Sebuah analisis politik global yang perlu disimak. Hanya saja dasar argumentasi 
"Saud membenci komunisme-sosialisme-atheis" tanpa ada kerugian ideologis, 
politik dan ekonomi, rasanya seperti dibuat-buat. Saud sepertinya bukan 
intelektual Arab yang memperoleh didikan Universitas Barat tetapi seorang 
despot kabilah yang masih mengagungkan tradisi ghasywu dan bukan seorang 
muhsin, muhlis daan mu'min, sepanjang buku-buku referensi dapat dipercayai. 
Pemahamannya tentang Al-Dinu al-Islam tidak lebih jauh dari tradisi dinasti 
Mu'awiyah, dinasti Abasyiyah dan dinasti-dinasti Arab "Islam" lainnya - artinya 
bukan sunnah rasulullah Muhammad saw. 

Sunnah rasulullah Muhammad saw dengan jelas jemelas mendemonstrasikan wahyu 
yang diterimanya sebagai Petunjuk Hidup bagi Manusia dari Allah swt yang secara 
ilmiyah harus difahami (wahyu pertama adalah perintah mengenal abjad dan 
membaca serta penjelasan bahwa Allah swt mengajarkan yang tak diketahui manusia 
melalui pena). Karena itu tujuan diciptakan manusia adalah untuk menjadi Wakil 
Allah swt di Bumi (kholifatan fii al-ardzh) di mana TANGGUNGJAWAB dan INISIATIF 
PRIBADI menjadi wujud kedinamisan manusia sebagai mahluk ciptaan yang memang di 
zaman kekinian dan mendatang akan tampak tuntutan kepada manusia agar dengan 
rasional, logis dan dialektis sanggup mengelola alam lingkungan demi 
pelestarian eksistensinya (problema etika biologi, etika ekonomi, etika 
kosmologi, etika ekologi dll). Secara implisit "Waidzqoola robbuka 
li-al-malaaikati Inni jaa'ilun fii al-ardzhi hoolifatan....." merupakan 
konkritisasi pengusiran Adam dan partnernya dari surga yang serba segalanya 
tersedia berlimpah-ruah sehingga budaya  manusia tetap berada pada tingkat 
budaya manusia biologis (seperti bonobo, gorila, chimpanze, orang utan, beruk, 
monyet dll). Dalam hal demikian muncul paradox dialektis dari 99 jumlah Asmau 
al-husna yang tidak bisa dielakkan oleh para theolog - jika Al-Dinu al-Islam 
dijadikan doktrin fosil religi, agama, kepercayaan. 

Selama hidup rasulullah Muhammad saw, beliau memberi keteladanan dalam 
melaksanakan petunjuk wahyu secara praktis dan nyata, ilmiyah serta rasional 
dialektis dan tidak melaksanakannya sebagaimana yang dilaksanakan oleh para 
theolog Muslimin dewasa ini di dalam praktek kehidupan yang dibatasi oleh 
dinding perbatasan theologi. Sehingga hasil-hasil nyata dan faedah, manfaat, 
bagi pengikut beliau pada waktu itu langsung per pribadi telah dirasakan dan 
dinikmati. Pencerahan yang diterima bangsa Arab pada waktu itu bukan 
"pencerahan" virtual sebagaimana sekarang banyak didiskusikan di dalam media 
masa cetak dan elektronik serta kajian-kajian akademik. Demikianlah dimulai 
kelahiran PERADABAN BARU umat manusia dimana methodologi ilmiyah pemikiran 
manusia memperoleh kebebasan yang sesungguhnya serta berkembang dalam waktu 
1400 tahun sedemikian cepatnya dan kini manusia mulai memahami bahwa alam 
semesta ini diciptakan kurang-lebih 13,7 milyar tahun yang lalu dan manusia 
modern (homosapiens-sapiens) baru 10-50 ribu tahun yang lalu. 

