(Dikutip dari milis tetangga. Maaf, di bagian tengah tulisan ke bawah
ada banyak yang saya hapus,  karena terlalu panjang, melebar, dan
isinya lebih mirip opini pribadi, yang tidak terkait sama sekali dengan
topik soal Munarman.)



Satrio

=========================






Munarman, Saya Dan FPI

Kalau “FITNA” di Eropa tidak laku lantas apakah fitnah ini di Indonesia malah 
jadi komoditi?



Oleh : Abu Taqi Mayestino

Majelis Islamic Discussion Via Internet

http://groups. yahoo.com/ group/islamic_ discussion_
via_internet/

http://www.derap. net/






Pertama Kali Saya Mengenal Munarman 



Munarman, SH., pengacara muda terkenal yang mantan petinggi YLBHI dan Kontras
itu adalah seseorang yang mengaku “Muallaf” saat pertama kali saya berjumpa
dengannya di satu rapat di hari-hari terakhir bulan Ramadhan 2007, di Masjid Al
Azhar. Ia menyebut dirinya “Muallaf”, karena sebelumnya, sebelum menemukan
Islam yang sesungguhnya, ia adalah seorang sekularis, “…dulu saya Muslim
Sekuler”. 


Dan sebagai orang yang bergelut
dalam bidang hukum tentunya ia hanya membela orang dalam masalah hukum
berdasarkan hukum manusia. Ia dulu belum banyak belajar Islam. Belakangan ia
meralatnya menjadi, “Saya Muhajir” atau orang yang berhijrah, dalam hal ini,
dari keburukan ke kebaikan. Saya dan agaknya kami semua yang hadir di rapat
itu, sejumlah kecil wakil petinggi dan tokoh umat, tersenyum-senyum dan
sebagian bahkan tertawa kecil mendengarnya. Kami, agaknya sepakat dan mengerti
bahwa hukum manusia, tentu bukan hukum Tuhan, Pembuat manusia.



Saya dan Munarman



Kali kedua saya berbicara dengannya, adalah saat saya merasa dunia ini hampir
runtuh di akhir tahun 2007. ”Namun hari kiamat bukan esok hari” (meminjam kata
Abraracourcix, kepala suku gendut desa Galianya Asterix dan Obelix di komik
terkenal ”Asterix itu). Saat itu dalam situasi mendadak, saya harus mencari
Pembela/Kuasa Hukum dalam satu kasus Perdata, akibat ulah sekelompok orang yang
memanipulasi beberapa hal tanpa sepengetahuan saya, mungkin juga telah lama
mencurangi saya, dan juga menyangkut keutuhan keluarga saya. 


Sebenarnya ada seorang
pengacara juga didalam keluarga saya, walaupun terhitung keluarga jauh, seorang
muslim, dan beliau lumayan terkenal di jajaran pengacara Indonesia,
namanya sering muncul di beberapa media massa.
Saya memberanikan diri untuk menghubungi beliau, sedikit-banyak menceritakan
permasalahan saya dan meminta sarannya. Yang saya tangkap dari beliau, adalah
bahwa beliau tentu sebagai pejuang hukum, bersedia menangani kasus saya, namun
beliau memang sedang sangat sibuk. 


Karena waktu yang sungguh
mendesak, saya coba hubungi Munarman, kawan baru saya. 

Ponselnya ternyata mati selama beberapa hari, kemudian saya kirim SMS untuk
meminta waktu berbicara. Dan masih tidak ada laporan ”delivered”. Berarti
ponselnya benar-benar mati. Beberapa hari itu sungguh moment yang sangat
mencekam dalam hidup saya, hampir-hampir membuat putus-asa. Permasalahan atau
ujian (saya lebih suka menyebutnya demikian) itu, alhamdulillah ditakdirkan
Allah SWT datang berbarengan dengan berbagai ujian berat yang lain. Mungkin
Abraracourcix akan mengira langit runtuh segera, jika berada dalam posisi
seperti saya.



Tiba-tiba, ada laporan ”delivered” di ponsel merah ’jadul’ saya, dan sekitar
waktu shalat fardhu, ponsel tersebut berdering, rupanya telepon dari kawan baru
saya itu. Langsung saya utarakan berbagai masalahnya, dan saya utarakan pula
bahwa saya sedang tidak punya uang, dan jika ada biaya, saya bersedia mencicil.



