aye cuma nerusin aje ni, yah maap dah klo brita2nya agak2 beda ma yg
di tepe2 maklum kite suka yg beda2 siy hehe..
buat para anti FPI, ya mungkin ante ini termsk yg hobi kemaksiatan
atau cari makannya pake cara maksiat semacem panti pijet, sdsb, porkas
dll hehe fpi ini hebat lho, klo cuma amar ma'ruf siy kecil, anak sd jg
dah bs, tp nahi mungkar ini yg berat, levelnya dah beda siy.
baca deh kisah dibwh, sapa tau, airmata buaya bs netes bercucuran
huuhuhu..
--

Laskar FPI; Dari Perusak Bar ke Evakuator Mayat 

Teringat kisah kawan dari Mobile-8 (Djunaedi) yang ikut bergabung 
sebagai relawan 
dan menghabiskan semua cutinya, berikut kutipan ucapannya : 

..melewati pekan ke-3 pasca tsunami, terjadi musibah pada relawan dari
Bali 
yang diamputasi sebelah tangannya disebabkan terserang penyakit dari 
mayat-mayat itu...praktis setelah itu hampir tidak ada lagi yang berani 
mengangkat mayat termasuk saya (karena dilarang keras), kecuali FPI. 
Setelah mayat-mayat dibungkus barulah tugas TNI menaikkan ke mobil-mobil 
untuk dibawa kekuburan masal. 

Subhanallah.. 
Saya rasa, kita semua termasuk Bangsa ini telah berhutang pada FPI...satu 
diantaranya adalah mencegah kemungkaran dan berbagai kesesatan termasuk 
kasus ahmadiyah.. 
Wallahu'alam, bagaimana kelak dapat meminimalisir kemaksiatan bila FPI
tidak 
ada.. hiks.. 

---------------------------------------------------------- 

Selasa, 18 Januari 2005 
Punya Tim Pengendus Mayat dan Negosiator GAM 
Laskar FPI; Dari Perusak Bar ke Evakuator Mayat 

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=78110 

Banda Aceh,- Siapa yang belum mendengar nama Laskar Front Pembela
Islam (FPI). 
Di Jakarta, laskar itu punya nama besar gara-gara sering menyatroni 
dan merusak klub-klub 
malam saat Ramadhan (setelah sebelumnya diperingati dengan halus). 
Bagaimana aksi laskar 
itu di daerah bencana di Banda Aceh? 

Laporan Ibnu Yunianto, Banda Aceh 

SULIT melihat Habib Riziq Shihab mengenakan jubah dan kafiyeh putihnya 
selama hari-hari 
pascabencana gempa dan tsunami di Banda Aceh. Atribut kebesaran 
Panglima Laskar Front Pembela 
Islam itu telah setengah bulan ini bersalin dengan kaus tipis dan 
celana lebar semata kaki. Bahkan, 
jabatan panglima dia tinggalkan ketika pada hari-hari tertentu 
mendapat jatah masuk menjadi 
anggota tim evakuator mayat. Laskar FPI memang menjadi salah satu 
relawan evakuator mayat 
di ibukota NAD. Mereka telah datang sejak hari kedua bencana. Hari 
ini, sekitar 1.200 

anggota FPI dari Jakarta, Solo, Surabaya dan Makassar telah mendirikan 
posko di Banda Aceh. 
Lokasinya pun istimewa, Taman Makam Pahlawan Banda Aceh. Di halaman 
makam yang berlapis 
marmer hitam itu, tiga tenda lapangan dan dua tenda logistik didirikan 
'laskar garis keras' itu. 
"Emang ente pikir Laskar FPI hanya bisa merusak bar, kami juga punya 
organisasi penanggulangan 
pascabencana," tukas Habib Riqizk, ketika ditanya motivasinya terjun
ke NAD. 

Habib itu mungkin tak sedang bergurau. Meski mengaku datang dengan 
modal dengkul, FPI termasuk 
kelompok relawan yang cukup disegani di Banda Aceh. 

Laskar itu bukan cuma ringan tangan, tapi juga pintar mengambil hati 
orang Aceh. Tentang ringan 
tangannya laskar itu juga cukup legendaris di kalangan relawan. 
Soalnya, hanya FPI yang berani 
menyentuh kawasan Syiah Kuala. Kawasan di pinggiran Universitas Syiah 
Kuala dan makam 
raja-raja Aceh itu memang menjadi momok, karena lokasinya yang 
berawa-rawa, banyak paku bekas 
rumah yang telah berkarat dan ratusan ekor ular. Di kawasan itu juga 
terkenal dengan mayat yang 
sangat berbau dan anggota tubuhnya tidak utuh karena terus-menerus 
terendam air. 

"Bukan Ane bermaksud sombong, banyak relawan yang muntah-muntah begitu 
masuk kawasan 
Syiah Kuala. Tapi, FPI berhasil membersihkan mayat-mayat di daerah 
itu. Sekitar 600 mayat sudah 
kami angkat dari sana selama 22 hari ini," kata Habib Riziq. Untuk 
membersihkan kawasan bekas 
padat penduduk itu, Ketua Pelaksana Operasi FPI Ja'far Sidiq 
mengatakan, kalau Laskar FPI memulainya 
dengan menyiapkan "peralatan perang" yang lengkap. Mereka menggedor 
setiap pintu instansi pemerintah 
sehingga berhasil mendapatkan 4 ton logistik, ribuan masker standar 
TNI, ribuan pasang sarung tangan, 
dan ratusan pasang sepatu boot. "Pokoknya gaya gebug dulu khas FPI 
kami pakai untuk mendapatkan 
perlengkapan evakuasi, tapi mereka beruntung karena ada yang 
mengerjakan evakuasi mayat di kawasan 
yang tak tersentuh relawan lain," kata dia. 