Dengan apa yang dijelaskan di atas maka akan tampak secara kategoris perbedaan 
sunnah rasulullah Muhammad saw dengan praktek para Muslimin dewasa ini yang 
seluruh tumpuannya berada di Riad. Karenanya tidak mengherankan apabila artikel 
"60 tahun Perselingkuhan AS-Islam Politik" -nya penulis Arief Musthofifin 
menjelaskan kebencian raja-raja Saudi Arabia terhadap 
komunisme-sosialisme-nasionalisme sebagai suatu platform bersama dengan 
moribund kapitalisme AS (Barat) di masa lalu. Dan kini mereka saling 
memperebutkan hegemoni atas bangsa-bangsa di dunia sehubungan dengan 
kepentingan-kepentingan ke duniawian (masa sekarang).

A.M


  ----- Original Message ----- 
  From: RM Danardono HADINOTO 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, June 12, 2008 6:13 AM
  Subject: [ppiindia] 60 Tahun Perselingkuhan AS-Islam Politik


  60 Tahun Perselingkuhan AS-Islam Politik
  Oleh : Arief Musthofifin

  Judul Asli : Devil's Game; How The United States Helped Unleash 
  Fundamentalist Islam 
  Judul Terjemah : Devil's Game Orchestra Iblis; 60 Tahun 
  Perselingkuhan Amerika- Religious Extremist 
  Penulis : Robert Dreyfuss 
  Tahun Terbit : Meret 2007 
  Penerbit : SR-Ins Publishing 
  Cetakan & Tebal : I & lvii + 486 hlm.

  Fenomena devil' game yang diperankan United State of America (USA) 
  dan Religious Extremist lebih 60 tahun merupakan fakta sejarah 
  perselingkuhan politik dan agama yang terlupakan.

  Robert Dreyfuss, jurnalis independen dalam bidang investigasi Politic 
  and State Security, berdasar data-data agent CIA (Center Intelligence 
  Agency), mengungkap hubungan mesra dan manja AS-Islam fundamentalis 
  tak hanya demi kepentingan minyak Timur Tengah (¾ minyak bumi dunia). 
  Namun, aliansi yang dimulai dengan kedekatan Saudi Arabia (¼ minyak 
  bumi dunia) tersebut untuk kepentingan Perang Dingin melawan sosialis-
  komunis-ateis Uni Soviet.

  Dwight David Eisenhover, Presiden AS, untuk kepentingan Perang 
  Dingin, Januari 1957 dia berpesan pada konggres, berjanji memberikan 
  bantuan finansial dan militer kepada negara-negara Timur Tengah yang 
  mau terbuka melawan bangsa di bawah kendali Komunisme internasional. 
  Demi mendulang dukungan, Ike, panggilan Eisenhover, mengundang Raja 
  Saud ke Washington. Untuk menghormati dan sekaligus mencuri hati Raja 
  Saud, secara pribadi Ike menjemput Saud di bandara. (hlm. 142).

  Jalinan politik dengan Saudi sangat penting karena kerajaan Wahabian 
  ini sebagai pusat Islam seluruh dunia. Washington berpikir, Islam dan 
  Islamisme dapat dijadikan senjata "bayaran" melawan Soviet dan para 
  nasionalis yang condong ke kiri, seperi Gamal A. Nasser (Mesir). 
  (hlm. 143). Saudi (Wahabi) sendiri sangat benci komunis (sosialis) 
  dan nasionalisme karena dianggap tidak mengakui Tuhan. Plus, karena 
  nasionalisme mengancam otoritas kekuasaan absolute raja-raja Arab.

  Untuk memperkuat pasukan, Saudi menggalang kekuatan dari kanan Islam 
  reaksioner (garis keras), al-Ikhwan al-Muslimun Hasan al-Banna. 
  Abegebriel, pengantar buku, memberi keterangan sifat transnasional 
  gerakan Islam radikal ini punya banyak syndicated lintas Negara. 
  Seperti, Jama'ah al-Jihad, al-Jama'ah al-Islamiyyah (Mesir, Maroko, 
  Tunis, Pakistan, dan HAMAS), Hizb al-Tahrir, al-Takfir wa al-Hijarah, 
  dan MILF Abu Sayyaf. Dari Indonesia adalah DI/TII Kartosuwiryo (Bapak 
  Negara Islam Indonesia). (hlm. xix).