Posisi saya saat itu sedang di Surabaya,
dia di Jakarta, dan dia yang
menelepon saya. Dan dalam hubungan interlokal itu, dia bahkan menolak
memutuskan hubungan telepon, dan membiarkan saya mengutarakan hampir semua 
detail
kasus saya dengan biaya tanggungan sambungan teleponnya. Ia menyanggupi
langsung menangani kasus saya, tanpa ada biaya, hanya karena saya muslim yang
sedang dalam kesulitan, katanya


Singkat cerita, saya pun
bertemu dia sewaktu saya tiba kembali di Jakarta,
di kantornya yang sangat sederhana (bila dibandingkan kantor-kantor Pengacara
top lain) di bilangan Benhil-Pejompongan. Dia menunjuk seorang anak buahnya
untuk khusus mendampingi saya, selain beberapa rekanannya yang lain. 


Saat saya utarakan kembali
kesulitan keuangan saya, dan niatan saya untuk mencicil, kembali ia menolak,
saya hanya harus membayar apa yang menjadi kewajiban saya terhadap negara,
dalam proses hukum tersebut, hanya itu. Tak terkatakan betapa rasa gembira dan
kagum saya akan semangat ikramul muslimin-nya (memuliakan sesama muslim) inilah
yang pantas membuat dunia lebih baik.



Setelah berbulan-bulan proses pengadilan itu berlangsung, akhirnya saya sampai
pada suatu informasi bahwa lawan saya, kemungkinan besar menggunakan uang
sogokan untuk memenangkan perkaranya, mungkin menilik semakin banyak tuduhan
mereka yang tak terbukti dan argumen mereka yang lemah. Semakin banyak pula
bukti beberapa kejanggalan dan main kotor, manipulasi, fitnah, salah-paham
dalam kasus saya ini.


Bahkan keterangan yang
mendukung itu semua, saya dapatkan justru dari orang-orang dekat bahkan
keluarga kandung lawan saya berperkara tersebut. Rupanya mereka bersimpati
kepada saya. Dan dugaan suapan ke Hakim ini pun dikuatkan oleh kawan lama saya,
yang juga kawan Munarman semasa kuliahnya, bahwa di Pengadilan macam itupun
adalah lumrah di Indonesia untuk orang main sogok, atau bahasa halusnya,
”Mendekati dan berbaik-baik dengan (para) hakim, supaya menang berperkara”.
Kawan saya ini, ternyata juga pernah melalui perkara serupa. 



Saya sangat terpukul, jenuh, lelah dan hampir goyah iman saya. Harapan saya
sangat tipis pada sistem peradilan Indonesia.
Lalu saya hubungi Munarman. Saya utarakan via SMS, segala permasalahan ini,
kegundahan, termasuk keinginan saya untuk mengambil ’short cut’. Dan dengan
cepat dia jawab, lugas, bahwa jika saya menyuap hakim, maka ia akan menarik
semua Pengacara anak-buahnya, dan saya dipersilahkan jalan sendiri. 



Alhamdulillah, ini sangat menggembirakan saya, dan seakan menguatkan kembali
iman saya. Dan memang, bahwa jika pun ada peluang menyuap hakim, saya toh tak
akan mampu, karena saya sedang dalam kesulitan keuangan di waktu itu. Ini saya
anggap sebagai satu tanda pula dari Allah SWT, dan saya meneruskan perkara
saya, dengan prinsip beriman kepada Allah SWT. Pengadilan saya yang paling
adil, ada di akhirat. Tak akan rugi, orang yang mendekat kepada Allah SWT. Dan
paling bak memang dekat-deka dengan atasan yang benarlah, kira-kira
perumpamaannya demikian, bukan?


Setelah berbulan-bulan kemudian
akhirnya saya ada kelebihan rizki. Kembali saya kontak dia lewat ponselnya,
saya utarakan niat saya sambil mengemudikan kendaraan di Jakarta
(bukan suatu kebiasaan berlalu-lintas yang baik memang, namun ternyata di 
Indonesia,
banyak sekali orang melakukan ini, dengan kualitas kemampuan mengemudi yang
berbeda-beda) . 


Dia masih menolak, dan menjawab
bahwa jika ada kelebihan rizki seperti itu, lebih baik saya serahkan ke fakir
miskin, anak yatim, dsb. layaknya amalan muslim. Saya berteriak sendiri di
mobil kepadanya saat menjawab pernyataannya itu, saya tak seberapa ingat apa
jawaban saya, namun lebih-kurang adalah, ”Antum mulia! Ana senang pada antum!
Allah yubarik fik (semoga Tuhan menambah berkahNya pada anda yang saya
hormati)! Ana ridho pada antum, dan semoga Allah ridho pada antum dan apa yang
antum cintai! Dia tertawa-tawa saja mendengar suara saya.



