Membongkar Jaringan AKKBB (Bag. 2)
Katagori : Counter Liberalisme
Oleh : Redaksi 06 Jun 2008 - 5:30 pm
Bulan Mei lalu, ada dua isu panas di tengah masyarakat kita.
Pertama soal rencana pemerintah menaikkan harga BBM.
Yang kedua, soal kelompok sesat Ahmadiyah yang hendak dibubarkan namun
mendapat dukungan dari koalisi liberal dan kelompok non-Muslim.
Di saat itulah, Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika Serikat memenuhi undangan
Shimon Wiesenthal Center (SWC) untuk menerima Medal of Valor, Medali
Keberanian. Selain untuk menerima medali tersebut, Durahman juga menyatakan
ikut merayakan hari kemerdekaan Israel, sebuah hari di mana bangsa Palestina
dibantai besar-besaran dan diusir dari tanah airnya. Medali ini dianugerahkan
kepada mantan presiden RI ini dikarenakan Durahman dianggap sebagai sahabat
paling setia dan paling berani terang-terangan menjadi pelindung kaum
Zionis-Yahudi dunia di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar seperti
Indonesia.
Acara penganugerahan medali tersebut dilakukan dalam sebuah acara makan malam
istimewa yang dihadiri banyak tokoh Zionis Amerika dan Israel, termasuk aktor
pro-Zionis Will Smith (The Bad Boys Movie), di Beverly Wilshire Hotel, 9500
Wilshire Blvd., Beverly Hills, Selasa (6 Mei), dimulai pukul 19.00 waktu Los
Angeles.
Lazimnya acara penganugerahan penghargaan, maka dalam acara ini pun selain
medali, ada juga sejumlah dollar yang dihadiahkan Shimon Wiesenthal Center
kepada sang penerima. Hanya saja, berapa besar jumlah hadiah berupa uang ini
tidak disebutkan dalam situs resmi Wiesenthal Center tersebut ( www.wiesenthal.
com ).
Dalam acara dinner yang dihadiri tokoh-tokoh Zionis Amerika dan Israel, di
antaranya C. Holland Taylor (CEO LibForAll), Rabbi Marvin Hier (Pendiri SWC,
dinobatkan oleh Newsweek Magazines sebagai Rabbi paling berpengaruh nomor satu
di AS tahun 2007-2008), Rabbi Abraham Cooper (menempati urutan ke-25 Rabbi
paling berpengaruh di AS tahun 2008), CEO Sony Corporation, dan lainnya, antara
penerima penghargaan dengan tuan rumahpara Zionis Amerika dan Israel
tersebutberlangsung obrolan santai namun serius.
Selain isu Ahmadiyah, topik kontroversi kenaikan harga BBM yang tengah hangat
di dalam negeri (Indonesia) diduga kuat menjadi salah satu bahan pembicaraan
mereka mengingat kebijakan pemerintahan SBY tersebut sesungguhnya mengikuti
Grandesign Washington agar harga minyak di Indonesia bisa sama dengan harga
minyak di New York, sesuai Letter of Intent (LOI) dengan IMF pada tahun 1999.
DI tahun 2000, USAID pun telah mengucurkan dollar dalam jumlah besar kepada
pemerintah RI untuk memuluskan liberalisasi sektor Migas (silakan baca
wawancara eramuslim dengan Revrisond Baswir dalam rubrik bincang-bincang) .
Target IMF untuk menyamakan harga BBM di New York dengan di Indonesia
sebenarnya sudah harus tercapai pada tahun 2005, namun tersendat-sendat karena
penolakan dari rakyat Indonesia sangat kuat. Sebab itu, di tahun 2008 ini
Amerika agaknya tidak mau hal tersebut tersendat lagi. Penyesuaian harga BBM
harus terus jalan. Zionis-Amerika sangat berkepentingan dengan hal ini, sebab
itu mereka mendesak pemerintahan SBY yang memang sangat takut dan tunduk tanpa
reserve pada AS agar segera menaikkan harga BBM. Bagaimana takutnya SBY
terhadap AS bisa kita lihat sendiri saat Presiden Bush datang ke Bogor, 20
November 2006, di mana persiapan yang dilakukan pemerintah ini sangat
keterlaluan berlebihan dan cenderung paranoid.