  Sebagai perangkat mobilisasi massa kanan Islam radikal (Islam 
  politik) dibentuklah the Islamic Center Jenewa (1961), Liga Dunia 
  Muslim (1962), dan Organisasi Konferensi Islam (1969). Tugas 
  kaderisasi massa kanan Islam reaksioner diberikan pada Universitas 
  Islam Madinah (1961) dan Universitas King Abdul Aziz (1967). (hlm. 
  151). Serta memanfaatkan gerakan para sufi radikal di berbagai 
  wilayah -termasuk di dalam Uni Soviet dan Asia Tengah-- untuk 
  memberontak under ground terhadap Soviet. (hlm. 325).

  Sampai akhir Perang Dingin, 1991, Islam politik (kanan Islam) --yang 
  didanai Saudi-Amerika-- berhasil mencerai-beraikan Uni Soviet (lawan 
  politik AS). Karena para pasukan bayaran Amerika ini (Saudi dan kanan 
  Islam) punya doktrin "jihad" yang dijadikan komando teologis berani 
  mati. Bak sunpah darah para mafia! Lanjut Dreyfuss, kanan Islam 
  memang telah menjelma menjadi "Pasukan Tuhan" dengan kekuatan besar 
  dan mampu menggerakkan massa militant di segala penjuru dunia untuk 
  membenci sosialis-komunis-ateis sampai mati. Bahkan, anak keturunan 
  sudah didoktrin bahwa sosialis-koumis-ateis sebagai ajaran sesat dan 
  dilaknat Tuhan. Haram untuk sekadar belajar sosialisme, lebih-lebih 
  mengikutinya.

  Dilema AS

  Dilema pula bagi AS --setelah kanan Islam terbukti mampu 
  menghancurkan Soviet-maka Islam politik percaya diri mampu melawan 
  kekuatan ideology mana pun. Termasuk berbalik melawan AS yang telah 
  memanfaatkan kekuatannya selama Perang Dingin. Secara ideologis, ide 
  sekularisme milik AS, juga sangat dibenci Saudi dkk. Tak aneh Negara-
  negara Timur Tengah lalu membentuk Pakta Kekuatan Islam (tepatnya, 
  Islam politik).

  Lalu, tragedi bom WTC II 11 September 2001 (9/11) oleh geng Osma bin 
  Laden --barisan sakit hati Saudi-diklaim AS sebagai awal "perang 
  peradaban". Tak lain, Bernard Lewis (The Middle East and the West) 
  dan muridnya, Samuel Huntington (Clash of Civilization), think thank 
  yang banyak mempengaruhi kebijakan Bush lewat teori "Benturan 
  Peradaban".

  Lewis-Huntington mempropagandakan, bahwa masalah AS bukan 
  fundamentalisme Islam. Tetapi, Islam itu sendiri. Jadi, "Penturan 
  Peradaban" terjadi secara permanen antara Barat (Yahudi-Kristen) vs 
  Islam. (hlm. 432-434). Oleh pengkritiknya, seperti John Esposito, 
  Lewis-Huntington dan Bush, divonis telah melakukan overgeneralisasi. 
  Isu itu hanya manajemen panik Washington setelah melihat kondisi 
  politik Timur Tengah di luar scenario yang dibuatnya.

  Namun, perang melawan terorisme ala Bush dengan legitimasi "Benturan 
  Peradaban" hanya dalih pendekatan baru yang lebih radikal pada Timur 
  Tengah dan Asia Tengah. Bukan kebijakan terhadap Islam, 
  fundamentalisme Islam, terorisme, ataupun di luar Islam. Jadi, harus 
  berpikir ulang jika AS ingin menyerang Saudi. Justru kemesraan 
  politik AS-Saudi (Islam politik) dengan devil's game gaya baru terus 
  berlanjut. Dalam istilah Leeden, "itu mungkin akan menjadi perang 
  untuk membentuk ulang dunia". (hlm. 438-439). Dan, orchestra iblis 
  masih belum berakhir.



   


------------------------------------------------------------------------------



  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG. 
  Version: 8.0.100 / Virus Database: 270.2.0/1497 - Release Date: 11-6-2008 8:32


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke