ahmadiah harus dilarang karena mencederai Islam. Sebagaimana 
Kiranjit mereka tampaknya terus diprovokasi.

Amat wajar polisi berusaha agar massa kelompok FPI dan AKKBB tak 
bertemu ketika 1 Juni 2008, keduanya melakukan demonstrasi. 
Kenyataannya kelompok AKKBB tak peduli. Mereka seakan ingin 
berhadapan dengan kelompok FPI.

Kedutaan Besar Amerika

Siang itu di depan Istana Merdeka, massa Hizbut Thahrir Indonesia 
(HTI), FPI, MMI, dan FUI, melakukan demo anti-kenaikan harga BBM. 
Dari arah Hotel Indonesia muncul massa AKKBB yang berdemo menentang 
pelarangan Ahmadiyah. Dari pengeras suara di atas mobil terdengar 
suara mengejek FPI sebagai ''laskar kapir'', ''laskar setan''.

Provokasi itu menyebabkan kelompok massa FPI yang dipimpin Munarman 
kehilangan kesabaran. Meski salah seorang dari massa AKKBB 
mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke atas sampai empat kali, 
tak ada gunanya. Saat itu pistol lebih berfungsi sebagai alat 
provokasi daripada pencegahan. Terjadilah insiden. Sejumlah massa 
AKKBB terluka, beberapa sempat dirawat di rumah sakit.

Bentrokan sesungguhnya kecil saja. Setidaknya lebih kecil dibanding 
banyak kerusuhan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Di Ternate, 
Maluku Utara, misalnya, sejumlah rumah dibakar. Sebelumnya, dalam 
pemilihan Bupati Tuban, Jawa Timur, bukan cuma rumah, pendopo 
bupati, kantor KPU, kantor partai, mobil dan beberapa properti lain 
dibakar. Apalagi kalau dibandingkan dengan kerusuhan Ambon, Poso, 
atau pembantaian orang Madura di Kalimantan.

Tapi kali ini hiruk-pikuknya bukan kepalang. Koran, radio, dan 
televisi menjadikannya berita utama dengan tema menyerang kelompok 
FPI. Ormas itu harus dibubarkan karena merupakan organisasi 
kekerasan.

Saking bersemangat, koran TEMPO memuat mencolok foto Munarman 
mencekik seseorang yang disebutnya anggota AKKBB, tanpa pengecekan. 
Ternyata Munarman sedang berusaha mencegah anggotanya sendiri 
berbuat anarkis. Berita foto itu sangat menjatuhkan Munarman dan 
tampaknya akan menjadi kasus hukum.

Demonstrasi menuntut pembubaran FPI pecah di pelbagai daerah 
terutama di Jawa Timur, basis Gus Dur. Berbagai tindak kekerasan 
diterima FPI daerah. Malah di Banyuwangi, mucikari dan pelacur turut 
berpartisipasi mendemo FPI.

Seakan negara dalam keadaan darurat, Presiden SBY tampil 
menyampaikan pernyataan resmi dari Istana. ''Negara tak boleh kalah 
oleh kekerasan,'' katanya. Gaya penampilan Presiden, mimiknya, 
tekanan kalimatnya, menggambarkan seakan FPI dan kelompoknya telah 
melakukan kudeta. Gaya Presiden yang berlebihan itu tambah
memojokkan FPI.

Padahal kalau bentrok begitu saja harus ditanggapi Presiden 
langsung, setiap hari ia harus tampil. Ikutilah radio atau televisi, 
hampir setiap hari ada bentrok massa. Penyebabnya macam-macam, mulai 
Pilkada, demonstrasi BBM, tawuran antar-kampus atau antar-sekolah, 
tawuran antar-geng motor, rebutan lahan parkir, sampai sengketa 
tapal batas desa. Penyerbuan polisi ke Universitas Nasional,
sebelumnya jauh lebih keras dari peristiwa Monas. Tapi Presiden diam 
saja.