Setelah itu, mereka lantas menyiapkan kamp relawan di Taman Makam 
Pahlawan. Kawasan elit itu mereka 
sulap menjadi kamp relawan dengan dapur umum 24 jam, kamar mandi 
portabel dan tempat sanitasi terbaik 
diantara kamp relawan lainnya. Kamp itu juga dilengkapi dengan tempat 
untuk mencuci anggota tubuh 
relawan dan alat perlengkapan evakuasi dengan cairan kimia khusus. 
Bahkan, meski pun kawasan makam, 
seluruh kamp itu juga dinyatakan sebagai daerah bebas rokok dan daerah 
wajib berbusana muslim. 
Bahkan, setiap pekan anggota FPI juga wajib disuntik tetanus dan 
malaria, karena tingginya risiko bekerja 
di rawa-rawa yang penuh puing-puing bangunan. 

Mereka juga membagi sekitar 1.200 anggota laskar menjadi 3 tim, yaitu 
tim pengendus mayat, evakuator 
mayat, tim sholat jenazah dan tim logistik. 

Tim pengendus bertugas mencari mayat diantara tumpukan puing, tim 
evakuasi menggali puing untuk 
mencari mayat, tim pensholat jenazah khusus mensholatkan setiap 
jenazah yang ditemukan sementara 
tim logistik mengurus konsumsi relawan. "Dengan begitu, tim logistik 
dan tim sholat jenazah tidak 
menyentuh mayat, sehingga kebersihan makanan dan kesucian anggota tim 
pensholat jenazah selalu 
terjaga," kata Ja'far. 

Di daerah kos-kosan mahasiswa itu, anggota Laskar FPI juga kerap 
menemukan keanehan-keanehan. 
Diantaranya, Sabtu lalu mereka menemukan tubuh utuh seorang ibu muda 
yang tengah hamil tua. 
Mayat itu utuh, kulitnya masih segar dan sama sekali tidak berbau 
meski terendam air selama 21 hari. 

Namun, hanya berselang 1 meter ada jenazah yang tidak utuh organ 
tubuhnya serta sangat berbau. 
"Apa maknanya, saya kira Allah hendak menunjukkan kekuasaannya," kata
habib. 

Karena nama besarnya dalam urusan evakuasi mayat, Laskar FPI juga 
kerap dimintai tolong untuk 
mengevakuasi mayat di daerah konflik. Di kawasan Lhok Nga, sekitar 20 
kilometer dari Banda Aceh, 
FPI bahkan dihubungi langsung Panglima GAM wilayah itu untuk mengurus 
jenazah di sana. "Ada 
ratusan mayat yang sempat terbengkalai di daerah itu. Soalnya, GAM 
takut ditembak TNI kalau dia 
keluar untuk mengurus mayat, sementara TNI juga nggak mau ditembak 
GAM. Karena itu, FPI yang 
diminta turun," kata Ja'far Shodiq. 

Kini FPI juga mulai menyentuh reruntuhan Pasar Atjeh, kawasan 
pertokoan tepat di belakang Masjid 
Baiturahman, Banda Aceh. Di kawasan yang terkenal karena ada rekaman 
video yang mengabadikan 
datangnya tsunami di kawasan itu, ratusan jenazah diperkirakan masih 
tertimbun tumpukan puing 
dan barang dagangan. Bau busuk menyengat begitu memasuki kawasan yang 
hanya berjarak 300 meter 
dari Meuligae (Pendapa) Nanggroe Aceh Darussalam, kompleks kantor 
gubernur NAD yang juga Posko 
Satkorlak PBA NAD itu. "Dari jam 9 hingga dhuhur, sudah 48 mayat kita 
temukan. Entah berapa lagi 
yang tersisa. Mayat seakan tidak ada habisnya," kata Habib Riqizk, 
menambahkan. Karena hanya 
tukang gedor fasilitas penyelamatan, FPI kini masih kesulitan 
mengangkut jenazah ke tempat pemakaman 
masal di daerah Lambaro, Aceh Besar. Mereka hanya mengandalkan 
angkutan milik TNI dan Dinas PU 
yang tidak seberapa banyak. Padahal, sekitar 100 mayat per hari 
ditemukan laskar yang di Jakarta 
gemar menghunus pedang dan golok di kelab malam itu. 

Lantas, apa rahasia sehingga dalam 23 hari hanya 6 orang anggota 
laskar yang pulang ke daerah 
masing-masing? "Kontrak kami ke Aceh adalah bebas pergi kapan saja 
tapi jangan harapkan uang saku 
untuk pulang. Kami ke sini tidak ada yang bayari, jadi tidak ada yang 
kami beri uang saku untuk pulang. 
Kalau mereka bisa pulang sendiri silahkan. Akibatnya, hanya enam orang 
saja yang pulang," jelasnya. 

Selain piawai mengumpulkan mayat, laskar FPI juga piawai mengambil 
hati orang Aceh. Laskar yang 
meliburkan operasi setiap hari Jumat untuk membersihkan masjid dan 
madrasah itu dikenal keras 
melindungi kesucian masjid. Mereka pernah membuat larangan bagi orang 
asing untuk masuk ke 
lingkungan Masjid Baiturrahman dengan alasan kawasan masjid haram bagi 
non muslim. Peraturan 
keras itu rupanya sangat didukung oleh rakyat Aceh. Tak heran, Laskar 
FPI justru menuai pujian 
di Banda Aceh.(jpnn)

Kirim email ke