http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/bersepedaan-yuk.html

Beberapa minggu yang lalu, aku disapa oleh seseorang di Multiply page-ku yang 
beralamat di http://afemaleguest.multiply.com. Sapaan dari seseorang yang 
beralamat di http://aluizeus.multiply.com itu merupakan ajakan untuk ikut 
komunitas “b2w”.
“b2w” apaan yah?” tanyaku kepada seorang rekan kerja, sekeluarku dari warnet 
yang terletak di sebelah tempat kerjaku.
“No idea either, Ma’am,” jawabnya.
But then ketika di buku CV1 yang dia bawa dia temukan istilah ‘bike to work’, 
kontan dia langsung berkomentar, “Bike to work, kali Ma’am?”
“Aha ... probably,” jawabku.
Kontan aku ingat Abangku yang pernah bercerita tatkala dia masih tinggal di 
Kelapa Gading, Jakarta dia pernah memiliki kebiasaan ‘bike to work’, alias 
berangkat bekerja naik sepeda. Waktu itu dia memiliki kantor yang berlokasi di 
kompleks perumahan yang sama, Kelapa Gading, tahun 1998-2001, sehingga dia bisa 
mempraktekkan kebiasaan yang ramah lingkungan ini, tanpa harus menjadi ‘korban’ 
menghirup udara Jakarta yang penuh polusi (karena tidak perlu keluar dari 
kompleks.) itu. Kadang-kadang dia bersama komunitasnya melakukan off-road trip 
ke daerah Puncak dan sekitarnya dengan naik sepeda tentu saja. FYI, dia pindah 
ke OZ tahun 2002. Sejak itu hanya di musim summer saja dia bersepeda di akhir 
pekan.
Waktu aku bercerita kepadanya aku pernah naik sepeda untuk ‘napak tilas’ 
jalan-jalan yang kulalui sewaktu ikut karate LEMKARI di bangku SMP sejauh 10 
kilometer (dalam kegiatan karate, kita melaluinya sambil berlari, campur 
berjalan kaki, tanpa memakai alas kaki), dia ketawa, “Ah, 10 kilometer sih 
kecil Na. Itu jarak yang kulahap setiap hari!” katanya. Lah, memang aku kecil, 
sedangkan dia besar! Hahaha ... But, aku lupa satu hal yang seharusnya 
kuceritakan kepadanya waktu itu. Waktu ‘napak tilas’ itu, aku sendirian, naik 
sepeda mini berwarna kuning milik kakakku (NOTE: bagi pengunjung baru blogku, 
yang kusebut ‘kakakku’ berbeda dengan ‘Abangku’), dengan kondisi rem blong. So? 
Tatkala melewati tanjakan, sepeda kutuntun, waktu di jalan menurun pun sama, 
sepeda juga kutuntun. LOL. (NOTE: bagi orang Semarang, route napak tilas ini 
dari Pusponjolo ke arah Selatan, ke daerah Gedung Batu Sam Po Kong, Phaphros 
(carane nulis piye? Aku lali!
 LOL), naik ke daerah Jalan Gedong Songo, jalanan menanjak, (kalau ga salah 
ingat nama jalannya), trus sampai di daerah Manyaran, belok kanan yang sekarang 
menuju ke Gedung Persaudaraan Haji, turun setelah melewati rumah dinas Walikota 
Semarang, sampailah di Jalan Abdul Rahman Saleh, sebelum sampai Museum 
Ronggowarsito, belok kanan ke daerah Jalan Soeratmo, trus belok kiri ke arah 
Pamularsih, dari depan SMA Kesatrian, terus lurus ke Timur, sampai ke daerah 
Pusponjolo kembali.)
Kembali ke sapaan di multiply page-ku.
Betapa senang aku mendengar mulai ada komunitas ‘b2w’ di kota kelahiranku ini, 
meskipun rada skeptis karena kontur geografis Semarang yang kurang mendukung 
untuk bike to work. Semarang memang terdiri dari dataran rendah dan dataran 
tinggi. Bagi Abangku yang telah memiliki ‘track record’ mengikuti off-road 
trips tentu dataran tinggi ini tidak menjadi masalah, namun bagi para pemula, 
wah ... ngos-ngosan pisan!!! Bayangkan aku yang tinggal di Pusponjolo, dataran 