Pada tanggal 24 Mei 2008, pemerintah menaikkan harga BBM. Abdurrahman Wahid
sudah tiba di tanah air. Untuk menekan penolakan, pemerintah SBY (lagi-lagi)
memberi permen kepada sebagian rakyat miskin bernama Bantuan Langsung Tunai
(BLT). Namun Social bumper ini malah menjadi bulan-bulanan kecaman ke
pemerintah. Gelombang unjuk rasa dilakukan mahasiswa dan elemen-elemen rakyat.
Tokoh-tokoh nasional seperti Amien Rais dan Wiranto pun sudah terbuka
menyatakan perang terhadap sikap pemerintah menaikkan harga BBM. Banyak
kalangan berfikir, demo-demo ini akan meningkat eskalasinya hingga jadi besar,
bahkan bukan mustahil rusuh Mei 1998 terulang kembali. Teriakkan Turunkan
SBY-JK! sudah terdengar di mana-mana. Pihak kepolisian menerapkan status Siaga
Satu saat itu.
Sejak itu tiada hari tanpa demo. Istana merupakan tempat paling favorit para
pendemo. Hari ahad, 1 Juni 2008, sejumlah elemen masyarakat termasuk massa dan
anggota PDIP dan elemen umat Islam seperti FUI, HTI, dan FPI, sudah mengantungi
izin untuk melakukan aksi unjuk rasa di Monas, Jakarta. Sedangkan AKKBB menurut
laporan ke pihak kepolisian hanya melakukan aksi unjuk rasa di Bundaran HI,
sekitar tiga kilometer dari kawasan Silang Monas.
Jalur Demo dan Polisi Yang Aneh
Dari Bundaran HI, tiba-tiba massa AKKBB bergerak long-march ke kawasan silang
Monas yang sudah dipenuhi massa umat Islam yang tengah berdemo. Padahal
pemberitahuannya hanya ke Bundaran HI. Aparat kepolisian berusaha mencegah
massa AKKBB yang sebagiannya merupakan pendemo bayaran yang sesungguhnya tidak
tahu apa-apa menuju silang Monas di mana massa elemen umat Islam tengah
melakukan demo, agar tidak terjadi bentrok.
Namun massa AKKBB membandel dan polisi (anehnya) tidak mampu menghalangi massa
AKKBB mendekati massa umat Islam. Setelah berdekatan, orator dari massa AKKBB
memprovokasi massa umat Islam yang banyak terdiri dari para laskar meneriakkan,
Laskar setan! dan sebagainya. Terang, mendapat provokasi seperti ini
anak-anak muda dari massa Islam marah. Apalagi di antara massa AKKBB yang
berada di dekat massa Islam ada yang membawa-bawa spanduk besar berisi
penolakan SKB Ahmadiyah. Ini jelas provokasi. Anak-anak Laskar Islam pun
menyerbu massa AKKBB. Dan terjadilah rusuh Monas.
Dalam tulisan ketiga, akan dipaparkan keanehan lainnya bada peristiwa Monas
yaitu sikap SBY yang tiba-tiba cepat tanggap (biasanya peragu dan lamban),
respon Kedubes AS dan pejabat Kedubes AS yang menjenguk korban, plintiran media
massa baik itu cetak maupun teve, dan sebagainya.
Apa pun itu, semua ini telah berhasil membelokkan isu utama negeri ini dari
yang tadinya menyoroti kenaikan BBM dan penolakan Ahmadiyah, menjadi isu
sentral pembubaran FPI. Baik SBY maupun para liberalis dan non-Muslim yang
tergabung dalam AKKBB (termasuk kelompok sesat Ahamdiyah) diuntungkan.
(bersambung/ rizki/eramuslim)
kunjungannya Gus Dur awal Mei 2008 lalu ke Israel menerima penghargaan dari
Simon Wiesenthal Center. Simon Wiesentel Center adalah sebuah LSM terkenal di
Amerika Serikat yang melindungi kaum Yahudi internasional.
Masih Kurang Jelas ?? Lihat foto dibawah
Di saat umat Islam berjuang membebaskan tanah Palestina, para cendikiawan
"liberal" justru "berjabat tangan" dengan Israel dan menemui Shimon Peres.
Nampak Dr. Syafiq Mughni dan Abdul A'la [NU] menghadiri upacara keagamaan
Yahudi di Israel
YOU DECIDE !!
---------------------------------
Get the name you always wanted with the new y7mail email address.
[Non-text portions of this message have been removed]