Jurnal Sairara:
Kepada Saudara Taufiq Ismail
10 . MARXISME MATI, AKU MENGENAKAN DASI
Dengan menyisihkan beberapa soal dari alinea-alinea Saudara Taufiq Ismail
sebelumnya, sekarang aku ingin memasuki alinea kelima dari respons bagian
pertama Saudara Taufiq Ismail yang berbunyi:
"Saya ingatkan hadirin bahwa ideologi ini telah menceburkan bangsa dalam dua
perang saudara yang berdarah-darah. Ideologi ini ternyata lancung keujian,
gagal total di seluruh dunia tak terbukti mampu memecahkan masalah politik,
ekonomi, sosial dan budaya tiga perempat abad lamanya. Selama 74 tahun
(1917-1991) Marxisme-Leninisme terbukti buas-ganas-barbar-haus darah, dan
membantai 120 juta manusia di 76 negara (Courtois: 2000).
Pertama-tama, aku ingin mengatakan bahwa karya Courtois yang bolak-balik
digunakan oleh Saudara Taufiq Ismail dalam berbagai tulisannya sebagai bahan
acuan dan data yang beliau pandang solid, pertama-tama terbit di Paris , lalu
kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris dalam bentuk berbagai edisi. Mulai
dari hard cover hingga ke edisi saku [pocket book].
Tak berapa lama kemudian, karya Courtois ini langsung dijawab dengan buku
juga yang tak kalah kaya data dan tebalnya!
Gejala terakhir di Perancis memperlihatkan bahwa polemik koran nampaknya
dipandang sudah tidak padan lagi, maka sejak itu polemik dalam skala buku
makin berkembang. Dunia perbukuan merupakan arena pergulatan pemikiran berbagai
aliran dan kecenderungan.
Di Perancis sendiri buku Courtois ini agaknya tidak dipandang sebagai buku
yang amat menarik. Baik harian atau majalah kiri mau pun kanan, seperti Le
Figaro misalnya, tidak satu pun yang meresensi buku Courtois. Barangkali hal
ini bisa dipahami dari kenyataan bahwa siapa pun tidak bisa mengabaikan jasa
kaum komunis Perancis terutama dalam perjuangan melawan pendudukan fasis
Hitler. Faktor lain untuk memahaminya barangkali perlu melihat latar sikap
Perancis yang berpatokan pada nilai-nilai republiken dan keprancisan yang
dipersonifikasikan oleh sastrawan Alexandre Dumas, ketika ia dimakam ulang.
Nilai-nilai tersebut adalah: sanggup hidup berdampingan dalam kemajemukan .
Kemajemukan adalah ciri Perancis, ujar Jacques Chirac sebagai Presiden Perancis
pada waktu memakam ulang Alexandre Dumas di Pantheon -- makam putera -puteri
terbaik Perancis. Dengan pandangan dan sikap pluralis dan multi kultur begini
maka Front National, partai yang sangat rasis dan
sejenis partai neo-nazi, tetap dibiarkan hidup. Tuntutan membubarkan partai
berorientasi neo-nazi ini ditolak oleh hampir seluruh warga Republik Perancis.
Jumlah perolehan suaranya makin merosot. Perancis menentang ide-ide neo-nazi
dan Front Nasional tidak melalu pelarangan tapi melalui debat dan unjuk rasa.
Pendidikan civic yang diberikan sejak mereka masih di play group maka
melahirkan wajah mental dan pola pikir untuk saming menghormati hak pihak lain.
"Respect les autres" [menghormati sesama], diajarkan sejak dini. Prinsip
"respect les autres" ini kian dikahayati sehingga berbarengan dengan itu
pandangan "terlarang untuk melarang" pun makin diresapi. "Kekebasan saya
berhenti saat menyentuh kebebasan orang lain", merupakan bagian dari isi
"respect les autres" ini juga.
Aku tidak tahu , apakah Saudara Taufiq Ismail sudah membaca karya sanggahan
yang kusebut di atas dan sanggahan-sangahan lainnya?. Sebagai cendekiawan yang
berpikiran bebas , apalagi sebagai sastrawan yang merupakan warga dari
republik sastra-seni yang berdaulat, aku kira, niscayanya mereka bebas dari
sektarisme, prasangka dan, apriorisme. Niscaya pula mempunyai acuan
berimbang, senantiasa berusaha mencari kebenaran dari kenyataan, membiarkan
orang lain hidup dan berpikir sesuai pilihan.
Rekonsiliasi dan perdamaian total pun , kukira, tidak lepas dari adanya
kesanggupan sungguh-sungguh untuk bisa hidup berdampingan dalam kemajemukan ,
bukan bertolak dari dermaga "la pensée unique" yang penuh kekerasan dan
pemusnahan serta larangan. Rekonsiliasi atau perdamaian total yang diusulkan
oleh Saudara Taufiq Ismail akan menjadi hanya suatu bualan hampa jika tidak
mampu menghargai kemajemukan dan hanya dipenuhi dengan larangan demi larangan.