rendah, berangkat kerja ke kantor yang terletak di daerah Tembalang, dataran 
tinggi. (melewati berapa ‘bukit’ tuh? Naik di Gajah Mungkur, kemudian di Jalan 
Sultan Agung, Jalan Teuku Umar, dan puncaknya, di Gombel.) Sampai kantor, 
pingsan. LOL.
Seminggu berikutnya, mas Triyono yang beralamat di 
http://aluizeus.multiply..com menyapaku lagi, “Kalau mbak Nana sempat ke 
Simpang Lima besok Minggu pagi, mampir ya ke komunitas b2w Semarang, kita 
kumpul di depan gedung Telkom Jalan Pahlawan. Kita memasang tagline bike to 
work berwarna kuning di bawah sadel.”
He is such a determined person, isn’t he? 
Melihat kegigihannya, aku menawarkan adikku yang mulai menyukai naik sepeda 
untuk pergi ke tempat-tempat yang tidak jauh dari rumah, misal ke pasar. Ini 
berkat ‘komporan’ kakakku yang sudah mulai bike to work di tempat tinggalnya di 
Cirebon. Ternyata adikku senang dengan tawaran ikut komunitas b2w.
By the way ...
Meskipun aku sempat menawari Angie mengantarnya ke sekolah naik sepeda, tatkala 
harga bensin naik sampai Rp. 6000,00 per liter, (Angie langsung menolaknya 
mentah-mentah!!!) untuk benar-benar mempraktekkan kebiasaan bike to work, aku 
punya satu kendala yang sangat mengganjal. AKU BELUM PUNYA SEPEDA milik sendiri.
Di rumah saat ini ada dua buah sepeda. Yang pertama, sepeda federal, yang 
di’import’ dari Cirebon tahun 1991, sehingga dia seusia my Lovely Star. Sepeda 
ini sudah lumayan lama, bertahun-tahun, mangkrak tidak dipakai. Setelah adikku 
dikompori kakakku untuk bike to work, sewaktu dia ke Cirebon beberapa bulan 
lalu, dia akhirnya memperbaiki sepeda yang sudah seusia Angie ini, dan kemudian 
mulai menaikinya, untuk olah raga, beberapa kali seminggu di pagi hari.
Sepeda yang kedua, sepeda mini, yang bentuknya tidak mini alias cukup besar, 
baru saja di’impor’ dari Cirebon juga beberapa minggu yang lalu. Sepeda ini 
dikirim kakakku untuk sarana olah raga adik bungsuku yang di bulan Desember dan 
Januari kemarin sempat opname di rumah sakit karena terkena penyakit typhoid 
dan dengue fever. Banyak orang yang menyarankannya untuk mulai rajin berolah 
raga untuk meningkatkan daya immune tubuhnya. Ditengarai karena dia tidak 
pernah berolah raga, tubuhnya menjadi rentan penyakit. Itu sebab kakakku tidak 
keberatan mengirimkan sepeda yang biasanya dinaiki istrinya ke Semarang. Lah, 
trus kakak iparku itu naik sepeda apa dong? Kebetulan, selain sepeda yang biasa 
dia naiki untuk berangkat ke kantor, kakakku punya sepeda ‘tandem’ yang bisa 
dinaiki berdua, sehingga sepeda ‘tandem’ ini cukup menjadi sarana olah raga 
jika kakak iparku kepengen berolah raga bareng kakakku.
Aku belum ada rencana untuk membeli sepeda sendiri. Rencana dalam waktu dekat: 
naik sepeda—pinjam sepeda mini yang semula milik kakak iparku itu—untuk pergi 
ke Paradise Club, tempatku ber-erobik ria maupun fitness dan berenang, yang 
terletak di Pondok Indraprasta, selama Angie libur kenaikan kelas, yang katanya 
berlaku selama kurang lebih tiga minggu, mulai 22 Juni sampai 13 Juli 2008.
PT56 14.54 150608




Minds are like parachutes, they only function when they are open.   (Sir James 
Dewar)
visit my blogs please, at the following sites
http://afemaleguest.blog.co.uk
http://afeministblog.blogspot.com
http://afemaleguest.multiply.com

THANK YOU
Best regards,
Nana



      

Kirim email ke