tulisan yg sangat cerdas, menggunakan dalil-dalil dan metodelogi
keWARASAN yg ciamik. Seharusnya para pengasong liberal mencontoh
tulisan2 spt ini, yah maklumlah, kualitasnya dah beda siy hehe..


--- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pelajaran “Berharga” Peristiwa Monas [2]      
> Rabu, 11 Juni 2008  
> “Tidak ada asap, jika tidak ada api, “ujar KH. Cholil Ridwan
melihat kasus Monas.  Ada hegemogi media dan dukungan LSM pada AKKBB.
Peristiwa ini harus menjadi pelajaran umat Islam.  “Sisi lain” di
balik kasus Monas
> Oleh: Fahmi Amhar * 
> Prolog:
> Ketidadilan media massa, provokasi kalangan liberal yang diback-up TV
> dan “adu-domba” antar ormas Islam membuat umat Islam “tak
berdaya”
> dalam kasus Monas. Untugnya, kalangan Muslim cepat sadar. Sebuah
> pelajaran yang sangat berharga! 
> Ahmadiyah Akar Persoalan
> Untungnya, umat Islam segera cepat sadar. Ketika provokasi
“adu-domba” umat ini berlangsung massif dengan difasilitasi media
massadan TV, ormas-ormas Islam mengembalikan persoalan yang sesungguhnya.
> Ketua
> MUI, KH. Cholil Ridwan mengatakan, insiden Monas Ahad, (1/6), lalu cuma
> “asap”. Untuk menghilangkan asap tersebut, maka apinya harus
dipadamkan.  Yang
> dimaksud “api”, kata KH. Cholil adalah, segala tindak kekerasan
> terhadap akidah umat Islam serta penodaan terhadap Al-Quran. 
> Setelah
> di beberapa tempat kelompok-kelompok organisasi “onderbow” NU
melakukan
> pembalasan, tiba-tiba ormas Islam, seperti; Majelis Ulama Indonesia
> (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Garda Bangsa, Pemuda
> Anshor, Pergerakan Mahasiswa (PMII), Forum Umat Islam (FUI), Badan
> Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Tim Pengacara
> Muslim TPM), Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),
> Persatuan Umat Islam (PUI), dan Keluarga Muslim se-kota Bogor melakukan
> “Ikrar”.  Di Balaikota Bogor, Jabar,  mereka
> membuat "Ikrar Ukhuwah", guna menjaga situasi Kota Bogor tetap
> kondusif. Di beberapa tempat juga dilakukan hal sama. Termasuk di Jabar
> dan di Kalimantan.
> Ketua
> PBNU, KH. Hasyim Muzadi menyatakan, “Sebenarnya, masalah Ahmadiyah ini
> bukan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, tetapi masalah
> penodaan agama tertentu, dalam hal ini adalah Islam.” Beliau juga
> menyesalkan sikap Pemerintah yang tidak tegas terhadap persoalan
> Ahmadiyah. (Republika.co.id, 3/6/2008).
> Rois Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Miftahul Akhyar, juga menyatakan
insiden Monas membuktikan SKB Ahmadiyah mendesak dikeluarkan (RCTI,
3/6/2008). 
> Islam sebagai Sasaran
> Melihat
> pola arus informasi atas insiden ini, sepertinya mirip dengan pola yang
> digunakan di masa lalu. Dimana bisa diprediksi akan melahirkan beberapa
> hal;
> Pertama: Adanya pengalihan isu.
> Semula isu yang dominan adalah tuntutan kenaikan harga BBM dan
> pembubaran Ahmadiyah yang telah dinyatakan menyimpang oleh Bakorpakem,
> juga kekerasan polisi di kampus UNAS. Kini, isu seakan bergeser menjadi
> isu pembubaran ormas Islam tertentu. Ketua Lembaga Penyuluh Bantuan
> Hukum PBNU, M Sholeh Amin mengingatkan jangan sampai pengalihan isu
> demikian dibiarkan. (Republika.co.id, 3/6/2008).
> Kedua: Adanya Stigmatisasi ormas Islam. Dari banyak komentar dan
opini media massadigambarkan betapa buruknya wajah kaum Muslim yang
sebenarnya justru membela kemurnian akidahnya. 
> Ketiga: Menghancurkan organisasi Islam yang
> memperjuangkan syariah Islam dan secara terbuka menentang
> pornografi-pornoaksi, dan kemungkaran. Lihatlah, pasca Insiden Monas,
> Opini yang semua hanya mengecam “kekerasan” FPI, tiba-tiba bergeser
> pembubaran FPI lalu lebih meluas ke pembubaran MUI dan ormas-ormas
> Islam “garis keras”, istilah yang sering digunakan kaum liberal.