Insiden Monas



Setelah peristiwa bentrok 1 Juni antara massa
Islam yang (katanya) dari FPI (padahal ada berbagai unsur di sana)
dengan massa AKKBB (Aliansi
Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) , dan bahwa menurut
informasi dari mulut ke mulut, FPI lah yang memulai serangan, kemudian menyusul
berbagai berita yang mendiskreditkan Munarman. Saya kirim SMS kepadanya untuk
bertanya apa kiranya yang dapat saya bantu. 


Dia membalas, hanya meminta
tolong dicarikan kunci mobil dan ponselnya yang hilang di kawasan Monas di hari
itu, karena dia tahu saya mengenal beberapa ”orang Gambir dan Monas”. Tentu
saja saya coba sebisanya, namun sampai saat ini belum ada berita. Segala puji
pada Allah yang telah menunjukkan bahwa Beliau-lah Pemilik segala sesuatu.
Sangat logis pula bila kita gunakan logika dan supra logika, atau apapun juga
istilah sekulernya tentang kuasa Tuhan ini. Saya rasa, Munarman pun tetap dan
cukup atau malah semakin beriman, atas kehilangan, pengambilan, atau pengalihan
tempat dari milik Allah yang dipinjamkanNya ini, karena tentunya tak ada yang
benar-benar milik kita tak juga ruh kita, insya Allah.






Malam itu, 4 juni 2008, saya
mendapatkan berita dari berbagai sumber terpercaya, dan dari pengetahuan saya
sendiri, bahwa sejak semula rencana unjuk rasa gabungan berbagai lembaga dan
ormas Islam di Istana Presiden yang dijadualkan pada Minggu 1 Juni 2008
pk.12.00 WIB disusun, tidak ada sama sekali pembahasan tentang tindakan
kekerasan, dalam bentuk apapun. Dan memang, demo yang terjadi di depan Istana
Presiden antara massa gabungan
ormas Islam dan massa buruh yang
berpakaian merah-merah, walaupun bersandingan cukup dekat, tapi berjalan dengan
sangat mulus. 


Kekerasan bukanlah kebiasaan
muslim manapun, tidak diperbolehkan dalam agama Islam. Dan ini juga ternyata
disadari pihak aparat di lapangan, bagaimana responnya yang santai ketika massa
muslim masuk dan bagaimana ketika massa
buruh masuk yang dengan segera aparat membentangkan tali putih mengitari massa
buruh. Namun, bila ada yang mulai menghujat, menghina, melecehkan, apalagi
menyangkut

akidah dan hak Allah SWT, memang diperbolehkan bagi muslim untuk bereaksi
secukupnya, walaupun memang jauh lebih baik untuk memaafkannya. 



Unjuk rasa itu sendiri adalah rangkaian dari sekian banyak unjuk rasa dan
ketidakpuasan muslim Indonesia (dan muslim seluruh dunia, sebenarnya) yang
cukup menggunakan otak dan hatinya, tentang apa itu sesungguhnya Ahmadiyah, dan
apa atau siapa sesungguhnya di balik semua itu, dan juga apa sesungguhnya yang
akan diusahakan terjadi di Indonesia yang menggiurkan sumber daya alamnya
sebagai bagian dari dunia yang semakin tua dan berpenyakit ini. 


Ini juga untuk meperkuat rekomendasi
MUI (fatwa MUI no 11/MUNAS VII/MUI/15/2005) dan Bakorpekem serta bahkan dunia
Islam di dunia yang kita tinggali ini (deklarasi Liga Muslim Dunia/Rabithah
Alam Islami tahun 1974). Lebih kurang isinya adalah bahwa Ahmadiyah adalah
aliran sesat yang menyesatkan, dan sudah (sangat) menciderai Hak Azasi Manusia
(HAM) terdasar muslim untuk beragama yang bebas, memurnikan ajarannya, dan
(yang juga kata para pejuang HAM secara gigih berulang-ulang) , adalah untuk
diijamin kebebasan

beragamanya, muslim beribadah secara aturan Islam. 



Singkatnya, adalah menuntut hak muslim untuk tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad
dan segala ajarannya serta pernak-perniknya yang mencampurkan Islam dan
berbagai pemikiran atau teknologi budaya entah dari mana yang dibawa Mirza Ghula
Ahmad, sebagai nabi setelah Rasulullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib
SAW dan untuk tidak mengakuinya sebagai bagian dari Islam, karena toh ciri-ciri
utama Islam tak ada pada mereka. 