Apakah pemahamanku tentang republik, berkeindonesiaan dan berkebinnekaan ini
keliru? Aku akan dengan senang hati dan berterimakasih menerima koreksi. Aku
siap mendengar, merenung dan memperbaiki kesalahan jika memang nalar dan
berdasar. Kesalahan adalah manusiawi dan hak asalkan mau memperbaikinya jika
tahu dan sadar kemudian bahwa itu suatu kesalahan sebagai ujud dari penolakan
pada suatu excuse atau suatu pretext [dalih].
Mengenai kematian Marxisme. Pernyataan dan pendapat begini dan dengan segala
varian cara pengungkapannya, bukanlah pertama kali kudengar , bahkan sangat
sering kudengar, sementara Marxisme yang dibilang sudah mati itu, bangkainya ,
jika ia sudah membangkai, masih saja dicari dan dicari dengan kuriusitas
dari generasi ke generasi. Dicari dan dicari oleh kuriusitas obyektif yang
meragukan subyektivitas, sektarisme dan apriorisme epigon . Buku-buku terbitan
Ultimus, Teplok, Hasta Mitra, Syarikat Indonesia, Dua Lentera, untuk menyebut
beberapa nama penerbit saja, menjadi buku-buku yang dicari-cari.
Marxisme sudah mati! Sama sekali bukan pendapat baru dan bukan zenialitas
apalagi inventif . Sejarah Komintern, sejarah partai-partai sosial-demokrat
dan perjalanan spiritual/pemikiran manusiawi memperlihatkan bahwa yang
menganggap Marxisme itu sudah mati sebenarnya tidak lain dari pengulangan
tuturan usang seorang ayah kepada anak yang sedang menyimak hidup.
Sejak remaja Yogya, aku termasuk salah seorang pembaca setia Majalah Siasat.
Dalam sebuah nomornya Majalah Siasat pada waktu itu sudah menyatakan bahwa
Marxisme sudah mati.
Ketika aku sudah berada di Paris dan Tembok Berlin runtuh, orang pun kembali
mengatakan bahwa Marxisme runtuh bersama runtuhnya Tembok Berlin yang dalam
istilah Saudara Taufiq Ismail dengan tingkat penguasaan canggih beliau terhadap
Marxisme dipandang sebagai ideologi " lancung keujian, gagal total di seluruh
dunia tak terbukti mampu memecahkan masalah politik, ekonomi, sosial dan budaya
tiga perempat abad lamanya".
Ketika pengumuman tentang kematian Marxisme di seluruh jagad, yang diumumkan
mati itu, ternyata tubuhnya masih memperlihatkan gerak tanda ia masih bernafas
di bagian dunia lain seperti di Amerika Latin, atau di Nepal melalui
keberhasilan kelompok Maois tahun ini. Apakah nafas ini nafas "kelancungan"
hidup Marxisme yang tak lebih dari hidup kerakap di atas batu. Gelepar terakhir
dari hidupnya? Bagiku sendiri, masalah apakah Marxisme itu mati atau hidup
tidak menjadi soal relevan dibandingkan dengan penyelesaian masalah kekikinian
yang mendesak menagih jawab.
Lancung keujian? Baik , baik, konsep mana gerangan yang tidak lancung untuk
bisa menyelamatkan negeri dan bangsa ini? Untuk bisa melakukan nyata gagasan
rekonsiliasi nasional dan atau "perdamaian total"? Konsep "Malu Menjadi
Indonesia?"kah atau kebanggaan dan keyakinan mampu serta berharga menjadi
Indonesia? Untuk tidak terjebak dalam kelancungan, aku ingin mengusulkan agar
kita membuka mata hati dan telinga serta menyediakan ruang di diri sebagai
tempat yang mungkin bagi mengkaji rupa-rupa pilihan. Pilihan-pilihan yang
dengan istilah lebih keren dan "moderen" untuk tidak dilihat sebagai ndesip
oleh kelas menengah negeri ini: mempunyai banyak alternatif. Bukankah di
negeri ini, selembar kain kecil bernama dasi bisa mengobah citra? Kekerenan
bahasa dan perusakan bahasa nasional pun adalah bentuk citra pertunjukan dan
bentuk lain dari dasi. Ooo masyarakat pertunjukan. Tanahair! Kau kekasih, kau
adalah pentas rupa-rupa cerita tak berkesudahan. Biarkan aku pun,
kekasih, sedikit menampang mengenakan secarik kain bernama dasi di hadapan
liang kubur belum terisi bangkai Marxisme. Biarkan aku, tanahair kekasih,
mengenakan secarik kain bernama dasi pengobah citra semu itu, tanda aku siap
melayat tapi juga siap melaga esok melomba matahari.
"Ooo , siapakah gerangan itu yang mati?", terdengar tetanggaku bertanya
mendengar suara bamba [bahasa Dayak Katingan: gong kematian] menggaung di atas
arus sungai dibayang sisa hutan yang tak henti dibabat. Ada memang kematian
sedang diumumkan. Aku tak tahu nama mereka. ***
Paris, Mei 2008
----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
[Bersambung...]
---------------------------------
Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist. Download it now! /a
[Non-text portions of this message have been removed]