 Adnan
> Buyung Nasution dan Goenawan Mohamad menuntut pembubaran beberapa ormas
> Islam yang sesungguhnya tidak terkait sama sekali dengan insiden
> tersebut. Bahkan mereka mendesak Menteri Hukum dan HAM untuk mengajukan
> permohonan ke pengadilan lalu meminta hakim untuk membubarkan Majelis
> Ulama Indonesia (Hidayatullah.com, 2/6/2008).
> Keempat: Adapengendalian arus informasi. Di mana, aparat lebih
cenderung bergerak atas “tekanan” media massadan sekelompok kecil
pakar yang tak merepresentasikan mayoritas orang.
> Inilah rupanya hal yang disadari kaum liberal yang tergabung dalam
> AKKBB. Pemanfaatan media sebatas ingin menunjukkan, bahwa publik setuju
> dengan pendapatnya. Sementara, pihak media massaâ€"yang selama ini
dianggap sebagai lembaga independent dalam teori-teori
> yang dipelajari di buku-bukuâ€"nyatanya juga berlaku subyektif dan
tidak fair.  Liputan TV One dan beberapa stasiun TV lebih cenderung
“mengarahkan” orang membela Ahmadiyah dan menyudutkan kelompok
penentangnya. 
> Syukur,
> peristiwa ini disadari umat Islam. Ketua Aliansi Damai Anti Penistaan
> Islam (ADA-API) KH Noer Muhammad Iskandar, beserta ulama dan tokoh
> Islam langsung melakukan aksi “perlawanan” dengan membalas aksi
lebih
> besar, sekitar 9000 orang “mengepung” Istana. (Hidayatullah.com,
9/6/2008).
> Tetapi, sekali lagi, media seperti Metro TV, TV One, TransTV,
Trans-7, SCTV dan RCTI tak terlalu tertarik menjadikan liputan
“LIVE”, sebagaimana saat menggerebek FPI. Sebab bagi media, besar
atau kecil jumlah orang, itu hanyalah image (citra). Gerakan ribuan
orang berpakaian putih-putih “mengepung” Istana tak terlalu
menarik dibanding segelintir aktivis AKKBB.  Sekali lagi, ini soal
image (cintra)!.
> Jadi, yang sedang terjadi sebenarnya adalah upaya “membungkam”
orang dan organisasi yang secara tegas menyuarakan Islam. 
> Lantas siapa yang diuntungkan? Tentu, mereka yang tidak menginginkan
Islam kuat dan mereka yang tidak menginginkan Indonesiakuat. Mereka
yang diuntungkan adalah kaum imperialis dan para kompradornya. 
> Menarik
> dicatat, sebagian tokoh pendukung Ahmadiyah itu adalah para tokoh
> penting di balik Reformasi 1998 yang mendapat bantuan dana 26 juta
> dolar AS dari USAID untuk menjalankan agenda AS. Bantuan dana ini dapat
> dilihat dalam The New York Times (20 Mei 1998). Kedekatan AS
> dengan para tokoh AKKBB ini juga ditunjukkan dengan kedatangan Kuasa
> Usaha Kedubes AS untuk Indonesia, John Heffrn menjenguk anggota AKK-BB
> yang menjadi korban insiden Monas 1 Juni.  Bahkan, salah satu
rekomendasi The Rand Corporation (http://www.rand.org)
> dalam menundukkan Islam adalah mencegah aliansi antara kaum
> tradisionalis dan kaum fundamentalis. Caranya adalah dengan
> "mengadu-domba".  
> Karena
> itu, sungguh bijak pernyataan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang
> menyesalkan penggunaan dan pelibatan nama NU dan kelompok NU dalam
> masalah ini. “Karena relevansinya tidak ada antara NU dan Monas,
NU dan
> FPI. Tapi, kenapa lalu ditulis korban itu adalah orang NU?” ujarnya.
> Oleh karena itu, KH Hasyim mengingatkan pihak-pihak yang ingin
> menggiring NU, terutama badan otonom NU seperti GP Ansor, Ikatan Pencak
> Silat Pagar Nusa, Lakpesdam NU agar menghentikan provokasinya.
(Detik.com, 3/6/2008).
> Penutup
> Meski SKB tiga Menteri â€"yang berupa suratperingatan dan perintah--
telah keluar, setidaknya, ke depan, umat
> Islam harus mulai belajar dari pengalaman buruk ini. Ke depan, umat
> Islam tak harus selalu diam. Apalagi menghadapi sikap
otoritarianisme media massayang sering tidak berlaku fair. 
> Bandingkan
> dengan cara kerja kalangan liberal seperti AKBB. Beberapa menit
> peristiwa, mereka sudah menggelar jumpa pers. Koran, radio dan TV
> mendukungnya. Tokoh-tokoh yang senantiasa dianggap pembela HAM langsung
> serempak berteriak dan semua menekan pemerintah. 