Yang jelas bentrokan Monas menguntungkan pemerintah. Soalnya, FPI, 
Hizbut Thahrir Indonesia (HTI), dan ormas Islam lainnya, 
merencanakan demonstrasi besar-besaran anti-kenaikan harga BBM mulai 
6 Juni 2007. Demonstrasi itu akan diteruskan dengan gerakan mogok 
massal nasional. Berbagai persiapan sudah dilakukan.

Ketika polisi menggerebek kantor FPI ditemukan segepok selebaran 
berjudul, ''Lumat SBY-YK''. Lumat singkatan lima tuntutan ummat: 
batalkan kenaikan harga BBM, turunkan harga sembako, nasionalisasi 
aset negara yang dikuasai asing, bubarkan dan nyatakan Ahmadiyah 
sebagai organisasi terlarang, dan usir NAMRU-2 dari Indonesia serta 
bersihkan kabinet dari antek Amerika Serikat.

Melihat tema yang mereka usung, gerakan itu akan merepotkan 
pemerintah sekalian menyulut gerakan anti-Amerika di Indonesia. Aksi 
itu rupanya harus dicegat jangan sampai terjadi maka meletuslah 
peristiwa Monas.

Lihatlah aktivitas Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat di 
Jakarta. John Heffern, Kuasa Usahanya, sibuk mengunjungi korban dari 
AKKBB di Rumah Sakit Gatot Subroto. Keesokan hari, Kedubes 
mengirimkan pernyataan resmi ke media massa mengutuk aksi kekerasan 
Monas. Belum cukup. Pernyataan itu mengajari Pemerintah Indonesia 
agar menjunjung kebebasan beragama bagi warganya sesuai UUD. Itu 
jelas intervensi urusan dalam negeri Indonesia.

Bagaimana mungkin orang-orang Kedubes itu masih punya keberanian 
moral mengutuk kekerasan Monas, sementara negaranya adalah imperium 
kekerasan yang sudah membunuh 1 juta manusia di Iraq. Menangkap, 
menahan, dan menyiksa ratusan orang di Guantanamo, tanpa 
mengadilinya lalu diam-diam melepaskannya.

Pantas Naomi Wolf, aktivis dan kolumnis dari New York, penulis buku 
laris The Beauty Myth, menuduh negeri itu sedang menuju pemerintahan 
fasis (fascist shiff). Riset yang dilakukan wanita ini menemukan 
seluruh ciri-ciri pemerintahan Hitler di Jerman, Mussolini di 
Italia, dan Augusto Pinochet di Chili, ada pada pemerintahan Bush.

Bagaimana mereka mengajari kebebasan beragama di Indonesia, padahal 
banyak pendeta dan pengikut Mormon mendekam di penjara Amerika 
karena melakukan poligami sesuai ajaran agama yang mereka yakini. 
Apa beda mereka dengan Ahmadiah? Pendeta David Koresh dan puluhan 
pengikutnya diledakkan polisi federal FBI sampai terbakar berkeping-
keping karena mendirikan sekte Kristen sendiri. Masih ada cerita 
lain yang mengerikan seperti itu.

Di Guantanamo, Al-Quran mereka cemplungkan ke dalam WC - seakan hal 
lumrah - agar orang yang mereka periksa marah dan bicara terbuka. 
Dari pengakuan eks tahanan Guantanamo yang telah bebas, penghinaan 
Al-Quran jadi metode pemeriksaan tersendiri, selain berbagai model 
penyiksaan lainnya seperti waterboarding, menyiramkan air ke wajah 
sehingga korban sesak bernapas seakan tenggelam.

Di Iraq, tentaranya latihan menembak dengan Al-Quran sebagai target. 
Apakah mereka masih berhak bicara kebebasan beragama? 
* Penulis : Direktur Institute For Policy Studies


Kirim email ke