Seorang guru saya KH Suharyadi
Sumhudi, mengirim SMS ke saya, 

”Lima belas tahun lalu Ketua Ahmadiyah, Ahmad Hariadi saya tantang bersumpah
Muhabalah (populer di Indonesia sebagai Sumpah Pocong, sumpah untuk
sungguh-sungguh menghadapkan diri dan keluarga masing-masing dan berdoa kepada
Tuhan agar menjatuhkan laknat bagi pihak yang berbohong, dasarnya di QS Ali
Imraan ayat 61… dia takut/tak hadir … e dia sekarang tobat, 6 Juni mau ceramah
di Al Azhar …”



QS Ali Imraan ayat 61

61. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang
meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil
anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu,
diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan
kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.



Mubahalah ialah masing-masing pihak diantara orang-orang yang berbeda pendapat
mendoa kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la'nat
kepada pihak yang berdusta. Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah
tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad s.a.w.






Kalau saja para Sekuleris (yang
notabene pemkiran Sekulerisme ini datang dari barat/Eropa dan mendunia), mau
istiqamah konsekuen dengan prinsipnya bahwa urusan agama biar dipinggirkan dari
kehidupan sehari-hari sejak mereka frustasi dengan campur tangan yang bahkan
tak masuk akal dari para petinggi Kerajaan dan agamanya selama Abad
Pertengahan/ Abad Kegelapan (Dark Ages); maka semestinya bahkan kaum Atheis pun
setuju untuk membiarkan umat beragama Islam mengurus agamanya sendiri, termasuk
dengan tidak mengakui Ahmadiyah sebagai bagian dari Islam. Walaupun Ahmadiyah
mengaku-aku demikian. Termasuk di Indonesia. 



Jadi Departemen Agama Republik Indonesia yang kaya potensi namun miskin-miskin
saja ini dan para penyelenggara haji pun tak usah menjadi repot menjawab
pertanyaan Allah SWT dan setidaknya saja, Kerajaan Arab Saudi, jika ada Jamaah
Haji non-muslim (Ahmadiyah) sampai di Makkah al Mukaromah, atas rekomendasi 
negara
Republik Indonesia. 



Tapi tentu saja di mana ada peluang menguntungkan, Kapitalisme dan
Kolonialisme, mencoba sekuat tenaga mendulang keuntungan, hampir at all cost
(dengan segala cara, semahal apapun), apalagi jika atas nama kepentingan
Manajemen Strategis dan segala macam teknologi lain. Mungkin berdasarkan asumsi
dan argumen ini, tak heran Ahmadiyah tak juga dibubarkan di Indonesia, padahal
di negara asalnya dan di banyak negara Islam atau ’negara Islam’ lain rekan
Indonesia di OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang berdiri agak lama setelah
Kekhalifahan dijatuhkan Barat pada 1924, toh sudah tegas melarang Ahmadiyah
(deklarasi Liga Muslim Dunia/Rabithah Alam Islami tahun 1974), apalagi
membiarkan jama’ahnya ke tanah suci Makkah al Mukaromah.  Indonesia
mau menjadi spesial dengan tepo-slironya rupanya? Hingga diajak ke neraka pun
ayo saja, karena tepo-sliro


Ahad pagi 1 Juni 2008 itu saya
kebetulan lewat Gambir dan Monas dalam perjalanan ke rumah. Saya saksikan
banyak sekali orang berpakaian merah saat itu, tua-muda. Ada
banyak sekali Bus parkir di sekitar Monas bahkan sampai Pasar Baru. Terus saja
saya pulang dan sempat berpikir, banyak sekali yang tidak ke Gereja, pagi ini,
yah? Saya tidak terlalu ambil pusing, ini semua perkara mudah diduga, permainan
sekelompok kecil orang pengatur. Lagipula kondisi saya sedang tidak sehat. Saya
tertidur hingga sekitar sore hari. Sesudah saya bangun, saya ke Gambir,
silaturrahim dan mengurus jama’ah di sana.  Dan saya dilapori, bahwa
tadi ada bentrokan kecil di Monas. Saya hanya tertawa-tawa saja, dan kami
lanjutkan mengurus banyak hal lain.



