Kehidupan Ekonomi Makin Menekan, Persatuan Kita Sebagai Bangsa Sedang Terancam
Pernyataan Sikap Forum Kebangsaan Pembela Pancasila Persatuan kita sebagai bangsa Indonesia sedang terancam. Justru ketika kehidupan ekonomi makin menekan, dan perlu usaha bersama untuk mengatasinya. Sebab ada usaha-usaha untuk membuat aturan hukum Republik Indonesia yang dikuasai gagasan dan kepentingan satu golongan saja. Sebab ada yang menganggap, dasar Republik ini tidak penting dan kerukunan bangsa bisa diganti dengan doktrin sekelompok orang yang siap menggunakan kekerasan. Padahal ketika Proklamasi dinyatakan, disadari oleh para bapak-ibu pendiri bangsa kita bahwa kemerdekaan dari penjajahan saja tidak cukup. Mereka memikirkan dan mencari dasar pemersatu, supaya kehidupan dan gerak politik betul-betul menjadi kehidupan dan gerak bersama. Sejak mula disadari, kemerdekaan itu adalah kerja dan harapan dari banyak golongan. Para pendiri bangsa sadar bahwa kita patut menyambut Indonesia dan ke-bhineka-annya sebagai rahmat. Pada saat itulah para pendiri bangsa merumuskan Pancasila. Inilah salah satu moment of truth dalam sejarah politik kita. Pancasila ada supaya semua warga, semua suku, semua agama, semua golongan "merasa betah" di dalam kemerdekaan, itu yang dikatakan Bung Karno. Pancasila dikukuhkan untuk menaungi sekaligus menjamin Indonesia yang bermacam-ragam. Dan ternyata, sejarah Indonesia tidak bebas dari konflik dengan kekerasan. Sejarah kita menyaksikan pemberontakan Darul Islam sejak Indonesia berdiri sampai dengan pertengahan 1960-an. Sejarah kita menanggungkan pembantaian 1965, kekerasan Mei 1989, konflik antar golongan di Poso dan Maluku, tindakan bersenjata di Aceh dan Papua, sampai dengan pembunuhan atas pejuang hak-hak asasi manusia, Munir. Kita tidak ingin kekerasan itu berulang lagi. Terutama sekarang. Ketika kehidupan semakin berat oleh kenaikan harga-harga, ketika pengangguran meluas, bangsa Indonesia perlu kesempatan untuk bekerja sama memecahkan soal-soal sosial-ekonomi itu. Namun tumbuhnya kebebasan dalam demokrasi kini oleh sekelompok orang dimanfaatkan untuk mengacau dengan menekan pihak yang lain. Kebebasan disalahgunakan dan jadi sandaran bagi tindakan main hakim sendiri, menyebarkan kebencian kepada mereka yang berbeda. Kekerasan tak tanggung-tanggung digunakan untuk menyelesaikan sengketa. Akibatnya, justru di dalam demokrasi yang mestinya menjadi wahana dan modal kita untuk membangun bangsa, kita makin lemah dan lelah. Kita juga makin kehilangan sumber kekuatan untuk meneruskan Indonesia ke depan: kita kehilangan solidaritas, persaudaraan dan rasa kebangsaan. Kami menyayangkan, bahwa menghadapi semua itu, pemerintah serta berbagai lembaga tinggi Negara justru terlihat gagap. Pemerintah seperti kehilangan pegangan. Pemerintah tampak gagal mengambil dan mempertahankan suatu sikap yang prinsipiil, seakan-akan lupa bahwa ada dasar bagi persatuan dalam ke-bhineka-an kita. Kami bertanya-tanya, lupakah Pemerintah akan Pancasila? Tetapi Pancasila tidak boleh dilupakan. Sebab pilihannya adalah: Pancasila atau kehancuran. Berhadapan dengan situasi ini, kami menyerukan: Pertama, kepada segenap pihak, mari kita curahkan perhatian dan ikhtiar kita untuk bersama-sama memecahkan kesulitan hidup yang harus kita tanggungkan sekarang. Kedua, untuk menjaga kebersamaan itu, mari kita tetap junjung Pancasila dan konstitusi. Mari kita terus kembangkan sikap patriotik untuk menyelamatkan masa depan ke-Indonesia-an kita yang ditakdirkan tidak seragam dan tidak bisa diseragamkan. Ketiga, kepada segenap warga Republik, yang hendak menjalankan kehidupan keagamaan yang baik, yang ingin membangun ruang hidup sendiri yang dicita-citakan, tetap pandanglah kelompok yang lain dalam rasa persaudaraan sebagai bangsa. Keempat, kepada para pemimpin, pejabat dan aparat Negara, pertahankanlah tanah air Indonesia, dalam persatuan dan ke-bhineka-an. Laksanakanlah tugas sesuai dengan Undang-Undang Dasar. Kelima, mari kita waspada terhadap usaha mereka yang ingin mengganti Republik Indonesia jadi sesuatu yang asing bagi bangsa Indonesia sendiri. Jakarta, 13 Juni 2008 Forum Kebangsaan Pembela Pancasila mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed]