> Harus diakui, cara kerja kalangan liberal melalui AKKBB meski hanya
segelintir orang â€"sebab mereka tak mewakili umat Islam mainstreamâ€"
patut diacungi jempol. Hubungan antara AKKBB, LSM dan media
massaadalah hubungan simbiosis saling menguntungkan yang melahirkan
“kepentingan politik dan bahan berita.” 
> Alhamdulillah,
> sikap para ulama, tokoh masyarakat hingga para artis yang menjenguk
> Ketua FPI, Habib Rizieq, setidaknya “membalik” opini tidak fair yang
> telah dibangun media massa. Umat Islam sudah mulai cerdas. Ormas-ormas
> Islam juga cepat paham dan tak mau berlama-lama terkena umpan
> “provokasi” murahan.
> Wahai
> kaum Muslim, hendaknya kita tidak mudah terprovokasi dan diadu-domba
> oleh kafir penjajah yang memang sangat ingin memecah-belah kesatuan
> umat Islam. Kita pun jangan sampai terdorong untuk memprovokasi dan
> mengadu-domba sesama Muslim karena Rasulullah saw. bersabda:
> “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu-domba.”
(Mutaffaq ‘alaih).
> Rasulullah
> saw pernah mengingatkan, bahwa umat Islam tidak akan pernah hancur oleh
> kekuatan luar yang berasal atau musuh-musuh Islam, kecuali ketika kita
> sudah saling menghancurkan satu sama lain:
> «وَإِنÙ`ِي
> سَأَلÙ'تُ رَبÙ`ِي ِلأُمÙ`َتِي أَنÙ'
لاَ يُهÙ'لِكَهَا بِسَنَةٍ عَامÙ`َةٍ
> وَأَنÙ' َلا يُسَلÙ`ِطَ عَلَيÙ'هِمÙ'
عَدُوÙ`ًا مِنÙ' سِوَى أَنÙ'فُسِهِمÙ'
> فَيَسÙ'تَبِيحَ بَيÙ'ضَتَهُمÙ' وَإِنÙ`َ
رَبÙ`ِي قَالَ يَا مُحَمÙ`َدُ إِنÙ`ِي
> إِذَا قَضَيÙ'تُ قَضَاءً فَإِنÙ`َهُ
لاَ يُرَدÙ`ُ وَإِنÙ`ِي أَعÙ'طَيÙ'تُكَ
> ِلأُمÙ`َتِكَ أَنÙ' لاَ أُهÙ'لِكَهُمÙ'
بِسَنَةٍ عَامÙ`َةٍ وَأَنÙ' َلاَ
> أُسَلÙ`ِطَ عَلَيÙ'هِمÙ' عَدُوÙ`ًا مِنÙ'
سِوَى أَنÙ'فُسِهِمÙ' يَسÙ'تَبِيحُ
> بَيÙ'ضَتَهُمÙ' وَلَوÙ' اجÙ'تَمَعَ
عَلَيÙ'هِمÙ' مَنÙ' بِأَقÙ'طَارِهَا أَوÙ'
قَالَ
> مَنÙ' بَيÙ'نَ أَقÙ'طَارِهَا حَتÙ`َى
يَكُونَ بَعÙ'ضُهُمÙ' يُهÙ'لِكُ بَعÙ'ضًا
> وَيَسÙ'بِي بَعÙ'ضُهُمÙ' بَعÙ'ضًا» 
> Sungguh,
> aku telah memohon kepada Tuhanku bagi umatku agar mereka tidak binasa
> karena wabah kelaparan dan agar musuh dari kalangan selain mereka
> sendiri tidak dapat menguasai mereka hingga masyarakat mereka terjaga.
> Sungguh, Tuhanku kemudian berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya
> jika Aku telah menetapkan suatu putusan maka putusan itu tidak dapat
> ditolak. Sungguh, Aku telah memberimu bagi umatmu bahwa mereka tidak
> dibinasakan oleh wabah kelaparan dan musuh selain dari kalangan mereka
> tidak dapat menguasai mereka sehingga masyarakat mereka terjaga
> sekalipun dikepung dari berbagai penjuru, hingga mereka saling
> menghancurkan satu sama lain dan saling menawan satu sama lain.”
(HR Muslim).
> Mudah-mudahan,
> peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk semakin
> matang, dewasa dan semakin cerdas di masa depan.
[habis/www.hidayatullah.com]
> * Penulis adalah alumnus ViennaUniversityof Technology 
> 
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7029&Itemid=1===
> Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS
> 
> 
> Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252
> 
> 
> Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari
Telkomsel 
> Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau
http://syiarislam.wordpress.com
>


Kirim email ke