Lantas rupanya kejadian itu menjadi berita nasional. Seakan ada yang
memeningkan untuk membesarkan permasalahan ini. Saya pun mau tak mau ikut
mencari tahu dan menangani. Dari informasi kawan terpercaya, massa
gabungan lembaga ormas Islam, sejatinya saat 1 Juni siang itu menuju Istana
Presiden dengan agenda mereka tentang BBM. Namun tak pelak sebagian mereka
lewat pula di depan Monas, yang disana telah ada ribuan peserta peringatan 
’lahirnya’
Pancasila. Demo AKKBB di Monas itu menurut sejumlah kalangan dilakukan tanpa
ijin (saya jadi ingat Belanda yang membonceng Sekutu saat perang Kemerdekaan
Republik Indonesia
untuk menghalalkan langkahnya). 


Dan menurut sumber yang saya
percayai, provokasi oleh massa yang sudah dahulu berada di Monas (AKKBB) memang
dilakukan, dan fakta ini juga dikuatkan oleh beberapa tokoh nasional yang
disampaikan lewat media cetak, elektronik serta forum pertemuan yang saya hadir
disana. Terjadi pula letusan pistol, empat

kali bahkan kabarnya, bukan dari pihak muslim. Teriakan makian tak senonoh
terhadap ciri-ciri Islam dan massa yang lewat itupun berlontaran, misalnya
seperti ’Kafir’ dan ’Laskar Setan’, dan sejumlah aksi memancing emosi lain
tentunya, di siang hari yang cukup panas di pusat kota Jakarta itu.



Agaknya prinsip ’Lu jual gue beli’ terjadi di sini. Namun toh tetap banyak yang
berkepala dingin, dan ada seorang kawan yang saya kenal dari FPI, hari itu ia
berbaju kotak-kotak justru terlihat melerai kedua massa
yang hendak bentrok. Dan ini terlihat jelas di tayangan beberapa stasiun TV
yang diputar berulang-ulang, seperti yang diceritakan kawan saya. Saya percaya
kevalidan informasi kawan ini dan saya kenal betul dia. Kebetulan orang yang
dimaksud di TV tersebut juga saya kenal. Seorang Preman yang sungguh telah
bertobat, insya Allah. Munarman sendiri, siang itu berlaku sebagai pemimpin,
komandan lapangan ’Laskar Islam’, Laskar gabungan sejumlah lembaga bernama
 GARIS, FPI, MMI dan sebagainya. Perlu ditegaskan kembali, bukan FPI
saja. 






Di kondisi panas, gerah,
dibawah sinar matahari siang yang cukup terik itu, Munarman telah berusaha
menyadarkan anggotanya yang terpancing emosi akibat provokasi dari pihak AKKBB.
Teguran keras yang dilakukan Munarman ini pada anggota laskar adalah pantas,
karena ia adalah sebagai Amir, sebagai pemimpin. Pemimpin pantas membina dan
bertanggungjawab. Bukankah ini pengejawantahan teknologi Manajemen sekuler
juga? 



Bila kita melihat foto terkenal Munarman saat ini yang beredar di internet dan
berbagai media saat ia terlihat sedang ‘mencekik’ seseorang berbaju hitam,
dikelilingi massa berbaju putih, maka sebenarnya yang dipegangi lehernya itu
adalah orang muslim sendiri anggota rombongannya yang hampir emosi, lepas
kendali, dan justru sedang dicegah keras oleh Munarman agar tidak melangkah
lebih jauh yang mungkin belum perlu dan tidak sesuai dengan akidah Islam. 


Dalam foto tersebut, tampak Munarman berpakaian hitam
dan penutup kepala hitam mencekik seorang pria yang juga berpakaian hitam. Foto
milik AKKBB itu diabadikan saat bentrok FPI dan massa AKKBB di kawasan Monas 1 
Juni lalu. Munarman
menyangkal bahwa yang dia cekik adalah anggota AKKBB. Bahkan dalam konferensi
pers, Munarman memperkenalkan pria yang dia cekik sebagai anggota Laskar Islam
bernama Ucok Nasrullah. Klik saja antara lain ke: http://suaramerdeka
.com/beta1/ news/print. php?id_news= 7044 ,

http://swaramuslim.
com/index. php , http://groups. google.co. zw/group/ soc.culture. filipino/
topics?lnk= gschg. 

Dan kata orang, wajah Munarman nampak bengis saat itu? Tidak, menurut saya.
Lihatlah betul-betul. Lihatlah ekspresi orang-orang itu semua lebih cermat.
Orang Psikologi jujur setidaknya akan tahu tentang ini. 





.........................................................................................................................

............................................ (deleted)



Dibalik setiap ujian dan kejadian, ada ibroh
dari Allah SWT yang bisa kita petik sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan ke
depan. Insya Allah. 



Wassalamualaikum wrwb.

Jakarta, Juni 2008



Abu Taqi Mayestino







 
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke